CERPEN JEMMY PIRAN

Belalang-belalang yang Menyerbu Kuburan

5 Maret 2017 - 01.54 WIB > Dibaca 1882 kali | Komentar
 
Belalang-belalang yang Menyerbu Kuburan
MENDADAK bibirnya gemetar. Sekujur tubuhnya menjadi kaku dan dirasakan seakan menemukan ajalnya. Ia merasa seperti ada ribuan jarum menusuk tubuhnya, dan beling mengiris tenggorokannya. Setelahnya, seperti biasa, kepalanya akan berkunang-kunang. Sekelabat cahaya melintas cepat di depan mata, lalu beberapa detik kemudian segalanya menggelap. Lelaki enam puluhan itu, pingsan.

“Kau melihat belalang-belalang itu lagi?” tanya Kewa, istrinya, yang sedang duduk di sisi tempat tidur setelah ia siuman.

“Iya, Kewa.”

Kewa menarik nafas, lalu menghembusnya. Dadanya kembali disesaki penyesalan karena keajaiban belum berpihak padanya. Perutnya mual mencium bau kunyit kering dalam tempurung kelapa di atas meja. Cepat-cepat ia meninggalkan suami yang terbaring di atas tikar.

Belakangan ia merasa lelah mengurus suaminya. Sedang keempat anaknya tidak pernah menginjakkan kaki di rumah itu lagi sejak berumah tangga. Bukan dengan tanpa alasan mengapa mereka tidak berkunjung ke orang tua yang telah melahirkan mereka, melainkan gunjingan dari tetangga. Mereka tidak bisa menahan malu lantaran terus dilecehkan dan dihina karena memiliki kesaktian untuk membunuh orang-orang. Sebenarnya tudingan semacam itu tidak punya bukti yang kuat. Walau tuduhan sudah jelas bersumber dari mulut siapa, toh mereka enggan melaporkan ke pihak berwajib atas pencemaran nama baik. Siapa juga peduli pada orang-orang kampung seperti mereka?

Angin kering berembus dari arah kali mati di belakang rumah, membawa aroma kemarau yang datang lebih awal, bercampur bunga jambu mete yang mengering. Piter, lelaki tua itu, bangkit dari ranjangnya, beranjak menuju dapur. Ia mengambil parang yang ditempanya sendiri dan batu asah.

Di bawah pohon mangga, dengan sangat tenang—penuh penghayatan, ia mulai mengasah. Satu-satunya alasan yang ia buat ketika istrinya bertanya adalah ingin membersihkan kuburan moyangnya. Sejak ia didatangi mimpi belalang-belalang yang menyerbu kuburan, ia merasa bahwa itu adalah pertanda dari moyangnya. Atau bisa saja merupakan sebuah teguran.
Ia masih mengasah ketika matahari mulai tenggelam. Belum ada tanda-tanda ia mengakhiri aktivitasnya.

“Masuklah, Aba. Di luar angin kencang,” ajak istrinya usai menyalakan pelita.

Setelah dua jam ajakan itu, Piter belum juga beranjak. Di bawah siraman cahaya bulan, di tengah jedah asahnya, ia mendengar Kewa menggerutu tidak jelas. 

“Sudah kusiapkan makanan.” Kewa agak berteriak.

“Hari apa sekarang?”

“Nanti makananmu dingin. Lekaslah, Aba.”

“Hari apa sekarang, Kewa.” Ia mulai kesal.

“Sabtu,” jawab Kewa ketus.

“Apa?”

“Sabtu.”

“Kalau begitu, besok panggilkan romo.”

“Untuk apa?”

“Panggilkan saja. Aku membutuhkan dia.”

“Kau saja yang ke gereja.”

“Tidak. Kau saja. Katakan saja bahwa kita sangat membutuhkan kehadirannya.”

“Iya. Iya. Tapi untuk apa. Dia tidak mungkin datang tanpa alasan yang tepat.”

“Sembayang di depan kubur.”

“Hahaha. Kenapa Aba jadi religius begini?”

“Kukatakan panggilkan saja. Kau paham, Kewa?”

“Hahaha.”

“Kenapa kau tertawa begitu? Kau mau parang ini kutebas ke lehermu?”

