ESAI BUDAYA

Membaca Pembaca

23 April 2017 - 01.20 WIB > Dibaca 2587 kali | Komentar
 
Oleh Udji Kayang Aditya Supriyanto

PEMBACA tak melulu penengok kata-kata dari luar buku, ia dihadirkan pula dalam buku. Pembaca bukan sekadar orang yang duduk anteng membaca buku, atau pemotret buku bersama kopi/teh/coklat kemudian diunggah di Instagram. Pembaca dinarasikan pula dalam teks sastra sebagai tokoh penghuni buku, entah ia cuma figuran atau tokoh utama. Semakin hari kecenderungan pemunculan tokoh-tokoh pembaca dalam semesta fiksi kian dirayakan. Kita sempat menjumpai tokoh-tokoh fiksi yang seorang pembaca dari novel dan kumpulan cerpen Leila S. Chudori, yakni Malam Terakhir (1989), 9 dari Nadira (2009), dan Pulang (2012).

Malam Terakhir garapan Leila terdiri dari 17 cerpen, yang berkurang menjadi 9 cerpen saja saat diterbitkan ulang Kepustakaan Populer Gramedia di tahun 2009. Sejak cerpen pertama di Malam Terakhir edisi lawas, Sebuah Buku Merah dan Karbol, kita sudah dipertemukan dengan tokoh pembaca. Marwan, tokoh dalam cerpen itu, memiliki lemari besar di dalam ruang kerjanya. Leila memberi keterangan, “hampir semua buku itu adalah buku-buku politik dan ilmu filsafat. Mungkin juga beberapa buku sastra.” Di cerpen-cerpen berikutnya, kita masih akan dipertemukan dengan tokoh pembaca yang menenteng nama-nama kondang: Stevenson, Keats, Hesse, Lawrence, Neill, Joyce, dan lain-lain. Dari 17 cerpen, tokoh pembaca Leila paling ditonjolkan dalam cerpen Adila.

9 dari Nadira dan Pulang tidak jauh berbeda, Leila masih gemar menampilkan tokoh pembaca. Namun, Leila mencoba agak berimbang supaya tak melulu bercita rasa Eropa. Ia pun menyelipkan nama serta kisah dari semesta pewayangan: Ramayana dan Mahabharata, di samping para sastrawan masyhur Barat tentu saja. Dalam suatu diskusi, Leila pernah menyatakan bahwa ia belajar dari Goenawan Mohammad (GM) terkait misi kepenulisan novel dan cerpennya. Melalui esai-esainya di Catatan Pinggir, GM lazim mengenalkan dan mengingatkan tokoh serta teks-teks penting pada khalayak pembaca. Leila pun demikian, ia ingin pembaca novel dan cerpennya mengenal atau teringat pada teks sastra penting yang dimunculkan.

Tokoh pembaca yang hadir dalam semesta fiksi tak melulu intelek. Misalnya, Allu Ralla dalam novel Faisal Oddang, Puya ke Puya (2015). Dalam novel, Allu dikisahkan sebagai pelahap bacaan serius sampai teks sastrawi, mulai dari Karl Marx hingga Kurt Vonnegut. Ia memiliki rak melimpah buku di kamar kosnya. Ketika dihubungi seorang mahasiswi yang mencari buku, Allu sampai berani mengajukan tawaran angkuh, “Klasik luar? Terjemahan baru? Atau novel Indonesia?” Ada semua! Hanya saja, kita jangan mengira Allu adalah mahasiswa cerdas nan intelek. Allu justru ditampilkan sangat naif, konyol, dan gampang dibodohi. Aduh!

