IMLEK 2017

Lemon Imlek, Kebudayaan yang Merantau

29 Januari 2017 - 15.33 WIB > Dibaca 353 kali | Komentar
 
Lemon Imlek, Kebudayaan yang Merantau
Adat sebuah perayaan, pastinya disertai dengan kegembiraan dan kemeriahan. Kebiasaan (kebudayaan) yang dikenal dengan Imlek atau perayaan tahun baru kaum Tionghoa ini, juga menjadi tali silaturrahmi dengan selain kaum Tionghoa.

Laporan KUNNI ASROHANTI, Pekanbaru

ULU, semasa kecil, Imlek atau yang dikenal dengan tahun baru Cina tidak hanya menjadi kebanggan kaum Tionghoa.  Selain orang Tinghoa, Riau Pos juga menantikan kedatangan Imlek. Misalnya di wilayah Kabupaten Bengkalis  yang kini sudah pecah menjadi dua kabupaten: Bengkalis dan Siak Sri Indrapura. Riau Pos sendiri sempat mengalami kebersamaan dan kegembiraan tersebut di tahun tahun 80-an.

Kata orangtua di kampung, kalau Imlek, selalunya turun hujan. Anggapan ini memang benar. Setiap kali Imlek, memang disertai hujan. Bahkan lebih dari sehari. Konon, Imlek mendatangkan rezeki seperti yang dipercayai kaum Tinghoa waktu itu. Hujan berarti rezeki. Bagi kanak-kanak seperti Riau Pos waktu itu, hal tersebut tidaklah penting. Yang penting, Ing Sing, A Seng,  A Tak dan toke-toke ojol (getah) yang menguasai perekonomian di kampung dengan berdirinya kedai-kedai milik mereka, akan membagikan lemon (minuman botol kecil). Lumayan. Kadang satu lusin, bahkan sampai dua lusin. Setiap Imlek, minuman itu selalu dibagikan. Tidak diantar ke rumah. Tapi, kalau belanja ke kedai, atau menjual ojol saat Imlek, pulangnya selalu dibekali lemon.  Yang penting lagi, kalau hujan masyarakat kampung tidak bisa menakik karet. Habislah.

Selain toke-toke ojol ini, kawan-kawan sekelas di Sekolah Dasar (SD) Inpress waktu itu juga melakukan hal serupa. Seperti Cua Cupin dan Cua Cutik. Si kembar ini selalu menyisakan makanan untuk kawan-kawannya. Tak heran jika Imlek, Riau Pos saat itu, masuk ke dapur mereka atau toke-toke ojol tadi untuk mengambil makanan sendiri. Ada kue bulan dan sebagainya. Keakraban dan kedekatan sangat terasa, meski beda suku dan keyakinan.

‘’Ambeklah kue, makan manyak-manyak. Nanti bawa balek lemon tu, ya. Bagi same mak dan adek-adek dikau di lumah. Bagi lata. Jangan kelahi lo. (Ambil kue, makan banyak-banyak. Nanti bawa pulang lemonnya. Dibagi dengan ibu dan adek-adekmu di rumah. Bagi rata. Jangan bertengkar).’’ Kata-kata Nyonya, panggilan istri Ing Sing itu masih terngiang-ngiang hingga saat ini. Masih terbayang ia bicara sambil memasak. Tangannya sibuk menggoreng-goreng, dan harum aroma masakan khas kaum Ting Hoa, menyeruak hingga ujung jalan.

Sementara Riau Pos dan anak-anak lain sibuk memilih lemon aneka warna.
Adat Imlek, selalunya berbagi. Dalam keadaan susah ekonomi di tahun-tahun itu, apapun bentuk pembagiannya, sangatlah berarti. Sekecil apapun pemberiannya, sangatlah dinanti. Apalagi bagi anak-anak, meski hanya makanan ringan seadanya, atau lemon beberapa botol. Di sebagian daerah di Riau seperti Selatpanjang, Bagan Siapi-api, Bengkalis, khususnya di kawasan pesisir, hal tersebut masih berlaku hingga saat ini.

