CERPEN HANG KAFRAWI

Perempuan Kopi

22 Januari 2017 - 00.51 WIB > Dibaca 2080 kali | Komentar
 
Perempuan Kopi
Hamid tak mampu membebaskan diri dari ketergantungan kopi dan rokok. Ia pernah mencoba untuk tidak menjamah keduanya ketika hendak menuliskan cerita pendek, namun ia bertemu kebuntuan. Tak sepatah pun kalimat tercipta di layar komputernya. Semenjak saat itu, Hamid pun tak mau lagi berpisah dari keduanya. Tak peduli lagi dengan apa yang dikatakan orang, bahwa kopi dan rokok dapat membunuh.

Kebiasaan mengopi sambil merokok menyebabkan Hamid harus merelakan separuh dari pendapatannya sebagai seorang penulis karya sastra, dihabiskan untuk membeli kedua keperluannya tersebut. Disebabkan kebiasaan mengopi untuk menghasilkan karya sastra ini juga, Hamid berjumpa peristiwa menggetarkan hati. Ini bukan kebetulan. Kebetulan hanya sekali, tapi ini berkali-kali dijumpai Hamid.

Pada malam Kamis, tepatnya pukul 23.15 WIB, seperti biasa sebelum memulai, Hamid membuat kopi sebagai teman disaat ia menulis. Sebelum memulai, kebiasaan Hamid juga, selalu meletakkan kopi di sebelah kanan komputernya, dan pergi keluar untuk menikmati sebatang rokok di halaman rumah. Setelah itu, barulah Hamid berkelana ke dunia imajinasi dan mengonkritkan khayalannya melalui kata-kata. Namun pada malam itu Hamid dikejutkan sesuatu di luar kebiasaannya. Kopi yang diletakkan di sebelah kanan komputernya tinggal setengah. Padahal selama ini, hampir 20 tahun, Hamid tak pernah menghirup kopi sebelum menghabiskan sebatang rokok di halaman rumah.

Hamid menatap gelas kopinya dan mencoba menyusun peristiwa sebelumnya. Peristiwa sejak menjerang air, memasukkan kopi ke dalam panci kecil miliknya dan sampai meletakkan kopi tersebut di sebelah kanan komputer. Hamid betul-betul yakin bahwa ia belum menghirup kopi tersebut. Bermacam anggapan pun inggap di benak Hamid, sehingga Hamid tak mampu menuangkan gagasan untuk menulis. Pertanyaan demi pertanyaan datang silih berganti tentang kopinya yang tinggal setengah dan itu menguras habis daya jelajah imajinasi Hamid.

Hamid tak berani menjamah kopinya yang tinggal setengah. Dengan terpaksa Hamid mengambil gelas kopi dan membuang kopi yang tersisa melalui jendela kamar kerjanya. Di jendela Hamid terdiam. Pikiran Hamid merangkai bermacam dugaan.

“Mungkin ada orang yang masuk ke kamar melalui jendela ini? Tapi tak mungkin, jendela kamar ini berhadapan langsung dengan halaman rumah dan aku berada di halaman sebelumnya,” Hamid berdialog dengan dirinya sendiri.

Pertanyaan-pertanyaan lain yang tidak masuk akal pun muncul di benak Hamid, dan pertanyaan-pertanyaan itu membuat Hamid tak berminat untuk menulis. Gagasannya yang direnungkan di halaman rumah hilang bersama anggapan-anggapan Hamid terkait kopi. Hamid menyudahinya dengan membuang sisa kopi dan menutup daun jendela rapat-rapat.

Perlahan-lahan Hamid melupakan peristiwa dua malam yang lalu, peristiwa tinggal setengah kopinya. Pada malam Sabtu, tepatnya pukul 10.30 WIB, Hamid menghidupkan komputer. Ada gagasan baru yang menarik untuk dijadikan cerita. Seperti biasa, setelah menghidupkan komputer, Hamid ke dapur untuk memasak kopi. Setelah itu Hamid melakukan kebiasaannya; meletakkan kopi di sebelah kanan komputernya dan menghisap sebatang rokok di halaman rumah untuk mengumpul kekuatan menulis.

