CERPEN DEDI SAPUTRA

Lelaki Penakluk Ular

15 Januari 2017 - 00.47 WIB > Dibaca 1480 kali | Komentar
 
Lelaki Penakluk Ular
SEGALANYA langsung menjadi asing bagiku. Detak jantung dan helaan nafas saling buru-memburu lalu kurasai keringat dingin mengucur dari sela-sela rambutku, memenuhi muka, leher dan dada. Tidak lebih dari tiga detik aku berani membuka mata lalu aku menutupnya kembali. Aku benar-benar takut pada keasingan yang baru saja aku lihat. Aku merasa pernah berada di kasur empuk ini, tapi entah kapan. Aku pernah merasakan empuknya bantal ini di kepalaku sebelumnya, tapi entah kapan. Begitu pun juga dengan ruang kamar ini dan segala yang menghiasinya aku merasa pernah menikmatinya, menyentuhnya, dan bahkan memilikinya. Tapi, entah kapan. Semakin besar keyakinanku menyatakan bahwa semua ini pernah bersentuhan langsung denganku, semakin besar pula pertanyaan yang memburu kepalaku, “Kapan? Kapan? Kapan?” dan satu kata itu tidak bisa dijawab oleh kemampuan otakku. Entah mengapa aku bisa menjadi tolol seperti ini. “

“Lah? Apa sebelumnya aku pernah pintar? Kapan? Kapan? Kapan?” aku tidak bisa menjawab pertanyaanku sendiri.

Aku kumpulkan semua keberanianku yang sempat tercecer karena mimpi sialan itu untuk bisa membuka mata dan melihat apa yang terjadi pada diriku. Tidak mudah, aku tidak bisa. Ketakutan lebih kuat mengunci mataku dan ia lebih tangguh dari pada keberanianku. Aku gagal untuk berani membuka mata. Tapi aku belum sepenuhnya menyerah untuk mengetahui apa yang terjadi pada diriku. Aku kumpulkan kembali keberanian itu di tanganku dan kuperintahkan kedua tanganku untuk saling meraba dan yang kurasakan adalah panas. Lalu aku arahkan keberanian tanganku untuk menyentuh dahi, leher, dada, dan kakiku. Semua yang kudapati adalah rasa panas.

Aku tidak tahu jam berapa sekarang. Tapi firasatku mengatakan bahwa saat ini sudah mendekat subuh dan sebentar lagi azan subuh akan berkumandang. Dan firasatku benar. Azan subuh berkumandang dengan suara muazin yang sepertinya pernah aku dengar sebelumnya. Tapi lagi-lagi pertanyaan kecil itu muncul lagi, “Kapan? Kapan? Kapan?” dan aku tetap tidak bisa menjawabnya. Yang terpikir dibenakku saat ini adalah bagaimana pertanyaan “kapan” itu bisa aku jawab. Bila pertanyaan itu sudah terjawab aku yakin semua ketakutanku akan lenyap.

Azan subuh selesai. Dan aku merasa keringatku tidak lagi mengucur, detak jantung dan helaan nafasku tidak lagi saling buru, dan keberanianku sudah terasa kembali seutuhnya ke tubuhku.
Tapi aku tidak pernah lupa bagaimana mimpi itu menghantuiku dan menciptakan keasingan untukku. Kuberanikan untuk melangkah ke depan cermin yang setinggi ukuran tubuhku untuk memastikan apakah kejadian di mimpiku itu benar-benar terjadi pada diriku. Hampir saja jantungku berhenti berdetak ketika kulihat wajah dan tanganku yang menyerupai warna kulit ular persis seperti dalam mimpiku.

