OLEH KHAIRUL UMAM

Sastra yang Memihak

29 Januari 2017 - 16.09 WIB > Dibaca 1404 kali | Komentar
 
RABU (7/12) merupakan salah satu momen luar biasa. Meski langit bermendung dan dingin membalut khususnya di Riau, sekelompok Penyair Menolak Korupsi (PMK) yang dimotori Sosiawan Leak dan sejumlah guru Teacher Super Camp KPK tetap bersemangat dan berdiskusi dengan hangat. Mereka sedang mencoba membuat suatu kesepakatan dalam sebuah Focus Group Discussion (FGD) dengan satu tujuan: memerangi korupsi yang masih bergentayangan begitu kasar di negeri gemah ripah loh jinawi ini.

Tidak tangung-tanggung. Dibutuhkan sehari penuh untuk menemukan model gerakan yang pas dan terukur. Khususnya dalam gerakan puisi sebagai salah satu media yang dianggap masih relevan dan sangat memungkinkan. Anggapan di atas bukan tanpa dasar. Ia adalah sebuah konklusi dari sejarah panjang dan berkelok.

Meski tidak bisa menangkap koruptor dan mengembalikan uang hasil korupsinya secara langsung, puisi memunyai spirit yang memengaruhi alam bawah sadar dalam membentuk karakter generasi bangsa. Ia dianggap sebagai agen pencegah yang sangat efektif. Hal ini dikarenakan puisi adalah media tulis yang tidak hanya sekadar karya selesai, ia merupakan kesadaran terdalam penulisnya yang tidak bisa dicapai kecuali dengan melatih rasa secara kontinu.

Maka, hasil olah rasa akan melahirkan karya yang menyentuh rasa. Sehingga efek dari puisi akan awet dan selalu hijau di mana dan kapan pun. Ia merupa kekuatan laten yang siap bangkit tanpa mengenal waktu. Maka tidak heran ketika karya-karya Charil Anwar, Rendra, Widji Tukul dan Rabindranath Tagore dianggap fenominal dan berpengaruh besar terhadap pola kehidupan masyarakat dan pemerintahnya. Di kalangan ulama klasik puisi juga menjadi bagian terpenting dalam perjalanan hidup mereka. Bahkan, K.H. Hasyim Asy’ari yang dikenal ahli hadits kemudian hari diketahui tidak hanya menguasai ilmu sastra namun juga memunyai satu antologi tunggal puisi.

Mengembalikan Puisi pada Fitrahnya

Pada awalnya, puisi adalah media perlawanan yang canggih dan cukup dipertimbangkan. Ia hidup di pinggiran-pinggiran dan menyuarakan dengan lantang ke pusat kekuasaan hingga membuat penguasa terhentak dan kelabakan. Ia bergerak dengan cara gerilya dan laten. Namun, pada perkembangannya puisi-puisi cenderung liar. Ia bermetamorfosa menjadi berbagai bentuk dan aliran. Yang paling fenominal adalah romantisme.

Lahirnya era ini juga tidak lepas dari sebuah politik kekuasaan Kolonial Belanda. Saat itu, Belanda menciptakan sebuah brand baru dengan maksud counter culture yang terbukti efektif. Maka, pada awal abad ke-20 berdirilah Balai Pustaka. Mereka menerbitkan buku-buku yang disebarkan ke sekolah-sekolah, pesantren, kaum terdidik dan masyarakat. Meski dianggap ikut menyumbang terhadap kemajuan percetakan dan penyebaran buku secara masif, hal itu juga menimbulkan konsekuensi logis. Terbunuhnya karakter yang sudah lama tertanam: perlawanan.

Maka, dengan sortir dan editing ketat lahirlah karya-karya romantik yang hanya berbicara adat, kisah cinta dan penderitaan yang meratap-ratap. Meski mereka masih menjaga intensitas napas perlawanan terhadap penguasa yang semena-mena, pesan itu terkesan begitu sulit untuk ditangkap oleh pembaca.

