OLEH FATMAWATI ADNAN

Hari Bahasa Ibu

19 Februari 2017 - 01.21 WIB > Dibaca 1080 kali | Komentar
 
Hari Bahasa Ibu
UNESCO (United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization/ Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB) mencanangkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Mengapa PBB memandang perlu adanya “perayaan” bahasa ibu? Ternyata, pencanangan Hari Bahasa Ibu tersebut bertolak dari kondisi eksistensi bahasa-bahasa ibu yang  tersebar di seluruh dunia. Dapat dikatakan bahwa pencanangan tersebut dimaksudkan sebagai penghargaan terhadap bahasa ibu dan adanya kekhawatiran akan kelangsungan bahasa ibu di era global yang mengikis etnisitas.

Barangkali pencanangan tersebut juga didasari oleh beberapa fakta sejarah perjalanan hidup beberapa bahasa besar di dunia yang sudah menemui “ajalnya”, misalnya bahasa Latin yang berjaya di masa Kerajaan Romawi. Meskipun bahasa ini masih dapat ditemukan dalam kitab-kitab ilmu pengetahuan dan semboyan-semboyan, pelan namun pasti bahasa ini menghilang dalam komunikasi sehari-hari. Bahasa sebesar bahasa Latin pun bisa “mati”, apalagi bahasa-bahasa ibu yang memiliki jumlah penutur yang lebih sedikit.

Apa yang dimaksud dengan bahasa ibu? Stern (1994) mengemukakan bahwa secara mendasar, bahasa pertama (bahasa ibu) adalah bahasa yang dikuasai oleh seseorang sewaktu kecil dan awal masa kanak-kanaknya sebelum adanya penguasaan (dan pemakaian) bahasa lain. Senada dengan pendapat Stern, Ali (1995) mengatakan bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak awal hidupnya melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, seperti keluarga dan masyarakat lingkungan. Hal ini menunjukkan bahasa pertama (B1) merupakan suatu proses awal yang diperoleh anak dalam mengenal bunyi dan lambang yang disebut bahasa.

Bahasa ibu (mother tongue) disebut juga dengan istilah bahasa asli adalah bahasa pertama yang dipelajari seseorang. Biasanya bahasa ibu yang dipelajari seorang anak adalah bahasa daerah sehingga orang tersebut disebut sebagai penutur asli bahasa daerah itu. Biasanya pula seorang anak mempelajari dasar-dasar bahasa ibu dari keluarga mereka sendiri.

Menurut data Ethologue: Languages of the World, di dunia ini terdapat tidak kurang dari 6.000 bahasa ibu. Separuh atau 50 persen dari jumlah tersebut mempunyai penutur sebanyak 6.000 jiwa atau lebih, sedangkan setengahnya lagi penuturnya 6.000 jiwa atau kurang.
Bagaimanakah kondisi bahasa-bahasa ibu tersebut dewasa ini? Berbagai hasil penelitian memperkirakan akan terjadi penurunan jumlah penutur bahasa ibu dari tahun ke tahun di seluruh dunia. Artinya, bahasa ibu semakin ditinggalkan oleh penuturnya sebagai konsekuansi logis dari globalisasi yang dapat menimbulkan terjadinya pergeseran bahasa (language shift) dan perubahan bahasa (language change).

Faktor-faktor yang diduga menyebabkan terjadinya pergeseran bahasa dan perubahan bahasa, antara lain: (1) bahasa ibu/bahasa daerah tidak diperoleh atau diajarkan sebagai bahasa pertama dalam keluarga; (2) lingkungan pergaulan yang semakin majemuk, multisuku, multibudaya, dan multibahasa; (3) perkawinan antarsuku; (4) pemeliharaan identitas etnik tanpa menggunakan bahasa daerah; (5) migrasi penduduk asli ke luar wilayah; dan (6) sikap negatif terhadap bahasa daerah/ibu.

