OLEH FATMAWATI ADNAN

Bahasa Perempuan

23 April 2017 - 01.27 WIB > Dibaca 3923 kali | Komentar
 
Bahasa Perempuan
Kata “perempuan” menjadi lebih sering disebut di Indonesia setiap bulan April, terkait adanya Hari Kartini, meskipun Hari Perempuan Internasional ditetapkan pada setiap tanggal 8 Maret. Berbagai isu yang berkait kelindan dengan perempuan bermunculan di berbagai media. Mulai dari aspek kepribadian yang bersifat personal sampai pada emansipasi yang bersifat nasional.

Ditinjau dari segi bahasa, timbul pertanyaan: bagaimanakah bahasa perempuan? Berbedakah dengan bahasa laki-laki? Tulisan singkat ini mengangkat beberapa hasil penelitian yang berupaya mencari tahu tentang perbedaan perempuan dan laki-laki dalam berbahasa.

Robin Tolmach Lakoff, seorang Profesor Linguistik di Universitas California, merupakan linguis pertama yang memulai penelitian mengenai fitur-fitur tuturan perempuan. Lakoff menyimpulkan bahwa terdapat banyak hal yang menjadi dasar munculnya perbedaan antara perempuan dan laki-laki dalam berbahasa.

Digambarkan oleh Lakoff bahwa bahasa laki-laki lebih tegas dan matang, dan cenderung berbicara terus terang dengan kosakata yang tepat. Sebaliknya, bahasa yang digunakan oleh perempuan cenderung tidak tegas, tidak terang-terangan (menggunakan kata-kata kiasan), dan berhati-hati ketika mengemukakan sesuatu. Perempuan juga kerap menggunakan kata yang lebih halus dan sopan atau melalui isyarat (metapesan).

Fasold (1996) juga mengatakan bahwa perempuan lebih santun dalam berbahasa dibandingkan laki-laki. Menurutnya, perempuan lebih dekat dalam kehidupan anak-anak, mengajarkan kebudayaan, dan lebih peduli pada kepentingan anak-anaknya, dalam hal pemerolehan norma-norma. Hal inilah yang mendasari mengapa perempuan memiliki bahasa yang lebih santun dibandingkan laki-laki.

Holmes (1992) mempunyai pendapat yang hampir sama dengan Fasold. Ia menambahkan alasan seorang perempuan menggunakan bahasa yang lebih santun daripada seorang laki-laki dalam percakapan adalah karena perempuan lebih menyadari statusnya. Perempuan lebih mengetahui fakta, dimana, atau dengan siapa ia berbicara. Holmes juga menjelaskan hal-hal yang memengaruhi cara seorang perempuan berbicara yang mencakup status sosial, latar belakang, dan tingkat pendidikan.

Kembali pada hasil penelitian Profesor Lakoff, linguis ini mengemukakan bahwa salah satu karakteristik perempuan dalam berbahasa adalah penggunaan hedges. Hedges dimaknai sebagai fitur linguistik yang umumnya berfungsi mengurangi kekuatan sebuah tuturan dan melemahkan efek dari sebuah pernyataan. Penggunaan hedges (hedging) memperlihatkan ketidakyakinan dan merefleksikan perasaan tidak aman perempuan dalam mengungkapkan sesuatu.

Poynton (1989) mengatakan bahwa hedging adalah variasi dari sebuah fitur yang dengannya seseorang dapat mengatakan sesuatu secara singkat untuk menunjukkan bahwa sesuatu itu tidak sepenuhnya begitu. Ketika seseorang menggunakan hedges secara linguistik, mereka menghindari mengatakan sesuatu secara pasti dan menjaga pilihan mereka terbuka.

Peneliti lainnya yang meneliti tentang bahasa perempuan juga menemukan kecenderungan perempuan dalam menggunakan hedges, dan menamainya dengan istilah yang berbeda. House dan Kasper (1981) menyebut hedges dengan istilah downgraders, James (1983) menyebutnya compromisers, Quirk (1985) mengemukakan istilah downtoners, Brown dan Levinson (1987) menggunakan istilah weakeners, Crystal dan Davy (1975) menggunakan istilah softeners.
 