Perayaan Imlek muncul ketika orang-orang di dataran Tiongkok ratusan tahun silam, merayakan tibanya musim semi (cuhn). Musim semi berarti dimulainya musim tanam atau tahun pertanian  (yunli). Dulu, orang-orang di dataran ini terkurung di dalam rumah selama berbulan-bulan karena musim dingin. Setelah musim dingin berlalu dan musim semi datang, mereka keluar rumah semua. Saling bercerita, bahkan saling berkunjung ke rumah-rumah untuk melihat keadaan keluarga masing-masing.

Semacam sebuah pesta: merayakan kegembiraan bebas dari musim dingin. Karena tetangga, saudara banyak yang datang ke rumah, lalu dibuatlah kue-kue ringan, makanan seadanya untuk cemilan. Kue ini menjadi suguhan untuk tetangga yang datang. Lebih asyik berbincan setelah lama tak jumpa sambil menikmai hidangan. Salah satunya kue bulan yang merupakan makanan khas Imlek. Sampai saat ini, kue ini masih menjadi kue kebanggan setiap perayaan Imlek baik di pedesaan maupun di perkotaan.

Waktu terus beganti. Semua hal mulai berubah. Orang-orang di dataran Tiongkok waktu itu mulai banyak yang merantau. Jauh. Hampir di setiap daerah, kawasan dan negera, mereka ada. Menjadi komunitas besar di dunia. Menguasai perekonimian di banyak negara. Kepergian mereka tidak sendiri, tapi disertai kebudayaan Imlek. Di mana mereka berada, Imlek selalu ada. Imlek menjadi kebudayaan yang terus berkembang di banyak negara; kebudayaan yang merantau.

Nyoto, budayawan Tionghoa, menyebutkan, karena Imlek lahir berawal dari berakhirnya musim dingin, bermulanya musim semi dan dimulainya musim tanam, maka Imlek harus selalu disambut dengan gembira. Karena Imlek juga muncul berawal dari silaturrahmi dengan tetangga, sampai saat ini, seharusnya, Imlek juga tetap menjadi pengerat hubungana sesama. Karena Imlek sebuah kebudayaan, maka tidak ada hubungannya dengan keyakinan. Semua orang boleh merayakan sambil menjalin hubungan kemanusiaan.

‘’Kebudayaan, ya kebudayaan, bukan keyakinan. Imlek itu kebudayaan. Mulanya muncul karena kegembiraan orang-orang Tiongkok karena berakhirnya musim dingin dan hadirnya musim semi atau musim mulai bertanam. Saking gembiranya kelular dari musim dingin dan terkurung di rumah berbulan-bulan, maka musim semi disambut dengan sangat gembira. Inilah yang kemudian dikenal dengan Imlek, tahun musim tanam. Ya, harus gembira. Harus menjadi pengerat,’’ katanya.

Nyoto memberikan contoh bagaimana Imlek menjadi jalan penghubung, meski berbeda keyakinan. Ada seorang anak lelaki yang menikah dengan perempuan berbeda agama. Saat Imlek tiba, pasangan suami istri muda ini tetap pulang ke rumah orangtua si lelaki. Si perempuan memasak, menyiapkan kue, bersih-bersih rumah dan hal-hal yang berhubungan dengan perayaan Imlek bersama mertua dan adik-adik iparnya.

‘’Apalagi kalau orangtua dan anak. Sudah kewajiban anak tetap berbakti kepada orangtua meski berbeda keyakinan. Setali sedarah. Takkan ke mana. Wajib hukumnya. Orangtua adalah segalanya. Nah, Imlek sebagai sebuah kebudayaan semakin memberi warna terindah bagi semua,’’ kata Nyoto lagi.

Di daerah perkotaan, memang terjadi pergeseran nilai. Sejak Imlek diakui negara dan berwarna merah di kalender nasional serta menjadi hari libur, justru libur Imlek ini banyak digunakan untuk berliburan keluar negeri. Hal tersebut seiring dengan perjalanan waktu, seiring perubahan dan kemapanan perekonomian, sehingga, saat libur Imlek banyak yang lebih mencari pusat-pusat perayaan Imlek tersbesar di dunia. Hal ini menyebabkan kemeriahan Imlek di perkotaan semakin sepi meski tetap ada kegiatan Imlek bersama.

