SAJAK

Sajak-sajak Nova

12 Maret 2017 - 17.17 WIB > Dibaca 3339 kali | Komentar
 
Nyanyian Bundo

matanya semakin sembab,
karena air mata kerinduan itu telah tergadaikan
oleh harga diri perantau di negeri seberang,
semenjak kepergian jatung hatinya
untuk menyulam emas di negeri
yang masih kabur dalam pikiran bundo.

jenjang di rumah panggung itu,
tak mampu menahan beratnya nyanyian bundo
yang selalu berbisik di sisi kanan pagar pembatas
; kapan kau pulang wahai kerinduanku,
pangkuan ini tak bergerak lagi,
langkah yang sempat mengejarmu telah patah.

oh angin sampaikanlah bisikan hati ini
agar kebahagiaan itu pulang ke pangkuan bundo
walau tak bertumbuh lagi cinta dalam hati, tapi
batang ubi akan tetap hidup meski di tanah gersang.

pulanglah jantung hatiku,
haruskah bundo menantang matahari
agar bisa menunjukkan bahwa ada bayanganmu
yang sempat tersinarkan oleh cahayanya
sewaktu bundo memalingkan punggung payung
untuk sembunyi dalam kelukaan.

Safasindo, 10 Desember 2015



Daun Kawa

Tak pakai gula Da tiap ku pesan
sepulang dari rumah keduaku di Bukittinggi,
bukan rumah tetuaku, juga bukan rumah hasil wasiat buyutku,
namun rumah wanita tua yang menawari asinya
untuk ku sambung menjadi tali-tirai yang panjang sebalit pinggang.

Tiap minggu ku melarikan panas dan menjemput dingin dari Payakumbuh.
bukan melarikan bukit yang singgah meminjamkan dingin di kedua sudut tulang sulbiku,
rasa pahit khas aroma asap
disetiap sedukan membuat keingintahuanku pada muara
di atas gunung yang bergandenganan tangan antara Singgalang dan Merapi
mengingatkan ku atas perjalanan cinta Siti Manggopoh
untuk menceritakan ada semut yang bisa berdiplomasi
di antara dua lobang yang tak pernah tersinggahi lagi

ku masih duduk di perempatan empat kaki
dengan pandangan yang menyehatkan pupilku sewaktu dulu
rabun sepintas oleh kalimpanan,
si Uda bertanya apakah pakai gorengan yang tersaji di pinggan rotan
yang sudah ditali temali menampung tegang,
boleh tambah lado kutu yang bisa menggelitik lidah dengan biji menyentrum.
Kawah daun yang terhidang di telaga dahagaku mengurai cerita yang sempat terduduki
di bangku para mengemis tentang aku seorang pelukis rumah tetua,

yang sebentar lagi jemari yang menggambarkan
sosok diranah bundo kapocong laksana kucing yang menjilati hidungnya,
entah untuk bersih diri ataupun mandi,
atau hanya menghapus identitas ikan asin yang sempat terkunyah
dibawah  tudung restoran di sudut mataku.

Talawi, 3 Juni 2015


Lamang Tapai

berapa batang betung yang telah kau ambil di tanah pekubutan itu?
adakah kau minta permisi dulu pada jasad-jasad kaku yang meninggalkan daging
tepat kicauan rawa dekat tanah sirah ibu meratap bapak
yang melambai tangan terakhirnya dipetang kamis malam jumat.
jangan lupa sekalian hutang dulu beras ketan
juga sekilo ubi di lapau Mak Nijah
nanti akan ku olah menjadi panganan yang paling enak di Payakumbuh ini
sekalian balango turunkan dari pagu,
karena balango yang terletak di tungku terbelah dua oleh alu.

ku telah pergi melerai kepenatan, mulai dari yang bisa didengar
sampai serapah pada sampah disetiap sudut mata,
sabarlah dulu, nanti aku akan mengawinkan lamang dan tapai
supaya anak yang di kandung,
yang dibawa manjojo sekeliling mata memandang
merasakan juga apa yang di kisahkan oleh ketan
yang telah lama menaroh hati pada tapai
agar telapak yang mencium tanah dan berpayungkan hawa kodek
selalu mencintaimu.

