DISKUSI SASTRA

Cinta dan Perempuan dalam Kelas Menulis IV

26 Februari 2017 - 13.05 WIB > Dibaca 448 kali | Komentar
 
Cinta dan Perempuan dalam Kelas Menulis IV
 Malam Puisi Pekanbaru (MPP) kembali menggelar kegiatan Kelas Menulis Puisi (KMP) di Rumah Budaya Sikukeluang, Jalan Dwikora No. 2, Pekanbaru, Ahad (19/2). Acara yang juga diinisiasi oleh Komunitas Paragraf ini merupakan kegiatan yang rutin diadakan oleh MPP sebulan sekali. Penyelenggaraan kali ini sudah memasuki yang keempat sejak pertama diadakan pada Oktober lalu.

Dimoderatori oleh M Irsyad Al Djaelani, KMP yang digelar pada petang Ahad ini mengambil tema "Perempuan dan Puisinya". Penyair perempuan Riau, Budy Utami, bertindak sebagai pembicara didampingi anggota Komunitas Paragraf, Boy Riza Utama. Sebagaimana pada penyelenggaraan bulan sebelumnya, para peserta yang hadir berasal dari berbagai kalangan, terutama mahasiswa, yang meminati sastra, khususnya puisi.

Sebagai pembuka diskusi, Irsyad menjelaskan bagaimana peran Budy Utami dalam kesusastraan Riau dan Indonesia. Kata Irsyad, ketika banyak penulis perempuan di Riau, juga di Indonesia, menempuh jalur prosa, Budy Utami tetap konsisten menulis puisi. Irsyad menilai, hal itu tak terlepas dari nilai-nilai dan kemungkinan yang ditawarkan puisi itu sendiri, yang membuat Budy Utami akhirnya tetap di jalur tersebut.

"Budy Utami mengerti bahwa puisi memang memberi jalan yang terbuka bagi siapa saja. Hal itulah yang membuatnya bertahan di jalur ini (puisi, red). Ketika tak banyak penulis perempuan lahir di Riau, Budy Utami hadir sebagai salah satu dari yang tak banyak tersebut," ucap Irsyad.

Sementara itu, Boy Riza Utama yang turut menjadi salah satu pemateri mengatakan, pengalaman dan proses kreatif Budy Utami memang menjadikan puisi-puisinya memiliki pemaknaan yang luas. Menurutnya, puisi-puisi Budy Utami yang penuh dengan luka sebagai perempuan telah mengantarkan pembaca ke ruang yang berbeda. Karena itu, katanya lagi, teks puisi yang dihasilkan Uut tak hanya menjadi suara para perempuan semata.

"Kita tahu Budy Utami salah satu penyair perempuan Riau. Ia menulis sejak lama dan karena itu pula puisinya banyak bicara soal suka duka perempuan, terutama di Riau. Tapi, makna dari puisi Budy Utami ternyata tak hanya sampai di situ saja. Ia tampak sedang bicara soal dunia, tetapi tak hanya dunia perempuan. Di puisinya, tiap orang melihat dunia mereka masing-masing," kata Boy.

Menanggapi pernyataan Irsyad dan Boy, Budy Utami pun memaparkan tentang pertautan antara perempuan, puisi, serta hal-hal lain yang ikut memberi pengaruh di dalam karier kepenulisannya. Budy Utami mengatakan, puisi-puisi yang ditulisnya tersebut merupakan perwujudan dari kehidupan sehari-hari, yang juga meliputi kegembiraan dan kesedihan.

"Puisi harus datang dari pengalaman. Karena beberapa tahun belakangan ini saya banyak turun ke masyarakat adat dan pedalaman, puisi-puisi yang lahir kemudian juga banyak bersinggungan dengan pengalaman itu. Misalnya saja, bagaimana perempuan adat menjadi objek dari sistim budaya yang dianut oleh masyarakat setempat. Hal itu saya tuliskan di puisi-puisi saya yang paling belakangan," kata Budy Utami mengawali diskusi.

