ESAI BUDAYA

Resah Hang Tuah

22 Januari 2017 - 00.38 WIB > Dibaca 1308 kali | Komentar
 
Oleh Gde Agung Lontar

Ilustrasi   

Empat kali penulis secara khusus sengaja mencari naskah @ buku Hikayat Hang Tuah di Perpustakaan Provinsi Riau dan dalam ketiga peristiwa itu penulis selalu gagal untuk mendapatkannya dengan seketika! Bagi penulis, pengalaman ini sungguh “menakjubkan”. Bagaimana tidak menakjubkan kalau di dalam sekumpulan sarang lebah anda kesulitan menemukan ratunya?

Pengalaman pertama adalah saat gedung perpustakaan masih berada di Jalan Thamrin ujung, ketika penulis memerlukan referensi untuk menulis “Hikayat Hang Jebat” yang kemudian menjadi salah satu pemenang Laman Cipta DKR. Ketika itu sistem katalog masih menggunakan kartu, tetapi setiap ke perpustakaan di beberapa kota yang pernah penulis kunjungi (kecuali di Perpusnas sejak beberapa tahun belakangan), penulis nyaris tidak pernah menggunakan katalog itu. Bukan karena tidak ingin praktis dan cepat, tetapi lebih karena ingin secara langsung berhadap-hadapan dengan buku-buku yang dipajang di sana (dan dari beberapa pengalaman, katalog-katalog itu ternyata juga tidak dapat banyak membantu – bahkan setelah dikomputerisasi seperti sekarang ini). Setelah beberapa puluh menit memelototi jejeran buku yang ada di sana, akhirnya penulis menyerah dan terpaksa bertanya kepada petugas. Meski sudah begitu, Hang Tuah tidak juga dapat segera ditemukan. Penulis yang merasa “takjub” sekaligus jengkel kemudian merepetkan beberapa hal, sembari kemudian iseng bertanya tentang buku O Amuk Kapak. Karangan siapa itu? Sutardji Calzoum Bachri. Siapa?

Mungkin lebih dari setengah jam barulah Hikayat Hang Tuah itu dapat ditemukan. Bukunya sudah lumayan lonyok (terbitan Balai Pustaka), kulitnya seingat penulis berwarna coklat (mungkin bukan cover aslinya), dan hanya satu-satunya! Tidak pula bisa dipinjam bawa pulang. Hal Sutardji itu pula, jangan harap. Namanya pun tak dikenal ....

Peristiwa kedua terjadi beberapa tahun yang lalu saat gedung perpustakaan sudah berada di Jalan Sudirman seperti sekarang ini, yang konon katanya arsitektur gedung itu adalah merupakan yang termegah (terbaik?) se-Asia Tenggara [anehnya beberapa bulan sebelum diumumkan penulis pernah berbincang dengan rekan arsitek dan mengatakan bahwa arsitektur gedung itu buruk, terutama pada bagian atap “buku”-nya, yang diamininya]. Saat itu penulis memerlukan referensi untuk sebuah esai. Bahkan meskipun naskah-naskah kearifan lokal seperti itu sudah mendapatkan tempat yang khusus di Bilik Melayu, peristiwa serupa ternyata kembali berulang. Yang lebih menyedihkan lagi, setelah sekian puluh menit, naskah yang didapat hanyalah berupa fotokopian (suntingan Kassim Ahmad) – yang juga sudah lonyok. Buku yang asli ada, Bu? Tidak.

Peristiwa yang ketiga terjadi tahun lalu saat penulis memerlukan referensi untuk membuat sebuah naskah puisi panjang; dan yang terakhir – yang akhirnya memantik penulis untuk membuat tulisan ini – adalah bulan lalu saat penulis memerlukan referensi ulang untuk penyuntingan naskah puisi itu. Seluruh peristiwa secara umum berakhir sama.
Bahkan, dari ingatan yang kabur, sebenarnya mungkin sudah lima kali. Yang pertama sekali terjadi adalah saat gedung perpustakaan masih berada di simpang Jalan Diponegoro dan Gajah Mada, saat penulis masih senang-senangnya membaca buku-buku Karl May terbitan Djambatan.

Local Genius?

Apa yang dapat dipetik dari seluruh pengalaman itu? Bagi kebanyakan orang mungkin tidak ada artinya, tapi menurut penulis ada beberapa persoalan serius di sini. Ini bukan hanya persoalan pribadi, bukan persoalan teknis pemustakaan belaka, bukan soal pelayanan semata, bukan pula sekadar persoalan perpustakaan, tapi sebenarnya adalah persoalan kebudayaan. Seberapa pentingkah bagi kita sebuah kebudayaan?

Sebenarnya bagi kebudayaan itu sendiri tidak penting baginya untuk dianggap penting atau tidak karena yang akan menanggung akibatnya adalah masyarakat penyandang kebudayaan itu sendiri.

