CERPEN IIN FARLINA

Peri, Tukang Obat, dan Ular Kobra

12 Maret 2017 - 15.00 WIB > Dibaca 2682 kali | Komentar
 
Peri, Tukang Obat, dan Ular Kobra
SAYA sendirian di dalam bus. Tepatnya, tinggal saya sendiri yang masih menjadi penumpang. Pak sopir tidak lagi mengajak saya bicara. Ia memutar lagu dangdut sambil bersiul-siul kecil. Sebenarnya, tadi kami sempat mengobrol. Ia membicarakan tentang kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM dan mengapa mahasiswa suka sekali berdemonstrasi sambil main bakar-bakaran. Saya katakan, tidak semua mahasiswa seperti itu. Ada juga mahasiswa yang waras. Ia menjawab tidak mungkin. Semua mahasiswa gila dan sok ingin membela kepentingan rakyat. Saya mendebat terus. Saya katakan ketika saya masih menjadi mahasiswa, banyak teman saya yang tidak suka cari muka dengan berdemonstrasi. Mereka serius dalam pelajaran. Bahkan ada di antara mereka yang rela tidak pacaran hingga kuliah tuntas. Pak sopir tidak percaya kata-kata saya. Ia pernah mengalami sendiri kejadian ketika busnya tiba-tiba dicegat oleh segerombol mahasiswa yang sedang berdemonstrasi di depan kantor gubernur. Mereka membawa pentungan, kayu, senjata tajam dan merusak apa saja yang mereka lihat. Mata mereka menyala marah. Pokoknya rakyat harus sejahtera! teriak mereka. Semua dianggap salah. Bis yang tidak tahu apa-apa pun dianggap bersalah. Tiba-tiba saja pentungan melayang ke arah kaca depan bus. Pak sopir merunduk menghindari pecahan kaca dan pentungan. Semua penumpang panik. Mereka segera turun dari dalam bus untuk menyelamatkan diri. Dan mereka tidak membayar sepeser pun sebelum turun. Alhasil, hari itu kerugian pak sopir berkali lipat.

Pak sopir mengoceh terus hingga saya hanya bisa menanggapi dengan diam atau tertawa kecil saja. Sebenarnya, saya ingin menghardiknya dan mengatakan bahwa saya sekarang menumpang dalam bus ini karena ingin mencari ketenangan. Saya juga punya masalah dan tidak ingin menambah beban pikiran dengan mendengarkan masalah orang. Tapi, niat saya untuk memarahinya segera surut ketika ia menceritakan tentang kesulitannya selama menjadi sopir bus. Ia mengutuk pemerintah, demo dan mahasiswa. Saya hanya diam. Ia pun mulai bosan dan kemudian mengganti ocehannya dengan siulan yang mengiringi lagu dangdut.
Saya tidak tahan untuk membuka mata terus. Kantuk semakin berat. Kepala saya tertunduk. Kalau ada benturan sedikit saja, saya langsung bangun sambil memasang sikap siaga. Pak sopir suka sekali rupanya melewati jalan-jalan yang berlubang. Ketika saya membuka mata kembali dan melihat pemandangan di luar melalui kaca jendela, malam semakin larut. Suara pak sopir terdengar lagi mengutuk pemerintah, demo dan mahasiswa. Saya menggelengkan kepala. Tidak benar semua mahasiswa seperti itu. Kuncoro salah satunya. Ketika itu, saya dan Peri seperti biasa pada hari Minggu, lari pagi di kegiatan Car Free Day. Peri memakai baju ketat dan celana pendek. Handuk kecil disampirkan di tengkuknya yang indah. Kami mengelilingi taman sambil berlari-lari kecil. Peri suka sekali lari pagi. Banyak laki-laki yang menggodanya dan mencoba menarik perhatiannya. Kalau sudah seperti itu, saya langsung menyusul Peri lalu menggandeng tangannya. Saya merasa menang di hadapan para lelaki itu. Seolah saya mengatakan, sayalah pacar dari perempuan cantik ini dan kalian tidak bisa merebutnya dari saya. Meski saya juga kesal karena Peri tak jarang meladeni mereka dengan tersenyum ramah. Para lelaki itu semakin memberi perhatian mereka sambil memuji bokongnya yang montok. Saya merangkul Peri dan mencibir para lelaki itu kalau Peri tidak akan tertarik dengan laki-laki siapa pun, kecuali saya. Hanya saya seorang.

