MENJAGA JONG KATEL

Warisan Leluhur dari Zaman ke Zaman

15 Januari 2017 - 00.21 WIB > Dibaca 463 kali | Komentar
 
Warisan Leluhur dari Zaman ke Zaman
Banyak cara untuk menjaga dan terus melestarikan kebudayaan masa lalu. Salah satunya melalui festival. Jong Katel; permainan zaman dulu, adalah salah satu warisan yang harus dilestarikan melalui festival itu.
----------------------------------------------------

SORE itu, ujung kuala Sungai Kampar di Desa Teluk Meranti, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Kampar, ramai penduduk. Juga pengunjung. Mereka berkumpul di lokasi hempasan gelombang bono yang juga dikenal dengan Pantai Ogis. Air sedang pasang. Pantai putih pasir bulan yang biasanya menghampar panjang, tertutup. Semua hilang. Tenggelam. Yang terlihat hanya  genangan maha luas.

Air Sungai Kampar yang mendekati muara itu, berwarna hitam. Tawar. Sebagian orang kampung mencebur ke dalamnya. Lumayan dalam. Rata-rata batas air hingga dada mereka. Baik yang dekat dengan tepian, ataupun yang cukup jauh hingga puluhan meter setelahnya. Sampan kecil dengan warna-warni, dibiarkan mengapung di depannya.  Mereka sedang bersiap melepaskan sampan kecil itu, sampan yang dikenal dengan Jung Katel.

Jung adalah sampan kecil. Sedangkan katel adalah penyeimbang sampan. Kalau tak ada penyeimbang, Jung akan  tumbang. Jadi Jung Katel adalah sampan kecil yang seimbang dan diberi layar. Tidak ada yang membedakan antara Jung Katel satu daerah dengan daerah lain selain bentuk sauknya (kepala Jong Katil). Rata-rata bentuknya seperti pauh burung. Ada pauh onggang. Ada juga berbentuk naga, bahkan seperti kepala gitar gambus.

Setidaknya ada delapan jung katel sore itu. Layarnya bermacam-macam.  Ada merah, biru, ping, hitam, atau perpaduan warna antara ping dan biru, dan masih banyak lainnya.  Ukurannya beraneka macam. Rata-rata antara 1-2 meter. Ada 1,7 meter, ada 1,5 meter.  Panjang layar dari atas ke saut (ujung Jung), rata-rata 2,5 meter.

Jung terbuat tidak dari kayu sembarangan. Jung hanya bisa dibuat dari kayu yang bisa mengapung. Pulai, adalah kayu yang paling pas untuk membuat Jung ini. Tak semua orang pula pandai membuatnya. Hampir putus, hampir hilang generasi yang pandai membuat Jung. Begitu juga dengan cara memainkannya. Tak semua orang bisa. Salah main, salah layar, jung bisa pecah. Salah dibawa angin, Jung juga bisa hancur berantnakan.

Permainan Jung, merupakan salah satu permainan tradisional di tengah masyarakat Melayu Pesisir. Orang zaman dulu, khususnya yang tinggal di daerah pesisir, tidak banyak memiliki permainan. Jung Katel inilah yang dekat di tengah mereka. Bermain sampan-sampanan tak bernakhoda, dilepaskan bebas ke tengah sungai atau laut, itulah permainan mereka saat itu. Permainan inilah yang kemudian dikenal dengan Jung Katel. Tidak hanya di Riau tapi juga di Kepulauan Riau. Tidak hanya di Teluk Meranti, tapi juga ada di Bengkalis, Dumai dan daerah pesisir Riau lainnya.

Semakin lama, Jung Katel semakin hilang seiring dengan perubahan zaman. Tidak ingin kehilangan masa lalu, warisan dan kebudayaan nenek moyang, sebagian masyarakat melestarikan Jung Katel dengan berbagai cara. Festival Jung Katel di Teluk Meranti ini juga merupakan salah satu cara yang dilakukan masyarakat, pemuda dan segenap orang yang peduli agar tetap diingat dan terjaga hingga nanti.