Kembali Hamid dikejutkan melihat kopi di gelas tinggal setengah. Kali ini Hamid cepat-cepat melompat jendela kamarnya yang terbuka, mana tahu penyelinap ditemukan. Tapi kenyataan, Hamid tidak menemukan seorang pun di halaman rumah, hanya gelap menyergap pandangan.
Tiba-tiba sekelompak kunang-kunang terbang melewati Hamid dan menghilang di hutan sebelah rumahnya. Seketika bulu roma Hamid berdiri. Hamid teringat cerita emaknya waktu kecil, bahwa apabila ada kunang-kunang berombongan terbang, itu bukan kunang-kunang, tapi adalah ruh manusia yang mati penasaran.

Sebagai seorang penulis, cerita emaknya itu melekat di benak Hamid. Imajinasi di pikiran Hamid membentuk gambaran sosok orang-orang, namun tidak begitu jelas tertangkap. Dari sosok orang-orang yang dibayangkan Hamid, sosok seorang perempuan dengan rambut terurai terlihat jelas. Sosok perempuan itu seakan menyapa Hamid dengan senyum getir, senyuman melawan kepedihan teramat sangat.

“Astaqfirullahalazim,” Hamid cepat-cepat mengucap dan menggosok mata dengan tangan kananya.

Detak jantung Hamid semakin kencang. Merasakan suasana mengerikan, Hamid masuk kembali melalui jendela rumahnya. Ia cepat-cepat menutup duan jendela dan tanpa mempedulikan kopi di sebelah komputerya, Hamid mematikan komputer, lalu beranjak meninggalkan kamar kerja.

Di atas kasur, di kamar tidurnya, Hamid tak mampu memejamkan mata. Wajah perempuan dengan senyum getir itu semakin jelas terbayang. Ada isyarat yang terpancar dari senyuman perempuan tersebut, namun Hamid tak mampu menguraikannya. Padahal selama ini Hamid paling mahir mencongkel makna dari penanda yang ia lihat atau didengarnya. Kali ini pikiran Hamid benar-benar buntu, rasa takut mengalahkan rasa penasaran. 

“Ini cuma sugesti,” ucap Hamid menguatkan diri dalam hati.

Tiba-tiba listrik padam. Gelap menghimpit Hamid.

***

Hamid hendak membuktikan, apakah peristiwa yang dialaminya selama dua malam itu hanya perasaannya sebagai seorang penulis saja atau peristiwa itu memang nyata. Sebab selama ini, tokoh-tokoh rekaan dalam cerita yang ia ciptakan memang selalu hadir di benak. Tapi kali ini aneh. Biasanya tokoh-tokoh yang diciptakan itu hadir ketika Hamid sudah selesai menulis, namun sosok perempuan dengan senyum getir itu hadir sebelum Hamid memulai menulis.
Semakin aneh dirasakan Hamid, kopi yang selama ini sebagai kekuatan mempertajam daya jelajah imajinasinya, selalu tinggal setengah sebelum sempat ditenguk.

“Kopi belum sempat aku minum dan perempuan itu... Apakah ada hubungan kopi dan perempuan itu?” Hamid semakin penasaran.

Untuk membuktikan kesemua yang dipikirkan, perempuan dan kopi, Hamid mencoba melakukan hal yang sama seperti dua malam yang sudah berlalu. Menjerang air, memasukkan kopi dan gula dalam panci kecil, khusus untuk memasak kopi, Hamid lakukan. Setelah kopi selesai dan dimasukkan ke dalam gelas, Hamid melangkahkan kaki ke ruangan kerjanya. Setelah meletakkan kopi dan menghidupkan komputer, Hamid pun menuju ke jendela dan membukakannya lebar-lebar. Yakin telah melakukan hal-hal rutinitas sebelum menulis, Hamid meninggalkan ruangan kerjanya.

