OLEH YALTA JALINUS

Mari Berbahasa Ibu

26 Februari 2017 - 11.33 WIB > Dibaca 1008 kali | Komentar
 
Mari Berbahasa Ibu
TANGGAL 21 Februari yang lalu adalah Hari Bahasa Ibu sedunia. Unesco menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Bahasa Ibu sejak tahun 1999. Keprihatinan akan berangsur hilangnya bahasa-bahasa ibu telah menjadi perhatian bagi organisasi dunia yang menangani masalah pendidikan dan kebudayaan ini. Unesco menekankan pentingnya setiap bangsa menanamkan kesadaran akan urgensi pendidikan bahasa ibu kepada generasi penerusnya.

Para pemerhati bahasa memperkirakan sekitar 3000 bahasa akan punah di akhir abad ini. Disinyalir hanya separuh dari jumlah bahasa yang dituturkan oleh penduduk dunia saat ini yang masih akan eksis pada 2100 nanti.

Di Indonesia terdapat sedikitnya 617 bahasa daerah dari 2.348 daerah penelitian yang tersebar di seluruh tanah air, namun hanya 13 bahasa daerah yang tergolong aman karena penuturnya masih banyak, memiliki aksara dan tata bahasa, serta kamus. Selain itu, bahasa-bahasa tersebut telah didokumentasikan, masih diajarkan di sekolah, serta digunakan di lingkungan keluarga maupun masyarakat luas. Ketigabelas bahasa daerah itu adalah bahasa Aceh, Batak, Melayu, Minangkabau, Rejang, Lampung, Sunda, Jawa, Madura, Bali, Sasak, Bugis, dan Makasar. Sebagian besar bahasa- bahasa daerah di bagian tengah dan timur Indonesia sekarang berada dalam kondisi kritis dan sebagian kecil menuju ambang kepunahan.

Berkurangnya penutur suatu bahasa atau bahasa daerah merupakan akibat dari perkembangan zaman dan tuntutan sosial penuturnya. Sebuah bahasa mati, antara lain karena proses bilingualisme, yaitu apabila bahasa kedua diadopsi untuk berbagai tujuan untuk meningkatkan jumlah penutur bahasa itu. Dalam pengalihan bahasa (language shift) dalam situasi bilingual, yang terjadi adalah pengabaian bahasa yang lama (ancestral) – yang sudah dikenal terlebih dahulu – untuk bahasa yang baru (nonancestral). Penguasaan bahasa baru itu meluas, melampaui batas-batas generasi dan batas-batas dialektal sehingga bahasa yang lama itu menjadi bahasa minoritas (Dorian, 1994: 135 dalam Sugiono, 2006).

Kondisi bahasa-bahasa minoritas dapat dikaitkan secara operasional dengan lima tahap klasifikasi kondisi ’’kesehatan’’ bahasa. Wurm (dalam Lauder, 2006), menjelaskan klasifikasi  yaitu: (1). potentially endangered language (bahasa-bahasa yang dianggap berpotensi terancam punah), yaitu bahasa yang secara sosial dan ekonomi tergolong minoritas serta mendapat tekanan yang cukup besar dari bahasa mayoritas. Generasi muda atau anak-anak sudah mulai berpindah ke bahasa mayoritas dan jarang menggunakan bahasa ibu; (2) endangered language (bahasa- bahasa yang dianggap terancam punah), yaitu bahasa yang tidak mempunyai lagi generasi muda yang dapat berbahasa ibu. Penutur yang fasih hanyalah kelompok generasi tua (dewasa); (3) seriously endangered languages (bahasa-bahasa yang dianggap sangat terancam punah), yaitu bahasa yang hanya berpenutur generasi tua berusia di atas lima puluh tahun; (4) moribund languages (bahasa-bahasa yang dianggap sekarat), yaitu bahasa yang dituturkan oleh beberapa orang sepuh yang berusia sekitar tujuh puluh tahun ke atas; dan (5) extinct languages  (bahasa yang dianggap punah), yaitu bahasa yang penuturnya tinggal satu orang sehingga tidak ada teman berkomunikasi dalam berbahasa itu.

