APRESIASI PEMENTASAN "MIMPI BURUK DI WAKTU SENJA"

Mengukur Arisan Melalui Mimpi Buruk di Waktu Senja

5 Februari 2017 - 01.00 WIB > Dibaca 696 kali | Komentar
 
Oleh Denni Afriadi

Gadis itu akhirnya memilih pintu sebagai teman “berdialog”. Pintu yang merupakan batas antara masuk dan keluar. Antara datang atau pergi. Gadis itu hendak pergi dan akan disambut datang. Ia menambatkan lehernya tepat pada garis pembatas. Lalu perlahan mengakhiri nafas. Bergelayut kaku dengan telapak kaki tidak menyentuh bumi.

Gambaran ini menjadi ending dari pementasan teater “Mimpi Buruk di Waktu Senja”. Sebuah lakon yang dipentaskan oleh Sanggar Tuah Abdi Indragiri Hilir di Anjung Seni Idrus Tintin, yang tersaji dua malam berturut-turut 16 dan 17 Desember 2016. Sebuah pementasan yang menyuguhkan realisme sosial. Pementasan yang tersaji dengan susunan teori Aristoteles. Dimulai dengan eksposisi (introduction), dihentak dengan klimaks, lalu penyelesaian.

Tema kemiskinan menjadi penghancur keharmonisan rumah tangga kerap kita jumpai pada naskah-naskah teater. Terlebih naskah-naskah realisme. Sebut saja naskah “Orang Asing” karya Rupert Brooke, atau “Malam Jahanam” karya Motinggo Busye. Kedua naskah ini bukanlah naskah asing bagi geliat teater tanah air. Dan pada “Mimpi Buruk di Waktu Senja” masih mengusung tema serupa yang ditulis oleh Shaifudin Ikhwan (Boboy).

Jalinan konflik bermula ketika tokoh Aisyah (Tika) sang anak, baru saja menyelesaikan sekolah tingkat atasnya. Sebagai salah seorang siswa berprestasi keinginan terbesar adalah melanjutkan pendidikan di sebuah perguruan tinggi. Kemiskinan yang melanda tidak menyurutkan tekat Aisyah. Tanpa diketahui oleh keluarga, ia mencoba mengadu peluang melalui beasiswa di lembaga pendidikan pemerintahan. Benar saja, Aisyah terpilih dari ratusan pengajuan beasiswa. Bayang-bayang tentang keseruan menjadi mahasiswa telah melayang-layang dipikirannya.

Namun, kenyataan berkata lain. Tokoh Samsul (Fikri) sang bapak yang memiliki latar belakang sebagai petani desa, berkeinginan Aisyah segera menikah dengan orang yang berada. Dipilihlah Bobi (Novri) anak dari Lurah Darman (Rijal) sebagai calon menantu. Persetujuan antara Samsul dan Lurah Darman telah disepakati, tinggal menunggu hari jadi yang ditentukan.

Aisyah pun tersentak menerima kenyataan. Bayangan menjadi mahasiswa pupus dengan sekejabnya. Namun tekat sang ayah ditentang oleh Idris (Syukron) sang anak sulung dan tokoh Samiah (Tiwi) sang ibu. Di sinilah konflik saling membelit antara keputusan melanjutkan pendidikan atau menikah. Dengan keputusasaan, Aisyah akhirnya memilih untuk mengakhiri hidup. Dengan sebuah kain panjang, ia menggantung tubuhnya disebuah palang pintu rumah.

Barangkali bukan tidak beralasan tema ini menjadi pilihan untuk ditampilkan dikhalayak ramai oleh Ari Musapia, sang sutradara. Dengan mengambil latar belakang tempat di salah satu perkampungan Indragiri Hilir, tampaknya Ari hendak menyampaikan pesan moral tentang rendahnya kesadaran akan pentingnya pendidikan di masyarakat. Kemelut hidup yang susah, sering meminta seseorang untuk mengambil keputusan yang instan. Dan pernikahan di usia dini dinilai menjadi salah satu permasalahan yang sering dijumpai.

Di beberapa selipan tingkah laku permain aktor juga menyentil bagaimana “menjeritnya” kehidupan sebagai petani kelapa di Indragiri Hilir, dan bagaimana pembangunan insfratruktur jalan yang hancur lebur. Semua dikemas dengan sentuhan guyonan, yang pada titik targetnya adalah singgungan namun dirasakan candaan bagi penonton.

