CERPEN IDA FITRI

Sibylla

26 Februari 2017 - 11.23 WIB > Dibaca 2044 kali | Komentar
 
Sibylla
AKU hampir meloncat untuk bergabung bersama ikan-ikan di laut sekitar pantai Iboih, tatkala seorang perempuan berambut pirang mengutip botol air mineral yang baru kulempar begitu saja.

“Kami di sini bersih dan cinta damai,” ujar perempuan bulek itu sambil menatap ke arahku. Logat Eropa-nya terdengar kentara. Dan otot wajahku seperti berkelahi sesamanya. Ia mengangguk kemudian melangkah meninggalkanku.

Suara tawa Herman dan Foddin pecah di belakangku. Sial, mereka pasti menertawakan kekonyolan yang baru kualami. Dasar bulek nggak tahu diri, sudah numpang di tanah orang, merasa memiliki negeri ini lagi.

“Sabar, Bung. Dia sangat cantik. Lihatlah caranya melenggang itu.” Herman sengaja menggodaku.

Sabang, di mana titik nol kilometer negeri ini berada memang terkenal dengan pantai yang indah. Dan beberapa wisatawan mancanegara memilih menetap lama di sini. Mereka bergaul dengan penduduk setempat. Mempelajari budaya dan menyatu dengan alam, bahkan beberapa di antara mereka menikah dengan pribumi. Hanya di sini, tidak ada wisatawan perempuan yang memakai bikini seperti di Bali atau pantai Indonesia lainnya. Mereka sangat menghormati keyakinan penduduk.

Dan ini merupakan kali kedua-nya aku menginjakkan kaki di pulau ini. Aku sengaja datang bersama teman kantorku. Kami ingin puas-puasin diving, bahkan berencana untuk menyeberang ke Pulau Rubiah besok. Pulau kecil tak berpenghuni dengan pasir putih nan indah. Liburan kali ini adalah milikku sepenuhnya. Aku tidak pernah menduga jika hal-hal buruk datang silih berganti. Kesialan itu berawal ketika si botol plastik bermata biru itu menegurku ….

***

Dari pantai Iboh, aku memandang keindahan sebuah pulau kecil yang berada di depan sana. Sebentar lagi aku dan teman-teman akan menginjakkan kaki di pulau tersebut. Jika kedua temanku lebih tertarik pada panorama bawah laut yang begitu indah, ribuan kepe-kepe, Botana Biru, Lion Fish, Angel Fish yang hidup di antara terumbu karang nan menawan, aku lebih tertarik pada hal lain. Tepatnya reruntuhan benteng Belanda dan Jepang pada perang dunia kedua. Aku penasaran dengan sisa-sisa sejarah yang hampir terlupakan itu.

Dengan menyewa sebuah boat bersama beberapa wisatawan lain, kami menyeberang ke salah satu pulau kecil di kepulauan Weh itu. Suara angin laut menyeretku berbaur semakin dalam dengan alam. Dasar laut bisa terlihat jelas dari kotak kaca yang berada di bagian bawah perahu. Kulirik Foddin dan Herman yang sudah tidak sabar untuk menyelam. Mereka tidak berlebihan memang. Kelompok ikan yang bermain di sela-sela karang mengundang siapa pun untuk bergabung dengan mereka.  Untuk pertama kali-nya aku tidak akan menyesali jika saat si botol plastik mengejekku tadi, aku langsung nyemplung ke laut dan bermain bersama ikan-ikan itu.

Tapi tujuanku ke sini adalah melihat reruntuhan benteng, bukan hanya bersenang-senang dengan sekelompok ikan cantik. Begitu perahu sampai di pantai pulau rubiah, aku segera berpisah dengan kedua sahabatku.

“Nggak apa kamu sendiri, Orin?” tanya Herman berbasa-basi.

Aku mengangguk sangat yakin.

“Asal jangan dibawa kabur noni Belanda penunggu benteng saja,” giliran Foddin menggodaku.