Agar tidak melewati peristiwa aneh perihal kopinya tinggal setengah, Hamid bersembunyi di balik pintu untuk melihat apa yang terjadi. Beberapa menit menjelang, dari gelas kopi, asap tipis dari panasnya air kopi, semakin menebal. Seperti air menguap, asap bertambah tebal dan pada akhirnya membentuk sosok perempuan dengan senyuman getir. Perempuan yang berada di benak Hamid.

Tubuh Hamid bergetar. Matanya tak lepas memandang ke arah sosok perempuan itu. Keringat tiba-tiba muncul dari sekujur tubuh. Hamid tidak bisa berbuat apa-apa. Seketika saja, sosok perempuan dengan senyum getir itu menghampiri Hamid.

“Kembalilah ke kedai tempat kau membeli kopi itu,” suara perempuan dengan senyum getir tersebut terdengar jelas di telinga Hamid.

Sosok perempuan dengan senyum getir itu, terbang keluar melalui jendela. Beberapa saat kemudian berubah menjadi kunang-kunang menuju hutan sebelah rumah Hamid. Hamid hanya membisu dan terpaku. Kopi di sebelah kanan komputer, tinggal setengah.

***

Keinginan tahu Hamid tentang sosok perempuan dengan senyum getir itu semakin menebal. Hamid pun menelusuri jalan menuju kedai kecil tempat ia membeli kopi empat malam yang lalu. Namun tidak ditemukan kedai tersebut. Di tempat itu, tepatnya di sebelah pohon Ketepang, hanya kawasan kosong. Tidak ada tanda-tanda di tempat tersebut pernah berdiri kedai.

Hamid yakin betul bahwa di kawasan inilah ia membeli kopi empat malam yang lalu. Hamid pun berpikir bahwa ia tidak mungkin salah. Uang Rp 50.000 ia serahkan kepada seorang perempuan. Tiba-tiba bulu roma Hamid berdiri. Perempuan yang menerima uangnya empat malam yang lalu adalah sosok perempuan dengan senyum getir itu.

Hamid menarik nafas panjang. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Pikiran Hamid melompat pada peristiwa 20 tahun yang lalu. Di saat itu, di kawasan ini, Hamid menyaksikan alat berat meratakan kedai kecil dan pemiliknya seorang perempuan, merentangkan tangan untuk mempertahankan miliknya, ikut dilindas alat berat tersebut.

Dari peristiwa 20 tahun yang lalu itu juga, Hamid meraup keuntungan besar melalui novel yang ia ciptakan. Novel itu laku keras, sehingga Hamid dapat membeli rumah yang ditempati sekarang. Novel mengisahkan perjuangan seorang perempuan. Ya, perempuan yang mempertahankan kedai kecilnya, perempuan dengan senyum getir. Perempuan yang digilas alat berat di depan mata Hamid.***                                       

Hang Kafrawi adalah Ketua Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning. Selain aktif menulis karya sastra, Hang Kafrawi Ketua Teater Matan.


KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 16 November 2018 - 18:00 wib

Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer

Jumat, 16 November 2018 - 17:30 wib

Dua Kecamatan Masih Terendam

Jumat, 16 November 2018 - 17:00 wib

Lutut Istri Disenggol, Nelayan Bacok Tetangga

Jumat, 16 November 2018 - 16:15 wib

Miliki 30 Kg Ganja, Petani Ditangkap

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

Formasi CPNS Sumbar Terancam Kosong

Jumat, 16 November 2018 - 15:45 wib

Desa Dituntut Gerakkan Ekonomi Masyarakat Lewat ADD

Jumat, 16 November 2018 - 15:30 wib

Pedagang Belum Tahu Kapan Direlokasi

Follow Us