ESAI TARI

Dari Riau Untuk Dunia: Membaca Langkah Epi Marttison

7 Januari 2017 - 23.08 WIB > Dibaca 1271 kali | Komentar
 
Dari Riau Untuk Dunia: Membaca Langkah Epi Marttison
Oleh Asrizal Nur

LAMPU dalam gedung pertunjukan Idrus Tintin perlahan padam. Penonton hening, fokus menyaksikan pertunjukan. Sekejap suasana berubah bagai rimba perawan. Suara air telaga, hembusan bayu, burung-burung bernyanyi dan daun-daun melambai di lebat pepohonan. Penonton semakin terbawa ketika proyektor menayangkan video di layar besar, tampak hutan belantara yang raya, nyaman dan damai. Seasat kemudian bagai dihantar mantra rimba, dua sosok muncul,  berjalan di antara simbol pohon-pohon yang berbaris di sebelah kiri panggung. Mereka bergerak dengan langkah seirama dengan nyanyian alam yang ada di layar besar itu. Ketika hutan belantara itu hilang, seketika mereka meronta bagai menerbangkan semangat jiwanya lalu tersungkur dengan sejuta kecewa, begitulah opening tari kontemporer berjudul Ritus Tergerus Rakus karya Epi Martison, sebagai opening hari pertama Pasar Tari Kontemporer (Pastakom), 11 November 2016 di Pekanbaru yang digagas koreogrfer Iwan Irawan Permadi, sebagai salah satu tonggak penting tari kontemporer Indonesia yang dilaksanakan rutin setiap tahunnya di Riau.

Jauh-jauh saya datang dari Jakarta ke Pekanbaru untuk menyaksikan langsung karya salah seorang seniman terbaik Riau yang telah mendunia ini. Ingin melihat langsung karya baru sebagai tanda munculnya ia, kembali ke dunia musik dan tari kontomper Indonesia yang hampir lima tahun menghilang dari gegap-gempita perkembangan kesenian di Jakarta, rantau tempat eksitensi kesenimannya mulai dikenal dunia.

Di awal pertunjukan saya sempat kehilangan Epi, namun ketika musik sakral menggambar panggung dengan gerak, serta merta gerak dan musik berpadu bagai menyampaikan puisi-puisi kehidupan. Semangat saya mulai menggeliat bagai membaur dengan gerak dan musik. Saya dan  penonton yang memenuhi gedung pertunjukan Idrus Tintin tersihir oleh musik garapan Epi Martison ini. Benarlah apa yang dikatakan penyair besar WS.Rendra, di saat latihan bersama di Bengkel Teater bersama Epi, sebelum beliau wafat, mengataka, Musik Epi Martison bukan sekedar untuk didengar akan tetapi untuk ditonton. Benar pula kata koreografer Indonesia, Farida Faisol, bahwa, musik Epi Martison membawa dan mengajakku menari dan menari. Tetapi malam itu ada yang dahsyat dari Epi, tariannya bukan sekedar  mengajak menari tetapi mengajak kita merenung dan intropeksi diri.

Renungan dan intropeksi diri dimulai dengan munculnya seorang lelaki telanjang dada berdiri kokoh meniup digiridu dengan nafas panjang. Suaranya bergaung bagai melefazkan mantra. Bersamanya seorang penari menggerakkan tubuhnya, teaterikal seirama dengan musik tiup sakral itu, lalu tiupan sakral itu berhenti. Penari itu bagai lilin cair terjatuh mencium tanah, hutan belantara dengan segala penghuninya meredup di layar. Tampak simbol-simbol pepohonan muncul di panggung. Satu-persatu penari mengitari pepohonan seperti memilih pohonan dengan hati-hati dan cermat untuk dijadikan sampan dalam bahasa Kuantan Singigi disebut Jalur.  Sayup-sayup terdengar suara saluang khas Kuantan terdengar. Calempong berdentang seirama saluang dan perkusi khas Riau daratan ini mulai bergemuruh. Perpaduan musik luar Indonesia dan musik khas Riau digarap apik dan inovatif.

Penampilan New Indonesian Ensemble berjudul Ritus Tergerus Rakus ini tidak sekedar menampilkan keahlian gerak dan permainan musik memukau. Ia bagaikan puisi yang tak sekedar indah kata-kata namun memiliki misi. Misinya adalah peduli lingkungan hidup. Tari ini memberontak, marah melihat nasib hutan setiap hari hilang ditebang, tanpa diganti, sehingga berganti bencana asap, banjir silih berganti. Padahal dari pohon-pohon itulah rakyat Kuantan memilih-milah untuk dijadikan Jalur. Para tetua negeri ini sangat berhati-hati menebang pohon, dengan upacara dan berbagai mantra dibaca agar tak terjadi bala:

Wahai engkau pohon roh  
penghuni rimba raya sejagat
aku tau kau  bermamfaat
bagi alam
bagi penghuni semesta,
akarmu tidak hanya
tegap menopang
kokoh tegak mu
bermamfaat  menggembur
tanah
agar tetap subur tdk tergerus air
penyebab erosi dan
bencana longsor
batang mu
kulitmu dahanmu
rantingmu daunmu
pucuk bunga putik buahmu
semua bermanfaat
di kelopak kulit batangmu
di sela-sela akarmu
di bawah daunmu
di cabang dahan rantingmu
menjadi tempat
bersarang ribuan mahluk
nyaman tenteram dan
penuh kedamaian

wahai pohon dan roh pohon
ijinkan kami untuk
menebangmu
aku memohon pad mu
walaupun dengan berat hati
karena batangmu
dibutuhkan untuk kami
buat jadi Jalur
kami berjanji setelah
menebangmu kelak kami
akan menanam 1000
pohon penggantimu
kami berjani akan
menjaga alam ini tetap lestari
kami berjaji akan hidup
selaras dengan alam
karena kami tau alam
ciptaan Tuhan
sebagai sumber kehidupan
bagi semua penghuni alam ini

bismillahirromanirrohim
kan kutebang hanya
dengan kampak dan belitung
semoga tebang tak
sembarang tebang
Puaaah