Hampir tiga dekade sebelum Puya ke Puya garapan Faisal Oddang, Dono menulis novel bertokoh mahasiswa intelek yang justru tanpa merasa perlu dicitrakan “pembaca”. Cemara-Cemara Kampus (1988) dan Dua Batang Ilalang (1999) memperkenalkan kita pada dua sosok mahasiswa sosiologi berkadar intelektual di atas rata-rata. Kodi, tokoh dalam novel pertama, bergiat dalam penerbitan koran mahasiswa, menjadi asisten dosen dan peneliti, serta mendirikan proyek tentir untuk mendampingi mahasiswa-mahasiswi baru yang sedang belajar hal-hal baru di kampusnya. Dengan laku intelektual demikian, Dono malah mencitrakan Kodi pemalas dan urakan. “Gue udah pinter jadi kagak perlu kuliah lagi.”

Dalam Dua Batang Ilalang, Dono memperkenalkan Sobi sebagai tokoh utamanya. Seperti Kodi, Sobi juga mahasiswa sosiologi yang aktif di berbagai kegiatan intelektual. Sobi pun terlibat aktivisme mahasiswa yang di masa itu sedang panas-panasnya. Sobi rajin menggiatkan grup diskusi mahasiswa bareng teman-temannya. Baik Kodi maupun Sobi tidak ditonjolkan Dono sebagai pembaca. Meski adegan berbuku di perpustakaan atau dalam diskusi dapat dijumpai, namun tidak satu pun dari kedua tokoh Dono yang unjuk referensi bacaan sebagaimana kecenderungan teks-teks sastra kekinian. Dono tak sempat menyebut nama penulis atau judul buku dalam novelnya.

Jalan lain yang mungkin ditempuh terkait pemunculan tokoh pembaca dalam teks sastra adalah mengobrak-abrik nama penulis dan judul buku. Eddy D. Iskandar sering menampilkan judul buku asal-asalan dalam novelnya, dengan pengarang memakai nama Eddy sendiri. Gunawan Tri Atmodjo lain lagi, dalam cerpen Sundari Keranjingan Puisi (2015) ia menukar susunan nama dua tokoh terkenal, menjadi Fatin Tohari dan Ahmad Hamama. Pengobrak-abrikan paling radikal jelas dilakukan Martin Suryajaya lewat Kiat Sukses Hancur Lebur (2016). Dalam novel Martin, nama penulis dan judul buku sama-sama tak terselamatkan. Untuk alasan sopan santun, lebih baik kita tidak menyertakan contoh.

Setiap pengarang yang novel atau cerpennya diterbitkan, sudah pasti menemukan pembaca. Pengarang barangkali merasa kurang, sehingga ia merasa perlu memunculkan pula pembaca dalam semesta kisah yang ditulisnya. Kita bertanya-tanya, apakah nama dan judul buku yang ditampilkan semata untuk menunjukkan buku apa saja yang dibaca pengarang? Atau memang dalam rangka membangun karakter tokoh sebagai “pembaca” dalam cerita? Pengarang merasa bermartabat saat menampilkan tokoh sebagai pembaca. Martabat kita ditentukan melalui pembacaan tokoh pembaca: menganggapnya sekadar pameran, atau pencarian? ***

Udji Kayang Aditya Supriyanto, pembaca sastra dan pengelola Bukulah! Bergiat di Bilik Literasi.


KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 10:51 wib

Rehab Command Centre Diselidiki

Kamis, 20 September 2018 - 10:50 wib

Targetkan Seluruh IKM Jalin Kerja Sama

Kamis, 20 September 2018 - 10:38 wib

PDAM Harus Ditata Ulang

Kamis, 20 September 2018 - 10:25 wib

Sambangi Panti Asuhan di Hari Lalu Lintas

Kamis, 20 September 2018 - 10:24 wib

Sepakat Memperbaiki Jalan

Kamis, 20 September 2018 - 10:20 wib

Dihampiri Polisi, Pengedar Buang Narkoba

Kamis, 20 September 2018 - 10:19 wib

Berharap Tahanan Dapat Berubah

Kamis, 20 September 2018 - 10:07 wib

Kepergok Mencuri, Sembunyi di Gudang

Follow Us