CERPEN KHAIRUL UMAM

Makam-makam yang Digusur

19 Februari 2017 - 02.10 WIB > Dibaca 3587 kali | Komentar
 
Makam-makam yang Digusur
SEJAK makam-makam itu digusur dengan paksa, kami berterbangan liar. Sesekali hinggap di daun cemara yang masih melambai, sesekali berdiam di pohon nyiur yang buahnya sudah mulai jarang dan sesekali terbang bersama camar yang sedang asyik bermain bersama debur ombak yang masih besar. Hanya saja, yang membuat kami risau, sampai detik ini kami tak menemukan tempat tinggal yang lebih damai.

Makam-makam itu adalah satu-satunya rumah kami setelah lama meninggalkan hidup di dunia. Sudah tujuh ratus tahun lebih kami hidup damai di sini. Hampir setiap malam kami berkumpul bersama di pojok makam, pada sebuah bangunan persegi dengan dikelilingi dinding setinggi dada. Kami senang berkumpul di sana karena hampir setiap waktu selalu tercium wangi kemenyan yang dibakar oleh anak cucu kami yang tinggal di kampung ini. Mereka sudah beranak cucu dan kembali beranak cucu.

Meski sudah tidak jelas turunan ke berapa dan nenek moyangnya yang mana, karena jumlah kami terlalu banyak, mereka tetap bersetia mengikuti lalampan leluhur dengan membawa kemenyan yang dibakar setiap menjelang maghrib ke sini. Maka, kami senang berkumpul sekadar bernostalgia, berceloteh dan seringkali mendoakan anak cucu yang masih ingat pada kami.

Di tempat itu pun tak jarang kami bagi-bagi bingkisan yang dikirimkan mereka. Meski beragam, tapi kami tetap bersyukur. Paling tidak mereka masih ingat dan peduli hingga kami bisa hidup tenteram. Mereka mengirim kami surat yasin, tahlil, fatihah atau sekadar surat ihlas tiga kali. Tak mengapa. Bukan bentuk kiriman yang kami perhitungkan, tapi kepedulian dan kebersediaan mengingat leluhurnya yang kami banggakan meski sudah terpaut masa begitu jauh.

Maka, kami bersepakat untuk selalu tinggal di sini dan sesering mungkin berkumpul di pojok makam itu untuk bernostalgia, bagi-bagi kiriman dan tak lupa mendoakan semua anak cucu supaya tetap dalam lindungan Tuhan. Seminggu sekali, setiap malam jumat, kami bersama-sama membentuk sebuah rombongan besar berjalan dengan arak-arakan yang sunggu meriah mengunjungi rumah ke rumah. Di setiap rumah, di paspasan-nya, kami duduk bersama dengan membentuk lingkaran mengerubungi uap kemenyan yang dibakar sambil berdoa dengan khusuk demi keselamatan dan keberlangsungnan anak-cucu. Cara kami berdoa hampir tidak berbeda dengan yang mereka lakukan karena cara seperti itu memang telah kami lakukan semasa hidup dulu.

Setelah doa selesai, kami akan melanjutkan perjalanan memutari kampung dan melakukan hal yang sama. Setelah semuanya selesai kami pulang dengan wajah bahagia dan iring-iringan itu begitu besar jumlahnya hingga kadang kami yang di belakang tidak melihat pada mereka di barisan depan.

Karena kami tidak memunyai wadak kasar seperti manusia, maka tidak seorang pun yang melihat iring-iringan itu. Pun tak ada yang mendengar riuh suara kami saat bersolawat dan berdendang puji-pujian kepada baginda Nabi. Hanya saja, mereka tetap bisa merasakan sinyal yang kami kirimkan melalui harum-haruman yang ditebarkan. Sesekali kami embuskan napas pada dedauanan yang sama sekali terdiam karena angin mati malam itu. Kemudian mereka akan segera memberi tahu pada keluarganya dengan gembira.

“Leluhur kita tadi datang ke sini.”

“Tadi aku berpapasan di jalan menuju masjid.”

“Mereka tadi melintas di depanku.”

Lalu mereka bergembira. Begitulah cara kami berkomunikasi dengan cucu-cucu yang masih hidup.

Di pojok makam, kami kembali berkumpul dan bergadang hingga malam benar-benar usai dan kantuk benar-benar penghabisan. Maka, sejak fajar tiba kami kembali ke makam masing-masing untuk beristirahat dan tidur nyenyak.

Tapi malam ini dan untuk seterusnya kami sudah tak bisa lagi berkumpul dengan tenang. Pun tak bisa tidur dengan nyenyak. Makam-makam itu telah digusur waktu kami sedang nyanyak tertidur. Penggusuran itu tepat pada hari Jumat setelah kami melakukan perjalanan mengelilingi kampung. Kami terlalu nyenyak tidur karena kecapaian, hingga tak sempat sadar saat makam-makam rumah kami digusur.