Hari semakin sore. Arah angin juga semakin stabil. Festival yang dilaksanakan di Teluk Meranti sempena ivent Bono Jazz Festival itu, siap dimulai. Masyarakat, pengunjung, wisatawan dan ratusan tamu dari berbagai elemen dan komunitas yang datang sempena ivent Bono Jazz Festival yang dilaksanakan Riau Musik Fontdation (RMF) beberapa waktu lalu, merapat ke tepi sungai. 

’’Satu.. dua.. tiga!!’’ Jung dilepas. Ada yang berlayar lurus persis ke batas garis akhir. Ada juga yang keluar jalur. Empat Jung terbaik ditetapkan sebagai pemenang. Jung kemudian diangkut ke daratan. Dipajang dan dipamerkan.  Inilah saatnya pengunjung berfoto di depan Jung. Bebas dengan berbagai gaya.

Tidak lama kemudian, perlombaan kembali digelar untuk mencari juara satu hingga harapan. Pegunjung semakin tidak sabar. Semakin merapat. Pemilik Jung juga semakin berdebar. Apalagi satu orang ada yang memiliki dua Jung. Maklum saja, karena tak banyak yang pandai membuat Jung. Tak banyak pula yang bisa memainkannya dengan baik.

Di Teluk Meranti, kata Junaidi, tokoh pemuda dan juga Ketua Badan penyelamat Wisata Tirta Bono, Community Rescue dan Penanggulangan Bencana (Balawista Bono SBR-PB), hanya ada beberapa orang saja yang pandai membuat Jung. Jumlahnya hanya sekitar 10 orang. Mereka inilah yang membuat Jung tersebut, baik Jung berukuran besar yang diperlombakan, maupun Jung kecil untuk souvenir.

‘’Jung Katel ini merupakan suatau kebiasaan orang dulu. Dulu tak ada semacam perlombaan, ya hanya untuk main-main saja.  Murni permainan tradisional Melayu Riau pesisir. Tidak hanya dari Teluk Meranti, di Bengkalis juga ada. Batam juga,’’ beber Junaidi.

Mengapa Jung harus diperlombakan? Jawabannya cukup sederhana; supaya Jung Katel tetap bisa dilestarikan. ‘’Kenapa diperlombakan, salah satunya untuk menarik wisatawan. Tapi lebih dari itu, supaya warisan leluhur ini tetap bisa dilestarikan. Apalagi yang bisa membuat Jung tidak banyak. Kita takut akan hilang begitu saja nantinya,’’ sambung Junaidi.

Selain itu, Jung Katel sekarang sudah menjadi industri masyarakat dan bisa menghasilkan uang. Bisa menjadi sumber perekonomian. Maka, Jung juga patut dimunculkan agar wisatawan tahu tentang kebudayaan tradisional di Teluk Meranti. Kebudayaan itu dimunculkan dalam bentuk karya tangan yang nyata. Artistik. Menarik. Sehingga pengunjung yang datang membeli  sebagai kenang-kenangan.

‘’Selain menciptakan karya tangan berupa Jung ini, kami juga harus berusaha keras terus mengundang dan menarik wisatawan sebanyak-banyaknya kemari. Kalau sudah banyak yang datang, mereka belanja. Kalau mereka belanja, pendapatan masyarakat bertambah. Perekonomian yang kreatif berputar. Sementara kebudayaan dan kesenian tradisional juga tetap terjaga dengan baik,’’ sambung Junaidi.(Kunni Masrohanti)

KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:01 wib

Hotel Prime Park Promo Wedding Expo

Jumat, 21 September 2018 - 16:00 wib

Kondisi Firman Makin Membaik

Jumat, 21 September 2018 - 15:58 wib

Najib Razak Kena 25 Dakwaan Baru

Jumat, 21 September 2018 - 15:45 wib

1.601 Warga Ikuti Aksi Donor Darah Eka Hospital

Jumat, 21 September 2018 - 15:30 wib

Banjir, Pemkab Kurang Tanggap

Jumat, 21 September 2018 - 15:27 wib

Novi UKM Mitra Alfamart

Jumat, 21 September 2018 - 15:00 wib

Jalan Perhentian Luas-Situgal Terancam Putus

Follow Us