SILATURAHMI PENYAIR SUMBAR-RIAU

Puisi Merayau ke Lembah Harau

7 Januari 2017 - 22.35 WIB > Dibaca 657 kali | Komentar
 
Puisi Merayau ke Lembah Harau
Seperti pertemuan yang lain, keriangan berpuisi  juga dimaksudkan untuk mempererat kebersamaan. Jauh dari itu, semata untuk turut menyemarakkan gairah kesusasteraan di tanah air. Dan, mereka sampaikan pesan lewat puisi hingga ke lembah-lembah.

AKHIR  tahun lalu, tepat malam tahun baru, penyair Sumbar-Riau bertemu dan berpuisi bersama di Jorong Harau, Payakumbuh, Sumatera Barat. Tidak kurang dari 100 penyair dan pekerja seni lainnya berkumpul di sana. Persis di tengah lapangan di pemukiman masyarakat, di bawah lembah berbatu yang dingin. Kebersamaan dan keakraban itu juga dirasakan penduduk di sana. Bahkan mereka turut berbincang dan diskusi bersama tentang perkembangan puisi di Sumbar dan Riau.

Sekitar 40 seniman dan penyair hadir dari Pekanbaru. Tidak hanya mereka yang memang bergelut dengan puisi, tapi juga seni lain seperti teater dan musik. Tidak hanya atas nama perseorangan, tapi juga banyak yang datang atas nama komunitas. Di antaranya, Community Pena Terbang (Competer), Teater Matan, Komunitas Seni Rumah Sunting, Bengkel Seni Lipatkain dan puluhan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Lancang Kuning (Unilak). Sementara itu, penyair yang datang dalam acara tersebut antara lain, Hang Kafrawi, Sastra Riau alias Murdock, DM Ningsih, Asqalani Eneste, Muhammad De Putra dan beberapa lainnya.

Kebersamaan antara mereka dan masyarakat semakin terasa ketika panitia membuat konsep kegiatan di alam terbuka. Mulai dari paggung, tempat diskusi, acara, tidur dan makan bersama di tengah lapangan. Puluhan tenda berwarna warni, semakin menyemarakkan silaturrahmi tersebut. Di sanalah para penyair itu tidur dan istirahat. Orangtua, remaja, anak-anak hingga pemuda setempat, semua berkumpul bersama untuk menyaksikan helat yang dilaksanakan hingga ke pangkal tahun 2017 tersebut.

Jika puluhan penyair dan pekerja Seni Riau meramaikan kegiatan tersebut, apatah lagi penyair Sumbar. Mereka lebih ramai. Tua dan muda ‘turun gunung’.  Mereka antara lain, Sulaiman Juned yang dikenal dengan penyair kontemporer, Syarifuddin Arifin sang penyair Galodo, Iyut Fitra sang penyair lembah dan juga ketua panitia, Muhamad Subhan, Hermawan An,Yusril Katil yang juga teaterawan dan sutradara film, Mak Ne alias Nasrul Azwar , Yeyen Kiram, Okta Piliang, Roni Keron, Derllorie Ahada dan masih banyak lainnya.

Komunitas seni yang hadir dari Sumbar juga lebih ramai. Antara lain, Forum Aktif Menulis (FAM), Pondok  Baca Togok, Komunitas Harau, Ikatan Pelajar Nagari Harau (IPNH), Komunitas Sudut Payakumbuh, Komunitas Seni Intro, Komunitas Lapaloma, Tan Malaka Institut  dan lainnya. Mereka semua mempersembahkan pementasan terbaiknya. Tidak hanya puisi, tapi juga musik, musikalisasi puisi dan juga tari-tarian. Dua tarian yang dipersembahkan pelajar tempatan atau IPNH, yakni tari Cindai dan Nirmala serta lagu Kambanglah Bungo dengan iringan musik lokal anak-anak tempatan, cukup memukau.

