PUISI

Membaca Jejak Puisi dalam Kenduri

5 Maret 2017 - 01.33 WIB > Dibaca 838 kali | Komentar
 
Membaca Jejak Puisi dalam Kenduri
Menyusuri puisi hingga ke batu-batu dan sungai, adalah mensyukuri kekuatan kata. Dalam  kenduri, puisi menjadi seperti apa yang diinginkan, bukan sekedar mau apa dengan puisi. Malam itu, puisi menjadi bintang, sebelum banjir dan bandang benar-benar datang.
-------------------------------------

MAU apa kita dengan puisi? Pertanyaan ini mengawali bincang puisi, salah satu rangkaian Kenduri Puisi VI. Kegiatan yang digelar Komunitas Seni Rumah Sunting (KSRS) Pekanbaru bersama Pemuda Pencinta Alam (Papala) Padang Sawah ini berlangsung 25-26 Februari 2017. Selain  di Desa Padang Sawah, Kecamatan Kamparkiri, Kabupaten Kampar, Kenduri ini juga dilaksanakan di Desa Tanjung Pauh, Kecamatan Singingihilir, Kabupaten Kuansing. Kenduri  Puisi VI ini mengangkat tema ‘Dua Sungai Dua Muara’. Kedua sungai ini terletak di perbatasan kedua kabupaten tersebut, tepatnya di Desa Lipatkain.

Selain dihadiri para penulis dan penyair, Kenduri Puisi VI juga dihadiri berbagai komunitas. Antara lain, grup musikalisasi Gendul Pekanbaru, Community Pena Terbang (Competer) Pekanbaru, Kelana Riau Pekanbaru, Kongkow Nulis Pekanbaru, Sanggar Bina Tasek Pelalawan, Sanggar Sendayung Lipatkain, Bengkel Seni Lipatkain, dan beberapa lainnya.
Malam itu, bincang puisi yang dilaksanakan di Pulau Kapuk, Desa Padang Sawah dihadiri peserta Kenduri Puisi dari Pekanbaru yang terdiri dari para penyair dan penulis.

Diramaikan juga oleh pemuda, ninik mamak, tokoh masyarakat dan warga Desa Padang Sawah sekitarnya. Mereka tidak canggung berangkat ke pulau  yang terletak di tengah sungai itu karena sejak pagi hingga menjelang malam, cuaca terang, meski mendung dan gemuruh terlihat jelas di hulu sungai. Untuk sampai ke lokasi ini, peserta dan masyarakat harus menyeberangi Sungai Subayang. Di pulau ini juga, peserta, panitia dan masyarakat yang ingin menginap di sana, tidur di dalam tenda.

Pertanyaan yang dilontarkan penyair Kunni Masrohanti sekaligus pembina KSRS yang memimpin berjalannya bincang puisi itu, seketika disambut dengan diam. Puluhan orang yang duduk di atas terpal, baliho bekas dan rumput di antara suara gemeiricik alur Sungai Subayang itu sempat tertegun. Lalu, seniman, pekerja seni, aktor dan juga penyair, Aal Rahim Sekha pembina Sanggar Sendayung Lipatkain, memecah keheningan tersebut. ‘’Yang jelas, malam ini kita berkumpul, kita ada di pulau ini, bersilaturrahmi. Dan semua itu karena puisi,’’ katanya singkat.

Pengalaman dan perjalanan seninya bersama puisi, turut diceritakan. Cerita yang sama, tentang puisi, tentang bagaimana dan di mana puisi berdiri, juga disampaikan perempuan penyair Riau, DM Ningsih. ‘’Belajar banyak, dan banyak pelajaran dari sebuah puisi,’’ katanya. Begitu juga dengan penyair lain; Sastra Riau, Muhammad Asqalani Eneste, Muhammad De Putra, Zamhir yang merupakan dosen dan mulai menggeluti puisi, Syamsir atau Icamp Dompas pekerja seni dari Pelalawan, Dody Rasyid Amin pekerja dan penggiat seni Lipatkain, dan masih banyak lainnya.

 ‘’Kenduri Puisi kali ini sangat berbeda. Hampir setiap kenduri saya ikut, dan malam ini saya menemukan banyak teman yang sebaya dengan saya. Dalam puisi, saya masih belajar dan terus belajar. Senang bisa berbagi dengan teman sebaya,’’ kata Muhammad De Putra pula. Malam itu, di luar acara, Muhammad De Putra sempat berbagi cerita tentang puisi dan dunia kepenyairannya kepada murid-murid SMP dan SD yang hadir berama orangtua, guru dan kepala sekolah mereka.

