CERPEN RIKI UTOMI

Sebuah Petuah

29 Januari 2017 - 16.14 WIB > Dibaca 1799 kali | Komentar
 
Sebuah Petuah
SEHARUSNYA Sur tidak melewati jalan itu kalau saja bukan karena kepentingan sinting yang tak habis-habis dipikirnya. Dengan beribu batu yang menghentak kepalanya—mau tak mau—dia melekatkan kaki menuju jalan itu. Sebuah jalan tanah gambut, penuh lumpur ketika hujan menggila mengguyur. Sesekali barangkali ranting, dahan, atau sebatang pohon akan tumbang oleh terjangan angin kencang. Itu memang benar—juga seperti kata orang-orang lain. Tapi bukan hal itu yang menjadi dasar pemikirannya yang kacau saat ini, tetapi lebih disebabkan perjanjiannya dengan lelaki tua berusia lanjut.

Kepentingan yang mendorongnya untuk lebih berani percaya diri dalam mengambil resiko apapun. Dari lelaki tua itulah dia rela mengeluarkan apa saja. Tenaga, keuangan, waktu, kesempatan, bahkan tidurnya sendiri yang seharusnya dia tidur saat itu—oh ya, juga makanan yang sangat difavoritkannya juga lebih sering diabaikan meski waktu telah tersedia. Hal itu tak menyurutkannya untuk bertandang ke rumah lelaki tua itu.

Lelaki tua itu telah menyambutnya dengan tatapan biasa, seperti melihat anaknya sendiri yang baru sampai dari tanah seberang. Segulung rokok kretek murahan mengeluarkan kepulan asap yang bau menyengat cukup membuat lelaki tua itu terhibur. Matanya tetap merah dan urat-urat wajah semakin tampak keluar. Cuma  tangannya terlihat tampak segar untuk sekadar membelah kayu api. Tapi Sur tidak melihat itu semua. Hanya satu yang dia ingin saat ini untuk bertemu dengan lelaki tua itu: sebuah petuah.

***

Sur tahu kalau tiap malam suaminya menyimpang ke arah lain. Sebuah gang kecil gelap. Hanya lampu senter untuk menerangi kerumitan jalan. Gang yang menyimpan sesuatu yang mulai dibicarakan ibu-ibu di kedai Wak Amay. Sebuah desas-desus bahwa suaminya mengunjungi perempuan lain. Seorang gadis ranum bau kencur. Pipi pauh dilayang. Mata bening bak keramik. Tubuh semampai dengan bodi aduhai ketika berlenggok berjalan. Semua orang tahu gadis itu baru saja lulus SMA di salah satu sekolah swasta di kampung.

Meski suaminya berdalih bahwa hal itu tidak benar, karena dia bukan singgah ke rumah sang gadis, tapi lebih jauh untuk memanggil seorang teman sejawat untuk menemani ronda. Sur tidak percaya. Mematahkan kata-kata suaminya dengan satu tendangan pamungkas: “bilang saja kalau aku tidak lagi kau sukai!” gelegar teriakkannya mampu membuat dinding bergetar dan genteng rumah berloncatan sejenak. Suaminya diam ketika prahara itu terjadi. Hanya sikap bungkam yang dapat diteruskannya walau sepenuh muka genangan darah telah memerahkan wajahnya.

Sur pun dengan kegigihan tinggi mencoba menahan bendungan air mata agar tidak jebol berhamburan ke kamar. Tidak seperti perempuan biasa yang membenamkan wajah ke bantal. Tapi Sur akan menumpahkan semua itu dengan tertawa cekikian atau tawa menggelegar seperti kuntilanak. Dia yakin suaminya tidak mendengarkannya karena sudah jauh pergi. Sur juga tidak tahu kenapa hal tertawa itu bisa terjadi. Dia seperti menertawakan dunia, semua orang, dan dirinya sendiri. Setelah puas tertawa, baru ditumpahkan tangisnya yang tak terbendung itu.

***

Hal itu telah berlangsung sejak tiga tahun. Sur tidak menyadari kalau masalah sepele mampu membuat percikan api yang akan berkobar. Dia mendapat sebuah pesan singkat di handphone suaminya. Dari seorang perempuan dengan bahasa-bahasa mesra (tapi tidak ada ungkapan kata-kata cinta) membuat hati Sur menggelegak. Tanpa pikir panjang, handphone itu dia banting hingga berkecai-kecai. Lalu suaminya—anehnya—hanya diam. Hanya wajahnya yang drastis berubah memerah. Hanya matanya yang terus memandangi handphone itu (untung bukan jenis yang mahal, karena hanya jenis handphone senter murahan) hingga dia berkata kepada Sur: “Kuharap kau akan membantingkan lagi kelak!” sebuah kalimat singkat, padat, jelas, mungkin juga tidak main-main lantaran bermaksud bergurau—bukankah tidak ada celah untuk bergurau dalam kondisi memanas seperti itu?