Secara mendasar saya memulai penyimakkan ini dari apresiasi penonton. Sebagai penyuguh Tuah Abdi telah (cukup) berhasil mencuri simpati. Sebagai penonton yang duduk di bangku paling belakang, pandangan saya tidak “terusak” dengan adanya cahaya terang dari layar kecil yang kerap diletakkan di telapak tangan (smartphone). Hanya ada beberapa dan itu pun sebagai aktivitas merekam. Bukan berdialog dengan mereka yang jauh di sana dengan kalimat-kalimat ketikkan. Ini berarti bahwa mereka telah berhasil mencuri perhatian penonton.

Realisme adalah Logika

Berbicara tentang realisme, tentu tidak akan jauh dari pemahaman logika. Meski banyak yang mengatakan bahwa realisme panggung akan berbeda dengan realisme kehidupan, setidaknya realisme panggung tidak menimbulkan keraguan dibenak penikmatnya.

Merujuk pada pementasan “Mimpi Buruk di Waktu Senja”, permainan realisme berjalan dengan khitmatnya. Namun jika ditelisik lebih dalam, tampaknya keberadaan aktor sebagai tubuh utama pertunjukan memberikan dampak baru pada pemahaman logika. Tentu saja ini menjadi tugas sutradara sebagai pemegang kendali arah haluan pementasan.

Secara mendasar “Mimpi Buruk di Waktu Senja” didominasi oleh aktor-aktor yang cukup kuat. Namun terdapat beberapa kelemahan yang saya rasa akan menepiskan logika. Misalnya bagaimana penakaran level vokal yang digunakan, penempatan dialog yang tepat dan logika sebab akibat tentang keputusan.

Hampir semua aktor di “Mimpi Buruk di Waktu Senja” mengutamakan level vokal yang cukup nyaring. Sehingga seperti tidak memperhatikan lagi jarak antara lawan mainnya. Dialog yang dilakukan oleh aktor berjarak tiga meter seolah sedang berbicara dengan jarak sepuluh meter. Padahal dalam vokal teater kategori “berpower” bukan berarti berteriak-teriak.

Hal tersebut menjadi pertanyaan kembali dibenak saya. Apakah ini dipengaruhi oleh gedung serbaguna Telaga Puri di Tembilahan sebagai tempat mereka biasa melaksanakan Arisan Teater yang tidak memadai akustiknya.

Menempatkan dialog untuk dilaksanakan juga menjadi salah satu pengganjal logika ketika menyaksikan pementasan. Misalnya adegan perkelahian antara Ayah dan Ibu setelah kepulangan Pak Lurah. Perkelahian tersebut terjadi di pelataran beranda rumah dengan peristiwa cukup membuat sekampung terdengar. Sementara anak-anak dari sang Ayah dan Ibu berada di dalam rumah. Dan perkelahian berisi tentang bagaimana rencana pernikahan sang anak yang belum sang anak harus ketahui.

Saya mengharapkan (mungkin juga penonton yang lainnya) peristiwa perkelahian tersebut tetap terjaga kerahasiannya. Misalnya dengan pertengkaran di area tanah dengan suara tetap dijaga agar tidak didengar oleh orang lain. Hal tersebut akan lebih dapat diterima logika jika dibandingkan dengan apa yang disuguhkan.

Belum lagi jika ditanyakan tentang bagaimana alasan mengapa Lurah mau menerima anak perempuan dijadikan menantu. Padahal sang Lurah dari bahasanya cukup “high class”. Sementara dari karakter sang anak perempuan tidak ada sedikitpun yang bisa mewakilkan logika untuk diterima oleh sang Lurah sebagai menantu.

Kerancuan logika ini mungkin saja bisa diatasi jika sang sutradara meneliti lebih dalam tawaran akting sang aktris pemeran Aisyah (Tika). Aisyah akan lebih bisa diterima logika jika saja menawarkan peran yang begitu menawan. Berparas lembut dan menjadi kembang desa di kampung tersebut.

Saya menemukan adanya kekurangan pengalaman empiris dari para pelaku “Mimpi Buruk di Waktu Senja”. Mulai dari sutradara sebagai pengendali serta aktor sebagai tubuh cerita. Sutradara terasa masih menawarkan kedangkalan gambaran. Padahal secara pernyataan, jelas benar bahwa sutradara menawarkan latar belakang tempat di Indragiri Hilir. Meski mencoba mendekatkan pada benda, berupa pinang dan kelapa namun saya tidak menemukan psikologi masyarakat Indragiri Hilir. Misalnya “amuk”, yang sebenar mengamuk. Dan “rajuk” yang sebenar merajuk.