Sejak siang, atau sebelum puncak acara dimulai, para peserta yang hadir sudah disuguhkan dengan pameran puisi. Beberapa puisi karya penyair Sumbar-Riau, dipajang persis di tengah halaman. Tepatnya di sisi kiri panggung. Penampi yang sudah dicat warna hitam, atau upih pinang yang dicat merah, ditempat di ranting-ranting bambu yang ditancapkan di atas tanah. Di atas cat itulah puisi-puisi tersebut ditulis. Masing-masing puisi dilengkapi dengan satu lampu sehingga terlihat dan terbaca jelas saat malam hari.

Selain menjadi bagian artistik panggung secara keseluruhan, pameran puisi tersebut juga menjadi foto board. Di sinilah pengunjung, baik seniman, penyair atau masyarakat berfoto-foto. Sementara, panggung utama yang dibangun dengan ketinggian sekitar 1 meter dengan latar belakang spanduk acara  dan ranting-ranting kering, memperpadat komposisi panggung secara keseluruhan.

Kebersamaan terasa kian kental saat makan bersama. Tidak seperti acara besar lainnya. Meski ini acara lintas provinsi dan lintas seni, tapi makan di atas daun pisang, berjejer dan di tengah lapangan, bukan hal yang tidak patut disuguhkan. Justru sebaliknya. Unik, seru, akrab, bersahaja dan apa adanya. Di bawah lampu penerangan seadanya, duduk di rumput tebal hijau,  justru menjadi bagian bait-bait puisi itu sendiri.

Sambal pucuk kopi. Makan malam bersama tidak lepas dari perbincangan hangat tentang sambal pucuk kopi yang menjadi utama malam itu. Sambal yang gurih, lezat dan nikmat. Tentu sambal yang belum pernah dinikmati sebelumnya oleh penyair asal Riau. Bagaimana cara memasaknya, apa bumbunya dan kenapa bisa gurih, terus menjadi perbincangan di tempat makan tak bermeja tersebut.

‘’Inilah hasil dari perbincangan awal saya dan Penyair Bulan, Kunni Masrohanti asal Riau sebelumnya. Terlaksananya kegiatan ini memang bermula dari perbincangan kami berdua dan penyair Husnu Abadi waktu itu. Rencananya hendak kami laksanakan di puncak gunung, lalu batal. Kemudian direncanakan di pulau, juga batal sampai akhirnya saya dan Kunni merencanakan di Lembah Harau ini. Saya mengurus kondisi di lapangan dan Kunni mengkoordinir penyair Riau yang akan hadir. Alhamdulillah terlaksana. Semoga ini menjadi awal kegiatan yang mempererat silaturrahmi penyair Sumbar-Riau,’’ ungkap Iyut Fitra malam itu.

Iyut juga menjelaskan bagaimana semangat dan dukungan besar yang diberikan masyarakat Harau, komunitas dan pemuda-pemuda Harau. Bahkan terlaksananya kegiatan tersebut juga berkat sumbangan masyarakat, termasuk menyediakan makan malam bersama untuk seluruh peserta. Sedangkan keperluan biaya lainnya ditanggung bersama oleh penyair-penyair Sumbar dengan iuran bersama. 

Musik, tarian dan pembacaan puisi meramaikan lapangan besar Jorong Harau. Masyarakat berhimpun bersama, duduk bersila di atas tikar seadanya menyaksikan pesta malam itu. Ubi rebus dicambur gula merah atau yang disebut Tumbang, makanan ringan seperti kuwaci dan lainnya yang sebagiannya dibawa peserta, menambah hangat dingin lembah Harau. Apalagi penampilan ‘gila’ yang dibawakan sebagian penyair. Misalnya Yusril Katil yang membacakan puisi dengan teatrikal. Ia membacakan puisi dengan wajah ditutup baju dan meletuskan balon di atas panggung. Begitu juga dengan Sulaiman Juned yang mengajak anak muda tempatan membaca puisi bersama serta menyerahkan buku kepadanya. Begitu juga dengan Teater Matan Pekanbaru dan mahasiswa FIB yang membaca puisi secara massal.  Tentu, masih banyak gaya lain yang tak kalah riuhnya.