marilah ku ajarkan kau untuk  menjalankan
gerobak tungkai sebatang,
pegang erat-erat, agar kau bisa mengetahui
dimana keseimbangan cinta sang tapai pada lamang.
Jika sudah ini resep yang musti kau tahu
; peraslah kelapa dengan rasa seganmu,
agar api bisa menirukan untuk berhati-hati,
untuk merayu dengan lembut beras ketan
yang akan dimandikan dengan santan

sangailah dan bolak-balikkan
betung menghitam bukan berarti
isi didalamnya memahit rasa.
Faham sudah kau, tentang lamang tapai
menjadi panganan yang ditunggu anak nagari,
inilah yang harus kau kenang kalau dapat sampai mati.

koto baru, 10 Desember 2015


Tasulo

Jika duri itu bisa menjadi tempat siangan daging jadi bara
yang membara di dua tiang dalam luka, parah dan habis
tiba-tiba dua tulang yang melikat di paruh baya menirukan luka
yang sempat mengaga yang telah lama bermandikan daun betadin
dikunyah kunyah menjadi sugi, berwarna di rongga giginya.

Setiap langkah yang masih berbibit dalam tanah
berakar menjelajahi se-singgahan ke ranah yang lebih melunak
merasa belum kokoh, di situlah tancapan luka yang di ukur dari kurun waktu yang sangat singkatbertuan dan ber-istana dalam sekejap.

Di cari-cari dengan mata yang masih telanjang
tanpa gaun, juga tanpa yukensi.
semuanya transparan, namun masih berbayang
di sebuah jemari telunjukyang mendehem di atas tiang dalam luka itu.

Berbaliklah kawan, jelajahi langkah tadi,
napak tilaslah dengan langkah yang masih sama
langkah yang sempat terhenti sekejap.
saat kau masih mengatakan duri itu tak akan pernah bengkok,
walau kadangkala, bentuknya lebih besar di bandingkan ampu kaki.

Jika duri itu bisa menjadi siangan daging jadi bara,
maka segala ego yang bersandi bersemayam
kian rapuh menyandera fikiran
untuk mengatakan bahwa duri dalam daging itu sangat menyakitkan
sehingga segala tingkah laku jiwa terkalahkan sampai
duri tersebut bisa bebas tak tertahan dalam daging.

Talawi, 9 Juni 2015


Kutipu Waktu

Sering ku tipu waktu, waktu yang mendata diri di absensi tuhan akan oksigen gratis yang telah di perjual belikan oleh rahang berdaging tanpa tulang. Yang menganggap lisan itu telah ber-sepakat dengan tangan langit akan waktu yang sering tertunda di belanjakan di subuh hari.
Tak sengaja semua waktu yang sering ku tipu; mulai dari duha yang menyajikan sarapan gizi dan beribu kenikmatan hidup kisah awal tipuan itu membuaiku untuk terus menipu waktu agar matahari tak melihatkan petangnya untuk menatap bayang yang searah ubun-ubun diri.
Bukan hanya di petang itu saja, bahkan waktu paling mustajabpun saat berkhalwat pada empunya jiwa sering ku tipu,dengan alasan kepenatan hati, pikiran, rasa, cinta dan kekecewaan, ya sering ku tipu waktu, walau waktu kadang kala mengingatku untuk mengulangi kisah lama, agar aku bersahabat dengan waktu.
Ah… sering waktu ku tipu dengan segudang penipuan, yang pada dasarnya ku telah mengetahui, jika kusering menipu waktu, maka suatu saat aku akan tertipu dengan keberadaan waktu penting di saat waktu itu benar-benar ku tak menipu lagi.

Talawi, 23 September 2015



Batas Pandang

Padang mengatas ini sudah ku temukan batasnya
dimana seharusnya aku mengakhiri pandangan,
rumput ilalang, rumput sawah juga tepian mandi sapi perah,
dan juga tempatku memanggil imajinasi
agar puisi ini bernyawa seperti nyawanya mataku
melihat keindahan yang dititip kesanubariku.
disana adikku pernah dipuji oleh rumput,
agar kecantikan yang telah terpandang akan dilihat sekelumit
mereka yang merindukan mengililingi dunia.sekolah!
 
kau tak usah pergi jauh,
disini ada taman nostalgia di kampung susu
yang tak akan pernah membisu,
apalagi pohon jati, rambutan, pohon mangga
dan kayu manis serta angin yang berkejaran dengan burung pipit
meminta kecupan dari hati paling dalam
untuk menikmati maman surga dari belahan tanah kabupaten limapuluh kota.

