SAJAK

Sajak-sajak Jefri al Malay

8 Januari 2017 - 00.04 WIB > Dibaca 2541 kali | Komentar
 
Ke Hati

Ajak mengajak di awal mula.Ketika sayembara hidup sedang berlangsung. Sementara mitologi tentang hati terus mendengung. Aku mengeja rupa-rupa, karena itulah kenyamanannya.

Di dalamnya beriak. Riak jiwa menjantungkan rindu. Atau kebenaran di dalam kitab kematian terukir, aku luput. Tak ada yang lebih berat dan ringan pada timbangan penghabisan ini. Cuma riak sahaja dipelantak senyap.

Seperti di sungai; tempat menyimpan hanyut dalam arus usia. Atau sebuah pelarian yang perlahan. Setelah sayup baru mengirim debar. Tapi nyanyian-nyanyian kerap setia di tepian, sepanjang harap itu mengintai. Antara berdepa denyar yang tertata, waktu adalah segalanya. Tak usah lagi menancapkan umpat, meski datang, meski pergi. Karena semua prihal hati. Hati yang ke tengah dan ke tepi atau ke muara, tempat asal memulai tuju.
 
Seperti danau; potret tenang di persekitarannya, adalah hidup dan nafas rindu jua agaknya. Di kedalaman yang kerap tempat bercermin, adalah kejernihan yang paling diincar. Dahan-dahan condong, menukik tunjuk pada seberapa sering angin hinggap, sedang kelumpuhan waktu yang terukir lebih mendesau-desau, lebih melambai-lambai. Ke hati jua, tempat mengeban sesal, padahal sejak bermusim sudah, ada pakaian yang tertinggal, entahkan baju, celana, mungkin juga selendang. Dan kita kerap kali merasa lebih akrab dari apa yang tersidai ketimbang apa yang tersuruk.


Lalu, aku percaya. Pekerjaan kita sesungguhnya adalah meraut bujuk. Seruncing-runcingnya ia, hingga bisa menusuk kelamnya rajuk. Sepercik semangat yang kadangkala terciduk risau, dapat pula dihantarkan pada matlamat diri, matlamat hati. Tempat di mana darah adalah buncah dan kecambah hidup.

Dan ke mana?
Apakah ikhtibar yang terbit ini hanya kita pajangkan pada dongeng dan cerita rakyat sahaja, atau pun cukup cantumkan dalam setiap kartu pakau sembari kita merecupkan mimpi melalui ramalan dan juga prakiraan semata.

Agaknya ajakan terlalu sering diacuhkan ketika musim berlari dan campur aduk hasutan bermetamorfosis menjadi rayuan, jadi panutan juga panduan. Padahal di pancang awal yang membenam adalah benih, adalah awal dari segala mula. Seperti halnya silphium; yang dulunya dipasangkan untuk menangkal tertiupnya nafas.

Jadi jangan asal mengangkau kau!
Sebab di sini jarak antara hitam dan putih adalah perkara hati. Tinggal lagi bagaimana menugal janji menjadi prasasti, atau melumatnya hingga yang tersergam akhirnya adalah kecup yang paling hakiki, bukan desah menganak padah.

Jadi menjeling dan mengerlinglah kau!
Sebab di semua pandangan adalah jengah setelahnya. Walau bertubi ragu selalu menguji, tapi bersitatap dan bertentangan mata adalah jua sebauh ajakan. “Ayo ke hati”.

Banda Menderu, Awal 2017


Riuh dan Gelegar Nama

1
Ke mana ujungnya gelegar?
Ketika riuh yang kau cipta masih tersiar
Menyisakan bekas tampar
Melekat, tinggalkan mimpi memar.

Ruas-ruas jalan lecah
Incarkan sanggam
Dendam tak sudah-sudah
Andai dapat ditaklukkan

Ke mana ujungnya gelegar atau sekanak ombak?

Lintas ingatan tertukik rindu
Inginkan usap menanak sendu
Apapun terdekap di sini, hanya lantun senyilu-nyilu
Memungkinkan datang lagi sergah
Seperti hari di mana tidak perlu mengoyak geram
Ini mungkin sudah yang keberapa kali engkau menegurku.

2.
Ke bawah anggukku itu
Kadang-kadang tumbuh ilalang layu, seperti dulu
Mengintai kau, dalam sembur sakti
Melesapkan aku seketika di garis realita

Timbun-timbunlah, katamu
Angkat serapah di semerata laman
Usah biarkan terlalu lama menyelinap
Fitnah kan datang pantang terlelap
Isyarat itu bagai bayang
Kalau tak ditandai kan hilang

Ikrarkan saja gelinjang semalam
Ke ceruk-ceruk sampai
Ramalan tentang cinta dan kata-kata
Adalah bagaimana kita yang menggenggamnya
Masih bertanyakah, engkau?