“Apa sebenarnya kalian ingin ikut bersamaku?” balasku santai. Mereka menggeleng bersamaan. Foddin malah mengacungkan perlengkapan diving-nya. Mereka kembali naik ke perahu. Aku memakai ransel punggungku dan mulai berjalan.

“Hati-hati, Rin,” ujar Herman di belakangku, “Tiga jam lagi kami akan menjemputmu,” lanjutnya lagi.

Aku terus melangkah tanpa memedulikan mereka lagi, hanya melepaskan tali kanan ranselku, biar sedikit bergaya ala anak muda. Angin pantai yang menerpa tengkukku menghasilkan sensasi tersendiri. Rambutku memang sudah sejak tadi dibuat acak-acakan olehnya.

***

Aku melihat reruntuhan dinding benteng di pungung sebuah bukit. Saat itu matahari tepat berada di atas kepala. Beruntung pulau ini cukup rimbun. Dahan pohon melindungiku dari teriknya sang surya. Perlahan aku melangkah mendekat ke daerah reruntuhan. Perhatianku hanya pada reruntuhan benteng itu. Aku tidak bisa memastikan berapa orang yang dipaksa kerja oleh Belanda untuk menyelesaikan bangunan itu. Mungkin kerangka-kerangka mereka tertimbun abadi di bawah sana.

Aku berusaha mempercepat langkahku, tanpa kusadari aku telah melakukan sebuah kesalahan besar. Keseimbanganku buyar, kakiku terpeleset, badanku jatuh terguling. Tanganku berusaha menggapai pepohonan, namun tak ada pohon yang bisa tersentuh. Hingga bunyi gedebuk menandakan badanku sudah sampai pada bidanng tanah yang lebih datar.

Perih, menyerang bibir, sementara rasa nyeri lebih hebat menyerang betis kanan. Ada bekas darah di jari, begitu aku mengusap bibir. Sepertinya bagian dalam mulutku terluka, mungkin terkena ranting pohon ketika terguling tadi. Aku berusaha duduk. Rasa pusing menyerang kepalaku. Dunia menjadi gelap dengan berbagai cahaya. Sesosok perempuan berambut pirang kulihat samar-samar bersimpuh di depanku.

Noni Belanda! Gawat, kenapa hantu harus muncul di saat aku lemah begini? Aku teringat ucapan Foddin tentang noni Belanda. Aku berusaha menjauhkan pantatku dari perempuan itu. Rasa nyeri kembali menyerang betis kanan. Sepertinya ada yang salah dengan kaki kananku. Bagaimana kalau ternyata patah atau retak? Tidak, jangan sampai Tuhan. Semoga hanya terkilir saja. Tangganku  memegang kaki yang sakit.

“Jangan bangun kamu,” ujar perempuan itu sambil menyentuh kaki kananku.

Aku mengerjap-ngerjap mata. Kini pandanganku kembali jelas. Aku bersyukur, makhluk di depan sana memakai jeans, kaos dan menyandang ransel. Bukan gaun berkerah lebar yang menjuntai seperti dalam film abad pertengahan.

“Kau siapa?” tanyaku sambil meringis kesakitan.

“Kamu pikun?”

Aku terkejut, kembali menatap cewek itu. Sial ternyata si botol plastik. Kenapa harus dia yang muncul di sini. Aku melihat sekeliling mencari ranselku. Karena hanya tali sebelah kanan saja yang kucangklongkan ke bahu, sangat membantu membuatku kehilangan keseimbangan tadi. Aku ingin menghubungi teman-teman, tapi selulerku berada di dalam ransel.

“Ini tasmu,” Perempuan botol plastik itu ber-inisiatif mengambil ranselku. Dengan berat hati aku menerimanya dan mulai membuka resleting tempatku menyimpan handphone. Sial, ternyata benda persegi empat itu mati. Kucoba tekan tombol on, tetap tidak mau hidup. Perempuan itu mengangsur gadget miliknya.

“Tidak, terima kasih. Aku ngak ingat nomor teman-temanku.”