Dan Sur, dengan tatapan tajam, malah menantang suaminya seperti siap untuk bertarung dalam pertandingan beladiri. Tapi dia hanya melihat suaminya membanting pintu. Keras. Kadang sampai telinga Sur pekak akan bantingan pintu itu. Lalu Sur seperti biasa akan tertawa terbahak-bahak, kadang cekikikan, seperti kuntilanak, baru setelah itu mengakhiri dengan tumpahan tangis yang berderai.

Dia tahu, juga suaminya—juga tahu. Bahwa mereka telah melewati penghujung akhir tahun, sampai di tahun ini tidak ada impian mereka tercapai. Hanya sebuah ilusi yang kadang dipikirkan sendiri. Sayang bukan sebuah diskusi yang seharusnya mereka lakoni. Sur menyadari betul bahwa suaminya tipe keras dan agak sulit dijinakkan ketika marah. Walau dia tidak pernah perang mulut, hanya perang perasaan dengan saling menatap memamerkan wajah-wajah yang memerah dan saling menahan genangan air mata. Tapi bukan berarti hal itu sebuah sikap senang. Tapi sebuah kadaan yang siap-siap akan segera pecah—tapi itu tadi masih saja mereka mampu menahan.

Sur tahu suaminya pernah bilang bahwa dirinya tidak cantik lagi. Hal itu diketahuinya dari seorang perempuan tetangga sebelah yang diam-diam berbisik di telingannya pada waktu sedang berbelanja. Tapi Sur tidak menangis, hanya menanggapi kepada perempuan tetangga itu bahwa suaminya memang penggurau, sambil mengatakan: “suami saya memang begitu, sering menyindir tapi maksudnya bergurau”. Terpaksa kalimat itu dilontarkan meskipun hati Sur telah sepenuhnya sakit.

Sampai di rumah Sur hanya meletakkan saja barang-barang belanjaan tanpa mau mengolahnya sedikit pun menjadi masakan. Setelah suaminya pulang dari kerja, Sur menyuruh suaminya membuka sendiri tudung saji yang hanya didapati setumpuk ikan, telur, sayur-mayur yang masih mentah. Ada secarik kertas kecil bertuliskan: silahkan masak sendiri! Dan lagi-lagi suaminya membanting pintu dan pergi entah kemana. Sur menutup kedua telinga sambil membahak dari dalam kamar sebelum—seperti biasa tangisnya pecah.

Hal itu dilakukannya karena banyak hal. Barangkali suaminya juga—seperti dalam perasaannya—juga seperti dirinya. Kalau saja dulu dia tidak mengikuti apa yang dikatakan orang tuanya untuk menikah dengan Bujang, suaminya kini. Mungkin saja dia telah hidup senang dengan Makruf yang kini sudah jauh dirantauan negeri Jiran. Hal itu juga karena perasaan Sur yang dia sendiri juga tidak tahu mengapa  masih terasa terikat dengan Makruf setelah masuk tiga tahun menjalani rumah tangga bersama Bujang. Seperti ada magnet untuk terus membayangi Makruf walau kini dia tak pernah lagi berjumpa dengan lelaki yang dulu teman satu sekolahnya itu juga selalu bersama dalam menoreh pohon karet. Mungkin karena aktifitas itu membuat Sur merasakan arti cinta. Padahal Sur tidak pernah mau tahu dengan laki-laki. Dia juga tipe gadis pendiam yang sangat pesimis terhadap lawan jenis.

Tapi wajah Makruf, entah mengapa hal itu tak mampu ditepisnya. Seperti ada sesuatu yang bersarang kuat di benaknya bahwa hatinya telah terpikat, apalagi dulu Makruf telah terus terang akan mencintainya dan berjanji untuk menikahinya setelah berhasil mendapatkan kerja yang mapan di rantauan orang. Untuk itu dia pergi ke Malaysia yang Sur tahu—melewati kabar angin dari seorang sahabat dan dapat diyakini kebenarannya—setelah lima tahun dia berhasil sebagai lelaki mandiri yang memiliki penghasilan besar sebagai pedagang di negeri jiran itu. Tapi nasib berkata lain. Dalam waktu menanti yang tak kunjung jelas itu, hati Sur mulai goyah dan goyang. Benarkah Makruf akan kembali kepadanya? Setelah sekian lama dia menanti kabar kepastian itu hingga selembar kertas suratpun tak pernah diterimanya dan sampai kini Makruf tidak kunjung kembali seperti raib di telan rimba rantauan.

