OLEH DARWIN

Kosakata Khas Petalangan

5 Februari 2017 - 01.07 WIB > Dibaca 2511 kali | Komentar
 

BAHASA  (dialek) Melayu Petalangan adalah salah satu varian bahasa Melayu yang digunakan orang-orang Petalangan di Kabupaten Pelalawan, Riau. Mirip dengan bahasa Melayu dialek Kampar (dikenal dengan nama bahasa Ocu), dialek Petalangan juga berakhiran huruf {o}. Sebagai contoh: mana menjadi mano; siapa menjadi siapo: dan apa menjadi apo. Berbeda dengan dialek Melayu Pesisir yang berakhiran {e}, misal mana menjadi mane.

Namun, tetap ada perbedaan irama atau pelafalan dialek Petalangan dengan bahasa Ocu. Bahasa Ocu di Kampar berirama dan berdialek seperti bahasa Minang, misal kata dapat dalam bahasa Minang dan Kampar dikatakan dengan dapek, sementara dalam bahasa Petalanganadalah dapat. Singkat kata, dialek Petalangan adalah sub-bahasa Melayu Riau yang tidak memiliki perbedaan terlalu mencolok dengan bahasa Melayu umumnya, tetapi memiliki citarasa khas.

Perbedaan khas yang terdapat pada dialek Petalangan adalah penekanan di akhir kalimat. Sebagai contoh: kalian ke mana? menjadi ingkak ke mano de?. Terdapat penekanan pada (partikel) de di akhir kalimat. Demikian juga dengan (partikel) ge pada kalimat ingkak ko ge! “kalian kan!” menjadi penekanan di akhir percakapan. Ada pula (partikel)  te pada kata iyo te (iya kok); (partikel)  do untuk kata tak ado do (tidak ada); (partikel)  e untuk mano-e (mana), begak-e (cantiknya), dan (partikel)  penguat khas Petalangan lainnya.

Kekhasan lain dari dialek Petalangan adalah kosakata yang tidak terdapat pada bahasa Melayu lainnya di Riau. Kosakata tersebut juga belum mendapat tempat di dalam kamus bahasa Indonesia maupun kamus bahasa Melayu Riau.

Dalam kesehariannya, orang Petalangan menggunakan kosakata khas mereka. Namun, ternyata tidak semua orang Petalangan memakainya. Hanya generasi tua saja yang rutin bertutur dengan pilihan kata nan unik ini, sementara generasi mudanya sudah mulai lupa dan malu menggunakan kosakata khas tersebut dalam aktivitas sehari-hari.

Ada ratusan –mungkin ribuan- kosakata khas yang mengelindani kehidupan orang Petalangan sejak dahulu kala hingga zaman internet saat ini. Adapun kosakata khusus itu di antaranya: tiup, uat, menyalak, ajun, andang, bakbutok, biang, bagaang, babaku, basionsing, cogut, cotal, eman, gotil, gonyo, kian, kuti, kangkatung, kotang, lokuh, lonyak, lopui, losit, monteh, minyak pasang, minyak makan, ombak, ombe, pansang, songgeh, takalensat, tasangigit, tapogan, taek, usaian, dan lainnya.

Setelah penulis amati dan rasakan langsung —penulis berasal dari suku Petalangan—, kata-kata di atas sungguh sangat unik dan menarik untuk ditelisik. Kita lihat saja kata tiup. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia kata tiup diartikan seseorang yang mengembuskan angin dari mulut untuk memadamkan api atau meniup peluit. Sementara dalam dialek Petalangan, kata tiup malah berarti menyalakan api di tungku, pada sumbu pelita, atau menghidupkan lilin dengan menggunakan pemantik atau korek api. Di sini terlihat kekontrasan makna yang sangat jelas. Arti kata tiup bagi sebagian besar masyarakat Indonesia berbeda jauh bahkan berseberangan artinya dengan kata tiup dalam dialek Petalangan.

Kata berikut adalah menyalak. Dalam bahasa Indonesia umumnya, kata ini didefinisikan dengan suara anjing, dalam bahasa lain, suara gonggongan. Dalam bahasa Petalangan, menyalak adalah tatkala seorang anak kecil merengek meminta/menginginkan sesuatu pada orangtuanya. Misalnya, kenapo budak ko asik manyalak yo? “kenapa anak ini merengek terus?”.

Kata ombak dalam dialek Petalangan sungguh sangat sastrawi. Ombak oleh orang Petalangan adalah kondisi seseorang yang lagi sekarat ketika sakit parah atau saat-saat menjelang ajal, sementara orang yang sedang sakit parah ini disebut pansang. Orang Petalangan mendeskripsikan saat seseorang sedang sekarat dengan ombak, bisa saja dikaitkan dengan ombak yang ada di lautan. Ombak lautan, kita tahu sifatnya mengombang-ambingkan kapal atau benda yang mengapung lainnya. Nah, puak Melayu yang mendiami Kabupaten Pelalawan ini menganalogikan orang yang sekarat dengan ombak karena si sakit sedang “terombang-ambing” menuju alam kematian.

Kata usaian juga sangat unik saat ditelisik. Dalam bahasa suku Petalangan, kata usaian dimaknai dengan membersihkan, misal: usaian umah tu! “bersihkan rumah itu!”. Padahal dalam bahasa Indonesia, usai tanpa akhiran an diartikan dengan momen atau peristiwa yang sudah berakhir.

Kata-kata yang penulis anggap khas dalam dialek Petalangan tersebut sudah agak jarang dipakai oleh orang Petalangan masa kini. Hanya orang-orang tua saja yang masih memakai kata-kata ini. Semoga saja kata-kata tersebut tidak lesap ditelan zaman nan congkak di tengah-tengah kepungan globalisasi.

Ratusan kata khas Petalangan ini sebagiannya sudah jarang digunakan oleh generasi yang lahir pada 1990-an, apalagi generasi 2000-an. Kita ketahui, sudah banyak bahasa ibu di Indonesia yang punah karena penuturnya berkurang. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan nasib yang menimpa dialek Petalangan. Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Menurut penulis, dalam waktu dekat harus ada pekamus yang mengumpulkan kosakata Petalangan ini untuk kemudian dibukukan dalam bentuk kamus. Selain pembuatan kamus khusus dialek Petalangan, diharapkan juga kosakata khas yang terdapat dalam dialek Petalangan diusulkan untuk dimasukkan ke KBBI atau kamus bahasa Melayu lainnya.

Khusus bagi orang Petalangan, semoga saja mereka bisa merawat kosakata dialek Petalangan dengan menggunakannya dalam percakapan sehari-hari ketika berinteraksi dengan sesama orang Petalangan. Jangan ada kata malu untuk menuturkannya! Bahasa daerah merupakan kekayaan intelektual sebuah komunitas, artinya bahasa Melayu dialek Petalangan adalah kekayaan tak ternilai yang merefleksikan peradaban dan kehidupan nenek moyang kita di masa lalu. Mari kita jaga bahasa ibu kita agar tidak punah! ***

 Darwin adalah pecinta budaya.

KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 08:49 wib

Mulai Kesulitan Cari Dana Talangan

Kamis, 20 September 2018 - 08:39 wib

Harga Beras Premium Masih Tinggi

Kamis, 20 September 2018 - 08:22 wib

Teliti Baca Syarat Lowongan CPNS

Kamis, 20 September 2018 - 01:22 wib

Prabowo Tunjuk Neno Warisman Jadi Wakil Ketua TKN

Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Follow Us