TEATER

"Dramatic Reading" Marsinah

5 Februari 2017 - 00.45 WIB > Dibaca 403 kali | Komentar
 
Puluhan tahun usai kematiannya, Marsinah kembali. Namun, bukan dalam sosok nyata, melainkan lewat sebuah dramatic reading di panggung Datuk Bandar, Kompleks Bandar Seni Raja Ali Haji (Serai), Kota Pekanbaru, Kamis (2/2/2017).

Pementasan berbasis monolog atas karya Ratna Sarumpaet itu diperankan oleh Nena Padmah. Kepada Riau Pos, mahasiswi Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) itu mengaku sejak lama tertarik untuk mementaskan lakon Marsinah. Namun, kata Nena, ketertarikannya atas Marsinah dan teks Ratna itu bukan karena latar belakang perempuan 24 tahun yang meregang nyawa di zaman Orde Baru (Orba) tersebut.

“Marsinah itu hanya ingin menjadi perempuan biasa-biasa saja, tetapi ternyata hidupnya berat. Semua perempuan ingin begitu (hidup yang baik-baik saja, red), tetapi Marsinah tak mendapatkan itu,” ungkap Nena yang ditemui sebelum pertunjukan.

Dalam sejarahnya, diceritakan bahwa Marsinah meningggal lewat sebuah insiden penculikan. Kuat dugaan, buruh perempuan yang bekerja di satu pabrik di daerah Lamongan itu dilenyapkan lantaran dianggap berbahaya.

 “Saya pun tak memasukkan unsur ideologis Marsinah di dalam pementasan ini,” aku Nena.

Hal itu dikatakan Nena terkait latar belakang Marsinah yang diketahui selama ini. Sebab, bersama sejumlah buruh lainnya, Marsinah menuntut adanya kenaikan upah di tempatnya bekerja. Nahas, ia pun dibinasakan sebelum tuntutan itu tercapai.

Nena mengaku, dalam pementasannya, latar belakang Marsinah sebagai buruh itu tak akan diangkut ke atas panggung. Menurutnya, yang akan ditonjokan nantinya adalah karakter perempuan yang dimiliki Marsinah itu sendiri.

“Saya mengambil sisi perempuan Marsinah seutuhnya, terlepas dari latar belakangnya sebagai buruh,” ucap Nena.

Terkait bagaimana dramatic reading tersebut digarap, Nena mengatakan bahwa karya itu lahir dari pembacaannya yang kemudian langsung diilustrasikan. Artinya, kata Nena lagi, interpretasi atas teks Marsinah itu lahir ketika ia dibacakan di panggung. Hal itu berbeda dengan monolog tanpa teks yang sering ditemukan pada beberapa pementasan.

“Lalu, saya pun menerjemahkannya (teks) itu lebih jauh dari kandungannya sendiri. Dramatic reading itu teks yang didramatisasi langsung saat ia (teks) dibacakan,” jelas Nena.
Diakui Nena, penerjemahan atas teks monolog dan sejarah hidup Marsinah sendiri sudah banyak dilakukan oleh kalangan seniman. Tak hanya diadopsi ke bentuk teater, kisah dan penderitaan Marsinah itu juga dihadirkan ke dalam seni tari, musik, lukis, dan lain-lain.

Misalnya saja yang dilakukan oleh Sardono, seniman tari, di Jogjakarta, beberapa waktu lalu. Adapun dalam bentuk musik, Marsinah dihadirkan oleh kelompok musik beraliran punk rock asal Jakarta, Marjinal.

Sementara itu, mengenai ide untuk menggarap pementasan itu sendiri, Nena menyebut bahwa dramatic reading yang digelar malam itu merupakan semacam pemanasan dari pertunjukan berikutnya. Perempuan berambut panjang itu mengaku, monolog Marsinah tersebut nantinya akan digarap dalam bentuk teater.

“Karya itu sendiri sedang dalam garapan. Karena memperoleh kesempatan untuk menerjemahkannya ke dalam dramatic reading, akhirnya saya pentaskan,” tutur Nena.

Tuntutan Upah Dibayar Darah

“Dua kali mereka membongkar kuburanku!” Suara Marsinah yang malam itu dipentaskan oleh Nena Padma tersebut menjadi gejolak lain bagi para hadirin yang hadir di lokasi. Gugatan itu sendiri lahir atas ketidakadilan yang membelenggu hidup perempuan yang harus tewas mengenaskan pada Mei 1993 tersebut. Pasalnya, di masa Orba, protes dalam bentuk apa saja kepada penguasa, baik pemilik modal ataupun pemerintah, dapat dianggap subversif atau membahayakan.

