FESTIVAL BATANGKAPAS

Menjaga Negeri, Kenalkan Tradisi

5 Februari 2017 - 00.32 WIB > Dibaca 724 kali | Komentar
 
Menjaga Negeri, Kenalkan Tradisi
Semua orang ingin menjadikan banyak hal menjadi yang terbaik: anak-anak terbaik, masyarakat terbaik, kampung terbaik dan tradisi yang terjaga dengan baik. Keinginan itu juga muncul dari anak-anak muda di ujung Riau.

Laporan KUNNI MASROHANTI, Kamparkiri Hulu

KENEGERIAN Pangkalan Kapas, tidak sama dengan kenegerian lain di kabupaten Kampar. Daerah yang masuk dalam Kecamatan Kampar Kiri Hulu ini merupakan kecamatan paling ujung, langsung berbatasan dengan Sumbar. Untuk sampai ke sana juga cukup jauh. Perlu waktu berjam-jam. Bahkan, berangkat pagi sampai tengah malam. Terlebih saat musim penghujan.

Ada empat desa di Kenegerian Pangkalan Kapas ini: Lubuk Bigau, Pangkalan Kapas, Kebun Tinggi dan Tanjung Permai. Ada ratusan kepala keluarga yang tinggal di sana. Penghasilan mereka rata-rata berkebun karet. Hasil kebun sangat sulit dijual mengingat jalan yang teramat buruk di sana. Kalaupun dijual, harganya sangat murah.

Dari Lipatkain, jarak tempuh menuju desa ini sekitar 60 kilometer. Dari Sumbar sekitar 18 kilometer. Jalan tanah, naik turun, pecah-pecah, sangat sulit dilalui saat musim hujan. Dibandingkan setahun sebelumnya, saat ini sudah lebih baik. Ada beberapa bagian ruas jalan yang sudah diaspal mulus. Baru. Terutama di sekitar jembatan yang melintasi anak-anak sungai di desa-desa menuju Kenegerian Pangkalan Kapas, seperti Desa Muara Selaya, Batu Sasak, Tanjung Karang dan beberapa lainnya.

Seperti kecamatan pada umumnya di Kamparkiri, kebudayaan masyarakat Desa Lubuk Bigau dan sekitarnya, mirip. Bahkan serupa. Kebudayaan dan tradisi di desa ini masih sangat kuat. Orangtua-anak-anak, remaja, berusaha menjaga tradisi yang mereka miliki. Salah satunya keinginan kuat menjaga hutan yang tumbuh lebat dan menguasai kekuasaan tersebut.

Keinginan besar itu diusung sekelompok anak muda di sana. Mereka mengajak anak-anak di sana, orangtua, bahkan orang-orang di luar kampung, termasuk dari Pekanbaru. Sekelompok anak anak ini menggelar sebuah festival yang diberi nama Festival Batang Kapas. Berbagai kesenian tradisi, kebudayaan dan keakayaan alam dimunculkan dalam kegiatan tersebut.

Ibu-ibu mengacau kalamai dan menganyam tikar. Sedang anak-anak lomba tarik pelepah; sebuah permainan tradisional yang sampai saat ini masih terjaga dengan baik. Tidak hanya itu, mereka juga memanfaatkan apa yang mereka miliki sebaik mungkin. Kebun karet atau pohon karet, merupakan sesuatu yang paling berharga. Selain diambil hasilnya untuk kehidupan, kayunya juga dimannfaatkan untuk kayu bakar. Buahnya menjadi permainan anak-anak yang sangat mengasyikkan.

Di sebuah rumah kecil, yakni rumah Arika Harmon, Festival Batang Kapas itu dimulai. Arika tinggal bersama keluarganya. Di sinilah rombongan atau peserta yang menghadiri festival singgah dan berehat setelah pagi menjelang siang berangkat dari Pekanbaru dan tengah malam baru sampai di sana. Di rumah inilah segala permainan dipusatkan. Baik permainan anak-anak maupun kegiatan lainnya.

Di belakang rumah Arika terdapat sebuah sungai yang bersih dengan pantainya yang menjorok ke tengah. Di sinilah masyarakat melakukan aktifitas sehari-hari seperti mandi dan mencuci. Di atas sungai, banyak terdapat selang air bersih. Sungainya sangat terjaga. Di sisi kanan kirinya menjadi ladang karet yang menjadi sumber penghasilan mereka.

Anak-anak bermain. Berlomba. Tarik pelepah kelapa yang menjadi permainan tardisi mereka, diperlombakan semeriah mungkin. Orangtua mereka juga turut kumpul di sini. Pagi-pagi sebelum bersama-sama menuju air terjun tertinggi di sana, mereka mengikuti perlombaan tersebut. Hadiah sederhana dari Laskar Penggiat Ekowisata (LPE) Riau selaku pelaksana bersama berbagai komunitas lain, menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan bagi mereka. Selain LPE Riau, ada juga Bengkel Seni Lipatkain, Himpunan Pemuda Kampar Kiri (Hipermarki), Pemuda Pencinta Alam (Papala) Padang Sawah.

