OLEH SARMIANTI

Pemelihara Cerita Rakyat

15 Januari 2017 - 01.05 WIB > Dibaca 1631 kali | Komentar
 
Pemelihara Cerita Rakyat
Barangkali tidak ada manusia di dunia ini yang tidak kenal dengan cerita rakyat. Setiap orang pernah “bersentuhan” dengan cerita rakyat meskipun sedikit. Tidak heran apabila banyak anak di dunia ini mengenal dongeng “Cinderella” dan “Peterpan”. Apalagi cerita ini telah difilmkan atau dikartunkan. Contoh yang paling mutakhir adalah dongeng tentang kakak-adik Ana dan Elsa dalam kartun “Frozen”. Dua kakak-adik ini menjadi idola anak-anak perempuan di seluruh dunia.

Walaupun anak-anak  Indonesia kerap “dimanjakan” dengan cerita-cerita asing, tetapi umumnya mereka mengenal cerita seperti “Malin Kundang”, “Sangkuriang”, “Timun Mas”, dan “Si Kancil dan Buaya”. Anak-anak tersebut tumbuh dengan kisah-kisah seperti itu.
Lalu, bagaimana cerita itu dapat sampai kepada anak-anak, dan juga masyarakat lainnya? Bagi sebagian orang, cerita itu diperoleh melalui penuturan orang tua atau kakek/nenek menjelang tidur. Akan tetapi, dalam perkembangannya, cerita rakyat lebih banyak diperoleh melalui bacaan. Dengan membaca, perbendaharaan cerita rakyat pada seseorang semakin bertambah. Lalu, cerita seperti apa saja yang tergolong sebagai cerita rakyat?

Bentuk-bentuk cerita rakyat menurut William R. Bascom dapat dibagi menjadi tiga golongan besar, yaitu (1) mite, (2) legenda, dan (3) dongeng. Mite adalah cerita yang dianggap benar-benar terjadi dan dianggap suci oleh pemilik cerita tersebut. Tokoh yang berperan pada mite biasanya adalah dewa-dewa atau makhluk setengah dewa. Di Indonesia, mite biasanya menceritakan terjadinya alam semesta; susunan para dewa; dunia dewata; manusia pertama dan tokoh pembawa kebudayaan; dan terjadinya makanan pokok untuk pertama kalinya (Danandjaja, 1994). Legenda juga merupakan cerita yang dianggap benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci seperti mite. Adapun tokoh yang berperan pada cerita ini adalah manusia yang luar biasa atau dibantu oleh makhluk-makhluk ajaib. Sementara itu, dongeng diartikan sebagai cerita yang tidak benar-benar pernah terjadi. Dongeng biasanya ditujukan untuk hiburan yang berisikan pelajaran moral atau bahkan sindiran. Kualitas dongeng bukan hanya terletak pada unsur cerita atau kepiawaian pendongeng, melainkan juga pada kualitas pesan yang dikandungnya. Selain berkisah tentang kehebatan para peri dan dewa, dongeng juga berkisah tentang petualangan manusia dan binatang (Sedyawati dkk. 2004).

Riau sangat kaya dengan cerita rakyat. Setiap daerah memiliki cerita rakyatnya sendiri, baik yang berbentuk mite, legenda, ataupun dongeng. Di Kota Dumai, dikenal cerita “Putri Tujuh”; di Bengkalis, ada cerita “Laksmana Raja di Laut”; cerita “Pulau Halang” terdapat di Rokan Hilir; dan “Si Lancang” merupakan cerita dari Kampar. Judul-judul cerita ini hanya sebagai contoh untuk cerita yang cukup terkenal. Sebenarnya masih sangat banyak cerita rakyat lain yang telah dibukukan dan lebih banyak lagi yang belum. Lalu bagaimana nasib cerita rakyat yang belum dibukukan atau diinventarisasi? Tentu sangat disayangkan bila cerita itu hilang. Bila hal itu terjadi, berarti kita telah kehilangan harta yang berharga.

Sebenarnya, Pemerintah Daerah Provinsi Riau telah melakukan beberapa tindakan untuk menginventarisasi cerita rakyat dari beberapa kabupaten dan kota di provinsi ini. Kegiatan ini marak dilakukan pada tahun 1990-an melalui Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Riau yang sudah menghasilkan beberapa jilid kumpulan cerita rakyat Riau. Selanjutnya, usaha ini terus dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dengan berbagai agendanya.