***

Semenjak suamiku kuusir dari rumah ini dua bulan yang lalu. Sejak itulah petualangan hidup sendirianku dimulai. Perihal kenapa aku sampai mengusir suamiku dari rumah ini sebenarnya adalah perkara sepele. Dia suka bercerita tentang ular, entah apakah dia memiliki hobi memelihara ular dahulunya atau dia pernah jadi siluman ular. Aku tidak tahu. Dan satu hal lagi, setiap dia ada di rumahku ini selalu saja ada ular yang bertandang ke rumah ini. Terkadang di halaman rumah, perkarangan belakang, dapur, ruang tamu, bahkan kamar tidur, yang aku tidak pernah tahu dari mana ular-ular itu berasal. Setiap hari aku selalu mendengar Norman, tukang kebun sekaligus satpan di rumahku dan Munah, pembantu di rumahku berteriak “Ada ular, Nyonya!” yang membuat aku bertambah kesal adalah, suamiku tidak pernah menanggapi bagaimana ketakutankuku ketika mendengar kata “ular” itu.

Karena tidak tahan lagi menahan kebencian dengan sikap suamiku itu, maka aku putuskan untuk mengusirnya. Dia sama sekali tidak keberatan dengan hal itu. Dengan santainya dia pergi setelah mengucapkan “Selamat tinggal, Naura. Jaga dirimu baik-baik dari ular-ular itu.” Setelah kepergiannya itu justru akulah yang merasa sakit hati.

Setelah dia pergi dari rumahku, tidak pernah lagi Norman maupun Munah berteriak “Ada ular!” dan aku sendiri pun tidak pernah lagi menemukan ular di rumahku ini. Semakin besarlah dugaanku bahwa suamiku itulah penyebab ular-ular itu masuk ke rumahku.

Setelah beberapa hari aku yakin bahwa ular-ular itu benar-benar tidak akan datang lagi ke rumahku maka aku putuskan untuk memberhentikan Norman dan Munah. Mereka sempat protes dengan keputusanku. Berbagai macam alasan mereka kemukakan. Tapi aku katakana kepada mereka bahwa aku sekarang hidup sendirian, segala pekerjaan rumah bisa aku kerjakan sendiri dan ular-ular itu benar-benar tidak pernah lagi mengganggu rumahku.

***

Ular-ular itu memang tidak pernah lagi mengganggu rumahku secara nyata, tapi apa yang baru saja aku alami adalah teror mental yang dilakukan ular-ular itu kepadaku. Dalam mimpiku ular-ular itu memperlihatkan keganasannya untuk menghabisi nyawaku.

Teror seperti itu tentunya membuat ketakutanku lebih besar dari pada sekedar melihat ular-ular itu lewat secara nyata dihadapanku. Ular-ular itu tidak hanya sekedar bernafsu untuk membunuhku tetapi juga mengutukku. Seperti yang baru saja terjadi padaku. Puluhan ular yang tidak aku ketahui jenisnya itu menyemburkan cairan hitam dari mulutnya dan mengenai seluruh tubuhku.

Kutukan ular-ular itu menjadi sebuah kenyataan yang mengerikan, sekujur tubuhku berubah warna menyerupai kulit ular dan aku merasakan kulitku ditumbuhi sisik-sisik yang kasar berwarna kecoklatan.

Mimpi tentang ular-ular itu terus berlanjut dari malam ke malam dengan teror pembunuhan yang selalu diancamkan kepadaku. Aku harus lari sekuat tenaga menghindari kejaran ular-ular itu. Tetapi sejauh apa pun aku lari tiba-tiba saja ular-ular itu sudah melilit di kakiku. Seperti biasanya mimpi itu akan lenyap jika azan subuh dari Masjid di komplek perumahanku berkumandang.

Ketika mimpi itu selesai maka aku merasakan letih yang luar biasa. Kedua kakiku keram, keringat terus bercucuran, dan nafasku saling memburu. Tentunya semua itu berdampak pada pekerjaanku yang menjadi tidak karuan. Di hadapan mahasiswa yang kuajar tiba-tiba aku merasa sangat letih dan tidak sanggup berdiri lagi. Sementara itu celoteh mereka tentang kulitku yang seperti kulit ular ini semakin hangat menjadi topik pembicaraan mereka.