Matahari mulai naik ke atas. Orang-orang semakin ramai. Ada kerumunan di dekat trotoar tak jauh dari tempat kami joging. Katanya, ada tukang obat. Tapi, bukan tukang obat biasa. Ia beratraksi dengan ular-ular kobra. Tukang obat itu berpenampilan mencolok dengan kumis hitam yang tebal. Ia mulai membuka karungnya. Ia meletakkan dudukan kecil, kompor, panci, dan tusukan sate yang ternyata adalah daging ular yang sudah dipanggang. Ular-ular dari dalam karung mulai menggeliat. Banyak lalat yang mengerubungi karung-karung ular itu. Tukang obat mulai meracau seperti orang yang sedang bercakap dengan diri sendiri. Ia kemudian menarik seekor ular kobra berwarna putih kekuning-kuningan lalu mengguntingnya dari bawah ke atas. Orang-orang menjerit. Ibu-ibu dan para gadis menjauh sambil menutup mulut.

Tukang obat itu memotong kepala ular. Orang-orang menjerit lagi. Mereka terlihat takut dan jijik. Tapi, karena penasaran mereka merapat lagi. Tukang obat merentangkan ular yang masih meliuk-liuk. Ia mengambil tiga bagian yang berbentuk seperti batu dari sayatan daging ular yang sudah sobek. Ia menyebutnya nyawa ular.

“Lihatlah, bapak-bapak dan ibu-ibu. Tuhan sangat memuliakan ular. Tuhan menjadikan binatang ini memiliki banyak nyawa. Saya sudah memotong-motongnya berkali-kali. Tapi, masih juga bisa bergerak. Lihat.” Si tukang obat memotong-motong lagi ular yang sedang meliuk-liuk itu. Bagian bawahnya masih tetap bisa bergerak. Orang-orang menjerit. Tapi, kerumunan tidak juga berkurang. Semakin banyak dan membuat orang semakin berdesak-desakan.

“Inilah sebabnya ular juga dianggap binatang yang suci!” katanya. Saya melihat potongan-potongan ular yang telah tercecer di tanah masih bisa beringsut-ingsut seperti lintah. Saya benar-benar mual melihat semua atraksi yang dilakukan si tukang obat. Namun, Peri  terkesima ketika ular kobra itu menunjukkan sikap menyerang dan sekonyong-konyong leher ular itu mekar dengan bentuk yang menyerupai sendok sayur.

“Ini seperti di film India! Ini pertama kali saya melihat ular kobra secara langsung dan ternyata luar biasa,” kata Peri sambil bertepuk tangan. Ia memang gadis yang suka berfantasi. Ia suka membayangkan sesuatu yang tidak mungkin dijangkau olehnya. Ia berandai-andai kelak bisa menjadi salah satu penari perut dalam film India yang sering ditontonnya. Ia mungkin membayangkan tukang obat itu adalah peniup seruling yang memancing ular kobra untuk keluar dari sarangnya. Ular kobra akan bergerak bersama penari perut mengikuti irama seruling yang dimainkan.

Tukang obat itu kini mencoba memancing ular kobra untuk menyerangnya. Hentakan dari ular kobra itu langsung membuat orang-orang meloncat mundur. Mereka merapat lagi ketika tukang obat menjinakkan ular dengan menyodorkan botol kecil berisi minyak ular. Ular kobra itu langsung diam tak bereaksi.

“Minyak ular ini mujarab dan menyehatkan. Anak-anak yang nakal juga bisa dijinakkan dengan minyak ular. Dan ibu bapak sekalian, tak perlu khawatir lagi kalau sudah di ranjang. Tiga belas gaya dalam satu malam!” Orang-orang yang mendengar tertawa. Tukang obat itu melafalkan kalimat yang sama secara berulang-ulang selama lebih dari dua jam. Mukanya basah oleh keringat. Ia melap keringatnya dengan handuk kecil sambil meneguk air mineral. Kumis tebal palsu si tukang obat tiba-tiba merosot. Ia merekatkannya kembali sambil terus berkoar-koar tentang minyak ularnya. Orang-orang tertawa melihat kumis itu lagi-lagi merosot. Ia jadi nampak konyol. Saya seperti mengenal tukang obat itu ketika ia gelagapan merekatkan kembali kumis palsunya.

