MENGENANG IBRAHIM SATTAH

Mengenang Penyair yang Polisi

29 Januari 2017 - 15.48 WIB > Dibaca 627 kali | Komentar
 
Mengenang Penyair yang Polisi
Jumat malam (20/1), segenap penyair dan pekerja seni di Riau membacakan puisi-puisi Ibrahim Sattah: penyair yang polisi. Pembacaan puisi ini dilakukan dalam rangka mengenang dan mengingat kembali kebesaran nama Ibrahim Sattah sebagai penyair Riau yang meninggal 19 Januari di Pekanbaru dalam kancah dunia kepenyairan nasional. Puisi-puisi Ibrahim Sattah pun dibacakan bergantian.

Gagasan memperingati hari wafatnya Ibrahim Sattah ke-29 ini muncul dari beberapa seniman seperti Amesa Ariyana atau yang dikenal dengan Yung Sungut dan keluarga Ibrahim Sattah. Maka, malam itu selain penyair yang hadir, anak-anak Ibrahim Sattah dan menantunya seperti Tien Marni dan Mardianto Manan juga turut hadir. Mardianto sang dosen dan pengamat perkotaan, mau tidak mau, malam itu juga membacakan puisi karya mertuanya atas permintaan seniman yang hadir.

Sementara itu, penyair yang hadir antara lain, Husnu Abadi, Jefry Al Malay, Suharyoto, Amesa, Monda Gianez dan masih banyak lainnya.  Terkenang kembali, terungkap semula siapa sebenarnya Ibrahim Sattah. Ia adalah penyair yang lahir di Tarempa, Kepulauan Riau tahun 1943 dan meninggal muda pada usia 43 tahun.

Perjalanan yang panjang, kisah hidup yang berliku, pendidikan yang keras, membuatnya berprofesi sebagai abdi Negara, yakni polisi. Tak heran di mata anak-anaknya, Ibrahim Sattah terkesan garang tapi lembut dan tegas. Mungkin karena ia juga dilahirkan sebagai seorang seniman. Selain berpuisi atau penyair, Ibrahim Sattah juga pekerja tetaer yang tangguh.

‘’Karena bapak polisi, maka ia selalu mendidik kami dengan keras, tapi ia tegas. Ia sangat sayang dengan kami. Kalau mendengar suaranya saja, kami takut, tapi ia sangat baik. Kalau hari raya, sering orang mengantar parcel atau buah tangan ke rumah. Itu diusir sama bapak,  Begitu bapak. Kami sangat mengenalnya,’’ kenang anak Ibrahim Sattah, Tien Marni, di suatu kesempatan.

Ibrahim Sattah melahirkan tiga buku karya sendiri. Buku-buku tersebut yakni buku puisi berjudul Hi Ti (1981). Di dalamnya terdapat 8 puisi, yakni, Sansauna, Kaki, Sebab, Apa Se, Zam-zam, Ke Kau, Hai Ti dan Maut. Buku kedua berjudul Dandandid berisi 15 puisi. Puisi tersebut yakni, Jakarta, Anak-anak dan Katak, Sung Sung Song, Batu Belah, Bulan, Wawa, Tempias, Dandandid, Kau, Tafakur, Dunia itu Kembali, Duka, Baris dan Tin Marni.

Mengenang Ibrahim, tidak hanya mengenang penyair besar Riau dengan segala sumbangsihnya di mata nasional, tapi juga mempelajari bentuk dan liku-liku kepenyairan serta puisi di Riau. Husnu Abadi, penyair dan sastrawan Riau yang hadir malam itu, sedikit mengulas tentang sumbangsih yang diberikan Ibrahim tersebut.

‘’Kita sebagai generasi berikutnya, memang harus mengenang penyair-penyair yang terdahulu, yang sudah meninggal supaya kita tahu dan belajar. Ibrahim Sattah itu penyair besar dan menggaungkan Riau di tingkat nasional dengan kebesarannya. Mungkin bukan hanya dia, kepada penyair besar lain juga perlu dilakukan hal-hal seperti ini. Ya, meski Cuma duduk dan baca puisi karya-karyanya, ini sudah sangat bagus dan kreatif,’’ ujar Husnu.(kun)



KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us