Apa yang menimpa beberapa bahasa ibu di Indonesia dan di dunia tak ubahnya seperti ancaman eksistensi yang dialami oleh bahasa-bahasa daerah di Indonesia saat ini. Atas nama globalisasi banyak orang Indonesia mengganti begitu saja bahasanya dengan bahasa lain yang dianggap memiliki prestise. Di sisi lain, bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan kerap “dipaksakan” sebagai bahasa yang harus dituturkan sehari-hari oleh masyarakat di seluruh penjuru negeri sehingga “diam-diam” menyingkirkan bahasa-bahasa daerah.

Usaha untuk mempertahankan kelangsungan  bahasa ibu menjadi bahasa yang bergengsi dan sarana komunikasi utama bukanlah pekerjaan mudah. Namun, beberapa hal yang bisa dijadikan sebagai acuan awal bagi pemangku kebijakan untuk memasyarakatkan bahasa ibu/daerah agar tetap terjaga kelestariannya adalah (1) memperkokoh  loyalitas bahasa (language layality) dan kebanggaan berbahasa (language pride) dan (2) jangan mematikan dialek-dialek bahasa daerah dengan memaksakan suatu dialek yang dianggap standar atau berpandangan miring terhadap suatu dialek bahasa daerah. Sekarang ini kita melihat upaya keras mempertahankan bahasa daerah dengan cara standardisasi bahasa daerah sambil meminggirkan dialek-dialek. Akibatnya, banyak dialek bahasa daerah terancam punah. Hal lain yang bisa dilakukan adalah mendorong penggunaan bahasa daerah di berbagai ranah, selain ranah percakapan sehari-hari, di antaranya: (1) sebagai bahasa pelayanan publik (terutama di tingkat lokal), (2) di media elektronik dan cetak, (3) dan di dalam kelas maupun di luar kelas. Gagasan revitalisasi bahasa daerah akan menemui jalan buntu apabila penggunaan bahasa daerah masih “dipenjara” dalam ruang lingkup yang terbatas.

Akhir kata, hal lain yang dapat dianjurkan adalah mengubah pola pikir kita (mindset). Harus ada sebuah rekayasa budaya, seperti yang di sampaikan oleh Lauder (2006), seorang manusia Indonesia dapat dikatakan cendekia apabila sekurang-kurangnya menguasai tiga bahasa, yaitu bahasa daerah untuk membentuk jati diri, bahasa Indonesia sebagai media untuk berkiprah di tataran nasional, dan bahasa Inggris sebagai media untuk menyerap ilmu pengetahuan dan berkiprah ditataran internasional.

Apabila tuntutan itu ‘muncul’ maka setiap manusia lndonesia dengan bangga menyatakan dirinya multilingual. Dengan sendirinya kebanggaan fasih berbahasa daerah dapat ditingkatkan sehingga budaya yang mendukung daya hidup bahasa daerah itu dapat dipertahankan secara alamiah. Jadi, fokus kita tidak hanya pada pelestarian bahasa tetapi juga pada budayanya. Bahasa dengan sendirinya akan punah jika kita merusak habitat budaya penuturnya. Semoga bahasa daerah bisa menjadi tuan di rumah di daerah masing-masing. Semoga.***

Yalta Jalinus adalah pegawai Balai Bahasa Provinsi Riau.

 

 

 

 

 

KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 11:25 wib

11 Pejabat Kembali Dilantik

Rabu, 19 September 2018 - 11:00 wib

JPO Makan Korban Jiwa

Rabu, 19 September 2018 - 10:50 wib

Isi Berkurang, Minta Ganti ke Pangkalan

Rabu, 19 September 2018 - 10:40 wib

Jalur Truk CPO Lumpuh

Rabu, 19 September 2018 - 10:30 wib

Simpan di Saku Celana, Pengedar Narkoba Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 10:19 wib

Sarankan Pengurangan Gaji

Rabu, 19 September 2018 - 10:16 wib

X.O Cuisine & Dim Sum Sajikan Menu yang Berbeda

Rabu, 19 September 2018 - 10:13 wib

Hotel Labersa Tawarkan Promo September Fun

Follow Us