Kalau kita menganggap penting kebudayaan, maka produk-produk kebudayaan antara lain dan terutama yang berasal dari kearifan lokal seharusnya mendapatkan tempat yang terhormat dalam ruang khasanah kita. Bukan sekadar untuk didata, diinventarisir, diidentifikasi, lalu “dimusiumkan”; melainkan juga untuk mudahnya diakses oleh masyarakat luas sehingga makin banyak yang mengetahui dan kemudian menggunakan produk-produk kebudayaan itu, yang mungkin juga kemudian menginterpretasi-ulang, sehingga kemudian timbullah kembang-kembang dan tunas-tunas kebudayaan yang baru yang mungkin dapat menjawab tantangan masa depan.

Hikayat Hang Tuah (HHT) adalah salah satu naskah paling penting dalam Kebudayaan Melayu. RO Winstedt mengatakan HHT adalah satu-satunya roman Melayu asli. Elise Netscher (1854): sebuah roman yang amat penting untuk mengetahui tatacara hidup Melayu beberapa abad yang lalu. John Leyden (1811): HHT sebagai contoh roman sejarah. Hooykaas menyebutnya “Maleische  legendarische roman”. Overbeck “das schonste Buch der Malayischen Literatur”. A Teew memandang HHT sebagai roman Melayu asli di mana di dalamnya pengalaman manusia merupakan unsur asasi. Kassim Ahmad: HHT bukan karangan sejarah, melainkan sebuah karya sastra Melayu asli yang melahirkan cita-cita dan kebesaran bangsa Melayu. Errington memandang HHT sejenis dengan karya sejarah dalam hal menyimpan peristiwa-peristiwa sejarah. Sulastin Sutrisno: HHT khas Melayu, terikat kepada tradisi Melayu, tetapi sekaligus tema dan bentuk internasional atau Melayu dalam konteks dunia luas. Dan lain-lain. (Hikayat Hang Tuah, Analisa Struktur dan Fungsi. Sulastin Sutrisno. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press, 1983, hal.: 19-29).

Laman Melayu

Pada mulanya Bilik Melayu di Perpustakaan Syuman HS terasa khas bahkan istimewa sejak kemunculannya beberapa tahun yang lalu. Tetapi sekarang tidak lagi. Pengalaman penulis menunjukkan tidak ada keistimewaan apapun selain sekadar “memadatkan” penempatan naskah-naskah Melayu. Mencari naskah Hang Tuah masih tetap sulit, dan yang lebih penting lagi, nyaris tidak ada penambahan koleksi apapun dalam rentang kurun waktu sejak munculnya Bilik Melayu (d/a Visi Riau 2020!).

Karena peristiwa di atas, sekaligus digegar “kejengkelan kebudayaan”, penulis akhirnya bahkan berkhayal andai bukan hanya Bilik Melayu, melainkan Laman Melayu. Meskipun tidak juga dipenuhi oleh koleksi, dari segi spasial keberadaan Bilik Melayu seluas setangan di salah satu sudut lantai 3 gedung Syuman HS itu sekarang terasa “menghina”. Bagi penulis, dalam konteks sekarang, seharusnya ia ada satu lantai penuh, yang karena itu dapat disebut sebagai “Laman Melayu”.

Tetapi bagaimana dengan isinya? Tentu tidak hanya seperti Bilik Melayu yang seperti sekarang ini (yang pada suatu masa pernah separuhnya menjadi tempat penyimpanan komputer-komputer tak terpakai). Kalau benar Riau ingin menjadi salah satu pusat tamadun Melayu [dunia modern], maka kerja-kerja kebudayaan harus segera digesa dan diprioritaskan, dan salah satunya yang terpenting adalah mengisi sepenuh-penuhnya ruang khasanah dan perbendaharaan kebudayaan.

Dalam konteks perpustakaan, tentu yang terutama adalah melengkapi koleksi naskah-naskah, manuskrip-manuskrip, kitab-kitab – dalam berbagai bentuk; mulai dari naskah-naskah lama sampai ke yang terbaru [hingga bahkan bila perlu dengan menerbitkan naskah-naskah akademik (disertasi, thesis, kertas kerja, dsj.) yang dianggap penting]. Sejarah dunia sudah membentangkan sebuah peradaban yang maju pasti memiliki perpustakaan yang paripurna pula, sebaliknya begitu perpustakaan dan kitab-kitab runtuh dan musnah maka runtuh pulalah peradaban itu. Lihatlah Babilonia (Ziggurat), Mesir (Thebes, Alexandria), Yunani (Athena), Romawi (Bizantium), hingga kekhalifahan Islam (Kordoba, Baghdad).

Maka Provinsi Riau yang kadang-kadang secara congkak mengatakan bahwa Riau adalah salah satu pusat tamadun (masa lalu, sekarang, dan masa depan) dunia kiranya sangat berkepentingan untuk juga mewujudkan perpustakaan yang “paripurna”. Itu dapat dimulai dengan mewujudkan Laman Melayu satu lantai penuh itu lalu mengisinya dengan berbagai manuskrip dan kitab-kitab produk kearifan tamadun Melayu. Sebagai pusat Melayu Dunia, maka sudah seharusnya pulalah Perpustakaan Syuman HS memiliki manuskrip-manuskrip asli dari naskah-naskah lama yang penting semisal Sejarah Melayu atau Hikayat Hang Tuah itu; atau bila tidak memungkinkan sekurang-kurangnya dengan memperoleh rekaman naskah baik dalam bentuk repro, mikrofilm, maupun (audio)-visual, dan digital. Bagi penulis, rasanya sungguh memalukan bila Pemerintah Provinsi Riau selalu mendengung-dengungkan bahwa Riau adalah salah satu pusat tamadun Melayu Dunia tetapi naskah Hikayat Hang Tuah yang begitu penting ternyata hanya ada fotokopiannya.

