CERPEN BAMBANG KARIYAWAN

Batang Buruk

5 Februari 2017 - 01.15 WIB > Dibaca 1886 kali | Komentar
 
Batang Buruk
AKU takut memandang cermin. Wajah yang kupandang tidaklah seindah wajah adikku. Aku selalu dibanding-bandingkan dengan manisnya wajah adikku. Aku bosan dengan itu. Kecantikan harus selalu diusung seorang perempuan. Kecantikan yang hanya dilihat pada selapis kulit ari manusia. Cemburu? Entahlah yang jelas gemuruh hati ini akan selalu bergelegak setiap ada pujian datang untuk adikku. Mereka akan terheran-heran dengan perbedaan wajah antara aku dan adikku.

“Apa benar itu adikmu? Seperti langit dengan bumi?” Canda teman-temanku yang coba kututupi dengan senyum pahit.

Aku menyadari sepenuhnya. Walau selalu tetap ada letupan-letupan cemburu saat melihat adikku menjadi bahan pembicaraan. Sakit, entahlah. Air mataku telah kering dan telingaku telah kebas. Semasa kecil aku pernah menangis setiap adikku dipuji. Emak hanya memberikan sebuah kata-kata sakti dengan mengatakan Tuhan menciptakan semua manusia sama dan tidak pernah sia-sia.

Aku tahu emak tidak pernah membeda-bedakan aku dengan adikku. Namun perjalanan waktulah yang membuatku harus tersudut pada pojok yang menyesakkan dengan perlakuan itu. Aku tahu adikku sangat menyayangiku. Sikapnya selalu berusaha mengalihkan setiap pujian yang diberikan padanya.

Aku pernah mencoba mematut-matutkan wajahku dengan wajah adikku. Memang beda. Kemolekan wajah emak jatuh penuh ke wajah adikku. Aku sebagai anak pertamanya merasa tidak ada bagian-bagian kecantikan yang ada pada emak menyatu dengan diriku.

“Apa Tina bukan anak emak?” Keberanianku mengejutkan emak yang biasa membuat kue batang buruk untuk menghidupi kami bertiga sejak abah telah pergi ke alamnya.

“Siapa bilang nak. Tina dan Tini anak emak semuanya. Tuhan menciptakan makhluknya tidak pernah sia-sia,” emak memberikan jawaban yang menyejukkan dan selalu kudengar sejak kecil.

“Tapi mengapa Tini beda dengan Tina?” kejarku sambil memandangi emak mencampuri bahan-bahan pembuatan batang buruk. Emak hanya diam. Aku akan selalu tidak memiliki keberanian bila emak tidak menjawab setiap pertanyaan yang diajukan padanya. Diamnya bagiku sebuah jawaban yang tidak perlu kukejar.

Aku pernah mencari jawaban kepada saudara dan tetanggaku. Beragam jawaban kuterima. Tidak ada jawaban yang mengarah pada alasan kalau aku bukan anak emak. Selalu sebuah jawaban nasehat bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan makhluknya dengan sia-sia.

Aku sebagai perempuan pun pernah merasakan getaran hati memandang lawan jenisku. Ada seorang lelaki yang pernah mengisi hati memendam ini. Aku hanya mampu memuja dan menyimpan sebuah rasa ini. Gelisah malam membelengguku dan terbawa selalu ke negeri kayangan. Bersama meresapi madu sebuah harapan.

“Oh… lelaki itu.” Aku menangkupkan kedua tanganku bila getar-getar hati tidak mampu lagi kuimbangi dengan emosiku.

Harapanku berkecai ketika sebuah keberanian mengungkapkan kata yang kumiliki dengan jujur dijawab dengan caci maki lelaki yang kuimpikan.

“Berkaca … berkaca … tahu! Siapa kau! Siapa aku! Lihat wajahmu!” Sejenak aku seperti terbenam ke dasar bumi yang paling dalam. Terhina. Pilu.

