KENDURI BUDAYA

Perkuat Seni-seni Tradisi

19 Februari 2017 - 00.51 WIB > Dibaca 810 kali | Komentar
 
Perkuat Seni-seni Tradisi
Haryono.
Berbagai kesenian tradisi terus dipentaskan dan diperkenalkan Dinas Kebudayaan Riau yang baru dibentuk. Pementasan itu, salah satunya saat peresmian dinas ini awal pekan kemarin di Museum Sang Nila Utama, tempat kantor ini berada. Bermacam-macam. Tidak hanya musik dan tari, tapi juga sastra lisan dan juga teater tradisi. Tidak hanya dipentaskan oleh para seniman pilihan, tapi juga mereka yang langsung bergelut dengan kesenian tersebut dan tinggal di kampung tempat kesenian ini bermula dan berkembang.

Dipertontonkan dan dipentaskannya kesenian dan sastra tradisi ini semata-mata untuk mengangkat kembali kesenian yang bermula dari kebudayaan masyarakat yang muncul sejak lama. Apalagi sebagian kesenian ini hampir punah, putus generasi dan terancam hilang tanpa penerus. Dengan mengusungnya kembali ke permukaan, dimunculkan dalam berbagai perhelatan besar, keinginan besar untuk melihat kelangsungan kesenian ini semakin  dekat dengan harapan.

Di antara kesenian tradisi yang dipentaskan tersebut adalah sastra lisan orang suku laut yang dikenal dengan bedenden. P R j.Haryono Sri Bijawangsa, presiden Labbboli (Lembaga Adat Budaya dan Bahasa Orang Laut Indonesia), asli Desa Concong Luar/ Desa Panglima Raja, Kabaupaten Indragiri Hilir, turut mendendangkan bedenden tersebut di hadapan Gubernur Riau, budayawan dan satrawan Riau serta para tamu undangan dari berbagai elemen.

Bedenden, dijelaskan Haryono, merupakan  sastra lisan suku laut ‘desindolak’ Indragiri hilir. Bentuknya berupa nyanyian atau senandung. Bedenden memiliki banyak kegunaan. Ada yang digunakan untuk pengobatan, mengenang orang yang sudah meninggal, menidurkan anak dan memotivasi orang lain. Bedenden dinyanyikan sesuai dengan kegunaan dan tempatnya masing-masing.

Bedenden yang digunakan untuk pengobatan, tidak boleh dinyanyikan di sembarang tempat. Harus ada tempat khusus. Pasien juga ada di sana. Isi bedenden juga tentang mantra-mantra pengobatan atau permintaan kesembuhan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Begitu juga dengan bedenden yang digunakan untuk mengenang orang yang sudah meninggal. Di dalamnya menceritakan tentang segala kebaikan orang yang meninggal tersebut.

Tidak beda dengan bedenden yang digunakan untuk memotivasi. Bedenden yang dinyanyikan Haryono saat acara tersebut juga merupakan bedenden motivasi. Isinya tentang bagaimana hari ini lebih baik dari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. Juga sering digunakan orangtua untuk memotivasi anak mereka yang hendak menangkap ikan dan sebagainya. Bedenden juga banyak yang berisi tentang cerita kehidupan, baik masa lalu, sekarang maupun akan datang.

Bedenden muncul sejak suku laut ada. Sudah sejak lama. Sangat lama. Penutur atau pelantunnya juga tidak banyak. Kurang dari sepuluh orang di Inhil. Jumlah ini menunjukkan sastra lisan bedenden tergolong musnah versi Unesco karena jumlah penuturnya di bawah 100 orang. Ini hal yang merisaukan, kata Haryono. Dengan sering memunculkan dan memperdengarkan kepada khalayak ramai, diharapkan sastra lisan seperti badenden akan mendapat perhatian khusus.

‘’Dengan adanya Dinas Kebudayaan sekarang, sudah jelas ini merupakan kabar gembira karena ada niat pemerintah untuk lebih focus menangani persoalan kebudayaan. Selama ini persoalan kebudayaan tidak tertangani dengan focus. Masih berserak. Dengan adanya Dinas Kebudayaan, ini harapan baru. Tugas mereka memang menjaga dan memelihara serta mempertahankan kebudayaan yang ada. Itu tugas mereka, masak tak bisa. Karena, untuk apa punya rumah tapi masih kehujanan kepanasan. Apa artinya. Tentu semua akan lebih baik,’’ aku Haryono.

Haryono juga menyebutkan, bahasa laut saat ini sudah dijadikan muatan lokal. Hal tersebut diakui sebagai sebuah kemajuan yang luar biasa. Mennurutnya, sangat  memungmkin bedenden ini akan dipertunjukkan dalam sebuah festival besar, semacam festival orang laut.