“Kuncoro! Kuncoro!” teriak saya, tidak percaya.

“Kuncoro itu anak yang paling pendiam di kelas,” kata saya pada pak sopir. Saya heran mengapa ia sekarang sanggup mengoceh tanpa henti selama lebih dari dua jam di depan banyak orang dengan atraksi ular-ular kobra. Ini mustahil. Ia tidak menonjol secara prestasi. Ia juga tidak menonjol di lingkungan pergaulan populer. Apa saja yang sedang riuh di kelas, semua akan melemparkan kesalahan pada Kuncoro. Suatu kali, dosen kami menceritakan tentang lelucon cabul yang lucu sekali. Saat itu suara tertawa meledak dari arah kursi paling belakang. Saya dan kawan-kawan melihat Kuncoro sedang memegangi perutnya karena sakit menahan tawa. Kami menyorakinya. Sebenarnya saya heran mengapa saya ikut menyorakinya. Padahal, ia hanya tertawa. Tapi, karena ia biasanya diam dan tiba-tiba tertawa keras, ia jadi terlihat sangat aneh.

Kuncoro tidak pernah ikut berdemonstrasi. Ketika ada demonstrasi besar-besaran yang melibatkan mahasiswa, ia juga menolak. Saya tahu ia merasa rendah diri. Saya memanfaatkan rasa rendah dirinya dengan terus merongrongnya. Saya pernah mendengar dari teman dekatnya bahwa ia mengatakan kebanyakan mahasiswa yang berdemo itu hanya ikut-ikutan. Sejak itu saya sering menembakkan tatapan mata ke arahnya yang seolah berbunyi, “Betapa tololnya kamu yang tidak ikut berdemonstrasi bersama kami!”

Ada Car Free Day, berarti ada pula Kuncoro. Orang-orang sudah begitu akrab dengannya. Mereka lebih tertarik melihat atraksi ular kobra daripada membeli minyak ularnya. Itu sebabnya pertunjukannya selalu ramai. Bahkan yang semula berniat joging pagi, sengaja menundanya untuk menyempatkan diri menonton pertunjukan Kuncoro. Begitu pula dengan Peri. Ia juga sudah ikut-ikutan mengidolakan Kuncoro dan menghubungkannya dengan film India yang ia gemari. Saya merelakan Peri yang tergila-gila dengan ular kobra dan fantasinya tentang penari perut India. Ia akan menjadi penari perut yang menari bersama ular kobra dengan iringan seruling yang dimainkan sendiri oleh Kuncoro.

“Lalu apa hubungannya dengan saya? Apa hubungannya dengan pemerintah, demo dan mahasiswa yang saya kutuk?” tanya pak sopir. Ia meninggikan suaranya dan terlihat marah.

“Saya sendiri tidak tahu. Saya hanya bercerita tentang seorang teman ketika kami masih menjadi mahasiswa. Ia tidak pernah ikut berdemonstrasi tapi bisa menjadi tukang obat yang diidolakan, bahkan merebut pacar saya. Nah, sekarang saya mau turun. Kita sudah sampai, kan?” Wajah pak sopir terlihat memberengut.***


Iin Farliani lahir di Mataram, Lombok, 4 Mei 1997. Mahasiswa Program Studi Budidaya Perairan, Universitas Mataram dan santri di Komunitas Akarpohon. Menulis cerpen dan puisi. Karyanya antara lain terbit di surat kabar  Suara Merdeka, basabasi.co, Riau Pos, Banjarmasin Post, Sumut Pos, Serambi Indonesia, Indo Pos, Lombok Post, Suara NTB, Jurnal Santarang, Metro Riau. Cerpennya terangkum dalam antologi Melawan Kucing-Kucing (2015).


KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:41 wib

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

Sabtu, 17 November 2018 - 08:31 wib

Dari Ambon Daihatsu Jelajahi Pulau Seram

Jumat, 16 November 2018 - 18:00 wib

Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer

Jumat, 16 November 2018 - 17:30 wib

Dua Kecamatan Masih Terendam

Follow Us