****

Aku pun berusaha mencari obat untuk kesembuhan penyakit kulit kutukan ular itu. Dokter spesialis kulit yang aku datangi mengatakan bahwa dia belum pernah menemukan penyakit ini sebelumnya. Lalu dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menurutku hanya sebagai alasan untuk menutupi ketidakcakapannya dalam menangani masalahku ini.

Mulailah dia bertanya apa penyebab timbulnya belang-belang ular Sanca di tubuhku, kenapa bisa terjadi begitu. Justru karena aku tidak tahu maka aku datang kepadanya, malah dia yang bertanya seperti itu. Sudah tentu dokter spesialis kulit ini bukan solusi untuk menghilangkan belang-belang ular di tubuhku. Sampai di rumah aku masih mengutuki ketololan dokter spesialis kulit itu yang gelar spesialis kulitnya itu entah dari mana dia dapatkan.

Usahaku belum kuhentikan. Setelah melihat iklan pengobatan tradisional di koran aku jadi tertarik untuk mencobanya. Hasilnya tubuhku seperti mandi minyak goreng dan seluruh tubuhku gatal-gatal dan ketika aku tanyakan kenapa bisa terjadi seperti itu, tabib itu menjawab itu adalah reaksi dari ramuan herbal dari negeri Cina yang berusaha melawan penyakit kulitku. Tapi aku tetap tidak mau terlibat lagi dalam pengobatan tabib itu.

Sampai saat ini mimpi tentang ular-ular itu masih tetap rutin menggerogoti pikiranku  setiap malamnya. Kutukannya itu sudah merajalela di tubuhku, secara reflex aku sering menjulur-julurkan lidah dan sering mendesis seperti ular.

Kali ini aku tergiur dengan saran seorang teman yang menyarankanku untuk pergi ke ahli nujum karena awal mula dari semua ini adalah mimpi tentang ular-ular itu. Masuk akal. Ahli nujum itu bernama Ninik Uwan, dia tinggal di sebuah pulau yang bernama Pangkal Babun. Untuk mencapai tempat tinggalnya harus melalui jalur laut sekitar tiga puluh menit dan harus melawan gelombang dahsyat.

Perjalanan jauhku untuk menemui Ninik Uwan itu, hanya mendapatkan petuahnya yang singkat dan mustahil. Dia menyuruhku segera pulang dan mencari orang yang bisa menangkap ular-ular yang ada dalam mimpiku dan aku harus bersedia menampung ular-ular itu di rumahku. Hal yang mustahil menurutku. Dan ketika kumintai tolong agar dia mau menangkapkan ular-ular itu, maka dia katakan.

“Itu bukan ular-ular saya, jadi hanya pemiliknya yang bisa menangkapnya.”

Dan ketika kutanya siapa pemilik ular-ular itu dan apa maksudnya dengan mengirim ular-ular itu ke dalam mimpiku. Dia bilang.

“Aku tidak tahu.”

Aku pulang dengan membawa tanda tanya besar di kepalaku.

Lalu hari-hariku disibukan dengan pencariaan siapa orang yang dimaksudkan Ninik Uwan bisa menangkap ular-ular yang berkeliaran dalam mimpiku. Setiap ada teman yang menyebutkan nama orang yang bisa mengendalikan ular maka aku pun menemuinya. Dan hasilnya tetap tidak ada yang bisa melakukan pekerjaan itu.

Begitu juga dengan orang-orang sakti mandraguna yang namanya sering muncul di iklan-iklan majalah dewasa tidak ada yang bisa menolongku untuk menangkap ular-ular yang tidak hentinya menghantuiku itu.