‘’Pergeseran nilai budaya selalu ada, sesuai dengan perkembangan waktu. Anak-anak muda sekarang, sesuai dengan kemampuan dan kemapanan perekonomian, banyak yang berlibur keluar negeri saat Imlek. Banyak yang memiih ke Kuala Lumpur atau Singapura dibandngkan di kotanya sendiri, berkumpul bersama tetangga. Tapi kalau di daerah pesisir, Imlek masih sangat meriah. Ada juga warga kota yang pulang kampung saat Imlek,’’ sambung Nyoto.

Jika awalnya perayaan Imlek hanya dimulai dengan saling bertemu, bertandang ke rumah tetangga, lalau merayakan kegembiraan dengan makan kue, semakin lama semakin berkembang. Muncullah ang pao. Pemberian ang pao kepada anak-anak juga sebagai tanda syukur dan kegembiraan merayakan Imlek bersama dengan harapan, hari-hari setelah Imlek akan lebih baik, akan lebih mendatangkan rezeki.

Benar adanya, perayaan Imlek yang diusung para perantau ke daerah rantauan semakin dekat di hati banyak orang. Mereka merayakan di rantauan seperti merayakan di rumah dan kampung sendiri. Lagi-lagi karena Imlek adalah sebuah kebudayaan dan komunitasnya sangat besar di mana-mana. Ini semakin bisa diterima banyak pihak. Ini jugalah yang selalu melatarbelakangi perayaan Imlek bersama di kota-kota besar termasuk di Pekanbaru. Tidak hanya masyarakat Tionghoa, tapi juga masyarakat lain dari berbagai suku dan agama.

Selain perayaan bersama, juga digelar event imlek fair (bazar) yang dihadiri berbagai etnis dan agama. Bazar ini sudah dilakukan juga di tahun-tahun sebelumnya. Agak sedikit berbeda. Kegiatan yang dikomandoi Persatuan Masyarakat Tionghoa Indodnesia (PSMTI) Riau ini memberikan kepada pedagang asongan untuk berjualan dengan gratis dipusat kegiatan Imlek atau di Jalan Karet. Perayaan tahun ini juga lebih sederhana, tidak ada pesta kembang apai, kecuali di rumah-rumah pribadi.

‘’Imlek tahun ini semoga silaturrahmi makin bagus.  Imlek adalah perayaan kebudayaan, semua agama boleh merayakan. Tahun ini juga  mengajak masyarakat dari etnis dan agama lain untuk mereyakan bersama. Lebih meriah, meski tidak ada pesta kembang api. Di Imlek Fair kita juga menggratiskan tempat untuk pedagang asongan. Pentas seni jugaa melibatkan banyak etnis.  Sangat bahagia karena Imlek bisa diterima masyarakat, kalau masih tabu, susah juga kita buat Imlek bersama. Mudah-mudahan dengan Imlek lebih kuat silaturrahmi, lebih bisa berbagi, lebih bisa saling bahu membahu membangun negeri,’’ ungkap Ketua PSMTI Riau, Peng Suyoto.

Selain perayaan Imlek yang diramaikan dengan bazar dan pentas seni dari 19-22 Januari, juga akan dilaksanakan Imlek bersama di Hotel Furaya 30 Januari nanti. Semua masyarakat dijemput hadir karena ini merupakan kegiatan datang rumah atau open house yang juga dimeriahkan artis-artis ibu kota. ‘’Musim semi tiba, musim tanam datang, itulah hakikat Imlek. Jadi semua harus bergembira,’’ lanjut Peng.***

KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 15:45 wib

1.601 Warga Ikuti Aksi Donor Darah Eka Hospital

Jumat, 21 September 2018 - 15:30 wib

Banjir, Pemkab Kurang Tanggap

Jumat, 21 September 2018 - 15:27 wib

Novi UKM Mitra Alfamart

Jumat, 21 September 2018 - 15:00 wib

Jalan Perhentian Luas-Situgal Terancam Putus

Jumat, 21 September 2018 - 14:45 wib

Belanja Hemat hingga 50 Persen di Informa WOW Sale

Jumat, 21 September 2018 - 14:30 wib

Berkas Korupsi Kredit Fiktif Dinyatakan Lengkap

Jumat, 21 September 2018 - 14:30 wib

Korut Segera Tutup Fasilitas Nuklir Utama Tongchang-ri

Jumat, 21 September 2018 - 14:00 wib

Lanud Lahirkan Tiga Penerbang Tempur

Follow Us