Dan Emak sebagai ibu kandung yang memiliki peran terhadap kerisauan akan anak gadis satu-satunya (bukankah sebuah kerisauan yang sangat tragis dari seorang ibu apalagi telah ditinggal mati begitu lama dari suami tercinta?) Melihat anak gadisnya masih sendiri belum ada satu kumbangpun yang mencoba mendekati. Dan Sur kala itu cukup menjadi perbincangan hangat bagi kalangan lelaki lajang. Setiap lelaki yang sering mengumpul di jalan simpang itu, sambil membanting batu domino seperti memperebutkan Sur: “Aku skak kau! Ha..ha..ha… Aku yang berhasil mendapatkan Sur!” teriaknya sambil mencampakkan lekat-lakat batu domino andalannya itu ke meja. Seketika kondisi gemuruh dan mereka seperti merayakan karena salah seorang telah telah berhasil mendapatkannya.

Dan Bujang pada waktu itu telah pula memasang ancang-ancang. Meski tampang pas-pasan. Kocek tak cukup berisi uang. Pakaian agak usang karena diam-diam beli di rombengan, tapi celana cukup menjadi perhitungan karena selalu model jeans meski tampak baru tapi itulah celana jeans satu-satunya. Apa yang bisa dihandalkan dengan pekerjaan sebagai penarik becak? Dan sesekali ikut buruh bongkar barang sembako di pelabuhan kecamatan?

Tapi dari semua itu Bujang tidak pikir panjang. Hanya satu kata tekad: Sur harus dalam genggaman! Begitulah jiwa mudanya berkobar. Dengan berbagai cara—yang penting halal—Bujang terus mendekati dengan jurus-jurus yang diciptakannya sendiri. Dengan modal celana jeans tadi. Baju kaos oblong gambar monster, wajah yang berbedak meski meminjam bedak adiknya (ini agar tampak lebih segar setelah seraharian bekerja di pasar) Bujang melenggang ke rumah Sur.

Hanya satu kata dari ibunya sendiri, Sur seperti tak berkutik. Baginya sejak kecil dulu, kata-kata ibu adalah mujarab, bagai petuah yang tak pantas dibantah. Meski hatinya terhimpit ragu dan goyang lantaran mana yang harus diikuti apakah tetap bertahan dengan penantian panjang dari Makruf atau keputusan lamaran Bujang yang sudah sepenuhnya ingin menjadi suami baginya? Memang, Sur telah pernah kenal dengan Bujang, tetapi tidak terlalu dekat, karena Ayah Bujang juga teman akrab ayah Sur. Ayah bujanglah yang memberi banyak pertolongan bagi berlangsungnya penguburan ayah Sur yang meninggal setahun lalu, juga memberi bantuan keuangan untuk hajat kenduri arwah 40 hari, (kadang-kadang Sur berpikir miring, mungkin saja Ayah Bujang—meski masih punya istri—ingin mengambil simpati kepada emaknya yang kini telah janda) itu hanya pikiran buruk yang kadang menjalar di benak Sur.
Akhirnya Sur menerima lamaran Bujang. Ini juga lantaran desakan emaknya yang tak mau melihat Sur menjadi bahan pembicaraan di kampung karena dikhawatirkan akan menjadi perawan tua. Sur menepis keraguan untuk hidup bersama Bujang yang sudah sungguh-sungguh ingin membuat sebuah keluarga utuh bersamanya. Dan… masih yang tak bisa ditepis sampai kini adalah perasaan Sur kepada Makruf, meski Sur tak tahu pasti kabar lelaki itu.

***

Sur pun melewati hari-harinya bersama Bujang yang bekerja sebagai penarik becak. Kalau di pelabuhan, sesuai kapal barang yang masuk, kalau tidak ada kapal para buruh tidak akan bekerja. Sebuah pekerjaan yang sangat bergantung dalam penantian jeda panjang. Bujang yang di mata Sur sebagai lelaki pendiam tapi cukup pemarah adalah seperti kain yang lembab, digunakan salah dan tidak digunakan juga belum berguna. Apakah hidup bersama lelaki yang setengah dicintai akan membuat bahagia? Akankah bahagia akan terbit walau tiap hari terus dicari? Sur setakat ini belum memahami dan menemukan. Sebaliknya yang dia temui hanyalah tersendat-sendatnya komunikasi di dalam rumah ketika telah berdua. Hingga timbul rasa saling mencurigai yang tak dapat direm dan dielak lagi.