Uut, sapaanya, menambahkan, cara perempuan mengeksplorasi perasaannya ke dalam sebuah karya sastra, sejatinya, tak berbeda dengan yang dilakukan oleh kaum pria. Kontemplasi atau perenungan, kata Uut, juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari lahirnya sebuah karya. Menurutnya, perempuan harus membalikkan stigma yang selama ini terjadi, yakni terus-menerus menjadi objek bagi sebuah karya sastra kaum lelaki.

"Aku menyebutnya olah-rasa. Kegiatan ini penting bagi karya yang dihasilkan. Bahkan, Sutardji Calzoum Bachri (penyair, red) juga melakukan hal yang sama. Akhirnya, perenungan itu memang perlu," ungkap perempuan yang juga bergiat di bidang fotografi ini.
Di sisi lain, Uut juga menyoroti fenomena di Riau, khususnya, ketika banyak perempuan lebih memilih jalur prosa, terlebih cerita pendek (cerpen), ketimbang puisi. Terkait hal itu, Uut mengaku dirinya juga pernah menekuni penulisan cerpen beberapa tahun yang lalu. Hanya saja, lanjut Uut, ia tetap tak bisa menghindar dari jalur puisi.

"Bagaimanapun juga, setelah aku coba, ternyata aku tetap tak bisa keluar dari puisi. Ke puisi, lagi-lagi, akhirnya aku kembali. Puisi itu, bagiku, memang menjadi dunia tersendiri," ucapnya.
Lebih jauh, Uut mengatakan bahwa saat ini dirinya mulai menekuni foto-puisi. Karya yang dihasilkan, lanjutnya, adalah foto dengan deskripsi (caption) berupa puisi. Uut menilai, hal itu menarik karena menyatukan dua dunia yang sedang digelutinya saat ini.

"Foto-puisi ini menjadi mediator menulis puisi. Ini menarik karena dua-duanya, fotografi dan puisi, menyatu. Tak ada yang hilang dan keduanya saling memberi makna," tuturnya seraya menyarankan agar hal itu menjadi semacam pemantik semangat bagi para peserta diskusi, terutama perempuan.

Sebagai penutup, Uut pun mengajak para penulis yang hadir, terutama perempuan, untuk berani menjejal kemungkinan-kemungkinan baru dan tema-tema lain di luar yang ada selama ini. Uut juga kembali menekankan pentingnya olah-rasa agar karya yang dihasilkan nantinya tak hanya bergelut di permukaan, tetapi juga sampai pada kedalaman. Kata Uut, penulis perempuan tak selamanya terkungkung dalam dunia yang menempatkan diri mereka ke dalam objek.

"Pengalaman hidup yang penuh lika liku harus dituangkan perempuan dalam sebuah karya sastra. Tapi, tak melulu sebagai objek. Perempuan juga bisa menjadi subjek, membicarakan kegelisahannya dengan tubuh dan pikiran orang lain, dan sebagainya. Semua itu tergantung sejauh mana perenungannya," tandas Uut.

Para peserta yang hadir tampak antusias mengkuti jalannya diskusi ini. Sebagaimana diketahui, KMP digelar sebagai bentuk apresiasi dan upaya menggelorakan semangat kepenulisan di Riau, terutama di Kota Pekanbaru. Kegiatan ini menjadi satu upaya untuk menggiatkan literasi di Kota Bertuah, terutama di kalangan generasi muda. (kun)

KOMENTAR
Terbaru
Senin, 12 November 2018 - 21:00 wib

Maksimalkan Melalui Produk Unggulan

Senin, 12 November 2018 - 20:30 wib

2019, Tour de Singkarak Lintasi Mandeh dan Jambi

Senin, 12 November 2018 - 20:00 wib

Tausiah UAS Banjir Jamaah

Senin, 12 November 2018 - 19:00 wib

Transaksi Harian Saham Anjlok 1,89 Persen

Senin, 12 November 2018 - 18:30 wib

Lions Club 307 A2 Beri Bantuan Pengecatan Panti Asuhan

Senin, 12 November 2018 - 18:00 wib

Cukai Rokok Batal Naik, Target Pajak Sulit Tercapai

Senin, 12 November 2018 - 17:00 wib

PT Pekanperkasa Promo Spesial Akhir Tahun

Senin, 12 November 2018 - 16:30 wib

KPP Pratama Bangkinang Edukasi Siswa lewat Pajak Bertutur

Follow Us