Lentera Puisi IV Singapura

Manikam Sang Jauhari

10 April 2017 - 08.24 WIB > Dibaca 468 kali | Komentar
 
Manikam Sang Jauhari
Para sastrawan dalam suasana santai membaca puisi di National Library Singapore saat Lentera Puisi IV berlangsung. KUNNI MASROHANTI /RIAU POS

Terima kasih kerana tetap bersama kami melalui masam dan manis, pahit dan getir, canda dan tawa, suka dan duka dalam menelusuri liku-liku perjuangan memartabatkan Bahasa dan Sastera Kita! Demi jatidiri anak-anak dan cucu-cucu kita!

--------------------------------------------------



UCAPAN itu dilontarkan Encik Yahya Hamid, ketua penyelenggara Lentera Puisi IV, Jauhari yang Kenal Manikam, 18 Maret 2017, di lantai teratas (lantai 16) The Pod, National Library Singapore (NLS) - gedung Perpustakaan Negara, Singapura - karena merasa bersyukur acara yang diselenggarakannya ini berlangsung dengan baik, semarak dan berjaya. 

Lentera Puisi IV ini merupakan lanjutan Lentera Pusi sebelumnya, yang berlangsung di Fuchun, Singapura. Tahun ini pelaksanaan Lentera Puisi disokong  Perpustakaan Negara dan Majlis Pusat Singapura yang bekerja sama dengan Friends of Persadaku.Org., dengan menghadirkan para penyair nusantara dari empat negara, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Vietnam.

Pada acara ini para penyair mapan Singapura pun juga semangat hadir dan tampil membacakan puisi masing-masing pada acara ini, seperti sastrawan senior Suratman Markasan (Sastrawan Nusantara, MASTERA), Mohamed Latiff Mohamed (Sasterawan Negara, Anugerah Tan Sri Lanang), EF Kamaludin, Sumadi Sarkawi, Rahonie Din, Jamal Ismail, beriringan dengan para penyair-penyair muda dan generasi berikutnya, seperti Mohd Khair Mohd Yasin, Herman Mutiara, Amnah Majid, Adam Fadila, Maarof Salleh, Eunos Asah, Khusniwati Md Mahoni, Herman Rothman.

Dari Indonesia hadir sejumlah penyair, antaranya dua dari Riau, Mosthamir Thalib dan Muchid Albintani,  yang sepekan sebelumnya keduanya di tempat yang sama ikut meluncurkan buku sastra bersama 54 sastrawan ASEAN yang diselenggarakan Bunda Penyair Nusantara, Anie Din. Mosthamir meluncurkan buku Cerpen mini Kelakar Orang Melayu Kawin dan Muchid melancurkan buku puisi Rindu Dini.

Selain itu dari Indonesia tampil dua penyair musikalisasi Jodhi Yudono dari Jakarta dan Fileski dari Surabaya serta seniman tari puisi Semidi Martha. Selain itu ada nama Irma Rachmawati Maruf, Ph.D dan Tenny Yuaniatinie (Universitas Pasundan, Bandung), Syarifuddin Arifin (Padang), Lily Siti Multatuliana Sutan Iskandar (Jakarta), Andhyka Nugraha (Palembang), Wahyu Cahyaningtyas dan Artika Honey (Semarang)

Sedangkan dari Malaysia akan hadir Shirley Idris, Wan Eidalafua, Mustaffa Siraj, Umar Uzair dan Waslie Duby Full. Sedangkan dari Vietnam hadir Nik Mansour Nik Halim, yang juga pernah datang ke Pekanbaru pada Hari Puisi 2016.

Seluruh penyair yang tampil 41 orang. Sejumlah 14 di antaranya merupakan penyair yang juga aktif di kampus (akademisi). Acara ini selain menampilkan pembacaan puisi juga ditampilkan musikalisasi puisi dan persembahan lainnya yang memakai media puisi.

“Lentera Puisi ini kami selenggarakan setiap tahun. Mengundang para sastrawan yang peduli pada pengembangan dan pengekalan kesusastraan nusantara,” kata Yahya Hamid M Ed, penyelenggara acara ini.

Sebagian penyair ini, dari Indonesia dan Malaysia, selain tampil membacakan puisi di The Pod, juga sempat membacakan puisi mereka di taman Marina Barrage, di kawasan alam terbuka, yang sebagian latar belakangnya laut yang luas serta pulau-pulau dan sebagiannya lagi gedung-gedung pencakar langit yang menjulang. Ikut baca puisi traveler ini Mosthamir Thalib, Syarifuddin Arifin,  Lily Siti Multatuliana Sutan Iskandar, Andhyka Nugraha, dari Indonesia. Sedangkan dari Malaysia ikut Shirley Idris, Umar Uzair dan Waslie Duby Full.  Acara ini berlangsung 19 Maret, setelah mengunjungi sebagian objek pelancongan dan berakhir di Taman Warisan di depan Masjid Sultan, Kampung Gelam.

