OLEH FATMAWATI ADNAN

Bahasa dan Identitas Etnik

22 Januari 2017 - 00.46 WIB > Dibaca 1379 kali | Komentar
 
Bahasa dan Identitas Etnik


 Jering Jering versus jengkol. “Kasus” ini diangkat oleh Khaidir Anwar dalam makalahnya yang berjudul “Sumbangan Bahasa Melayu Riau terhadap Bahasa Indonesia”, berdasarkan fenomena berbahasa orang Melayu Riau terpelajar dalam memilih kata. Beliau menyimpulkan adanya kecenderungan orang Melayu Riau (terutama yang belajar ke Pulau Jawa) mengganti kosa kata Melayu dengan bahasa Jawa atau menggunakan aksen Jawa. Sebagai contoh, mereka merasa lebih bergengsi mengucapkan kata jengkol dibandingkan jering. Diduga ada semacam anggapan bahwa menggunakan kosa kata Melayu dipandang kurang terpelajar atau tidak bergengsi.

Selain kasus jering versus jengkol, sebenarnya masih banyak “kasus” kecenderungan mengganti kosa kata Melayu. Misalnya, penat diganti dengan capek; hari raya diganti dengan lebaran; bersama diganti dengan bareng; dan (mungkin) ratusan kata lainnya yang digunakan orang Melayu terpelajar di kampungnya sendiri. Terdapat juga mereka yang cenderung mengubah logatnya dalam berbahasa, kata diam diucapkan diem, malas diucapkan males, telur diucapkan telor, datang diucapkan dateng, dan (mungkin) ratusan kata lainnya. Artinya, kecenderungan meninggalkan bahasa Melayu memang sangat kentara dan terjadi secara masif.

Ketertarikan Khaidir Anwar terhadap masalah tersebut bertolak dari suatu kekhawatiran akan menurunnya sumbangan bahasa Melayu Riau ke dalam bahasa Indonesia. Sebenarnya tidak hanya masalah tersebut yang perlu dikhawatirkan tetapi juga terjadinya pengikisan identitas etnik (Melayu Riau) dalam kehidupan masa kini yang semakin mengglobal.

Bagaimanapun juga bahasa daerah merupakan salah satu penanda identitas etnik yang berpengaruh besar terhadap perilaku sosial. Yadnya (2003) dan Alwi (2003) mengemukakan bahwa  gejala awal kepunahan bahasa daerah ditandai dengan perubahan sikap penutur yang semakin merosot jumlahnya. Penurunan jumlah penutur terjadi karena (1) adanya persaingan bahasa daerah dengan bahasa nasional, bahasa daerah lain, dan bahasa asing dan (2) berkurangnya loyalitas penutur terhadap pemakaian bahasa daerah sebagai bahasa ibu.

Indonesia adalah negara multikultural yang memiliki ratusan bahasa daerah, keberagaman ini dipersatukan oleh bahasa Indonesia. Umumnya masyarakat Indonesia adalah dwibahasawan/multibahasawan yang  dapat menggunakan lebih dari satu bahasa (daerah dan Indonesia). Weinreich (1986) dan Gumpersz (1968) mengatakan bahwa dalam masyarakat yang multibahasa, persaingan bahasa merupakan fenomena yang sering terjadi sebagai akibat kontak bahasa.

Pada dasarnya, sikap seharusnya yang dimiliki oleh para multibahasawan adalah kemauan dan kemampuan menempatkan bahasa sesuai dengan situasi dan lingkungannya dalam berbahasa. Tetapi, lucunya ditemukan orang-orang Melayu yang cenderung meninggalkan bahasa dan gaya bicara Melayu di tanah Melayu.

Berkaitan dengan masalah identitas etnik, Phinney dan Devich-Navarrow (1997) mengadakan wawancara dengan para remaja SMA African American dan Mexican American. Berdasarkan wawancara ditemukan bahwa sebagian besar memiliki keterikatan yang kuat dengan kelompok etnis mereka.

Mercer (1979) meneliti sekelompok siswa bilingual yang berbahasa Gujarati dan bahasa Inggris di Leicester. Siswa-siswa tersebut adalah imigran generasi sekian yang datang dari India. Dari penelitian itu ditemukan sekelompok siswa yang mengaku sebagai orang India, negeri nenek moyang mereka. Mereka mempertahankan bahasa Gujarati untuk mengikat diri mereka dengan negeri asal dan warisan kebudayaannya. Sebuah fenomena berbahasa yang unik karena siswa-siswa ini hidup di negara lain dan mereka kelompok minoritas yang sangat “rentan” untuk berubah.

