CERPEN ILHAM FAUZI

Bertemu Kota Mati

7 Januari 2017 - 23.23 WIB > Dibaca 1383 kali | Komentar
 
Bertemu Kota Mati
AKU akan mengunjungi kota Bazar. Kabar tentang pernikahannya membuatku harus mengunjungi kotanya yang berjarak cukup jauh. Dahulunya kami berada di kota yang sama. Namun Zar pindah mengikuti orang tuanya. Sampai sekarang, karena kesibukan masing-masing, tidak ada di antara kami yang sudi mengunjungi satu sama lain. Awalnya aku keberatan untuk hadir. Tetapi karena Zar berjanji mengajakku berjalan-jalan mengelilingi kotanya dan menanggung ongkos perjalanan, maka aku tak kuasa menolak. Sebelum berangkat, bapak dan ibu menitipkan salam dan doa penuh keberkahan untuk sahabat masa kecilku itu.

***

Langkahku menapaki stasiun yang asing. Seperti pesan Zar, aku perlu berjalan ke arah utara hingga menemukan sebuah terminal tempat berpangkal segala macam bus. Untuk sampai di kotanya, aku harus menaiki bus bahagia. Kata Zar lagi, menemukan bus itu sangat mudah. Tidak perlu bertanya kesana kemari. Dengan melihat bentuk mobilnya saja, sudah bisa ditebak mobil yang akan membawaku ke alamat yang dituju. Aku agak heran namun memilih mengabaikan ucapannya itu.

Sembari berjalan kaki menuju terminal yang dimaksud, aku kembali mengingat janji-janji manis yang Zar obral kepadaku. Ia akan membawaku menikmati kuliner terlezat di kotanya lalu mengunjungi perkampungan yang penuh dengan hamparan sawah dan dikelilingi tebing-tebing tinggi yang amat kokoh. Membayangkan itu aku sudah tidak sabar menyaksikan kebesaran Tuhan.

Aku bersiap menaiki bus yang kupastikan adalah bus bahagia. Pada saat itu terdengar seseorang bersuara di belakangku.

“Apakah Adik merasa bahagia?”

Pandanganku bertemu dengan sosok laki-laki berwajah tirus. Gurat wajah tuanya seperti menggambarkan keletihannya menjalani hidup. Usianya kira-kira sebaya dengan bapak. Di kepalanya tersampir sebuah topi dan pada tangannya terlihat lembaran karcis beserta sebuah pulpen berwarna hitam.

“Tentu saja bahagia. Saya akan menghadiri acara pernikahan teman baik saya, Pak,” balasku dengan wajah berseri. Ada-ada saja. Di kotaku mana ada kernet bus bertanya dengan pertanyaan konyol semacam ini.

“Baik, silakan masuk,” lanjut laki-laki itu sambil tangannya cepat mennyoreti sebuah karcis dan menyerahkannya kepadaku. Buru-buru aku merogoh saku dan menyerahkan sejumlah uang yang ia minta. Sebelum aku melangkah masuk, lelaki itu masih sempat berbisik ke telingaku, “semoga hidupmu senantiasa berbahagia.”

Aku tidak begitu memperhatikan perkataannya karena mataku sudah tertuju pada badan bus yang belum terisi penuh. Dengan leluasa aku masih bisa memilih tempat. Aku putuskan duduk di bagian belakang dekat jendela. Dengan begini akan bisa melihat pemandangan di sepanjang perjalanan. Sembari menunggu bus penuh penumpang, mataku melihat ke sekeliling terminal. Memperhatikan bus-bus yang juga hendak berangkat ke tujuan masing-masing.

Terminal ini benar-benar berbeda dengan terminal di kotaku. Pantas saja aku begitu mudah menemukan bus bahagia seperti pesan Zar. Bentuk bus ini benar-benar melambangkan ekspresi tanpa duka. Seorang yang sedang bahagia dapat dilihat dari senyumnya yang terkembang dan wajah berseri-seri. Maka begitu pula dengan bus ini yang memeragakan kebahagiaan seperti yang dirasakan manusia.

Aku mengalihkan pandangan ke luar jendela dan melihat tidak ada kebahagiaan yang terpancar pada bus lain. Bus-bus itu memancarkan ekspresi yang berbeda. Rata-rata bentuk mereka mewakili raut ketidakbahagiaan. Ada bus yang terlihat begitu murung, bermuram durja, dan menyimpan kekecewaan. Aku menarik kain penutup jendela dan memicingkan mata. Aku meyakinkan diri bahwa pemandangan di luar sana tidak benar-benar terjadi. Namun ketika aku melihat lagi ke luar, bus dengan berbagai ekspresi itu masih di sana. Ini akan menjadi pertanyaan pertama untuk Zar nanti.