Prihatin Nusantara


Sebagaimana biasa, dalam pertemuan seperti ini selalu menampilkan tema-tema yang umum.  Tetapi ada beberapa penyair nusantara tampaknya menampilkan tema yang nyaris sama. Tema keprihatinan terhadap manusia nusantara. Manusia aslinya. Yang kehidupan mereka semakin terpinggirkan. Sementara negeri tempat mereka bermastautin semakin berkembang pesat. Disebabkan semakin majunya sebuah negara. Pembangunan yang mengorbankan mereka yang lemah. Sampai kepada sikap tamak yang mengutamakan pemilik modal.  Bahkan penguasa.

Tema-tema sosial masyarakat manusia asli nusantara ini paling kurang tergambar pada puisi yang dibacakan Syarifuddin Arifin (Padang), EF Kamaluddin (Singapura), Nik Mansour Nik Halim (Vietnam), dan Muchid Albintani (Pekanbaru). Nik Mansour yang asli keturunan Melayu Champa, yaitu penduduk pribumi asli Vietnam, malah menggambarkan kehidupan orang Champ-Champ di Vietnam lebih gamblang. Sebagai manusia asli mereka merasa tanah mereka dirampok.  Bisa dilihat dari dua puisi Nik Mansour ini. Puisi pertamanya ini, Biji Padi Ayah Ibu Kita, menggambarkan kehidupan  keluarga Champ yang miskin di Vietnam.



BIJI PADI AYAH-IBU KITA
Aduhai, tidurlah adikku /
Emak ayah kita sedang di hutan lebar /
Membajak tanah batu./
Sawah padi muda Berpanas matahari./
Berbasah hujan/
Tidak kira siang dan malam//

Tidurlah adikku Lihat ayah./
Terus berayun-ayun cangkulnya/
Demi padi untuk dibawa balik ke rumah/
Lihat emak kita pula, sangat lasak/
Menumbuk-numbuk antan ke lesungnya/
Mengupas padi-padi itu menjadi beras//

Abang memasak untuk adik-adik./
Bangun. Cepatlah bangun. Kita makan./
Ingatlah wahai adik-adikku/
Tanah raya kita siapa yang merampas?/
Siapa yang berhawa tamak?/
Terpaksa emak dan ayah kita pergi jauh.
Ke sawah./
Penuh kesengsaraan. Mencari biji padi. //

Pandurangga, Selatan Vietnam, 2017


Kehidupan  seebagian besar orang Champ yang miskin di Vietnam, terga,bar pada puisi kedua Nik Mansour ini.

CHAMP YANG TERSISA

Jangan lupa, o, adikku./
Pusaka nenek moyang kita/
Adat resam budaya. /
Agama yang mulia./
Warisan orang-orang dulu/
datuk-nenek kita.//
Satu hari nanti. Ketika adik besar /
Janganlah impikan pergi jauh./
Negeri kita sudah hilang. Terlalu sedikit./
Rakyat Champ kita. Tinggal tersisa./ /

Panduranga, Selatan Vietnam, 2017

Peluncuran
Dalam sepekan ada di Singapura di tempat yang sama menyelenggarkan acara sastra yang bersifat nusantara dan melibatkan negara serumpun. Pertama peluncuran buku sastra yang ditaja oleh Bunda Penyair Nusantara Rohanie Din, 11 Maret 2017. Kedua, Lentera Puisi IV, 18 Maret 2017, ditaja Encik Yahya Hamid. Keduanya diselenggarakan  di National Library Singapura.
Peluncuran buku bersama 54 sastrawan Asia Tenggara pekan lalu (11/3) yang ditaja Anie Din bekerja sama dengan NLS selain Mosthamir Thalib dan Muchid Albintani juga melibatkan lima penyair Riau lainnya. Mereka, Fakhrunnas MA Jabbar dengan buku puisi Air Mata Musim Gugur, Dheni Kurnia dengan buku Puisi Olang2, Kunni Masrohanti, dengan buku puisi Calung Penyukat dan Bambang Kariawan buku Cerpen Lukah yang Tersangkut di Dinding.


Sebanyak 54 Sastrawan dari Enam Negara Asean, masing masing Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Brunai Darussalam, Vietnam dan Philipina itu, juga dijamu langsung oleh Penasehat Ahli Menteri Pendidikan Singapura, YB Datuk Yatiman Yusof.


Menurut Yatiman, Singapura sangat berterimabkasih, karena dipilih sebagai negara tempat peluncuran buku oleh seniman seniman ASEAN. “Ini penghargaan besar bagi negeri kami. Kami bangga para penulis roman, cerita pendek, penulis skenario drama, film dan penyair bisa bersama sama hadir di negeri ini,” katanya.


Yatiman juga secara resmi ikut meluncurkan buku, yang ditandai dengan penandatanganan prasasti.


Dijelaskan Yatiman, Singapura sangat berbangga hati, karena memiliki sejumlah penulis, seniman dan penyair besar, seperti Suratman Markasan, Latif Muhammad, Chadijah Rahmad, EF Kamaluddin, Rohani Dien dan sejumlah nama lainnya. Tapi pemerintah Singapura, lebih bangga lagi ketika para penyair dan penulis negara ASEAN hadir untuk meluncurkan buku secara bersama sama. (fiz)





KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 19:45 wib

Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam

Kamis, 15 November 2018 - 18:35 wib

Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 wib

Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 wib

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Follow Us