ESAI SASTRA

Perempuan dalam Tubuh Puisi

26 Februari 2017 - 11.58 WIB > Dibaca 1927 kali | Komentar
 
Oleh DM Ningsih

“Carilah makna kata sampai ke putih tulang!” Chairil Anwar

Penyair adalah penjelajah kata-kata, ia berjuang dalam petualangannya memburu sekaligus menciptakan makna baru yang turut memperkaya bahasa. Setiap kalimat yang terangkai tentulah mempunyai kualitas yang sama. Saat seseorang salah mengetik sebuah larik puisi, baik itu tanda baca ataupun huruf dan kata perkata, maka makna puisi tersebut bisa saja jadi berbeda, pesan yang disampaikan kadang menjadi buram.

Puisi bercerita bukan hanya melalui pengertian leksikal namun melainkan hadir bersama metamorfosis, simbolis maupun kekuatan asosiatif. Kedalaman puisi tidaklah selalu muncul dalam kerumitan, bahkan dengan kalimat sederhana, mencakup makna yang luas dan dalam.  Puisi Kunni Masrohanti perempuan bulan  

; ketika siang tinggal sepenggal

bulan menatap langit
tenang melepas menunggu
meredam diam
basah melepas mencari
meredam aku merekam bisu
menikam dalamdalam
merundum geram bulan

Tampak penggalan puisi di atas sebagi puisi sederhana, namun di sana terkandung kedalaman makna; siapakah perempuan bulan itu?  Bulan menatap langit/tenang melepas menunggu/meredam diam ; imaji kita berkelana secara liar mengenai seorang yang penuh kesepian dalam penantiannya, kemarahan dan kegeraman dalam hati hanya tertumpah pada diri sendiri dan pada akhirnya ia hanya bisa pasrah pada penantian yang tak kunjung henti.

Bulan diam menunggu berbulanbulan
Tak terbilang malam
Lusuh
Ke ujung waktu
Di bawah tanah yang tak pernah basah

Saat penantiannya bagai musim kemarau, kering kerontang bahkan tanahpun tak tersentuh air, bagaimana kan dirinya melepas dahaga? Perempuan dalan tubuh puisi kunni masrohanti dalam perempuan bulan sungguh perempuan yang penuh dengan kepasrahan dalam penantiannya, dalam penantiannya yang dahaga, terkandung amarah,duka dan kesunyian.

Tanpa meninggalkan kualitas metafornya, penyair menyelusupkan ironi bahkan kritik juga tanpa kesan mendesakkan keinginannya lalu memainkan irama yang ada di alam seperti sungai, hutan, rimba, sawah, gunung, ladang. Seperti pada penggalan puisi nya gelap, tak lagi

harusnya kita berteriak
kita telah merdeka
bebas dari penjara waktu yang pernah mengungkung
dan membunuh
lari dari kerisauan, bergantanggantang, berzamanzaman
menebar semangat, membakar bebal setiap lorong kecil
di jalanjalan raya
ke seberang sungai, hutan, rimba, jalanjalan setapak, ke ladang, ke sawah, ke cerukceruk kampung, ke rumah tak bernyawa, ke istana negara bahkan ke jalanjalan sunyi
dalam batin kita

Penyair dengan fasihnya bercerita tentang perempuan, dengan kerisauan dalam menggenggam zaman yang terus laju berpacu dengan waktu tanpa ada jeda sedikitpun. Mampukah perempuan dalam kekinian memperlihatkan jati dirinya sebagai perempuan yang selalu menjaga batin dunia?

Perlu diingat bahwa tanda apapun dalam puisi harus dicurigai mempunyai makna, pada puisi-puisi Kunni Masrohanti, reduplikasi yang tak menggunakan tanda hubung seperti bergantanggantang, berzamanzaman, jalanjalan, berbulanbulan, dalamdalam yang biasanya menunjukan keserempakan. Namun pada pusi Kuni Masrohanti, bukan saja keserempakan yang terlihat namun kata-kata reduplikasi itu malah menguatkan makna yang akan disampaikan
pada puisinya  (perempuan bulan) penghadiran suasana sunyi, penantian berkepanjangan, amarah tertahan dan hanya tumpah pada diri sendiri begitu  terasa ; mulai malam berganti bertahuntahun silam/ sampai bulan bertandang bersalam pada malam/malammalam/tak terhitung petang/basah diam bulan/ lama di ujung dahan/mengambang/ resah disumpahsumpah tak patut disebutsebut/tak kuat dihujathujat/ lantaklah lantak. Pilihan diksi reduplikasipun sungguh terasa asik dalam pengucapannya (resah disumpahsumpah tak patut disebutsebut).

Dalam puisi-puisinya, Kunni Masrohanti menggambarkan  kultur etnik yang melingkari dan membesarkannya, licentia poeticanya berjalan tanpa ada rasa paksaan. Kemelayuan dalam setiap kata-kata yang ia hujamkan disetiap diksi tersusun menawan (ke cerukceruk/lantaklah lantak).