Penafsiran bercabang ini memang bisa dianggap sebagai bentuk kesuksesan sebuah karya sastra yang bisa bermakna banyak. Namun di lain pihak unsur romantik yang begitu kentara menghilangkan ruh yang sesungguhnya diinginkan oleh pengarang. Mirisnya, di masa inilah diletakkan tonggak sebagai era awal sastra Indonesia modern karena dianggap lebih sophisticated dalam estetika dan kebahasan. Dan tentu penjajah sebagai penguasa tertawa girang karena tujuan awal dengan mudah tercapai bahkan memeroleh bonus.

Meski pada perkembangannya sastra megalami berbagai manuver oleh sebagain penyair, aliran romantik sudah terlalu kuat memengaruhi kesadaran. Paling tidak disebabkan tiga hal. Pertama ia didukung oleh kritikus, kedua ia dianggap tonggak (master) dan ketiga media maenstream lebih menyukainya. Hingga saat ini pun aliran-aliran mainstream romantik masih begitu kuat meski zaman menuntutnya untuk merevitalisasi diri agar lebih fleksibel dan responsif.

Menyikapi peristiwa di atas  maka mau tidak mau puisi harus dipulangkan pada fitrahnya. Ia perlu dikembalikan pada sebuah pilihan untuk memihak mereka yang tersingkirkan. Di tengah zaman yang culas dan sebagian pejabat korup, kehadiran puisi sangat dibutuhkan untuk menyuarakan secara jelas. Mereka sudah menanti lama dan sangat berharap.

Sebagai karya adiluhung yang bersambung langsung dengan rasa, hati dan kesadaran tertinggi ia harus segera diselamatkan sehingga tidak hanya menjadi sekadar teriakan di tengah padang pasir (meminjam istilah Fikar) atau ratap pilu di dalam kamar sempit yang sumpek. Puisi terlalu besar untuk mengurusi hal-hal yang kecil semacam itu. Maka puisi harus segera mengambil panggung di tengah suasana bingung yang semakin parah.

Ketika menetapkan pilihan, puisi memang dihadapkan pada kebingunan estetika. Ia dikhawatirkan begitu ekstrim dan melesat begitu jauh dari dunia kesastraan. Menjadi hanya sekadar tulisan pemberontakan dan sumpah serapah yang dianggap tidak estetik dan tidak bermoral. Pada akhirnya, sastrawan yang berkecimpung di dalamnya dianggap iseng.
Namun, anggapan semacam itu sama sekali tidak mendasar.

Pertanyaannya, benarkah estetika dan moralitas hanya diukur dari bahasa halus, indah dan menidurkan? Mereka yang masih berpegangan pada konsep estetika semacam itu adalah penyair gagal yang tidak benar-benar merdeka dari penjajahan mental yang laten oleh pemerintah kolonial. Karena estetika adalah keberpihakan pada kebenaran. Estetika adalah kejujuran pada kenyataan. Estetika adalah ungkapan rasa yang spontan. Maka, kembalikan puisi pada fitrahnya: berpihak pada kebenaran dan kaum tertindas, apa pun bentuknya dan itu adalah estetika yang dahsyat. Semoga!***

Penulis adalah Guru di MA Nasa1 Gapura. Alumni pascasarjananya UGM-FIB Antropologi. Tulisannya telah dimuat di media lokal dan nasional.



KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 19:53 wib

Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks

Minggu, 23 September 2018 - 19:52 wib

Pembakar Lahan TNTN Ditangkap

Minggu, 23 September 2018 - 19:48 wib

Kembalinya sang Primadona

Minggu, 23 September 2018 - 19:47 wib

Disdik Tempati Gedung Eks SMK Teknologi

Minggu, 23 September 2018 - 19:46 wib

Ditabrak Emak-Emak

Minggu, 23 September 2018 - 19:44 wib

Refresh di Waduk Hijau

Minggu, 23 September 2018 - 19:40 wib

Anggur Murah Laris Manis Terjual

Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Follow Us