Janji-janji tentu saja memuai
Andai dibiarkan, diabaikan bagai maung hari
Melumpuh langkah kalau tak segera berkemas
Inilah katamu, sebungkah kekalahan
Lamat-lamat menyusup, tuju pun tinggal kulainya.
3.
Kesiapanku menangguk silsilah nasib
Kau dedahkan denyarnya
Merata pula segala cerita
Menyulap ingkar di tepian waktu

Alamak… janganlah nak belajar memaki lagi
Lain waktu dulu, telah kau ajarkan aku bagaimana menugal gagu

Andai di tiap waktu, engkau menyusun baris-baris keringat
Zuriat yang lahir, mungkin saja merengekkan marwah
Hingga di tungku zaman, bertalu-talu pula warkah
Almanak mana yang hendaknya dinyalakan
Rupa kita, telah pun dicekal impas pada keasingan.

4.
Kandas rinduku, menepi di pelantar kalbu
Kalimat menyerbuk diiringi duri masa lalu
Menghidunya, aku lepas bebas
Memaknai sejambangan sejarah, merekah dan kalah

Sunyi senyap menyerupai dengung suaramu sesayup sampai
Yang menelingkup di langit kembaraku
Adalah jazirah yang kau tarah
Ujung dari semadimu pada bertimbun baris kalam
Kelak mekar serupa mawar
Akankah kembang tak kenal musim
Nyanyian dan denting mimpi pun di sini
Ikut merayakan hari-hari kelabu tanpa keterlenaan sejati

Agar kita bisa kembali meregut gairah yang terlanjur terkubur
Layak atau tidakkah kau hujamkan kembali tajamnya kata

Karena dari sekian langkah yang telah ditandai
Adalah tapak sebesar tapak tak sempurna
Rimbun semak di sekelilingnya telah mengelabui
Ingatan siapa pula yang tembus lurus
Menafsirkan hujah di sepaling hunus.

5
Kendala selama ini, bagaimana meletakkanmu
Kendati kusediakan tempat berkali-kali
Mengapa tak tercapai jua agaknya
Melintang aral ketika hendak kulalui

Yang menanti-nanti di intaian paling awal
Usah dipertanyakan lagi walau kepada si pelantun cerita
Sebelum digelar pesta, aku sudah berdiri
Menatap nanar pada sejumlah aksara
Atau ungkapan yang menagih takik
Ringkasan-ringksan sejarah yang kau bela

Yang kerap mengelap ketangguhan berdecau kilau
Ulurkan berlembar-lembar kisah perawan
Susupi aku diam-diam di balik tirai waktu
Untung kuraup meski tak bercakap temu
Fitrahnya aku tak membuat jadwal sua denganmu.


 Bandar Menderu, 2015-2016


Jefri al Malay, penyair asal Riau kelahiran Sungai Pakning. Pernah dinobatkan sebagai Johan Penyair Panggung Se-Asia Tenggara tahun 2011 di helat Tarung Penyair Panggung Se-Asia Tenggara di Tanjung Pinang. Buku kumpulan puisi yang telah terbit “Ke Mana Nak Melenggang” (2013), “Timang-timang Nak Ditimang Sayang” (peraih anugerah Sagang kategori buku pilihan 2014). Sedang menyiapkan buku kumpulan puisi yang ke tiga berjudul “Nak Dihayak-Hayaklah”. Saat ini mendedikasikan diri sebagai tenaga pengajar di FIB Unilak.  

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 13:30 wib

Harga Emas Kembali Stabil

Selasa, 18 September 2018 - 13:30 wib

SMA Santa Maria Unggulkan Tim Putra

Selasa, 18 September 2018 - 13:20 wib

Subsidi Energi Membengkak

Selasa, 18 September 2018 - 13:00 wib

Bersihkan Sisa Banjir, Belajar Ditunda

Selasa, 18 September 2018 - 13:00 wib

Syamsuar, Gubernur Riau Terpilih Siap Dukung APPSI

Selasa, 18 September 2018 - 12:50 wib

Ulama di Ranah Minang Tolak Aturan Pengeras Suara Masjid

Selasa, 18 September 2018 - 12:42 wib

Kakek 11 Cicit dan 31 Cucu Nikah Isbat

Selasa, 18 September 2018 - 12:30 wib

Mahasiswa Tuntut Stabilitas Rupiah dan Pengelolaan Blok Rokan

Follow Us