DISKUSI SASTRA

FLP Bedah Luka dan Dendam Megat

26 Februari 2017 - 14.12 WIB > Dibaca 515 kali | Komentar
 
FLP Bedah Luka dan Dendam Megat
Megat adalah novel yang kental dengan sejarah dan budaya melayu, khususnya yang berlatar Kepulauan Riau dan Malaysia. Novel yang ditulis oleh budayawan Riau Rida K Liamsi ini menjadi salah satu rujukan penulis di FLP Riau yang meminati penggarapan novel sejarah.

Bertempat di Bilik Tenas Effendi Gedung Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD), Ahad lalu, (19/2) FLP Riau menggelar bedah novel Megat tersebut yang diisi oleh sastrawan Riau, Bambang Kariyawan dan berbagai penulis lainnya. Tujuan utama dari diselenggarakannya bedah novel ini adalah untuk menggali isi novel sejarah tersebut, sekaligus mempelajari teknik penulisannya.

Bambang Kariyawan  mendedahkan isi novel di hadapan peserta diskusi dengan menyebut bahwa novel Megat merupakan babakan baru sejarah lama yang penuh luka dan dendam.

 “Tidak mudah menulis novel sejarah seperti ini. Menulis novel seperti ini tidak bisa dalam hitungan bulan. Novel ini sendiri ditulis oleh Pak Rida kurang lebih memakan waktu selama empat tahun. Selain harus memahami sejarah, juga harus melakukan riset di lapangan,” jelasnya.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh penulis perempuan Nafiah al-Ma’rab, yang saat ini telah melahirkan dua buah novel terbitan Tiga Serangkai. Penulis perempuan ini mengajak kalangan muda untuk mengangkat marwah Melayu lewat novel. Kegiatan bedah novel seperti itu juga diharapkan akan terus membangkitkan semangat menulis anak-anak muda di Riau.

“Sesungguhnya Riau punya latar belakang sejarah Melayu yang kuat. Apalagi ketika Melayu telah bersentuhan dengan Islam. Banyak bahan yang bisa diangkat. Hanya saja memang memerlukan pendalaman informasi yang berhubungan dengan cerita yang hendak diangkat,” ujar Nafi’ah usai acara.

FLP Riau melalui Bidang Kajian Sastra dan Budaya akan berusaha terdepan dalam menghidupkan diskusi-diskusi buku yang ditulis oleh kalangan sastrawan dan budayawan Riau. Dengan menghidupkan diskusi tersebut, apalagi bisa melibatkan khalayak ramai, berharap mampu menjaga agar karya-karya tersebut tidak hilang.

Bedah karya sering dilakukan FLP dengan menghadirkan berbagai komunitas dan pembicara yang berbeda. Buku yang dibedah juga sangat beragam. Mulai buku novel sejarah, cerpen tentang lingkungan hijau, bahkan puisi yang syarat dengan diksi Melayu penuh cinta dan cerita. Apalagi yang akan dibedah FLP nanti, mereka sudah merencanakan sejak sekarang.(kun)



KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 17 November 2018 - 19:06 wib

Pekan Depan, Nasib OSO Diputuskan

Sabtu, 17 November 2018 - 14:10 wib

Tempuh 1.574 Kilometer, Terios Akhiri Ekspedisi di Wonders ke Tujuh

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:41 wib

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

Follow Us