Ada begitu banyak sebenarnya naskah-naskah produk kearifan Melayu kuno yang dapat menjadi koleksi perpustakaan dan ini jelas akan menjadi kerja besar dan terhormat bagi kita semua. Sebagai referensi awal di antaranya dapat diinventarisir melalui UU Hamidy dalam Naskah Kuno Melayu Daerah Riau (Yayasan Sagang, 2014). Tetapi ini tentulah baru sebagian, karena UUH membatasinya dengan sumber [geografis wilayah] Riau semata – tapi sebagai tahap awal mungkin cukup memadai. Namun demikian manuskrip/kitab-kitab “babon” Melayu semisal Sejarah Melayu yang dikarang oleh Tun Sri Lanang (Aceh) tetap harus diprioritaskan. Lalu, pada suatu masa kelak, bahkan bila perlu sampai ke kitab-kitab kearifan Melayu di Madagaskar, Hawaii atau Maori di Selandia Baru.

Untuk Perpustakaan Syuman HS, kelak, penulis berharap buku-buku yang ada di dalam Bilik Melayu (atau mungkin Laman Melayu) itu nanti juga dapat diakses dibawa pulang, kecuali tentu manuskrip-manuskrip [asli/tua] yang karena kondisinya tidak memungkinkan. Caranya adalah dengan, misalnya ada koleksi 10 buku judul yang sama, maka 3 buku dialokasikan untuk dapat dipinjam pulang itu. Fasilitas ini akan sangat membantu pemustaka karena biasanya buku-buku di Bilik (Laman) Melayu ini memerlukan pengkajian yang lebih mendalam sehingga memakan waktu dan tempat. Kemudian, menurut penulis (dengan tanpa maksud merendahkan), tidak perlulah ada  lemari-lemari khusus untuk Tenas Effendy, Idrus Tintin, dst seperti yang sekarang. Cukuplah dengan mengikuti sistem katalog yang sudah ada. Karena kelak bagaimana pula kita akan menempatkan posisi semisal Tun Sri Lanang, Hamzah Fansuri, Samsuddin al Sumatrani, Nuruddin ar Raniri, Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, Raja Ali Haji, Raja Ali Tengku Kelana, dll.

Kemudian, produk kebudayaan dunia Melayu yang berwujud tentulah bukan  hanya naskah dan kitab semata, ada banyak lagi wujud lainnya. Lukisan dan karya-karya seni rupa lainnya, seni pentas/pertunjukan, musik dan lagu, arsitektur, artefak-artefak dan situs-situs kuno, hingga ke prosesi adat, dll. Maka, “Laman Melayu” yang penulis maksudkan di sini pada akhirnya bukan hanya semata ada di Perpustakaan Syuman HS, namun juga setidak-tidaknya mencakup Musium dan Taman Budaya. Ketika ini mewujud, maka kita akan dengan mudah menunjukkan dan mengajarkan kepada anak-cucu kita kelak produk-produk tamadun Melayu mulai dari artefak Batu Bersurat misalnya, situs Candi Muara Takus, prosesi adat perkawinan Rokan, tarian Mak Inang Pulau Kampai ataupun Rentak Bulian, wayang bangsawan, hingga ke ngiau-nya SCB atau lukisannya Dantje S Moeis atau Opera Tun Teja-nya Marhalim Zaini atau orkestranya Zuarman Ahmad atau lagu “Zapin Hamdalah”.
Semoga.

Introspeksi

Tetapi dari pengalaman di atas penulis tiba-tiba ingat satu hal yang mungkin harus menjadi introspeksi – setidak-tidaknya – pribadi. Lima kali mencari Hikayat Hang Tuah (meskipun tidak pernah direncanakan begitu), kenapa penulis tidak membeli saja dan dengan demikian punya koleksi sendiri seperti Mahabarata, Ramayana, tetralogi Pram, Grotta Azzurra, Buah Rindu, Rumah Arwah, Dan Damai di Bumi, Ca Bau Kan, Laskar Pelangi, hingga Nubuat? Entahlah.***


Gde Agung Lontar adalah sastrawan, esais Riau dan berdomilisi di Pekanbaru. Tulisannya sering dimuat di berbagai lokal dan nasional.
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 01:22 wib

Prabowo Tunjuk Neno Warisman Jadi Wakil Ketua TKN

Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 18:45 wib

Sembunyi di Lumpur, Perampok Berhasil Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 18:30 wib

Pelabuhan Tikus Jalur Masuk Empuk Narkoba

Rabu, 19 September 2018 - 18:00 wib

TP PKK Ikut LMSI Tingkat Riau

Follow Us