SAJAK

Sajak-sajak Cahaya Buah Hati

5 Maret 2017 - 02.01 WIB > Dibaca 3303 kali | Komentar
 
Saat Singgah di Teluk Belitung

Air pasang memulai naik
Ombak sesekali datang
Memiuh tepi
Sesaat itu kita bagai angin
yang telah saling meninggalkan

Hanya penjaring udang di ujung jembatan
Orang-orang menunggu
Serupa pelabuhan
Kapan kapal merapat?
ikan-ikan beku
awan sesekali menghitam
menghanyutkan kita

dari seberang laut
kak idah..


Sepasang Sepatu di Beranda
Dan Anggrek Bulan Itu


barangkali ketika itu
kita sudah tidak lagi saling mengenal
pada kenangan kapal yang sedang tertambat
sebab diantara ombak dan arus
kita telah berganti baju
meski kita akhirnya jua memutuskan menaiki kapal itu
dan kenangan untuk pulang
pada rumah dan warnanya yang sudah tidak kita kenal
sepasang sepatu di beranda dan anggrek bulan itu


Gadis Penyaram dan Doa si Pemilik Etalase

di Kampar
gadis-gadis  menatap debu
 jalanan yang riuh
dan doa si pemilik etalase

orang-orang menuju pekanbaru
turun
menghitung penyaram
dari cucur aren
tepung air dan minyak

kue yang di jual
sedari pagi


Sebab Esok Dingin Pagi adalah Kita

Sudahkah kita mulai lupa
subuh yang berpendar
di tingkap rumah
sarung telah dikenakan
dililitkan

Kita menggantung doa
pada azan
pada hujan
sebab esok dingin pagi adalah kita
yang menggeletuk
memukulpukul

mengenangkan segala
pada yang ada
pada yang hilang
padamu
nun yang jauh

kelak pada kepulangan itu
kita menatap
lantunan lagu tinggal
lekat di dinding
memaku
sebab esok dingin pagi adalah kita
yang telah pergi


 Tubuh Kita

Di atas tingkat itu
bilangan bertambah
satu dua satu dua
jari tangan

lima adalah jemari waktu
kita berpegangan

bergerak di puncak
purus  hujan

kita melangkah
berkumpul waktu
tubuh kita

Menandaimu

Menandaimu
sebatang rokok
digulung
dilinting
bibir asap



Malam di Tempat Pak Hansen

Kita melingkar
Duduk
Menunggu larut
Orang-orang datang
Membawa bekal
Kertas tanggal
Catatan resep

Kita
Bergilir



Aku Sudah Berwudhu, dan Kakiku Basah


Ini bukan azan pertamamu
Ketika kita sama
Mendengar waktu
Tempat kita mengikrar

Setiap itu pula,
Pertengkaran itu menjadi teman
Aku sudah berwudhu, dan kakiku basah
Rupanya mimpimu juga belum usai

Kita telah lupa
Dimana kita menyandar-Nya
Melanjutkan tidur?
Siang atau malam sama saja



Mencari Tapak Kaki

Pernahkah kita melarang
Burung terbang di sayapnya?
Mengintai ulat daun
Yang tumbuh diam

Akarnya menjuntai
Di pelipis tanah
Menguat tapak
Menyusup luka

Yang pada akhirnya singgah
Setelah mencari
tapak kaki yang lelah mendaki


Kita Merasa Telah Jauh Berjalan

Telah duabelas langkah
bulan ini
kita habiskan
terkadang,
kita merasa telah jauh berjalan
hingga,
senja itu terasa dekat
meramu
tatap
setiap pagi kita lelapi lelap



Cahaya Buah Hati, lahir di Labuhan Bilik, 1 Mei 1984, alumnus Sastra Melayu FIB Unilak, bergiat di Komunitas Paragraf dan guru di SDN 65 Pekanbaru. Anting Kunyit (Unilak Press, 2016) adalah buku puisi pertamanya.


KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 19:53 wib

Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks

Minggu, 23 September 2018 - 19:52 wib

Pembakar Lahan TNTN Ditangkap

Minggu, 23 September 2018 - 19:48 wib

Kembalinya sang Primadona

Minggu, 23 September 2018 - 19:47 wib

Disdik Tempati Gedung Eks SMK Teknologi

Minggu, 23 September 2018 - 19:46 wib

Ditabrak Emak-Emak

Minggu, 23 September 2018 - 19:44 wib

Refresh di Waduk Hijau

Minggu, 23 September 2018 - 19:40 wib

Anggur Murah Laris Manis Terjual

Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Follow Us