DISKUSI SASTRA

FLP Bedah Luka dan Dendam Megat

26 Februari 2017 - 14.12 WIB > Dibaca 492 kali | Komentar
 
FLP Bedah Luka dan Dendam Megat
Megat adalah novel yang kental dengan sejarah dan budaya melayu, khususnya yang berlatar Kepulauan Riau dan Malaysia. Novel yang ditulis oleh budayawan Riau Rida K Liamsi ini menjadi salah satu rujukan penulis di FLP Riau yang meminati penggarapan novel sejarah.

Bertempat di Bilik Tenas Effendi Gedung Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD), Ahad lalu, (19/2) FLP Riau menggelar bedah novel Megat tersebut yang diisi oleh sastrawan Riau, Bambang Kariyawan dan berbagai penulis lainnya. Tujuan utama dari diselenggarakannya bedah novel ini adalah untuk menggali isi novel sejarah tersebut, sekaligus mempelajari teknik penulisannya.

Bambang Kariyawan  mendedahkan isi novel di hadapan peserta diskusi dengan menyebut bahwa novel Megat merupakan babakan baru sejarah lama yang penuh luka dan dendam.

 “Tidak mudah menulis novel sejarah seperti ini. Menulis novel seperti ini tidak bisa dalam hitungan bulan. Novel ini sendiri ditulis oleh Pak Rida kurang lebih memakan waktu selama empat tahun. Selain harus memahami sejarah, juga harus melakukan riset di lapangan,” jelasnya.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh penulis perempuan Nafiah al-Ma’rab, yang saat ini telah melahirkan dua buah novel terbitan Tiga Serangkai. Penulis perempuan ini mengajak kalangan muda untuk mengangkat marwah Melayu lewat novel. Kegiatan bedah novel seperti itu juga diharapkan akan terus membangkitkan semangat menulis anak-anak muda di Riau.

“Sesungguhnya Riau punya latar belakang sejarah Melayu yang kuat. Apalagi ketika Melayu telah bersentuhan dengan Islam. Banyak bahan yang bisa diangkat. Hanya saja memang memerlukan pendalaman informasi yang berhubungan dengan cerita yang hendak diangkat,” ujar Nafi’ah usai acara.

FLP Riau melalui Bidang Kajian Sastra dan Budaya akan berusaha terdepan dalam menghidupkan diskusi-diskusi buku yang ditulis oleh kalangan sastrawan dan budayawan Riau. Dengan menghidupkan diskusi tersebut, apalagi bisa melibatkan khalayak ramai, berharap mampu menjaga agar karya-karya tersebut tidak hilang.

Bedah karya sering dilakukan FLP dengan menghadirkan berbagai komunitas dan pembicara yang berbeda. Buku yang dibedah juga sangat beragam. Mulai buku novel sejarah, cerpen tentang lingkungan hijau, bahkan puisi yang syarat dengan diksi Melayu penuh cinta dan cerita. Apalagi yang akan dibedah FLP nanti, mereka sudah merencanakan sejak sekarang.(kun)



KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Minggu, 23 September 2018 - 15:00 wib

2.000 IKM Tak Terdaftar

Minggu, 23 September 2018 - 14:48 wib

Pemotor Kecelakaan Beruntun

Minggu, 23 September 2018 - 14:34 wib

Polisi Gadungan Ditangkap

Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Follow Us