PERBINCANGAN SASTRA SERUMPUN DI SABAH

Membuka Sekat Tanpa Batas

25 Maret 2017 - 21.37 WIB > Dibaca 448 kali | Komentar
 
Membuka Sekat Tanpa Batas
Gapena (Gabungan Penulis Nasional) Malaysia, sudah tak asing lagi. Perjalanan Yayayasan selama 17 tahun membesarkan sastra di Malaysia ini turut dirasakan segenap sastrawan Indonesia, terutama Riau. Pekan lalau, Gapena kembali menggelar pertemuan tersebut dan memperbincangkan tentang kekinian sastra serumpun.

MEMANG tak semua sastrawan Riau diundang dalam pertemuan Gapena akhir pekan lalu di wilayah persekutuan Labuan, Malaysia. Hanya beberapa saja.  Di antaranya Kazzaini KS, Ketua Yayasan Sagang dan juga Ketua Dewan Kesenian Riau (DKR) serta penyair Kunni Masrohanti dan beberapa jurnalis. Menariknya, pertemuan selama tiga hari, 17-19 Maret itu, membahas semangat bersastra antara Indonesia dan Malaysia.

Selain Datok Zainal Abidin, Ketua Gapena Malaysia, Kazzaini KS juga memaparkan bagaimana hubungan sastrawan Malaysia dan Indonesia, Riau khususnya selama ini. Hubungan dan diskusi semakin mudah dilaksanakan. Bahkan membedah karya juga semakin mudah dilaksanakan di era keterbukaan informasi ketika ini. Internet atau dunia maya, memuluskan jalan tersebut. Membuka ruang dan batas menjadi tidak bersekat.

Seminar selama dua hari yang dilaksanakan di Perpustakaan Awam Perbadanan Labuan itu menghadirkan sastrawan dan para penulis Malaysia pada umumnya. Ruang pertemuan di lantai 11 hampir penuh. Begitu juga dengan ruang istirahat para peserta yang berdinding kaca penuh dengan latar belakang pulau, pelabuhan dan kapal-kapal yang sedang parkiri di ltepian laut Cina Selatan. Di sinilah para sastrawan kembali membagi cerita dan pengalaman selain di ruang seminar.

 Kondisi perkembangan sastra dan pengaruhnya secara nyata, serta perubahan-perubahan bahasa era globalisasi ketika ini juga menjadi perbincangan hangat. Komunikasi, hubungan antara intansi bahkan perorang menjadi lebih mudah. ‘’Sekarang, untuk menjalin komunikasi dengan orang lain, di mana saja, di Negara manapun, tidak ada lagi sulitnya. Internet, dunia maya menjadi laluan yang sangat memudahkan. Kita jadi mudah berkomunikasi tentang karya, berdiskusi dan berbagi. Inilah yang kita usung dan kita kedepankan supaya tidak ada sekat, tidak ada batas untuk berbagi tentang perkembangan sastra di Malaysia dan Indonesia, khususnya Riau,’’ ungkap Kazzaini.

Kazzaini juga menyebutkan, hubungan antara sastrawan Malaysia dan Riau, sudah terjalin sejak lama. Dalam berbagai kegiatan kesusasteraan, banyak penulis Riau yang datang ke Malaysia. Sebaliknya, penulis dan satrawan Malaysia dari berbagai wilayah juga selalu menghadiri berbagai kegiatan sastra di Riau, termasuk perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) tahun lalu, tak hanya di Riau, tapi juga Kepulauan Riau, bahkan Jakarta.

Dulu kata Kazzaini, Indonesia, Singapura, Malaysia dan Brunei merupakan satu bangsa. Serumpun. Lalu penjajah memecah belah. Setelah itu masing-masing Negara merasa hebat sendiri. Negara-negara ini semakin jauh baik kebudayaan, kesusasteraan ataupun bahasanya. Di era dunia maya seperti saat ini, seharusnya hal itu tidak terjadi lagi. Tidak ada sekat-sekat lagi.

‘’Di internet, di facebook sesama sastrawan di berbagai belahan dunia bisa berkomunikasi, bisa berbagi karya. Lalu bertemu, bertukar buku dan karya. Lalu di sana terjadi diskusi-diskusi kecil bahkan besar tentang bahasa dan sastra. Pengaruh dunia maya sangat besar. Hendaknya ini menjadi jalan pemersatu.  Harusnya juga sesamA sastrawan bisa berbagi karya dan diterbitkan di media Negara terkait. Ini yang masih belum berjalan baik selama ini. Masih kaku,’’ beber Kazzaini lagi di depan forum tersebut.

Pada kesempatan itu Kazzaini juga menyebutkan tentang berbagai event kesusasteraan di Indoensia, tentang semangat sastrawan, penulis dan penyair dalam berbagai hal memajukan dan meramaikan kesusasteraan itu secara menyeluruh. Lahirnya gerakan-gerakan sastra, komunitas satra, anak-anak sastra, perayaan-perayaan sastra, diskusi-dikusi sastra dari ruang terbuka, tertutup hingga grup sastrawan se-Indonesia, juga dibeberkan Kazzaini.