Provinsi Riau juga memiliki banyak sastrawan yang peduli pada cerita rakyat. Mereka menuliskan kembali cerita rakyat atau menjadikan cerita rakyat sebagai sumber ide pada karya mereka. Sebut saja Abel Tasman yang telah menerbitkan beberapa buku cerita anak yang bersumber dari cerita rakyat, di antaranya Hang Tuah I dan Hang Tuah II, Anak-Anak Batang Lubuh, dan Dongeng-Dongeng dari Riau. Ada pula Afrizal Cik. seorang sastrawan yang memiliki perhatian lebih pada cerita rakyat. Selain menuliskan sendiri cerita rakyat tersebut, dia juga memotivasi remaja-remaja di Selatpanjang untuk menulis cerita rakyat. Berikut ini beberapa judul cerita rakyat yang telah ditulis kembali oleh Afrizal Cik, yaitu Tempias Sumpah Harimau di Selatpanjang, Legenda Putri Pepuyu, Si Tangguk, dan Awang Mahmuda. Griven H. Putera merupakan seorang sastrawan yang tidak dapat diabaikan dalam penulisan kembali cerita rakyat Riau. Griven sudah menghasilkan cerita rakyat di antaranya  Burung Bayan Bicara dan Sejumlah Cerita Rakyat Sakai yang Lain, Pinang Beribut dan Sejumlah Cerita Rakyat Pelalawan yang Lain, dan Sekopal Pulut dan Sejumlah Cerita Rakyat Pelalawan yang Lain. Sebelumnya, BM. Syamsuddin juga menulis kembali cerita rakyat, khususnya cerita dari Kepulauan Riau. Di dalam buku Ensiklopedia Sastra Riau tercatat 10 judul cerita rakyat yang telah ditulisnya, beberapa di antaranya adalah Damak dan Jalak, Cerita Rakyat Riau, Si Kelingking dan Sepasang Terompah Cik Gasi, dan Batu Belah Batu Bertangkup. Sastrawan lain yang banyak mengambil ide tulisannya dari cerita rakyat di antaranya adalah Marhalim Zaini, Taufik Ikram Jamil, Hang Kafrawi, dan Syaukani Al Karim.

Balai Bahasa Riau, melalui beberapa kegiatannya, juga melakukan upaya penginventarisasian dan penulisan kembali cerita rakyat. Upaya itu dilakukan melalui kegiatan penelitian lapangan bidang kesastraan. Melalui kegiatan ini, para peneliti di lingkungan Balai Bahasa Riau turun langsung ke daerah untuk mengumpulkan cerita rakyat setempat. Pegawai Balai Bahasa Riau juga pernah menuliskan kembali beberapa cerita rakyat Riau dan menerbitkannya ke dalam satu buku dengan judul 21 Cerita Rakyat Bumi Lancang Kuning. Selain itu, pegawai Balai Bahasa Riau juga aktif mengikuti sayembara penulisan cerita anak yang bersumber dari cerita rakyat yang diadakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (dahulu Pusat Bahasa). Beberapa karya yang lolos dalam sayembara tersebut kemudian diterbitkan dan dijadikan bahan bacaan di sekolah. Cerita-cerita tersebut di antaranya Si Junjung Hati, Awang Merah dan Silang Juna, Datuk Hitam dan Bajak Laut, dan Imam Rail: Pejuang dari Kuala Cinaku (Yulita Fitriana),  Karya Imelda yang telah diterbitkan adalah Geliga Sakti (Imelda), Ujang Pengkau (Fatmahwati), dan  Si Bujang Miskin (Sarmianti). Tahun ini sudah diterbitkan pula Kisah Ikan Toman dengan Burung Udang (Sri Sabakti), Kampung Tarondam (Devi Fauziyah Ma’rifat), Si Bungsu (Chrisna Putri Kurniati), Buah Ajaib (Imelda), dan Mutiara dari Indragiri (Marlina).

Upaya-upaya penginventarisasian seperti yang sudah dilakukan tersebut perlu diteruskan sehingga Riau, bahkan juga Indonesia tidak perlu meratapi kehilangan cerita rakyatnya di masa depan.***

KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 21:31 wib

Ini Alasan Sebagian Caleg Golkar Dukung Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:04 wib

Buni Yani Bergabung di BPN Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 20:26 wib

PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 18:52 wib

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:40 wib

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh

Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Follow Us