Bandingkan hasil penelitian Mercer dengan kecenderungan berbahasa orang Melayu terpelajar yang dikemukakan oleh Khaidir Anwar. Siswa-siswa yang diteliti Mercer berupaya mempertahankan identitas etnik sebagai orang India dengan tetap berbahasa Gujarati di tengah-tengah pergaulan internasional. Sementara itu, pada orang Melayu Riau ditemukan kecenderungan mengganti kosa kata dan mengubah gaya berbahasa yang berarti meninggalkan identitas etniknya sebagai orang Melayu.

Identitas etnik diartikan sebagai “suatu konstruk kompleks yang mencakup komitmen dan perasaan kebersamaan pada suatu kelompok, evaluasi positif tentang kelompoknya, adanya minat dan pengetahuan tentang kelompok, serta keterlibatan dalam aktivitas sosial dari kelompok” (Phinney, 1992).

Phinney (1989) mengajukan tiga tahapan perkembangan identitas etnik yang akan dilalui oleh individu sepanjang rentang kehidupannya melalui proses eksplorasi dan komitmen. Adapun ketiga tahapan status identitas etnik, yaitu: (1) tahap unexamined: belum ada eksplorasi atau belajar tentang kebudayaannya, (2) tahap search: melakukan eksplorasi, mulai menjalin keterkaitan dengan etnisitasnya, mempelajari kebudayaannya, dan memecahkan persoalan yang berkaitan dengan arti dan implikasi keanggotaan mereka dalam kelompok etnis, dan (3) tahap achieved: sudah memiliki komitmen akan kebersamaan dengan kelompoknya sendiri. Pada tahap ini individu merasa nyaman dengan diri sendiri sebagai anggota kelompok etnik, termasuk penerimaan dan pemahaman sebagai anggota kelompok tersebut.

Bahasa daerah (bahasa ibu) adalah kekayaan intelektual suatu kelompok etnis yang mencerminkan tingkat peradaban komunitas dari masa ke masa. Sebagai warisan berharga nenek moyang, bahasa daerah tidak hanya mengandung fungsi sebagai alat komunikasi tetapi juga memberi warna lokal sebagai identitas etnik. Dengan demikian, sudah seharusnya bahasa daerah dijaga eksistensinya sehingga senantiasa mampu bertahan.

Tetapi, permasalahan bahasa sangat sulit untuk dikendalikan dan dipertahankan stabilitas kondisinya. Menurut Sobarna (2007), masalah kebahasaan merupakan masalah yang sangat kompleks sehingga untuk memahami dan mencari pemecahannya diperlukan pengkajian terpadu dan interdisipliner. Kiranya, kebutuhan yang mendesak saat ini adalah perlunya pihak-pihak yang berkepentingan untuk duduk bersama memikirkan ekologi bahasa seiring dengan tumbuhnya sikap positif masyarakat dalam memelihara bahasa ibu berlandaskan toleransi keberagaman (tolerance of diversity and pluralism).

Jadi, kita tidak perlu mengikis warna lokal hanya karena “gengsi” mengakui identitas etnik atau karena ingin “seragam” dengan orang lain. Seharusnya kita mempertahankan warna lokal agar identitas etnik tetap terjaga di tengah-tengah warna-warni etnik lainnya. Mari kita rayakan “keberagaman dalam kebersamaan”.***

Fatmawati Adnan adalah peneliti di Balai Bahasa Provinsi Riau.

 

 

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 13:30 wib

Harga Emas Kembali Stabil

Selasa, 18 September 2018 - 13:30 wib

SMA Santa Maria Unggulkan Tim Putra

Selasa, 18 September 2018 - 13:20 wib

Subsidi Energi Membengkak

Selasa, 18 September 2018 - 13:00 wib

Bersihkan Sisa Banjir, Belajar Ditunda

Selasa, 18 September 2018 - 13:00 wib

Syamsuar, Gubernur Riau Terpilih Siap Dukung APPSI

Selasa, 18 September 2018 - 12:50 wib

Ulama di Ranah Minang Tolak Aturan Pengeras Suara Masjid

Selasa, 18 September 2018 - 12:42 wib

Kakek 11 Cicit dan 31 Cucu Nikah Isbat

Selasa, 18 September 2018 - 12:30 wib

Mahasiswa Tuntut Stabilitas Rupiah dan Pengelolaan Blok Rokan

Follow Us