“Iya. Iya. Sudah. Besok aku panggil.”

Untuk alasan agar suaminya terlihat bahagia, Kewa mengiyakan padahal sesungguhnya bukan hanya kali ini saja. Permintaan yang sama sering diminta Piter, tapi entah bagaimana Kewa selalu punya alasan di depan suaminya kenapa romo tidak bisa datang.

Di ujung percakapan itu, di balik remang cahaya bulan Kewa tersenyum penuh makna.

“Parangmu sudah tajam, Aba. Masuklah,” bujuk Kewa sambil membantu Piter.

**
“Romo tidak bisa datang karena harus ke kampung sebelah.” Begitulah, hingga sekarang permintaan Piter belum terwujudkan. Setelah mengatakan itu, Kewa akan keluar meninggalkannya sendirian yang terus memandang punggung rentah itu. Ia sempat putus asa, tapi setelah itu ia akan berharap lagi.

Entahlah, ia merasa hatinya terpanggil untuk mendekatkan diri pada Tuhan lagi. Selama ini, ia merasa dirinya seperti gurun tandus dan hanya ditumbuhi kaktus. Dan dari dalam dirinya, ada keinginan yang begitu kuat mendoakan moyangnya. Tetapi keinginan seperti terus mendapat halangan. Ia terus menerus menabung harapan.

“Aku berminpi lagi. Belalang-belalang itu kembali menyerbu kuburan, Kewa,” ucap Piter suatu pagi.

“Sebaiknya kau makan sirih pinang ini dulu.”

Diambil sirih pinang dari istrinya. Pagi itu ia melumuri mulutnya dengan pinang, yang terasa sangat nikmat—tidak seperti biasanya.

“Kau ambil dari mana pinang ini?” tanya Piter.

“Kupetik sendiri dari kebun kita.”

“Oh…”

Kewa menyapu pandangan ke sekeliling, tatapannya penuh selidik. Kembali ia mencolek kapur, lalu dimasukkan ke dalam mulutnya lagi. Ia menatap suaminya, lalu menengadah ke langit dan 37 detik kemudian ia menyemburkan kunyahannya.

“Orang tuaku telah menegur kita lewat mimpi, Kewa.”

“Kau bersihkan saja kubur mereka. Bawa serta lilin. Doalah untuk mereka.”

“Kau juga perlu berdoa untuk mereka.”

“Iya. Nanti sama-sama kita ke sana. Sebaiknya kau bersihkan dulu semak belukar di sekitar kuburan itu.”

“Bisakan kita mengadakan misa arwah untuk mereka.”

Ucapan terakhir Piter membuat Kewa terbahak-bahak hingga tubuhnya berguncang.

“Lucu juga, tidak ada hujan tidak ada angin, tiba-tiba Aba ingin mendoakan mereka dan bahkan ingin mengundang romo hanya untuk misa arwah. Hahaha….”

“Memangnya ada yang lucu?” Pandangannya tertumbuk pada istrinya.

“Tidak. Aku merasa heran dengan sikapmu akhir-akhir ini.”

“Mimpi itu pertanda, Kewa. Aku takut kita terkena mala petaka.” Piter membuang ampas sirih.

“Ah, sudahlah, Piter.” Kewa mengeserkan duduknya dekat suaminya.

“Kau tidak takut pada neraka?”

“Huss. Kita sudah terlalu tua memikirkan semua itu. Kalau mati, ya, mati. Kalau diberi umur yang panjang, syukurlah.”

“Aku takut.”

“Semakin tua membuat otakmu tambah bodoh, Piter. Sebaiknya kubuatkan kopi untukmu.”

Kewa berlalu dari hadapan suaminya. Begitu masuk ke dalam dapur, ia menghela nafas panjang. Cepat-cepat ia menyeduh kopi, lalu kembali ke suaminya. Piter segera menyerumput kopi panas buatan istrinya.
    
Tengah malam Piter terbangun oleh mimpi yang sama. Keringat dingin membasahi keningnya.

“Kau bermimpi lagi, Aba?” tanya istrinya setelah dibangunkan. Kewa meraih segelas air, lalu diberikan kepada suaminya.