Hal itu pun mendapatkan momentumnya kembali ketika suara Marsinah ini kembali mengalir dari mulut Nena. “Seorang buruh kecil sepertiku berani membuka mulutnya untuk kenaikan upah.”

Nena yang mengenakan kaos hitam dengan rok sebagai bawahan malam itu terus mencoba merepresentasikan kepedihan Marsinah lewat teks karya Ratna Sarumpaet tersebut. Monolog yang ditulis sekian tahun setelah kematian Marsinah itu terus menderu dengan sehamparan gugatan. Di antara dingin malam dan bising kendaraan yang terus melintas di sekitar Kompleks Bandar Serai, gugatan dalam bingkai naluri perempuan itu pun mengalun dan bertalu.

“Mereka selalu bermain dengan angka-angka, tapi lupa jika angka-angka bisa memanusiakan buruh,” jerit Nena dari atas panggung berukuran sekitar 1 X 2 meter.

Kalimat itu bertaut erat dengan kondisi para buruh di masa pemerintahan Presiden Soeharto. Upah yang tak layak, sedangkan jam kerja kerap kali melebihi standar, menjadi satu di antara banyak hal yang menjadi masalah tersendiri bagi para buruh. Hal itu pula yang terus dimunculkan oleh sosok Marsinah dalam karya tersebut, meski latar belakang buruh yang dimiliki perempuan berambut sebahu itu tak terlalu ditonjolkan Nena dalam pementasannya.
Justru, yang menjadi kekuatan, sebagaimana diungkapkan Nena sebelumnya, adalah rintih dan jerit parau seorang perempuan seutuhnya tanpa latar belakang alih-alih ideologi. Misalnya saja dalam kalimat ini,”Katakan kepada mereka, Marsinah tak akan datang. Aku hanya akan menunggu sampai Peradilan Agung itu tiba.”

Menariknya, Ratna Sarumpaet selaku penulis karya tersebut juga berupaya membahasakan kegelisahan serta keresahan kaum perempuan di zaman Marsinah akan generasi selanjutnya. Ratna yang juga aktivis hak asasi manusia (HAM) itu menerangkannya dengan jelas.
Nena pun menyuarakan itu dengan lantang dalam kalimat, “(Kalian) generasi tumbal. Generasi yang malang.”

Narasi panjang dan dialog penuh jeritan serta darah itu pun dipungkasi dengan sebuah pengakuan yang getir, yang diketahui memang berasal dari kenyataan tragis yang sekaligus menjadi babak akhir dari kehidupan Marsinah. Kematian yang bagi kalangan buruh diartikan sebagai tonggak perlawanan buruh itu pun diucapkan dengan tegas oleh Nena tanpa menghilangkan kegelisahan dan darah.

“Sebuah benda tajam dihunuskan ke kemaluanku!” Akhir hidup Marsinah memang tragis. Sebatang bambu diketahui telah ditujahkan ke kelaminnya hingga tembus ke perut. Namun, hal itu mengakibatkan kematiannya tak hanya terasa tragis, tetapi juga heroik. Bagi kaum buruh dan orang-orang yang ditindas serta dibungkam di zaman itu, Marsinah adalah tonggak dan nisan yang membuat mereka berani melawan kekuasaan yang selama ini berlaku sewenang-wenang.

Bagi Nena sendiri, lewat pementasan yang ia hadirkan malam itu, Marsinah juga telah menjadi semacam acuan bagi kaum perempuan untuk melawan dominasi dan perilaku kasar yang kerap ditunjukkan para lelaki. Gugatan Marsinah yang mendominasi sekaligus sebagai roh dari pementasan itu, bagi Nena, masih menjadi bagian dari gugatan para perempuan masa kini.(boy/kun)
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Senin, 24 September 2018 - 17:04 wib

Komitmen Kampanye Damai

Senin, 24 September 2018 - 17:00 wib

Sungai Salak Juara MTQ Kecamatan Tempuling

Senin, 24 September 2018 - 16:43 wib

1 Dekade Eka Hospital Melayani Sepenuh Hati

Senin, 24 September 2018 - 16:30 wib

Warga Sungai Apit Pelatihan Olahan Nanas

Senin, 24 September 2018 - 16:08 wib

Cegah Kanker Rahim, Ketahui Resikonya

Follow Us