Mulanya bus bergerak perlahan. Begitu keluar dari terminal, kecepatannya semakin bertambah dan pemandangan di luar terlihat berkejaran. Perjalanan akan cukup panjang karena membutuhkan waktu tiga jam. Mulanya aku begitu mengagumi pemandangan yang tersuguh. Kemudian semua terasa lain ketika yang kulihat bukan lagi pemandangan alam yang asri dan menyejukkan mata. Tetapi yang kulihat adalah sebuah skenario hidup seseorang.

Seorang lelaki memasuki sebuah rumah dengan wajah penuh luka. Air matanya menderas melihat sosok yang terbujur tanpa nyawa. Orang-orang mengusap punggungnya dan masing-masing dari mereka berusaha menyusut air mata. Laki-laki itu tidak memedulikan rasa sakit yang mendera. Bahkan ia kini tak lagi segagah sebelumnya. Siapa pun yang melihat rasanya tak perlu lagi bertanya apa yang terjadi pada dirinya.

“Besok tidak ada pernikahan,” ujarnya di sela tangis yang semakin keras.

“Akan tetap terlaksana pernikahan yang lain,” seseorang menepis ucapannya.

“Saya... saya tidak sanggup, Ayah,” isaknya di depan sosok perempuan yang telah terbujur kaku.

Orang-orang memperhatikan dengan nanar. Sesekali terdengar seseorang berbisik atau berbicara sangat pelan.

“Kasihan sekali. Harusnya tidak begini.”

“Betul. Harusnya mereka tidak mengendarai kendaraan menjelang hari pernikahan. Mengapa begitu ceroboh?”

“Pesta tetap terlaksana. Pesta kematian.”

Mereka terus berbisik. Semakin lama menjadi berisik. Pemandangan itu perlahan-lahan menghilang. Lalu beralih pada pemandangan lain. Aku masih belum mengerti dengan apa yang terjadi.

Terlihat sepasang suami istri sedang duduk berdua. Sang suami sesekali mengelus perut istrinya. Dari wajahnya tidak dapat disembunyikan kebahagiaan yang terpancar. Beberapa bulan lagi mereka akan dikaruniakan seorang anak setelah dua tahun mengarungi bahtera rumah tangga. Penantian yang cukup panjang namun akhirnya membuahkan hasil.

“Kematian begitu dekat bagi perempuan ketika sudah mendekati proses kelahiran ini.” perempuan itu berbicara sambil menggenggam tangan suaminya.

“Tidak. Tidak ada kematian,” ucap sang laki-laki meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Istrinya tersenyum. Perempuan itu seperti dapat memprediksi akan ada badai buruk yang menerpa rumah tangga mereka. Tetapi ia tidak mengatakan kekhawatiran itu pada suaminya. Nyatanya yang terjadi kemudian seorang lelaki tergugu di gundukan sebuah pusara yang masih merah. Ia diamuk kesedihan. Kebahagiaan yang mulanya akan menyelimuti rumah tangganya, terbang laksana angin yang menerbangkan daun-daun kering. Istrinya telah terbujur di rahim bumi, bersama calon anaknya yang belum sempat lahir ke dunia. Ia lama tergugu hingga kemudian seorang laki-laki datang dengan terpincang-pincang dan menyentuh pundaknya.

Jantungku serasa mau lepas melihat kehadiran lelaki itu. Bukankah dia yang muncul di awal skenario tadi? Tubuhnya belum sembuh benar dari luka. Mereka berangkulan, saling meneguhkan. Kusadari kemudian air mataku menitik melihat dua karib itu. Namun bukan berarti pemandangan itu berakhir dengan lega. Aku menyadari bahwa dua orang itu begitu dekat denganku. Sangat dekat.

***

Bus mulai memasuki kota tempat Zar berada sekaligus menjadi tempat pemberhentian terakhir. Kecepatan bus mulai berkurang hingga akhirnya berhenti di terminal. Orang-orang turun dengan gembira. Beberapa keluarga mereka tampak telah menanti. Napasku masih tersengal-sengal melihat pemandangan yang rasanya hanya sebuah ilusi. Kutemui Zar yang telah menunggu dengan senyum sumringah. Kebahagiaan menyelimuti dirinya.

“Bagaimana rasanya menaiki bus bahagia? Kau pasti semakin bahagia bukan?” ucapnya sambil merangkulku.