Begitulah orang-orang dahulu menghargai pohon. Tidak saja diharapkan dapat  menjadi jalur terbaik, tahan bertahun-tahun, sekaligus menjaga kesehimbangan alam, menjaga peradaban.
Dari Jalur itu  akhirnya masyur menjadi acara Pacu Jalur, menjelma  ikon acara Riau bahkan Indonesia, dilaksanakan setiap tahunnya, namun duhai... banyak tak tahu betapa sipembuat Jalur cemas dan menjerit tersebab pohon-pohon  semakin sulit, karena orang-orang tak ada lagi rasa memiliki dan menjaga alam, rakus dan tamak.

Pada puncak tari Ritus Tergerus Rakus, tampak gerakan tari marah, gelisah dan kehabisa akal. Bagai sipengerajin Jalur yang tak menemukan kayu lagi. Betapa ironisnya, di saat Pacu Jalur dielu-elukan sebagai ikon negeri, pada saat yang sama sumber pembuatan Jalur itu dibabat habis tidak ada usaha untuk melestaraikannya. Menebang pohon secara membabi buta pada hakekatnya secara perlahan akan “membabat” tradisi Pacu Jalur ini, lambat-laun akhirnya  tinggal kenangan. Demikianlah  protes yang disampaikan  Epi lewat musik dan tari Ritus Tergerus Rakus,  berdurasi 30 menit, ditutup dengan munculnya buldoser, mesin raksasa penebang pohon dan luluh lantaknya rimba ditebang, ditayangkan jelas di layar proyektor. Sedang penari hanya melenguh menatap hampa, bagai rakyat papa yang tak punya daya melihat rimba lenyap jadi bencana.

Karya Epi Ritus Tergerus Rakus menjadi momentum kembalinya seorang maestro musik dan Tari Kontemporer dari Indonesia asal Riau  ke dunia musik dan tari kontemporer Indonesia,  setelah malang melintang diundang dalam event musik dan tari kontemporer bergengsi dunia antara lain, Austria, Denmark, Germany, Belanda, di beberapa negara bagian USA. Pernah tampil di Labaulle Internationales Deladances Paris, Jacob Fillo Dance Teatre USA, Jois Theatre New York, Otb Seatle USA, Tour The Canada, Tour The Africa Selatan, London Music Sufi Festival, Colombia Dance Theatre, Opera Hous Sidney Australia, Tour The Usa Opera Kali, Tour The Hongkong University Of Art,Tour The Japan,Sister City Korea,Taipe, Roma, Argentina. Mendapat Bassie Award di 11 negara bagian Amerika Serikat, sebuah penghargaan musik bergengsi di Amerika. Mendapat medali emas di Word Choir Olimpic di Winna Austria, Denmark, Germany,Belanda.

Setelah Epi “bertapa” selama lima tahun di kampung halamannya, Kuantan Singigi Riau, dan menjelajah kampung-kampung di Riau yang sarat dengan musik dan gerak khas Riau, bagaikan pendekar telah memperdalam ilmunya. Ia kembali ke pusat ibu kota, Jakarta, sebagai pintu gerbang dunia mengenalkan karya-karya barunya yang semakin kuat dengan kearifan lokal.

Ia akan semakin ditunggu dunia dengan kepiawaiannya mengangkat kearifan lokal, seperti kata Jarod Fowel, dosen musik, di Seattle USA, Epi ditunggu dunia dengan kearifan lokalnya.  Epi akan semakin “menggil’’.

Hari Rusli, mengatakan, Epi itu kaya, edan dan mapan dengan tradisi kekinian. Musisi senior dan masyhur, Slamet Abdul Syukur dari awal kemunculan Epi pernah mengatakan, Epi itu punya karya bagus-bagus dan selalu berkembang sesuai dengan selera kekinian. Dengan pengakuan hormat dari tokoh musik, tari bahkan penyair berkelas dan usaha pencapaiannya pada pendalaman musik dan tari dari Riau yang eksotik dan menyihir melalui  “pertapaan” selama lima tahun itu, Epi Martison semakin matang,  datang kembali  dari Riau untuk Dunia.***

Asrizal Nur, penyair, penggiat budaya, dan kini berdomisili di Jakarta
 
    
           






KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 18:43 wib

TGB Blak-blakan Bicara Tudingan Gratifikasi

Kamis, 20 September 2018 - 18:38 wib

AS Potong Bantuan Dana bagi Palestina

Kamis, 20 September 2018 - 18:30 wib

Polres Gelar Apel Pasukan Operasi Mantap Brata

Kamis, 20 September 2018 - 18:24 wib

Ketua Ombudsman RI Gelar Kuliah Umum di Unri

Kamis, 20 September 2018 - 18:00 wib

Sah, BPI Kerjasama dengan Negeri Istana

Kamis, 20 September 2018 - 17:39 wib

Dimsum, Chinese Food Yg Menggugah Selera

Kamis, 20 September 2018 - 17:37 wib

Ancaman Serius Plastik Mikro

Kamis, 20 September 2018 - 17:36 wib

Trump Senang Kim Jong Un Izinkan Inspeksi Nuklirnya

Follow Us