“Mari kita tidur kembali,” bujuk Kewa sambil memeluknya. Hingga beberapa lama Piter belum bisa menutup matanya. Ia merasa ngeri ketika angin, seperti suara rintihan, menerpa daun-daun. Angin berembus masuk melalui cela-cela gedek.

Pagi-pagi benar, sebelum istrinya terbangun, ia pergi melawati jalan setapak di pinggir kampung menuju kuburan. Sesampai di sana, di kuburan ayah dan ibunya, ia duduk dengan tenang. Setelah membuat tanda salib, terbatah ia coba mengucapkan doa Bapa Kami yang telah lama sekali tidak diucapkannya. Di ujung doanya, entah sadar dan tidak, ia melihat ribuan belalang menyerbu  kuburan. Dan, tak lama setelah ia membuat tanda salib lagi, ribuan belalang tersebut perlahan-lahan lenyap.

“Kenapa kau di sini Aba?” Kewa menyentuh pundaknya. Piter agak terkejut. Ia tidak tahu menyusun jawaban yang masuk akal.

“Aku mencemaskanmu.”

“Tadi ayah dan ibu menuntunku kemari.”

“Sudah. Sekarang kita pulang, Aba. Nanti dilihat orang-orang.”

Sepasang suami-istri berjalan pulang dalam keremangan. Tak ada percakapan, kecuali terdengar langkah-langkah yang sedikit terseret.

“Sebaiknya kita telpon anak kita,” usul Piter begitu mereka menghepaskan pantat di bale-bale rumah.

“Mereka tidak mungkin datang, Aba.”

“Kita coba dulu. Siapa tahu hati mereka sudah terbuka.”

“Tapi kita tidak punya telpon, Aba.”

Percakapan itu mengantung begitu saja. Masing-masing lebih memilih diam. Setelah terdiam cukup lama, Piter mengeser mendekat ke istrinya. Sekilas istrinya memandang. Piter menggenggam tangan istrinya dengan begitu hangat, sehangat perasaan cintanya kepada wanita itu.

“Apa kau tidak takut pada neraka?” bibir lelaki itu bergetar.

“Huss. Sudahlah, Aba. Jangan terlalu dipikirkan, nanti tubuhmu bertambah rentah.”

“Kau tak takut pada kematian?”

“Kau semakin aneh saja.”

Wajah Kewa menciut, ekspresinya kecut. Hatinya berdebar begitu saja.

“Aku siapkan dulu sarapan,” ujar Kewa kemudian beranjak pergi.

Setelah makanan dihidangkan, mereka sarapan. Mereka tertawa saling suap. Agak siang, Piter membaringkan tubuhnya di atas dipan. Tak lama ia pun tertidur.

Ia terbangun kembali ketika dikejutkan dengan bunyi patahan dahan. Ia hendak bangun duduk, tapi tulang pinggangnya seperti patah. Ia berteriak memanggil istrinya, tapi tidak ada yang menyahut.

Detik selanjutnya, ia merancau.

“Jika aku mati, tolong panggilkan Romo untuk misa arwah.”

Kewa mendengar suara itu sambil menggeleng. Ia mendekat ke arah tungku, lalu menyelipkan sesuatu di balik tungku sambil tersenyum penuh makna.***

Alak, 2016



KOMENTAR
Terbaru
Senin, 12 November 2018 - 21:00 wib

Maksimalkan Melalui Produk Unggulan

Senin, 12 November 2018 - 20:30 wib

2019, Tour de Singkarak Lintasi Mandeh dan Jambi

Senin, 12 November 2018 - 20:00 wib

Tausiah UAS Banjir Jamaah

Senin, 12 November 2018 - 19:00 wib

Transaksi Harian Saham Anjlok 1,89 Persen

Senin, 12 November 2018 - 18:30 wib

Lions Club 307 A2 Beri Bantuan Pengecatan Panti Asuhan

Senin, 12 November 2018 - 18:00 wib

Cukai Rokok Batal Naik, Target Pajak Sulit Tercapai

Senin, 12 November 2018 - 17:00 wib

PT Pekanperkasa Promo Spesial Akhir Tahun

Senin, 12 November 2018 - 16:30 wib

KPP Pratama Bangkinang Edukasi Siswa lewat Pajak Bertutur

Follow Us