Waktulah pelebur luka hati yang paling kunanti. Aku bangkit menggeluti waktu dengan belajar membuat kue batang buruk yang selama ini emak perjuangkan menghidupi kami. Emak mengajariku dengan jemarinya yang telah memunculkan urat-urat biru.

Aku diajarkan makna dari kue batang buruk yang aromanya telah memenuhi hidungku sepanjang hari. Emak bertutur kalau batang buruk bukanlah kue kebanyakan. Kue orang Melayu yang mulai tergerus dengan kue-kue yang sekedar nikmat. Batang buruk punya makna yang dalam. Sering dimaknai dengan ‘’biar pecah di mulut jangan pecah di tangan”
menggambarkan bagaimana seorang Melayu beretika yang baik ketika makan sehingga tatakrama dan adab sopan santun diajarkan dalam mencicipi penganan mencerminkan tingkah laku yang tergesa-gesa dan kurang berhati-hati dalam kata lain. Andaikan kue tersebut dimakan berserak, mencerminkan betapa buruknya orang yang terpandang dalam perilaku keseharian. Semenjak itulah, kue itu dinamakan dengan nama batang buruk yang antara nama dan cita rasanya sangat berbeda sekali. Namanya buruk, tapi cita rasanya sangat tinggi membuat kita terperangah enaknya.

Pergantian malam telah membuatku semakin mahir membuat batang buruk. Menyelami batang buruk seperti cermin bagiku. Biarlah namanya buruk tapi rasanya nikmat.

“Biarlah wajahku buruk, tapi hatiku tidak.” Hatiku mendorongkan sebuah kalimat semangat untuk aku berani menatap hari ke depan.

Perjalanan waktu membawaku dikenal sebagai pembuat kue batang buruk yang terkenal. Aku tahu banyak pelanggan yang membawa batang burukku untuk penganan dan oleh-oleh. Ternyata banyak yang masih menganggap batang burukku buatan emak. Biarlah, bagiku tidak penting siapa yang membuatnya, yang terpenting batang burukku disukai banyak orang. Kesukaan masyarakat dengan batang burukku menjadi buah bibir perbincangan. Usaha dan kerja kerasku membuah hasil. Sebuah rumah indah terwujud.

“Tini … ada lelaki yang mencarimu.” Kudengar emak sedikit berteriak.

Aku yang berada dapur mendengar langkah-langkah angin adikku. Aku tahu itu langkah Tini, adikku yang telah diatur seperti perempuan-perempuan Melayu di zaman kerajaan. Sedang aku yang telah terbiasa di dapur, langkah-langkah terburu-buruku adalah jejak inang tua. Aku tak mempedulikan itu yang saat ini kuusung adalah mengangkat marwah diri dengan batang burukku.

Emak memintaku mengantarkan teh dan batang buruk yang baru saja kuselesaikan. Langkah inang tuaku menuju ruang tamu dengan lambat. Kudengar suara mendayu Tini membalas percakapan suara berat lelaki. Kubawa nampan menuju meja meletakkan teh dan batang buruk.

“Kak, ini teman Tini, abang Joni namanya,” suara Tini mengalihkan mataku pada mata lelaki yang Tini panggil Joni.

Aku seperti tertarik dari dasar bumi yang paling dalam saat aku dihinakan dahulu.
“Oh… jadi engkau Joni!”

Kuambil piring berisi batang buruk dan kulemparkan ke wajah lelaki yang pernah menghinaku.
“Pergi!!!” teriakku.

Kubiarkan Tini menjerit dengan sikapku. Aku tak peduli.***


Bambang Kariyawan Ys, guru Sosiologi SMA Cendana Pekanbaru. Aktif bergabung di Forum Lingkar Pena Riau. Telah menerbitkan buku kumpulan cerpen “Numbai” dan beberapa buku kumpulan puisi, novel, dan pendidikan. Penerima Anugerah Sagang 2011 kategori buku, Nominator Anugerah Sagang 2012-2014, Nominator Anugerah Pena 2013, dan Peserta Ubud Writers and Readers Festival 2014.


KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Wafat, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us