Usai pesta permainan tradisi dengan hadiah-hadiah, anak-anak, remaja, seluruh peserta, pemuda dan sebagian masyarakat bersama-sama menuju air terjung Batang Kapas. Air terjun ini merupakan air terjun tertinggi di Kabupaten Kampar. Letaknya cukup jauh. Sekitar 3 jam perjalanan kaki dari rumah Arika. Selama perjalanan, seluruh beserta bersama dan bergembira ria.

Berbagi untuk Menjaga Negeri

Bersama menikmati keindahan alam air terjun, hutan dan alam yang indah hingga malam, sudah tentu sangat berbeda dengan kehidupan kota. Tidak ada suara motor, asapnya yang menyesakkan, apalagi mobil atau hiruk pikuk kemewahan kota. Hanya ada malam yang bernyanyi: suara burung, air terjun, Rangkong dan sebagainya.

Bagi belasan anak-anak  yang ikut dalam perjalanan tersebut, kesunyian malam itu sudah menjadi hal biasa. Perjalanan jauh, naik turun di tanah licin dan bebatuan atau dinginnya air terjun, juga tidak terasa berat. Anak-anak yang duduk di kelas III hingga VI SD itu, bahkan sudah berkali-kali sampai ke sana. Lebih tinggi lagi sampai ke puncak tertinggi. Sedang tempat peserta dan anak-anak tidur berada di pinggang bukit, atau tengah air terjun.

Arika dan kawan-kawannya sangat ingin memperkenalkan kekayaan alam yang ada di kampung mereka. Karena itulah mengapa festival ini dibuat. Selain itu, mereka juga ingin membuktikan bahwa di daerah pedalaman dan perbatasan seperti kampung mereka itu masih ada kehidupan, masih banyak orang-orang yang bertahan hidup. Hal terbesar yang mereka inginkan adalah, jika tempat tersebut menjadi tempat wisata, maka kerusakan alam akan bisa dicegah secara tidak langsung. Termasuk menjaga kekayaan alam berupa batu bara yang menghampar di tanah tempat kelahiran mereka.

Malam itu, LPE Riau dan komunitas lain berbagi tentang bagaimana pengelolaan tempat wisata di sutau tempat. Memperkenalkan lokasi wisata selalu seiring dengan memperkenalkan kebudayaan yang ada di sana. Bahkan kebudayaan, permainan dan kesenian tradisi menjadi daya tarik wisatawan yang paling bisa diunggulkan.

Seperti yang lainnya, mengangkat ke permukaan, memperkenalkan desa dan segala kekayaan yang dimiliki sangatlah tidak mudah. Perlu kerja keras. Perlu maykinkan banyak orang jika yang ada itu memang layak. Perlu meyakinkan keluarga, orang-orang kampung, ninik mamak dan seluruh masyarakat desa bahwa kehadiran orang-orang jauh dk tempat mereka juga berdampak positif dan tidak merugikan.

Segala upaya ini yang ditempuh Arika dan Rama, adiknya. Belajar dari banyak kawan, belajar dari banyak pengalaman, mereka berusaha keras memperkenalkan desa dan kekayaan yang dimiliki dengan tidak menghancurkan apa yang dimiliki. Intinya menjaga negeri dengan tradisi dan kebudayaan. Kampung diperkenalkan tapi kebudayaan dan tradisi tidak akan pernah hilang.

Festival Batang Kapas memang tidak lama. Bahkan banyak rencana yang tidak bisa terlaksana mengingat lamannya perjalanan menuju ke desa tersebut. Bukan hanya persoalan jalan, tapi juga memang memerlukan tenaga ekstra dan kemauan yang kuat. Sangat beruntung karena sebagian masyarakat mulai menyadari pentingnya menjaga tradisi, menjaga negeri dan alam yang dimiliki.***
 

KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 10:51 wib

Rehab Command Centre Diselidiki

Kamis, 20 September 2018 - 10:50 wib

Targetkan Seluruh IKM Jalin Kerja Sama

Kamis, 20 September 2018 - 10:38 wib

PDAM Harus Ditata Ulang

Kamis, 20 September 2018 - 10:25 wib

Sambangi Panti Asuhan di Hari Lalu Lintas

Kamis, 20 September 2018 - 10:24 wib

Sepakat Memperbaiki Jalan

Kamis, 20 September 2018 - 10:20 wib

Dihampiri Polisi, Pengedar Buang Narkoba

Kamis, 20 September 2018 - 10:19 wib

Berharap Tahanan Dapat Berubah

Kamis, 20 September 2018 - 10:07 wib

Kepergok Mencuri, Sembunyi di Gudang

Follow Us