Disinyalir kelompok-kelompok penutur bahasa ibu beralih ke bahasa nasional dan/atau bahasa asing. Secara garis besar alasan-alasan yang dikemukakan sebagai dasar peralihan sikap bahasa adalah (1) anak-anak lebih memerlukan bahasa nasional dan/atau bahasa asing agar lebih mudah untuk berinteraksi dan berkomunikasi di masa sekolah; (2) merasa ketinggalan zaman jika tidak menjadikan bahasa nasional dan/atau bahasa asing sebagai bahasa pertama; (3) bahasa ibu dianggap tidak diperlukan untuk kehidupan di masa depan; dan (4) anak-anak dianggap lebih pintar, terpelajar, dan cakap jika menggunakan bahasa nasional dan/atau bahasa asing.

Benarkah demikian? Wells (1999) dan Anton & DiCamilla (1998) menyatakan bahwa pemecahan masalah dapat dilakukan lebih mudah dan alamiah bila bahasa pertama yang digunakan, dan penggunaan bahasa pertama juga bisa memberikan landasan bagi siswa untuk membangun struktur bahasa kedua. Hal ini berarti seorang anak lebih kritis dan tajam dalam berpikir dalam bahasa ibu, baik secara konseptual maupun operasional. Selain itu, ternyata bahasa ibu (B1) membantu seorang anak dalam penguasaan bahasa kedua (B2) yang dapat berupa bahasa nasional atau bahasa asing.

Unesco (2003) dalam naskah tentang “Pendidikan dalam Dunia yang Multibahasa” mengemukakan bukti-bukti dari berbagai negara serta kemajuan di bidang ilmu saraf kognitif menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki akses ke Pendidikan Multi Bahasa--Berbasis Bahasa Ibu (PMB-BBI) mengembangkan kemampuan berbahasa, baik bahasa ibu mereka maupun bahasa nasional dengan lebih baik. Ketika pengetahuan bahasa kedua (B2) ditambahkan ke bahasa pertama (B1), seorang anak membentuk jaringan pengetahuan yang kompleks (bilingualism aditif).

Sebaliknya, mengajarkan keterampilan dasar untuk anak-anak dalam bahasa asing melalui pemaksaan bahasa (language immersion) dalam beberapa kasus terbukti merugikan. Anak-anak yang memiliki kosakata terbatas pada bahasa pertama, tidak akan mendapatkan keuntungan lebih dari pengajaran dengan bi/multilingual dan akan menggunakan unsur-unsur bahasa kedua guna menggantikan bahasa pertama (bilingualisme subtraktif).
Sebagai lembaga dunia yang menangani pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan; Unesco sangat peduli dengan keberadaan dan kelangsungan hidup bahasa-bahasa yang ada di dunia. Kutipan pendapat yang dipopulerkan oleh Unesco (2008) “... ketika sebuah bahasa punah, dunia kehilangan warisan yang sangat berharga –sejumlah besar legenda, puisi, dan pengetahuan yang terhimpun dari generasi ke generasi akan ikut punah” menggambarkan “kecemasan” sekaligus harapan. Cemas akan kepunahan, berharap akan mampu bertahan.
Bagaimanapun juga, bahasa merupakan kekayaan intelektual yang “mengistimewakan” manusia karena memiliki banyak fungsi sosial dan kultural. Sudah selayaknya kita menjaga “warisan” nenek moyang yang sangat berharga ini meskipun seringkali merasa goyah akibat kepungan kehidupan yang mengglobal. Semoga bahasa-bahasa ibu yang ada di seluruh dunia senantiasa dirawat dan dijaga oleh para penuturnya. Selamat Hari Bahasa Ibu Internasional! ***
Fatmawati Adnan adalah peneliti di Balai Bahasa Provinsi Riau.
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 19:45 wib

Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam

Kamis, 15 November 2018 - 18:35 wib

Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 wib

Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 wib

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Follow Us