BACA PUISI

Ketika Tanah Parabek Berpuisi

19 Februari 2017 - 00.42 WIB > Dibaca 1213 kali | Komentar
 
Ketika Tanah Parabek Berpuisi
Pertemuan para penyair se-Sumatera di Tanah Parabek itu juga dihadiri beberapa penyair dari Riau. Di sana, mereka bersilaturrahmi, kumandangkan persamaan melalui puisi.

PAGI di Tanah Parabek sangat dingin. Apalagi hari masih terlalu pagi. Kabut pun masih tebal menutup Gunung Singgalang yang megah hadapan dan Gunung Marapi di sebelah kiri. Tapi, suara derap kaki ratusan santri Pesantren Parabek sudah ramai terdengar. Derap itu begitu laju. Seperti saling mendahului, dan mulai berhenti ketika azan subuh berkumandang lantang. Para penyair juga tak ketinggalan. Bersama ustaz dan ustazah, mereka menuju tempat yang sama.

Tanah Parabek pagi itu menawarkan cerita yang tak biasa. Di balik langkah kaki para santri yang bergemuruh, seolah ada satu langkah besar yang membayangi. Langkah itulah yang membuat Parabek dikenang banyak orang. Langkah itulah yang membuat Parabek semakin gadang. Langkah itu jualah yang membawa Sumatera semakin indah di nusantara. Langkah itu adalah langkah Buya Hamka. Kyai, guru, sastrawan dan penyair Indonesia itu, pernah belajar dan melangkahkan derap kakinya di pesantren ini. Tak heran jika pesantren ini merupakan pesantren pertama di Sumbar yang sudah berusia 118 tahun.

Kebesaran nama Buya Hamka seolah tidak ingin hilang begitu saja, seperti selalu ingin diteruskan melalui karya-karya sastra. Karena itulah, Tanah Parabek menjadi tuan rumah pertemuan penyair se-Sumatera. Ada sesuatu yang hendak dikenang. Ada banyak hal yang ingin direkam dan dituliskan melalui tangan-tangan mereka yang datang. Dan, kepada para santri, mereka diharuskan menulis karya sastra berupa puisi dan cerpen. Karya itu lalu dikumpulkan kepada ustaz dan ustazah. Lalu ustaz dan ustazah mengoreksi jika belum layak, dan mengirimkan ke berbagai media massa di Sumbar jika dinilai pantas untuk dimuat.

Ustaz Arbi Tanjung, adalah salah satu ustaz di pesantren tersebut. Penyair dan juga ustaz ini yang selalu menjadi tolak ukur dan semangat menulis bagi para santri tersebut. Tersebab ia juga, para penyair se-Sumatera berpuisi di tanah Parabek. Dan puisi berkumandang sepanjang siang di langit Parabek, merayap ke lembah-lembah sekitar Parabek, bahkan hinggap ke Jembatan Guguak Tinggi di belakang pesantren saat para penyair berwisata bersama ke sana pagi itu.

Menjelang siang, para penyair kembali ke pesantren. Mereka makan siang bersama di sana. Beralaskan daun pisang yang disusun panjang, di sana mereka makan bersama. Sementara, ribuan santri  sudah hilir mudik memenuhi lapangan bakset di tengah-tengah bangunan sekolah berwarna hijau megah untuk  menyaksikan pembacaan puisi nantinya. Di sekitar lapangan ini, puluhan penyair yang sudah dikirim ke panitia sebelumnya dan dicatat ulang di atas kardus, digantung berjejer di sepanjang tepian lapangan.

‘’Para gadis menggendong surge dalam selendangnya, setelah fajar hingga langit berubah jingga. Bismillahirrohmanirrohim. Di langit Parabek, gadis berselendang menyimpan surga dalam matanya.’’ Kunni Masrohanti, penyair Riau, membacakan puisi itu dengan suara lantang. Begitu juga dengan Sulaiman Juned, penyair Aceh yang membacakan puisi dengan gerak setengah tarian.  Tak kalah lantangnya Surya Hadi yang membaca dengan mata menatap tajam. Kunni, selain membacakan puisi ia juga menyerahkan dua buku puisi tunggalnya berjudul Perempuan Bulan dan Sunting untuk perpustakaan pesantren tersebut.

Para penyair membaca puisi secara bergantian di Tanah Parabek. Sesekali diselingi dengan musikalisasi dan pembacaan puisi oleh para santri yang tergabung dalam Komunitas Nun di pesantren tersebut. Ustaz, ustazah dan pimpinan yayasan, juga turut bertepuk tangan, menikmati indahnya kebersamaan dan silaturrahmi melalui puisi.

Mereka tidak hanya membaca puisi bersama. Para penyair yang sudah mengirimkan puisinya, baik yang datang atau tidak, akan menikmati puisi-puisi itu dalam buku antologi bersama nantinya. Panitia akan memilih 200 puisi terbaik dan akan membukukannya. ‘’Silaturrahmi penyair se-Sumatera di pesantern kami ini, semoga menjadi penyemangat yang lebih bagi para santri dan guru semua,’’ ujar Arbi Tanjung.