Intinya, seluruh penelitian tersebut menemukan kecenderungan perempuan untuk menggunakan fitur linguistik yang umumnya berfungsi mengurangi kekuatan sebuah tuturan dan melemahkan efek dari sebuah pernyataan.

Mengapa perempuan cenderung “memagari” tuturannya dengan menggunakan hedges? Brown dan Levinson (1987) dan Coates (1987) mengemukakan bahwa hal ini tidak semata-mata sebagai fitur kesopanan, hedges juga dapat digunakan untuk memudahkan penerima atau fokus kepada ketepatan dari informasi yang disajikan dalam sebuah pernyataan. Menurut Talbot (2010), hedges digunakan untuk menghindari menyatakan sesuatu secara pasti dan untuk mencegah perkiraan yang terlalu dogmatis.

Selain penggunaan hedges, Lakoff juga menemukan kecenderungan lainnya dalam bahasa perempuan, yaitu penggunaan tag question. Lakoff berpendapat bahwa menanyakan sebuah pertanyaan merupakan contoh terbaik dari perasaan tidak aman dan keraguan perempuan.
Menurut Chaika (1994), perempuan cenderung menanyakan tiga kali lebih sering daripada laki-laki. Itu bisa digunakan dalam berbagai cara. Pertanyaan bisa digunakan untuk mencari informasi, mengenal topik baru, mendorong mitra tutur agar terlibat dalam percakapan, mengundang seseorang untuk menceritakan sebuah cerita, dan alasan lainnya.

Lakoff juga mengemukakan bahwa salah satu karakter tuturan perempuan yang kerap muncul adalah intonasi "bertanya" sebagai jawaban saat perempuan tersebut diberi sebuah pertanyaan. Hal tersebut menunjukkan kecenderungan perempuan yang sering merasa tidak yakin akan pertanyaan yang disampaikan kepadanya, atau ia ingin menonjolkan kesopanan dengan cara balik bertanya kepada lawan tuturnya.

Hasil penelitian lainnya mengungkapkan bahwa perempuan juga sering memakai intonasi tinggi pada kalimat deklaratif untuk menunjukkan emosi atau empatinya terhadap sesuatu. Ditinjau dari kosa kata yang digunakan perempuan dalam berbahasa disimpulkan bahwa terdapat kecenderungan menggunakan kata sifat (adjektiva) yang mempunyai makna spesifik, serta menunjukkan persetujuan atau kekaguman pada sesuatu. Kata sifat seperti ini disebut empty adjectives (adjektiva kosong) yang berarti bahwa kata itu hanya menyangkut reaksi emosional daripada informasi khusus.

Perempuan memberi rincian warna jauh lebih tepat dalam penamaan warna-warna daripada yang dilakukan laki-laki. Kata-kata seperti beige (abu-abu kekuningan), lavender (ungu kebiruan), maroon (coklat tua kemerahan) adalah contoh kata-kata yang biasa saja di dalam kosa kata aktif perempuan, tetapi itu absen bagi kebanyakan laki-laki. Sebagian laki-laki merasa “feminin” jika menggunakan “kosa kata khas perempuan” (Cameron, 1990).

Apakah simpulan dari berbagai kajian atau penelitian tersebut berlaku universal? Ternyata, ketika seorang peneliti lainnya mengkaji bahasa Margareth Thatcher, simpulan tersebut tidak berlaku pada pada “wanita besi” yang menjadi Perdana Menteri Inggris paling terkenal di dunia. Ia tidak memagari ucapannya dengan hedges, malahan ia selalu penuh keyakinan dan tegas.

Terlepas dari berbagai kajian tersebut, perempuan memang khas dan memiliki “gaya” tersendiri dan sendiri-sendiri dalam berbahasa. Selamat Hari Kartini!***

Fatmawati Adnan adalah peneliti di Balai Bahasa Riau.

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Wafat, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us