Balai janggo, 10 Desember 2015


Kipang Batiah

sudah sepuluh tahun ini tak lagi mendengarkan dentuman meriam
pertanda matangnya olahan beras yang di kasih gula saka dari puncak lawang
bisa juga diolah dengan jagung tua yang terlebih dahulu di jemur pada
mentari yang sering memarahi awan gelap.
aku baru sadar kalau induk semangnya telah lama menutup mata
tertutup oleh kain yang di kasih bunga rampai,
yang biasanya kalau ku pulang dari rantau
selalu memegang  jantung menahan suara
yang memekakan anak gendang tersebut.

kipang bareh dan kipang jaguang orang balai janggo
hanya satu petak di belakang rumah sakit ibnu sina
tak heran jika pasien selalu meminta dirawat di rumah
karena terpaksa sehat oleh suara yang meluluh lantakkan ego para sipasien.
mau dikata tak berbunyi, namun pencaharian masyarakat
terpaku pada buktinya dentuman tadi.
suara yang menjadi saksi kesunyian Payakumbuh
akan orang dan kendaraan, di sana juga ada bukti sejarah
kipang batiah kepunyaan balai janggo menjadi bekalan perantau
untuk memeluk kampung diranau sana

sekarang hanya satu petak dari sepuluh petak yang masih beroperasi
menjalankan wasiat para induk semang kepada anak-kemenakan
dengan tujuan ciri-ciri jajanan kampung tidak akan pernah mati
walau zaman sering memaksa untuk meninggalkan yang lama-lama.
dan kini suara dentuman itu tak sekuat bom atom adik kemenakan hirosima,
namun suaranya di tembakkan ketanah, sehingga yang terdengar hanya suara
yang persis mirip dengan kentut anak bayi. tapi aku sangatlah rindu
akan suara yang memekakan telinga, walau telah sering buah bibir telah masak
bahkan telah dipetik hasilnya oleh cucu induk semang perihal pertahankan kipang batiah.

balai janggo, 10 Desember 2016  


Angka Terakhir

Sudah kuhitung dengan sempoa, sembilan ratus sebelas ditambah tiga juta dibagi dua dikali tujuh, tidak kutemukan hasil nyata yang menari di atas jemari lentik.
Jemari yang dirayu dilentik-lentikan, memaksa untuk menggepalkan setengah menelusuri lembah-lembah mungil yang menghasilkan kekacauan pada urat syaraf.
Ah.., itu bukanlah gangguan yang dititipkan dipendopo, menyelinap keringat diantara lubang-lubang yang menganga di dataran air yang menjingkrak untuk memeluk bulan.
Lelaki berjas putih kembali menyuruh syaraf untuk mengulang penambahan, pembagian dan ditambah juga dengan pengalian serta pengakaran, karena hasil yang ditarikan sempoa tak kunjung menghasilkan bilangan prima serta desimal.
Mencermati angka yang tersembunyi dari hitungan semula, telah berbantahan bahwa mata pasti keliru menemukan angka-angka yang tak ada dalam kalkulator untuk menterjemahkan angka terakhir di balik pugarnya bilangan maksimal.

(Studio Safasindo, 16 Oktober 2016)

 
Nova, lahir di Kota Payakumbuh, 19 Juli 1982. Bekerja sebagai guru, penyiar radio, penyair, dan pendongeng. Puisi-puisinya tergabung dalam antalogi  diantaranya; Antologi Episod Pacar Merah, Kumpulan Penyair II Indonesia di Riau, Yang Membuka Pintu Surga, Ensiklopedi Penulis Indonesia 6, Ayah, di Bahumu Aku Bersandar, Pukul 6. Buku tunggal; Puisi Tiga Cincin Di Liang Lahat, Puisi Menjilati Langit.


KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 15:30 wib

Puskesmas Kampar Bersiap Hadapi Akreditasi

Selasa, 18 September 2018 - 15:00 wib

Pasar Desa Kasikan Terbakar

Selasa, 18 September 2018 - 14:56 wib

Hotel Dafam Tawarkan Kenikmatan Kopi Ple-Tok

Selasa, 18 September 2018 - 14:46 wib

Topan Mangkhut Tewaskan 59 Orang

Selasa, 18 September 2018 - 14:43 wib

OJK Diharapkan Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Selasa, 18 September 2018 - 14:42 wib

Pekanperkasa Gelar LCV Party dan LCV Gathering

Selasa, 18 September 2018 - 14:30 wib

Bingung Ferrari Menghilang

Selasa, 18 September 2018 - 14:06 wib

ACE Hadirkan Program Smart Lighting Smart Living

Follow Us