Silaturrahmi Penyair se-Sumatera

Pembacaan puisi di Tanah Parabek, Ahad (12/2/2017) itu merupakan hari kedua. Malam sebelumnya, Sabtu (11/2/2017), para penyair dari berbagai Provinsi di Sumatera ini telah membacakan puisi-puisi mereka di halaman terbuka, persis di halaman belakang Jam Gadang. Di sinilah kegiatan yang juga dibungkus dalam silaturrahmi penyair se-Sumatera ini bermula.
Sejak sore, panitia yang terdiri dari penyair Bukittinggi, guru serta para santrai Parabek, sudah bersiap. Puluhan puisi yang telah dikirmkan para penyair sebelumnya, disalin ulang di atas kardus dan digantung di sekitar pusat acara, persis di bagian belakang Jam Gadang. Ratusan penonton yang berkunjung membaca puisi tersebut bergantian, bahkan menikmati berbagai rupa dan gaya para penyair membaca puisi hingga menjelang tengah malam.

Pertemuan penyair seperti ini sudah yang ketiga. Sebelumnya dilaksanakan di Harau Payakumbuh, dan kemarin di Bukittinggi. Pesantren Parabek yang merupakan pesantren tertua tempat Buya Hamka pernah menimba ilmu di sana, dinobatkan sebagai tuan rumah saat itu. Mereka  menggaungkan  pertemuan ini dalam event besar bernama Bumi Parabek Andalas Bapuisi dan silaturrahmi penyair se-Sumatera merupakan intinya.

Di antara penyair yang hadir yakni, Sulaiman Juned dengan komunitas Kufletnya dari Aceh, Kunni Masrohanti dan Sastra Riau dari Riau. Para penyair Padang seperti Syarifuddin Arifin, Azwar Anas, Muhammad Subhan, Yeyen Kiram, Kamal Guci, Muhammad Subhan, Iyut Fitra, Soetan Radjo Pamuncak,  dan masih banyak lainnya dari berbagai kabupaten dan kota di Sumbar, juga hadir. Berbagai komunitas sastra juga tidak ketinggalan.

Usai pembacaan puisi di Jam Gadang, para penyair menuju Pesantren Parabek, tidak begitu jauh dari Jam Gadang. Mereka beristirahat dan tidur di sana. Panitia telah menyiapkan tempat khusus untuk para penyair tersebut: penyair lelaki di asrama santriwan dan penyair perempuan di asrama santriwati. Di sana mereka bisa berbagi pengalaman dengan santri sekaligus melihat kehidupan para santri tersebut sejak malam itu hingga siang, atau hingga para penyair tuntas membaca puisi, lalu pulang.

‘’Kegiatan ini yang ketiga. Ini setiap bulan akan dilaksanakan, berpindah-pindah. Setiap kabupaten dan kota akan mendapatkan giliran. Ya, seperti arisanlah. Dan semua persiapan dilakukan penyair atau seniman yang ada di daerah tersebut. Kami yang dari kabupaten lain membantu semaksimal mungkin dalam berbagai hal yang diperlukan. Kalau bulan ini di Bukittinggi, bulan depan akan dilaksanakan di Batu Sangkar. Teman-teman di sana sudah bersiap. Kami berharap penyair se-Sumatera yang sudah pernah datang atau yang belum pernah, untuk bisa bersama-sama hadir. Apalagi Riau. Riau ini kan dekat dengan Sumbar,’’ ungkat penyair asal Payakumbuh, Iyut Fitra.

Pertemuan para penyair ini juga disambut baik oleh Surya Hadi, penyair asal Riau. Penyair yang telah keliling ke berbagai provinsi di Indonesia dalam Puisi Menolak Korupsi (PMK) bersama Sosiawan Leak ini, juga menyampaikan hal serupa. 

‘’Semangat bersastra, semangat berpuisi ini yang harus terus dijaga dan juga ditiru. Dengan begini, mau tidak mau seniman dan penyair di daerah akan bangun, akan bangkit dan bersama-sama memeriahkan acara seperti ini. Sebuah perubahan di dunia puisi yang luar biasa untuk kawan-kawan di Sumbar,’’ katanya.(helfizon a)

KOMENTAR
Terbaru
Senin, 19 November 2018 - 19:09 wib

Duit Korupsi Amankan Kasus Istri

Senin, 19 November 2018 - 18:47 wib

Teken Petisi, Selamatkan Nuril

Senin, 19 November 2018 - 17:00 wib

Kejari Kuansing Terima Penghargaan Terbaik Se-Riau

Senin, 19 November 2018 - 16:30 wib

Laga Kambing, Satu Tewas Satu Kritis

Senin, 19 November 2018 - 16:00 wib

Pemkab Ingatkan Perusahaan

Senin, 19 November 2018 - 15:30 wib

Bupati Buka Kejuaraan Panahan

Senin, 19 November 2018 - 15:28 wib

Imaculata Autism Boarding School Beri Award pada Kompol Netty

Senin, 19 November 2018 - 15:15 wib

Dua Jembatan Timbang Dikelola Pihak Swasta

Follow Us