Karena suara mesin yang pekak dan teriakan orang-orang yang bising kami pun terjaga. Saat itu sebagian besar makam itu telah musnah dan penghuninya berserakan di udara. Sempat kami mencoba melawan tapi tak bisa. Kami sama sekali tak bisa menyentuh tubuh-tubuh mereka. Maka, kami coba dengan berdoa. Cara ini sesekali berhasil. Saat itu buldoser yang mengeruk makam kami seketika rusak dan sisa makam yang hendak dipindah menjadi lebih keras. Namun, apa daya. Doa kami juga terbatas dan akhirnya makam-makam itu terbongkar semua.

Sesegera mungkin kami berencana mendatangi anak-cucu. Namun, belum sempat pergi kami sudah terlebih dahulu putus asa. Di sana, di bekas makam kami ternyata sebagian dari mereka ikut bekerja. Mereka seperti lupa dan terus membongkar makam kami satu persatu. Sedang sisanya sibuk melakukan transaksi menjual tanah tak bertuan yang telah lama ditinggali kami. Hanya beberapa saja yang masih bersetia meski tak bisa berbuat apa-apa.

Memang akhir-akhir ini, sepertinya mereka tak lagi bergairah mengingat kami. Sudah lama harum kemenyan di pojok makam tak lagi mengaroma, tapi kami tetap tak berburuk sangka dan tetap berkumpul dengan gembira. Sudah lama mereka juga tak membakar kemenyan di paspasan dan tak saling bercerita tentang isyarat yang kami bawa. Tapi kami tetap bertahan untuk terus mengunjungi mereka. Kami tetap berbaik sangka.

Maka, kami putuskan menyerah.

Hari berikutnya, kami dapati makam-makam itu berubah seratus delapan puluh derajat. Tanah yang penuh gundukan menjadi begitu lapang. Pohon cemara dan kelapa tak lagi melambai. Udara semakin panas. Lalu, tembok-tembok beton mulai dibangun dan sebuah kolam raksasa melingkar dengan rapi di dalamnya.

Kami terus melayang berputar-putar di atasnya hingga lelah. Sementara pohon-pohon yang biasa ditinggali untuk sementara sudah tak lagi ada. Maka, jangan salahkan kami jika memilih beristirahat di setiap tubuh manusia yang berkeliaran dan telah merusak makam-makam itu. Genap sebulan sejak kolam raksasa yang mereka namakan tambak itu beroperasi kami pun mulai merasuki tubuh-tubuh lemah itu satu persatu.

Awalnya mereka tak begitu kaget, namun semakin bertambahnya pekerja yang kerasukan dan mengamuk bahkan mencoba menghancurkan tambak yang telah dengan susah payah dibangun akhirnya pemiliknya pun kalap dan gusar. Karena mereka tidak pernah percaya pada keberadaan kami, maka kesimpulan mereka sangat menggelikan. Pekerja-pekerja itu dianggap gila. Berbagai cara digunakan untuk menyembuhkan, tetap saja tak ada yang mempan. Jalan akhirnya mereka dipulangkan dengan konpensasi yang sungguh menyedihkan.

Pekerja-pekerja baru didatangkan. Kami pun kembali menyapa dan merasuki tubuhnya yang lemah itu. Peristiwa kesurupan massal kembali terjadi hingga berkali-kali. Terkadang kami bermain dan berenang di malam hari. Maka, pekerja yang menjaga malam terkaget-kaget karena tiba-tiba saja airnya berkecipak namun tidak seorang pun yang berenang di sana. Kalau sudah begitu, kami semakin gembira dan berenang bersama-sama. Hasilnya lumayan menyenangkan. Mereka kabur bahkan tak jarang terkencing di celana.

“Ah, dasar manusia bodoh.” Seruku pelan dan kembali berenang.

Maka, pada hari ke sekian, entah karena usulan siapa, mereka pun tersadar bahwa peristiwa ini bukan kebetulan dan rasional. Berpuluh-puluh dukun didatangakan. Beramai-ramai mereka membaca mantra dan menyemburkan dupa ke segala arah. Namun, kami bukanlah roh biasa. Kami adalah roh penasaran yang rumahnya dipaksa dihilangkan demi sebuah nafsu segelintir orang. Maka, mantra apa pun tak akan mampu mengusir sebelum tanah dan raga kami dikembalikan ke tempat asal.

Malam itu, kami bersepakat tidak hanya ingin kembali bermain, namun balas dendam. Ya, balas dendam. Maka kami menyerang setiap tubuh yang berada di sana, merasuki setiap dukun yang berusaha merapal mantra. Kami pun mendatangi rumah pemilik tambak itu dan merasukinya beramai-ramai.***

Tagena Tengah, September 2016





KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Tutup Usia, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us