“Coba kulihat kakimu?” ujar perempuan itu sambil mengeluarkan kotak P3K dari tas punggungnya. Ia mengambil gunting, kemudian menggunting celana jeans-ku di bagian lutut sebelah kanan. Kemudian terlihat jelas betisku memerah dan mulai bengkak. 

“Sepertinya tulangmu ada yang retak, sebaiknya aku panggilkan bantuan,” ujarnya setelah memeriksa kakiku.

“Tunggu!” reflek aku menarik tangan perempuan itu. “Aku minta maaf atas kejadian tadi,” lanjutku tak enak hati.

“Oh, tak mengapa. Lagian aku menyukai tempat ini. Sudah satu tahun aku menetap di Sabang. Kenalkan aku Sibylla Zentgraff ” balasnya ringan.

Perempuan yang menganut kebebasan sepertinya bisa kerasan di tempat yang terikat oleh norma ini. Tanpa sengaja kupandangi wajahnya, hidungnya bangir, bibirnya tipis, matanya indah. Tipikal perempuan pemeran wanita dalam film King Kong. Merasa diperhatikan, dia malah menatap ke arah reruntuhan benteng. Air mukanya mendadak berubah. Ada kerinduan yang amat sangat di sana.

“Dulu, kakek buyutku pernah bertugas di situ ….” Dia terdiam sejenak. “Beliau sangat mengagumi keberanian orang-orang Aceh. Hal itu juga membuatku ingin melihat orang Aceh secara langsung.  Apa mereka memang seperti yang kakek buyutku ceritakan?” Sibylla menatap ke arahku.

Sebilah rencong seperti menghujam dadaku. Adegan aku melempar botol air mineral tadi membayang jelas di kepalaku. Aku menunduk, tak punya keberanian untuk menatapnya lagi. Rasa malu telah menelanjangiku tanpa ampun.

“Oke, aku tinggal dulu ya. Kupikir di sini ada satu rumah penjaga pulau. Mungkin di sana ada tandu yang bisa mengangkutmu ke perahu.” Perempuan itu beranjak meninggalkanku.

“Sibylla!” panggiku perlahan.”Aku Orin,” lanjutku kemudian. Perempuan itu tersenyum sebentar sebelum kembali melangkah.

Rasa mual tiba-tiba menyerang tanpa diundang, diikuti dengan pusing yang membuat kepala terasa sangat berat. Perlahan, aku kembali berbaring di tanah.

***

“Orin, bangun …. Bangun!” Suara seorang perempuan diiringi sebuah sentuhan lembut di lengan memaksaku untuk kembali membuka mata. Mungkin Sibylla telah datang bersama tim penolong.

Dunia seperti berputar hebat. Berjuta bintang muncul di depanku. Aku kembali memejamkan mata.

“Orin, jangan tidur!” Sebuah tepukan lembut mendarat di pipiku. Aku kembali membukakan mata. Sesosok perempuan berambut pirang telah bersimpuh di depanku. Perempuan itu memakai gaun berenda putih dengan bawahan yang terkembang. Sebuah topi berbulu tersemat di kepalanya.

Tidak! Itu buakn Sibylla. ***

Ida Fitri
, lahir di Bireuen 25 Agustus. Cerpennya banyak dimuat di berbagai media lokasl dan nasional. Sekarang menjadi Penyuluh Kesehatan Masyarakat di Aceh Timur. Buku kumpulan cerpennya berjudul Air Mata Shakespeare (lovrinz 2016). Karya-karyanya dimuat di berbagai media nasional seperti Koran Tempo, Republika, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Tribune Jabar, Banjarmasin Post, Serambi Indonesia, Suara NTB, Radar Malang, Pikiran Merdeka, dan Batam Pos.


KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Minggu, 18 November 2018 - 03:59 wib

Alasan Jerinx SID Tak Mau Temui Via Vallen

Minggu, 18 November 2018 - 02:50 wib

Wow, A Man Called Ahok Tembus 1 Juta Penonton

Minggu, 18 November 2018 - 02:15 wib

Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah

Follow Us