OLEH SAYYID FAHMI ALATAS

Kemantapan Tema Aspek Medium Bahasa

29 Januari 2017 - 16.13 WIB > Dibaca 1632 kali | Komentar
 
DALAM kerangka dasar kemantapan tema berhadapan langsung ‘realitas’ atau kenyataan kualitas atau tidak dalam aspek medium bahasa. Dalam menyikapi segala bentuk persoalan berhubungan erat dengan beraneka ragam kosakata bahasa sampai membentuk kalimat dalam proses menciptakan karya sastra dalam proses mencapai kemantapan tema.

Bersumber kepada pengaruh hakikat inspirasi kemantapan tema dalam proses generalisasi. Mendorong seorang pengarang, selaku pencipta karya sastra dari sisi kemantapan tema dari proses beraneka ragam kosakata bahasa sampai membentuk kalimat.

Mendorong seorang pengarang membangun kalimat antara kenyataan dan ketidaknyataan maksud, tujuan, sebab, akibat karya sastra dalam mencapai aspek medium bahasa.  Dimana dari satu proses generalisasi mengolah karya sastra dalam membangun kedua rangkaian sumber imajinasi dan keimantapan tema.  Dimana seorang pengarang membangun aspek medium bahasa pada baris dan bait kalimat membangun tema dari sisi struktur kosakata bahasa.

Sehingga dalam proses menciptakan teks yang nyata bersifat otonomi terdapat titik koherensi didalamnya menjadikan tidak fungsional.  Sehingga dalam proses pembentukan yang nyata sebagai akibat adanya proses penciptaan kemantapan tema dari sisi keyakinan ataupun proses penjiwaan seorang pengarang dipadukan kedua rangkaian sumber keindahan tema dalam sentral karya sastra yakni imajinasi melingkupi suatu objek penelitian membangun kemantapan tema.

Disebabkan dalam aspek medium bahasa sangat signifikan dalam masyarakat ataupun pembaca, tidak dari satu metode saja.  Dikarenakan proses tenunan dari beraneka ragam kosakata bahasa dalam proses membangun aspek medium bahasa dalam teks karya sastra menyangkut aspek estetika dan puitika bahasa. Seperti yang pernah disampaikan oleh seorang pengarang terhadap pembaca kepada pandangan nilai-nilai kausalitas dan objektifitas dalam pembentukan aspek medium bahasa. Dimana kemantapan tema menyangkut disandingkan merasuk, bersatu, menenggelamkan maupun meleburkan diri dalam keindahan tema.

Apabila dalam suatu proses keindahan tema dalam proses pencapaian fungsi estetika dan puitika bahasa terhadap proses pembentukan aspek medium bahasa melalui proses generalisasi beraneka ragam kosakata bahasa menjadikan karya sastra berkualitas atau tidak dalam aspek medium bahasa membangun kemantapan tema.

Menurut yang pernah disampaikan oleh seorang tokoh terkemuka bernama Abrams, dengan pernah mengatakan bahwa dalam karya sastra menitikberatkan kosakata bahasa kearah struktur otonom. Dengan mengesampingkan seorang pengarang dan pembaca serta melepaskan karya sastra dari konteks sosial budaya.    

Meskipun menurut yang pernah disampaikan oleh seorang tokoh berkebangsaan jerman barat Hans Robert Jausz dalam sebuah makalah berjudul” Geiscichte Als Provokation”. Sejarah sastra sebagai tantangan.  Dimana berisikan “Dinamika Sastra” yang timbul berdasarkan diakronis dan singkronis. Dengan pernah mengemukakan bahwa dari segi estetik karya sastra sebagai karya seni pembaca yang menentukan. Apakah karya sastra diterima atau di tolak, apakah karya sastra bernilai atau tidak, apakah karya sastra tertonjol itu nilai estetik atau nilai kegunaan.

Apabila dalam suatu karya sastra kurang lebih terlepas dari hal-hal berada diluar karya sastra itu sendiri. Dimana dari proses penekanan aspek medium bahasa dari setiap struktur kosakata bahasa menjadikan kalimat.  Apabila dari proses struktur kosakata bahasa yang terletak pada satu konvensi kosakata bahasa kedalam bahasa menjadikan teks karya sastra. Apabila dengan asumsi untuk sampai pada struktur kosakata bahasa menjadikan karya sastra berhubungan erat dengan dunia bahasa.

Maka dengan melalui proses satu struktur kosakata bahasa menjadikan unsur pada baris dan bait kalimat membangun kemantapan tema. Dengan melalui berbagai macam struktur kosakata bahasa. Dimana yang merupakan proses penjiwaan seorang pengarang menciptakan karya sastra dari sisi kemantapan makna yang terdapat dalam teks karya sastra membangun keindahan tema..

Dimana selaku pengarang yang terdapat pada baris dan bait kalimat dalam proses membangun aspek medium bahasa dengan menciptakan satu proses ruang bahasa pada baris dan bait kalimat dengan melalui berbagai proses kemantapan tema melalui berbagai proses penyepadanan kata dari struktur kosakata bahasa ebagai akibat adanya satu konvensi kosakata bahasa kearah makna ruang pembaca. Dari proses yang tidak dapat dipisahkan fungsi utama penggunaan struktur kosakata bahasa menjadikan kalimat membangun kenyataan dan ketidaknyataan maksud, tujuan, sebab, akibat dalam mencapai kenikmatan karya sastra dalam aspek medium bahasa.***

Penulis bermukim Lampung timur. Puisi dan esai terbit di lima belas media massa baik lokal maupun nasional.
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Sabtu, 17 November 2018 - 19:06 wib

Pekan Depan, Nasib OSO Diputuskan

Sabtu, 17 November 2018 - 14:10 wib

Tempuh 1.574 Kilometer, Terios Akhiri Ekspedisi di Wonders ke Tujuh

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:41 wib

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

Follow Us