Detik-detik pergantian tahun ditandai dengan pidato singkat tentang kebudayaan dan kesenian oleh Nasrul Azwar dan Yeyen Kiram. ‘’Menjadi penyair, menjadi sastrawan berarti menjadi sosok yang sudah siap untuk mempertahankan Bahasa Indonesia agar tetap kuat menjadi bahasa pemersatu. Juga siap menjadi kontrol kehidupan dalam masyarakat melalui karyanya baik kontrol sosial, ekonomi, kebudayaan dan lainnya,’’ beber Yeyen Kiram.

Sudah pasti, pergantian tahun malam itu juga diiringi dengan doa bersama dan sedikit letusan kembang api sebagai sebuah pertanda. ‘’Kebersamaan penyair malam ini, di awal tahun yang baru, semoga menjadi pertanda baik atas niat kita yang baik dalam ikut serta memeriahkan dan membangun semangat berkesusasteraan di Indonesia. Apalagi yang hadir saat ini penyair lintas gerenasi. Dari yang muda hingga tua, semuanya ada,’’ ungkap Syarifuddin Arifin pula.

Bermalam di lembah yang dingin bagi sebagian penyair memang sudah menjadi hal biasa. Tapi bagi sebagian yang lain, bisa jadi pengalaman pertama. Tak heran ketika pagi menyapa dan mulai muncul dari balik-balik batu dan lembah Harau, hal tersebut menjadi bagian cerita yang paling penting dan hangat. Pagi itu panitia memang mengundang peserta untuk kembali duduk di tengah lapanga, berbincang dan memperbincangkan kesusasteraan dan rencana pertemuan berikutnya agar pertemuan kali ini tidak habis begitu saja.

Perbincangan pagi itu justru meluas. Para penyair muda mulai menceritakan kegelisahan mereka tentang jarak yang kadang terbentang antara penyair senior dengan yang muda-muda. Soal minimnya kritikus sastra juga menjadi bagian perbincangan yang tidak kalah hebatnya. Jika penyair semakin bertumbuhan, sebaliknya kritikus semakin tidak kelihatan. Meluas. Perbincangan benar-benar meluas juga mennyentuh hal-hal penting dalam berkomunitas.

 ‘’Justru dengan pertemuan dan silaturrahmi penyair Sumbar-Riau ini kami mengajak dan mengundang teman-teman dari berbagai komunitas, bukan hanya penyair-penyair saja. Kenapa? Karena kita berharap pertemuan ini bisa lebih cair. Antara penyair atau pekerja seni muda dengan yang lebih senior bisa lebih berbaur, bisa bersama-sama, berbagi cerita dan pengalaman’’ ungkap Iyut Fitra lagi.

Satu hal yang menjadi catatan penting dalam pertemuan tersebut adalah, bagaimana masing-masing mereka lahir menjadi penyair yang sesungguhnya dengan karya besar yang berkualitas, bukan penyair instan karena karya-karnya terpublish hebat di dunia maya. Perkembangan teknologi memang tidak bisa ditampik, tapi tidak seharusnya menjadi alat untuk cepat terkenal tanpa memperhitungkan kualitas karya.

‘’Insyaallah FIB Unilak siap menjadi pelaksana dan tuan rumah pelaksanaan pertemuan ini tahun 2017. Kita rencanakan di Kelurahan Okura, Kota Pekanbaru. Okura juga sebuah desa tanpa signal seperti di Jorong Harau ini. Tanpa signal ini sangat menarik, karena kita bisa lebih fokus,’’ ungkap Hang Kafrawi, Ketua Jurusan FIB Unilak yang juga pimpinan Teater Matan Pekanbaru.(Kunni Masrohanti, Payakumbuh)  

  
  
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 21:31 wib

Ini Alasan Sebagian Caleg Golkar Dukung Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:04 wib

Buni Yani Bergabung di BPN Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 20:26 wib

PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 18:52 wib

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:40 wib

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh

Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Follow Us