***

Seperti hari ini, melewati jalan licin tanah gambut yang telah berlumpur itu, Sur tetap mencoba melangkah. Sesekali sandal jepitnya terbenam ke tanah dan tersangkut sulit diambil. Terpaksa dia menarik dengan hati-hati agar tali sandal jepit itu tidak putus oleh lekatnya benaman tanah. Persetan dengan payung, sebab seluruh tubuhnya kini telah menggigil dengan pakaian kuyup yang jauh dari bersih, sejumlah percikan tanah kian lekat menempel ke baju kurungnya yang usang itu. Hujan memang tak dapat ditebak, seperti permainan sulap yang kadang menipu mata.

Tinggal beberapa langkah Sur akan tiba di sebuah gubuk tua. Gubuk beratap rumbia dengan dinding papan rapuh yang sebagiannya telah tampak bolong. Sur tak peduli. Dia terus melangkahkan kaki. Walau apapun yang terjadi, dia merasa perlu menghadap lelaki tua itu untuk meminta sebuah petuah. Sebab seletelah janji lelaki tua sebulan lalu, akan ada jalan baru agar dia terbebas dari masalah rumah tangganya itu. Sebuah petuah dari janji itulah yang kini ingin dimiliki Sur.

Setelah berada dalam rumah, Sur hanya menatap lelaki tua itu dengan tubuh yang terus menggigil menahan dingin. Lelaki tua itu begitu serius memberi nasihat dan arahan. Juga ada sebotol air putih yang telah disiapkannya sejak beberapa jam lalu untuk dibawa pulang yang diakui sebagai obat bagi suaminya. Sur tahu Bujang tidak sakit apa-apa, tapi air itu akan digunakan sebagai bentuk perubahan diri setelah dia meminumnya.

“Anak harus tahu,” ucap lelaki tua itu. “Tidak selamanya kita bertahan memikirkan cinta. Cinta hanya membuat pusing kepala. Banyak cara dan jalan yang mesti kita cari agar terbebas dari keretakan, bukan?”

Sur hanya diam. Lalu mengangguk.

“Anak harus segera melupakan lelaki yang jauh itu. Minumlah juga air dalam botol ini dengan penuh khidmat. Mudah-mudahan akan berkhasiat…”

Sur merasa tercekat. Dalam kedinginan kepalanya tak sadar terangguk-angguk tapi bukan lantaran setuju, tapi karena begitu tak sanggup tubuhnya menahan dingin. Lalu Sur memejamkan mata erat, dalam kehitaman pejaman matanya, ia merasa arwah ayahnya begitu kuat memanggil untuk mengajaknya entah pergi ke mana.***        
                                          
Selatpanjang, 2016

Riki Utomi penikmat sastra dan linguistik. Alumnus Prodi. Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UIR. Beberapa karya pernah dimuat Koran Tempo, Pikiran Rakyat, Indopos, Suara Merdeka, Lampung Post, Banjarmasin Post, Sumut Pos, Kendari Pos, Babel Pos, Batam Pos, Riau Pos, Padang Ekspres, Rakyat Sumbar, Serambi Indonesia.
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 21 November 2018 - 15:54 wib

Prabowo Pasti Tepati Janji Tuntaskan Masalah Honorer K2

Rabu, 21 November 2018 - 15:50 wib

Tim Kampanye Jokowi Manfaatkan Popularitas Djarot

Rabu, 21 November 2018 - 15:45 wib

Dewan Rekomendasikan Cabut Izin PT MAS

Rabu, 21 November 2018 - 15:30 wib

Gunakan Sampan, Kapolres Jangkau Lokasi Banjir Temui Warga

Rabu, 21 November 2018 - 15:00 wib

APBD 2019 Rp1,47 T

Rabu, 21 November 2018 - 14:45 wib

Fokus Siapkan PK, Nuril Minta Perlindungan LPSK

Rabu, 21 November 2018 - 14:42 wib

141 Kades Tersangka Korupsi

Rabu, 21 November 2018 - 14:39 wib

Jadwal Pemeriksaan Kesehatan JCH Sesuai Konfirmasi Diskes

Follow Us