‘’Kemesraan ini yang harus terus dijaga. Sastra tetaplah menjadi jalan sastra. Bahasa memang akan selalu mengalami perubahan, dan sastrawan yang harus selalu mempertahankan supaya tetap pada jalurnya. Gapena, sudah sangat akrab dengan sastrawan Riau. Dari tahun ke tahun, dalam berbagai kegiatan, Gapena selalu menghadirkan sastrawan Riau ke Malaysia. Tentunya saling berbagi informasi agar selalu saling menginspirasi untuk kemajuan kesusasteraa bersama,’’ sambung Kazzaini.

Awal-awal mula Gapena berdiri hingga pertengahan perjalanannya, Gapena memang selalu mengundang berbagai sastrawan Indonesia. Riau paling banyak. Tak ketinggalan sastrawan Sumbar, Medan, Aceh, dari Pulau Jawa dan banyak lainnya. Selalu berpindah-pindah lokasi, dari satu wilayah ke wilayah lain, dari satu desa ke desa lain. Seiring perjalanannya, Gapena mengubah diri. Tidak semua sastrawan diundang. Tapi Riau selalu menjadi perhitungan mereka.

‘’Sastrawan Riau memang harus hadir. Kami mohon maaf karena hanya beberapa orang saja yang kami undang. Tapi setiap tahun selalu ada yang hadir dalam berbagai kegiatan yang ditaja Gapena. Ini untuk bahan perbandingan antara kondisi perkembangan sastra dan bahasa di Riau dengan di Malaysia. Kita ni sangat dekat. Sastra Riau yang terus ramai, meriah, banyak event-event sastra dari yang besar sampai komunitas-komunitas seperti yang kami baca di internet, juga menjadi pertimbangan kami supaya sastrawan kami juga bisa lebih kreatif,’’ ungkap Datok Zainal usai menguraikan keetas kerjanya.

Pertemuan sastrawan Malaysia dan Riau kali ini sengaja dipusatkan di Pulau Labuan, pulau terluar yang berbatas langsung dengan Brunei Darussalam. Selain ingin menyampaikan kondisi perkembangan sastra dan bahasa hingga ke wilayah pinggiran yang jauh, juga karena semangat sastrawan dan pemimpin wilayah yang sangat mendukung terlaksananya kegiatan tersebut. Tak heran jika kegiatan yang diawali dengan seminar oleh para pakar sastra Malaysia itu, juga disertai dengan penganugerahan pingat sastra kepada sastrawan yang dianggap berjasa dalam perkembangan sastra masa kini, khususnya di wilayah Labuan. Penganugerahan pada malam puncak itu diserahkan langsung oleh pimpinan wilayah Persekutuan Labuan.

Malam itu, Kazzaini juga menyerahkan buku puisi  Matahari Cinta Samudera Kata hasil karya penyair Indonesia yang diterbitkan tahun 2016 sempena perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI). Dengan suka cita, buka berwarna kuning dengan tebal 2016 halaman yang ditulis oleh 216 penyair Indoensia itu mendapatkan sambutan gembira. ‘’Macam ni memang patut dicontohi. Panulis Malaysia juga harus melahirkan karya emas bersama seperti ini,’’ ungkap Datok Zainal Abidin saat itu.

Meriah di Kampung Sungai Bedaun

Perayaan hari sastra yang telah dilaksanakan di tengah kota Labuan selama dua hari dua malam seperti meninggalkan kisah, bahwa jarak, ruang dan waktu justru bisa menjadi jalan pemersatu yang paling ampuh. Jauh bukan berarti berjarak. Jauh bukan berarti tak terlihat. Begitulah keunikan dan keisitimewaan komunikasi melalui dunia maya ketika ini. Jalan itu juga yang membawa para sastrawan dan Gapena hingga ke Kampung Sungai Bedaun yang terrletak sedikit jauh dari Kota Labuan.

Di sinilah puncak perayaan Hari Sastra dimeriahkan. Para datok, tokoh masyarakat, pemimpin wilayah, semua hadir. Peserta disambut dengan tarian dan pakaian adat oleh sekelompok orang dari Suku Kedayan, suku mayoritas di Pulau Labuan. Kemeriahan ditandai dengan kenduri atau makan siang bersama yang didiringin dengan alunan musik khas Suku Kedayan.

Sungai Bedaun, dulunya memang kampung kecil. Bukan hanya kampung ini, Labuan juga dulunya hanya pulau terluar tak berpenghuni. Pulau persinggahan para penjajah. Bahkan bekas-bekas jejak masa penjajahan, seperti Jepang dan Portugis, pada masa itu, juga masih ada. Banyak. Tidak hanya benteng-benteng pelindung saat perang atau tower pemantau musuh (chmney), tapi juga ratusan makam orang-orang asing itu. Semua sisa-sia itu diabadikan menjadi sebuah tugu atau peninggalan sejarah dan menjadi destinasi wisata dengan cerita-cerita menarik yang melatarinya. ***

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 19:30 wib

Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 wib

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 wib

Lima Keuntungan Menggunakan Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 wib

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Selasa, 18 September 2018 - 17:22 wib

AJI Pekanbaru Kirim Delegasi ke Festival Media 2018 di Pontianak

Follow Us