Dari sisi aktor dan aktris, barangkali berkait erat dengan usia. Jiwa muda dan hidup yang belum merasakan peristiwa-peristiwa menyerupai peranan menjadi salah satu faktor. Bukankah dikatakan oleh Stanislavski bahwa aktor meskinya “menjadi” bukan “sebagai”. Menjadi di sini adalah bagaimana memasuki dan menguasai segala celah yang ada. Sehingga karakter yang dilakukan benar-benar “menjadi” yang dikatakan Stanislavski.

Kehadiran teater kampus cukup bergeliat di Indonesia. Sebut saja ajang Temu Teater Mahasiswa Nusantara (Temu Teman), hingga hari ini masih bergeliat dengan ribuan pesertanya. Dan yang lebih tangguh lagi, kegiatan tersebut menjadi rebutan setiap provinsi dari perwakilan mahasiswanya untuk menjadikan daerah mereka sebagai tuan rumah berikutnya.

Saya sempat mengikuti kegiatan tersebut pada kisaran tahun 2010 di Bogor dan 2011 di Pekanbaru. Puluhan sanggar dari berbagai kampus di Indonesia saling bergantian menunjukkan kebolehan mereka di dalam dunia peran. Dan mengukur pementasan Tuah Abdi dengan ajang yang Temu Teman yang pernah saya saksikan tidak lah jauh dari ide kreatif dan permainan mereka.

Saya mengenal sanggar Tuah Abdi dari ajang Arisan Teater di Indragiri Hilir. Secara pribadi, disadari atau tidak kehadiran Arisan Teater cukup mengganggu pemikiran saya. Sebagai salah seorang pelaku teater beberapa tahun belakangan (meskipun harus dikategorikan pemula), saya merenung bagaimana bisa dizaman penyerangan globalisasi dengan berbagai kelenaan teknologi, sekelompok anak muda di Indragiri Hilir masih mau memikirkan teater hingga melaksanakan dengan pola arisan. Mereka mendirikan sanggar-sanggar dengan puluhan anggota dari berbagai kalangan. Mulai dari siswa, mahasiswa, guru, honorer hingga pegawai.

Sebagai pelaku teater yang juga merupakan “jebolan” dari Indragiri Hilir, setidaknya saya sedikit banyak mengetahui “warna” dari pementasan Indragiri Hilir. Dan pada “Mimpi Buruk di Waktu Senja” aura tersebut masih bisa saya hirup namun harus saya akui ada sedikit nilai lebih yang terjadi. Nilai lebih ini tentunya adalah sebuah jawaban dari kalimat “proses tidak pernah mendustai hasil”. Proses yang saya sebut sebagai kehadiran Arisan Teater telah memberikan hasil dari keberanian untuk menampakkan diri.

“Mimpi Buruk di Waktu Senja” adalah sebuah reportoar bagaimana perjalanan Arisan Teater di Indragiri Hilir bagi pribadi saya. Indragiri Hilir yang dahulunya dikenal dengan ajang Teater Kelasiknya, sering identik dengan pementasan-pementasan istana sentris kini mencoba menampakkan diri mereka di Ibukota Provinsi Riau dengan ajang pementasan tunggal. Pementasan yang tidak latah dengan “event” pemerintahan. Atau kompetisi yang mengidamkan kemenangan. Syabas Tuah Abdi!!!***

Deni Afriadi, lahir di Sanglar, Indragiri Hilir. Bermustuatin di Pekanbaru, mengenyam pendidikan Teater di Akademi Kesenian Melayu Riau. Bergeliat di Teater Matan.


KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 20:40 wib

Cuti Bersama Idulfitri Tahun Depan Lebih Pendek

Rabu, 14 November 2018 - 19:30 wib

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah

Rabu, 14 November 2018 - 19:28 wib

Kebut Pertumbuhan, RI Perbaiki SDM

Rabu, 14 November 2018 - 16:15 wib

Bonus Demografi Diharapkan Sampai ke Masyarakat

Rabu, 14 November 2018 - 16:00 wib

APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T

Rabu, 14 November 2018 - 15:45 wib

Pencakar Langit Riau Pertama di Luar Pekanbaru

Rabu, 14 November 2018 - 15:33 wib

Lelang Sepeda Motor Dinas Pemko 22 November

Rabu, 14 November 2018 - 14:43 wib

Pengungsi Rohingya Hindari Repatriasi

Follow Us