Begitu ia melepas rangkulannya, aku menatapnya sejenak lalu berujar pelan, “Entahlah. Aku seperti melihat siluet-siluet kematian yang berlari sepanjang jalan.”

Aku memperhatikan reaksi Zar, namun ia terlihat biasa saja dan tersenyum.

“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Itu mungkin semacam paranoid yang menghantuimu karena aku akan menikah,” Zar tertawa agak keras sambil membawaku ke parkiran.

Aku tidak menjawab. Rasa bahagia yang beberapa jam lalu memadat, sekarang berangsur-angsur memudar. Aku tidak begitu bahagia saat ini. Ada kecemasan dan kekhawatiran yang mengikuti dan terus menguntit dari belakang. Begitu mobil yang dikendarai Zar meninggalkan terminal, aku masih ragu memutuskan apakah harus melanjutkan mengatakan kepada Zar tentang hal-hal ganjil yang aku lihat sepanjang jalan.

“Kau mau makan apa?” Zar memecah keheningan.

“Terserah kau saja. Pemandangan yang aku lihat tadi seperti begitu nyata dan dekat dengan kita. Seakan-akan kita yang mengalaminya. Kenapa aku tidak bisa melupakannya?”
Zar diam sesaat.

“Aku tidak mengerti mengapa kau bisa melihat pemandangan itu. Namun jika pemandangan itu benar-benar nyata kaulihat dan bukan sebatas mimpi, kita pantas menjadikannya sebagai sebuah pelajaran untuk selalu berhati-hati. Tetapi satu hal yang harus kau yakini, kita tidak bisa melangkahi kuasa Tuhan. Kita hanya perlu berserah diri pada-Nya,” suara Zar terdengat datar dan tenang. Aku sedikit lega. Matanya terus tertuju ke arah depan dan berusaha tidak lengah sedikit pun.

Aku tidak lagi menanggapi ucapan Zar. Kusandarkan kepala di bantalan kursi dan berusaha memejamkan mata. Sepoian angin yang membelai lembut membantu memberi ketenangan. Aku masih terus berupaya menghilangkan dalam ingatan tentang dua lelaki yang berduka cita itu. Namun tetap saja tidak dapat hilang begitu saja. Karena ingatan itu terus mengingatkan pada dua wajah yang akrab denganku. Wajah lelaki pertama dengan luka di sekujur tubuh itu adalah Bazar, lalu wajah lelaki kedua yang kehilangan istri dan buah hatinya adalah aku sendiri. Semakin lama bayangan itu semakin menerorku hingga tak dapat lagi kukendalikan.

“Ini tidak boleh terjadi! Tidak, tidak boleh!” aku berteriak sekencang-kencangnya.

Zar tercengang. Kaget. Ia menepi segera.

“Kau kenapa?” Zar prihatin melihatku.

“Aku... aku baru saja bertemu kota mati. Dan kau, kau juga, Zar!”

Terlihat Zar menggeleng. Ia kembali tersenyum. Menepuk pundakku dan menyerahkan air mineral.

“Tenangkan dirimu, semua akan baik-baik saja.”

Mobil kembali berjalan dan aku seperti melihat duka bertebaran dimana-mana.***

 
Ilham Fauzi, lahir pada 28 Desember 1992. Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas-Padang. Pernah bergiat di FLP cabang Pekanbaru dan merupakan pemenang Unsa Ambassador 2016 yang diselenggarakan Komunitas Unsa/Unsa Press. Cerpennya termaktub dalam Hikayat Bunian (cerpen pilihan Riau Pos 2015).
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 12 November 2018 - 21:00 wib

Maksimalkan Melalui Produk Unggulan

Senin, 12 November 2018 - 20:30 wib

2019, Tour de Singkarak Lintasi Mandeh dan Jambi

Senin, 12 November 2018 - 20:00 wib

Tausiah UAS Banjir Jamaah

Senin, 12 November 2018 - 19:00 wib

Transaksi Harian Saham Anjlok 1,89 Persen

Senin, 12 November 2018 - 18:30 wib

Lions Club 307 A2 Beri Bantuan Pengecatan Panti Asuhan

Senin, 12 November 2018 - 18:00 wib

Cukai Rokok Batal Naik, Target Pajak Sulit Tercapai

Senin, 12 November 2018 - 17:00 wib

PT Pekanperkasa Promo Spesial Akhir Tahun

Senin, 12 November 2018 - 16:30 wib

KPP Pratama Bangkinang Edukasi Siswa lewat Pajak Bertutur

Follow Us