Barulah beberapa hari aku teringat bahwa aku hanya menggunakan jasa para dukun untuk membantuku dan terpikirlah olehku akan orang-orang alim yang sekarang ini sudah banyak menggeser kedudukan ahli nujum dan dukun dalam hal yang berhubungan dengan dunia gaib. Tapi siapa yang bisa kumintai tolong untuk menangkap ular-ular itu? Aku tidak punya kenalan ornag-orang alim, baik itu ustad, kiyai, pendeta, atau bitsu.  Semua teman-temanku bersikap masa bodo dengan agama bahkan mereka cepat mengalihkan pembicaraan kalau ada topik pembicaraan masalah agama.

Aku juga tidak tahu apakah ada dari tetanggaku yang bisa dikatakan ‘alim’. Bahkan aku tidak tahu mana dari mereka yang beragama Islam, Nasrani, Hindu, Budha, atau Atheis.

Sepengetahuanku yang bisa dikatakan ‘alim’ itu tentulah lelaki yang selalu mengumandangkan azan di Masjid komplek perumahanku ini. Besar keyakinanku bahwa dia bisa menolongku untuk menangkap ular-ular dalam mimpiku itu karena selama ini setelah terdengar suara azannya barulah ular-ular itu lenyap dari mimpiku.

Ketika aku datang ke masjid untuk menemuinya, aku tidak menemukannya. Aku hanya menulis sebuah surat untuk mengutarakan keinginanku untuk minta tolong kepadanya. Aku mengundangnya datang ke rumahku malam itu.

***

Dalam mimpiku malam itu, aku melihat sosok lelaki memakai jubah putih dan bersorban putih yang aku tidak bisa melihat wajahnya karena ia selalu membelakangiku. Aku saksikan ular-ular yang selama ini mengejar-ngejarku dalam setiap mimpiku, berdatangan dengan jumlah yang lebih banyak dan menampakan keganasannya, mereka menjulur-julurkan lidahnya dan mengancam dengan suara desisannya.

Lelaki itu lebih cekatan mengusir ular-ular itu dengan sorbannya ketika mereka hendak menyerangku. Namun ular-ular itu bukannya semakin melemah justru semakin ganas. Lelaki itu tampak kewalahan meladeni serangan ular-ular itu lalu ia menyerahkan kaki kirinya untuk menjadi bahan patukan ular-ular itu. Aku menjerit sekuat tenaga, tapi suaraku tidak bisa keluar sampai aku benar-benar sadar bahwa aku sudah lepas dari mimpiku. Tapi aku tidak mendengar suara azan berkumandang subuh itu.

Ketika aku membuka mata yang pertama kali aku lihat adalah lelaki berjubah itu mencabuti sisik-sisik ular di kakiku dengan hati-hati. Sementara di kaki kirinya masih melekat-ular-ular itu mematukinya.

Sampai matahari mulai meninggi, semua sisik-sisik ular di tubuhku habis tercabuti seluruhnya dan lelaki berjubah itu terkulai lemas di sampingku dan aku membisikan sesuatu kepadanya.
“Aku tidak akan mengusirmu lagi. Ajaklah ular-ular itu tinggal bersama kita!”
Aku tidak mendengar jawabannya, aku hanya melihat sebersit senyumnya.***

Jambi, November 2016


Dedi Saputra, mahasiswa Sastra Indonesia fakultas Ilmu Budaya Universitas Jambi. Puisi dan cerpen  kerap termuat pada rubrik sastra, Jambi Ekspres dan Post Metro, Antologi Puisi bersama Memo Anti Terorisme (Forum Sastra Surakarta 2016), AkarTubuh (Bukupop 2016),Malam-Malam Seribu Bulan (FAM 2016), Si Ginjai Kata-kata(Dewa Keseian Jambi 2016), Matahari Cinta Samudera kata (Yayasan Hari Puisi, 2016), Memo Anti Kekerasan Terhadap Anak (Forum Sastra Surakarta,2016).  Juara 3 lomba penulisan puisi PEKSIMINAS 2016 di Kendari. Juga aktif sebagai penulis lakon dan aktor di Teater KUJU Jambi.

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Tutup Usia, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us