Sastra Riau atau yang juga dikenal dengan Murdock, juga menyampaikan banyak hal tentang puisi. Penyair yang mendatangi banyak provinsi di Indonesia dengan Puisi Menolak Korupsi (PMK) bersama penyair Sosiawan Leak ini, mengatakan, ‘’Puisi yang membuat saya lebih peka dengan yang ada di sekeliling saya. Puisi juga yang membawa saya keliling banyak tempat di Indonesia. Puisi itu jalan yang terbentang, lebar dan indah bagi siapa saja yang melihatnya.’’

Semakin malam, perbincangan semakin asyik. Duduk bersila para peserta bincang puisi yang melingkar di tengah-tengah puluhan tenda dome dan panggung utama di sisi Utara, semakin lena. Pencahayaan seadanya dari lampu colok yang hampir memenuhi pelataran pulau dan lampu apung di danau kecil, persis di lokasi panggung utama berada, semakin menambah akrab suasana. Terlebih saat suara arus sungai, nyanyian binatang malam dan hening angin semakin nyaring terdengar ketika diam bersama (silent together) selama 3 menit. Penyerahan tanda terimakasih Kepala Desa Padang Sawah kepada panitia dan sebaliknya, serta penyerahan sepuluh buku sastra dari Yayasan Sagang melalui KSRS, mengakhiri bincang puisi malam itu. 

‘’Mau apa kita dengan puisi? Banyak hal yang bisa dilakukan. Kita bisa bersilaturrahmi, bisa mencatat sejarah, bisa menyampaikan pesan untuk anak cucu kita dan bisa merekam jejak kebudayaan masa lalu, sekarang atau bahkan nanti. Itu semua bisa dilakukan dengan puisi. Lebih peduli dengan apa yang terjadi di sekitar kita, juga bisa dilakukan dengan puisi. Keluarkan puisi dari lorong sunyi. Tidak lagi bicara tentang aku, kau, rindu dan cinta yang seperti terkurung di kamar sepi. Puisi ada di sini, di tanah, sungai, angin, alam dan di semua tempatmu berpijak atau oang lain berdiri,’’ kata Kunni menutup perbincangan.

Keriangan berpuisi menyatukan para peserta kenduri membuat sebuah kesepakatan bahwa, ‘kita adalah puisi’.  Ungkapan ini kemudian menjadi yel-yel yang selalu mereka teriakkan di panggung-pangung puisi. Begitu juga dengan malam itu saat mereka membacakan puisi di panggung utama; sebuah panggung berupa jembatan kayu dan bambu, berhias kain putih, sampai hujan dan badai benar-benar tiba di ujung acara.

Kabar dari Hulu

Meski hujan mengguyur tengah malam menjelang dinihari, sebagian peserta Kenduri Puisi, banyak yang masih beraktifitas atau belum tidur. Selain karena hujan deras yang membuat sebagian tenda dome basah dan mereka harus kumpul di tenda utama, juga dikarenakan panitia yang harus jaga malam. Sekitar pukul 02.00 WIB, panitia, melalui Ketua Papala Padang Sawah, Kasmono, mendapat peringatan siaga dan tetap waspada dari keluarga di bagian hulu, tepatnya di Desa Gema. Mendapatkan kabar tersebut, mereka melanjutkan berpantun ria bersama peserta lain di tenda utama.

Hingga menjelang dini hari, hujan masih terus mengguyur.  Di hulu Sungai Subayang, hujan memang sudah turun sejak sosre hari. Tapi di Padang Sawah dan Pulau Kapuk belum. Sore itu, seluruh peserta Kenduri Puisi dan masyarakat masih membacakan puisi di panggung utama, sebagai puisi pembuka acara. Menjelang maghrib, mereka juga masih mandi-mandi dan bermain perahu karet bersama. Hujan memang sudah mengguyur kawasan hulu sejak sepekan terakhir. Bahkan dua hari menjelang acara, Pulau Kapuk juga sudah hampir tenggelam. Tapi kemudian air surut lagi karena dua hari tidak turun hujan. Sebab itu juga panitia tetap melaksanakan Kenduri Puisi di Pulau Kapuk.

Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 WIB. Semua masih dalam keadaan aman. Peserta lain, banyak tertidur di dalam tenda. Tepat pukul 03.03 WIB, panitia kembali mendapat kabar dari hulu. ‘’Kita diminta meninggalkan Pulau Kapuk sekarang juga. Air terus naik di hulu. Semuanya berkemas, bergegas. Bawa barang masing-masing. Tenda dan perlengkapan lain, tinggalkan. Biar kami yang urus,’’  ujar Kasmono menghampiri setiap tenda peserta.

Dengan satu perahu mesin yang memang disiapkan khusus untuk peserta Kenduri Puisi, malam itu mereka meninggalkan pulau dalam gerimis. Sudah pasti dalam gelap. Dengan senter dan penerangan seadanya, berulang kali peserta harus diseberangkan. Lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 1 kilometer menuju jalan besar. Sementara itu, panitia sibuk mengemas berbagai perlengkapan, dan lampu colok, lampu apung, satu-persatu mulai padam. Air sungai juga semakin deras. Kayu-kayu besar mulai terlihat, hanyut dibawa arus sungai. Terus hingga pagi menjelma.

Para penyair yang tidur dan istirahat pada sisa malam yang tak seberapa di rumah Ketua Papala Padang Sawah dan beberapa rumah warga lainnya, mendapat kabar Pulau Kapuk telah tenggelam. Ketua Papala dan beberapa panitia, merekam kondisi Sungai Subayang, persisnya Pulau Kapuk pagi itu. Dalam video singkat tersebut, tak ada lagi Pulau Kapuk. Tidak ada yang tersisa, semua tenggelam, kecuali ujung beberapa bambu yang sengaja ditancap untuk tempat lampu colok. Sedangkan arus di atasnya sangat deras. Lalu, para penyair berebut  cerita untuk menjadikannya sebuah karya.

Kenduri Puisi VI mengusung tema ‘Dua Sungai Dua Muara’. Dua sungai yang dimaksud adalah Sungai Subayang di Kecamatan Kamparkiri dan Sungai Singingi di Kabupaten Kuansing yang hari itu sedang ‘mengamuk’. Kedua muara ini bertemu di Desa Lipatkain. Dan, setelah muara inilah yang disebut dengan Sungai Kamparkiri. Di dua muara ini, para penyair singgah. Di sana mereka mendengarkan kisah perjalanan kedua sungai tersebut, baik tentang Sungai Singingi yang kini berubah warna menjadi coklat susu, atau Sungai Subayang yang juga berwarna sama saat musim hujan. Mereka juga membacakan puisi yang sudah ditulis sebelumnya, atau puisi yang ditulis saat itu juga.

Selain masyarakat setempat, kondisi kekinian dan berubahnya Sungai Singingi dan Sungai Subayang, juga disampaikan aktifis lingkungan, Asmet yang akrab dipanggil Gober. Ia membeberkan bagaimana terjadinya penambangan emas secara besar-besaran di Sungai Singingi sejak awal hingga saat ini yang juga telah menjadi perhatian pemerintah. Kondisi terkini Sungai Subayang yang sudah disusurinya hingga ke bagian hulu atau Desa Pangkalan Serai, juga  diceritakannya. Cerita-cerita menarik lainnya juga disampaikan Kasmono dan Al Rahim Sekha yang memang tinggal di Padang Sawah dan Lipatkain. Lalu, mengalirlah puisi-puisi tentang dua sungai dua muara dari para penyair yang hadir.(fiz)
 

KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 10:51 wib

Rehab Command Centre Diselidiki

Kamis, 20 September 2018 - 10:50 wib

Targetkan Seluruh IKM Jalin Kerja Sama

Kamis, 20 September 2018 - 10:38 wib

PDAM Harus Ditata Ulang

Kamis, 20 September 2018 - 10:25 wib

Sambangi Panti Asuhan di Hari Lalu Lintas

Kamis, 20 September 2018 - 10:24 wib

Sepakat Memperbaiki Jalan

Kamis, 20 September 2018 - 10:20 wib

Dihampiri Polisi, Pengedar Buang Narkoba

Kamis, 20 September 2018 - 10:19 wib

Berharap Tahanan Dapat Berubah

Kamis, 20 September 2018 - 10:07 wib

Kepergok Mencuri, Sembunyi di Gudang

Follow Us