‘’Malah ada rencana dengan Kadis untuk membuat festival bedenden sebagai salah satu cara memelihara sastra lisan ini. Selama ini tidak terakomodir meski ada dinas social. Dinas sosial lebih ke persoalan ekonomi. Mereka memandang  suku adat terpencil dari sudut pandang sosial ekonomi, bukan budaya. Kalau ini khusus budaya,’’ sambungnya.

Kesenian tradisi yang dipertunjukkan dalam peresmian Dinas Kebudayaan yang dibungkus dalam Kenduri Budaya tersebut adalah Bakoba asal Rohul. Taslim yang bergelar Datuk Mogek Intan, seorang penutur sastra lisan asal Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), juga hadir dalam helat tersebut. Taslim menuturkan dengan fasih bakoba tersebut.

Taslim tidak hanya sebagai penutur, tapi juga pengembang bakoba. Jerih payahnya yang tidak mengenal lelah itulah yang membuatnya meraih gelar Maestro dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia,  Muhammad Nuh, 2014 lalu. Anugerah tersebut diberikan  bersempena dengan malam Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro (AKPM) Seni Tradisi 2014 ke-3 yang diprakarsai Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud RI. Taslim juga pernah menerima Anugerah Sagang 2007.

Bako adalah nyanyian yang diiringi dua bebano, satu gendang dan sato gong. Lima orang yang terlibat dalam satu pementasan bakoba, termasuk penuturnya. Bakoba selalu ditampilkan dalam acara pernikahan anak kemenakan, sunat rasul, turun mandi anak, panen padi/menanam padi dan berzakat atau lebih bersifat hiburan. Malam acara itulah bakona dimainkan satu malam suntuk, dimulai sehabis isya dan baru selesai menjelang subuh. Pemain hanya beristirahat secukupnya dengan minum kopi dan makan roti saja.

Seperti bedenden, tak banyak juga penutur bakoba. Tak banyak pula yang mau belajar. Sulit. Hampir putus generasi. Tapi Taslim tetap rajin menularkan dan mengajarkan bakoba kepada anak-anak muda yang mau belajar. Penutur bakoba yang tersisa saat ini hanya tiga orang, itupun lanjut usia sama dengan dirinya. Karena ingin bakoba tetap ada dan tidak putus generasi, Muslim membuat pelatihan di rumhanya seminggu sekali. Terbuka. Siapa saja boleh belajar. Sayangnya, hanya sekitar 5 orang. Itupun tidak lancer.

‘’Perkembangan untuk generasi berikut, agak susah. Sering juga melatih dan mengajarkan di rumah, tak banyak yang mau karena kepedulian pemerintah kurang. Kalau saya yang menonjolkan, mengajak dan menuturkan bakoba ini, tak banyak yang mau. Maju dua tiga kali mundur, maju dua tiga kali, mundur. Begitu terus.,’’ sebut Taslim.

Taslim juga mewariskan kepada anak perempuannya. Ada juga beberapa anak perempuan yang belajar. Persoalannya, jika sudah menikah, mereka tak mau terlibat dalam bakoba lagi. Mereka sibuk mengurus keluarga, kerja dan sebagainya.  ‘’Sudahsaya wariskan kepada anak perempuan saya, tapi kalau perempuan ini susah. Kalau sudah menikah tak ikut lagi,’’ sambungnya.

Kenduri budaya juga dimeriahkan dengan Randai asal Taluk Kuantang dan teater Mendu yang dipentaskan grup teater Matan asal Pekanbaru.  Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Kebudayaan Riau, Yoserizal Zein, menyebutkan, dinas yang dipercayakan kepadanya itu lebih bermain di hulu-hulunya pariwisata. Lebih menggali dan mendokumentasikan seluruh unsur budaya tradisi. Lebih fokus. Setelah didokumntasikan lengkap dengan foto, video dan pengkajian, akan diusulkan kepada pemerintah pusat sebagai warisan budaya tak benda.

Saat ini sudah ada 10 warisan tak benda yang sudah diakaui pemerintah pusat.. ‘’Sebetulnya lebih banyak lagi tapi belum terdokumentsai dengan baik. Kita akan lebih fokus dengan ini. Kalau sudah diakui sebagai warisan, harus dikuatkan dengan pergub. Misalnya koba, ada pergub tentang bentuk koba. Apa yang dikerjakan dinas budaya, nantinya akan dipasarkan Dinas Pariwisata. Kalau sudah diakui Indonesia, kita akan usulkan pula sebagai warisan di tingkat Asean. Akan lebih jauh lagi,’’ sebut Yose.(kunni masrohanti)


KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Selasa, 13 November 2018 - 16:56 wib

Terkait Kasus Century, Miranda Diperiksa KPK

Selasa, 13 November 2018 - 16:45 wib

Momen Tingkatkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Selasa, 13 November 2018 - 16:30 wib

Sungai Siak dan Burung Serindit Promosikan Riau

Selasa, 13 November 2018 - 16:30 wib

Sungai Siak dan Burung Serindit Promosikan Riau

Follow Us