Saat perempuan berbicara tentang perempuan, ia bukan menjadi pelakon sampingan yang sedang dibicarakan atau menjadi hasrat terdalam dari orang yang mendambakannya, melainkan sebagai pelakon utama. Kepedihan perempuan diungkapkan dengan kata-kata yang terkadang tegas. (Bukan aku) Kunni Masrohanti ; ia tangguh melawan badai dalam hidupnya/pandai pula menyiasati gelap dalam hidupmu/…. Tak banyak penyair ketimbang novelis, seperti tak banyak penyair berjenis kelamin perempuan di hadapan penyair berjenis kelamin lelaki. Dalam karya para perempuan, tak pelak suasana bathin akan menggores warna puisi mereka. Sebagian datang dari kesadaran metakognisi, namun Kunni Masrohanti menggoreskan dengan konsientisasi (conscientization) ideologi feminisme secara sadar, seperti yang mewarnai puisi-puisinya dalam makna penguatan (affirmative) bagi perempuan lainnya. Berapa banyak yang seperti dia di Riau?

Perempuan masuk dalam tubuh puisi, suara-suara feminism masuk menyelusup tanpa bisa dibendung. Tak hanya para penyair perempuan saja yang menghujamkan pesona dan kegelisahan perempuan dalam puisi. Para lelaki penyairpun kadang bercerita tentang perempuan dalam hasrat mereka, seperti puisi Syaukani Al Karim yang saya kutip dalam medsosnya:

Layla
maka hatiku pun menyala
bagai misbah mencahayai gelap gundah
sumbu sumbu rindu membakar diri
menjadi pelita di gelap nan bahri
pisau cintakah
yang melukai hatimu?
sebab merah yang menyerlah
menderas ke hati
mengalirkan seri di sepanjang nadi
duhai Layla
pada daun daun yang memerah
harapku menyandarkan pasrah

Seorang perempuan yang bernama Layla mampu menjadi cahaya, kerinduan akan sosok layla membakar dirinya. Sosok hawa untuk adam tersebut menjadi samudera keindahan yang tak habis direguk. Maka sangat wajar bila perempuan selalu menjadi bahan perbincangan, termasuk dalam puisi. Kepadatan, kekentalan, kelugasan penting dalam puisi mengingat wilayah puisi bermain dalam citraan dan asosiasi. Syaukani dengan menggunakan diksi yang indah juga memadatkan kata dengan makna yang dalam ; pada daun daun yang memerah/.harapku menyadarkan pasarah.

Berikut puisi Sapardi Djoko Damono Adam dan Hawa

biru langit
menjadi sangat dalam
awan menjelma burung
berkas-berkas cahaya
sibuk jalin-menjalin
tanpa pola
angin tersesat
di antara sulur pohonan
di hutan
ketika Adam
tiba-tiba saja
melepaskan diri
dari pelukan perempuan itu
dan susah-payah
berdiri, berkata
“kau ternyata
bukan perawan lagi
lalu Siapa gerangan
yang telah
lebih dahulu
menidurimu?”

Kecemburuan lelaki pada sosok perempuan terlihat jelas, puisi yang muram dan sinis. Adam sebagai seorang lelaki memahami makna suatu hubungan, ia menggugat perempuan atas kepemilikan tanpa batas  yaitu diri perempuan. Kenaifan Adam dalam hubungannya dengan perempuan. Disinilah perempuan selalu disalahkan, disingkirkan, diabaikan, bukan sebagai subyek yang merdeka, jangankan merdeka untuk hal di luar dirinya, merdeka atas dirinyapun harus digugat oleh Adam.

Menurut Aristoteles, puisi adalah ayat Tuhan yang terjatuh dan diterima oleh penyair. Tak jarang dalam bait puisi pembaca menemukan kebajikan luar biasa. Bahasa halus penyair, bahasa sederhana, dan pilihan diksi mengena menambah kesan suci dari tubuh puisi itu sendiri. Seperti keindahan bahasa puisi Khalil Gibran menggambarkan perempuan Hati nurani wanita tidak berubah oleh waktu dan musim, bahkan jika mati tetap abadi, hati itu takkan hilang sirna. Hati seorang wanita laksana sebuah padang yang berubah menjadi medan pertempuran; sesudah pohon-pohon ditumbangkan dan rerumputan terbakar dan batu-batu karang memerah oleh darah dan bumi ditanami dengan tulang-tulang dan tengkorak-tengkorak, ia akan tenang dan diam seolah tak ada sesuatu pun terjadi.

Berbicara tentang perempuan dalam tubuh puisi tak kan sudah-sudah, akan memerlukan puluhan lembar kertas untuk mengungkapkan keindahan, kegelisahan, ketegaran, amarah dan keinginan terdalam perempuan.  Kami adalah perempuan batu karang/tak kan hancur oleh hempasan gelombang/ saat badai menawan/kami genggam tawa dalam pedih tertahan; Dm Ningsih.***


Pekanbaru, 15/02/2016



KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Tutup Usia, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us