SALAM PERDAMAIAN DARI MUARA TAKUS

Menjunjung Tinggi Sejarah dan Keberagaman

7 Mai 2017 - 00.28 WIB > Dibaca 1212 kali | Komentar
 
Menjunjung Tinggi Sejarah dan Keberagaman
Ratusan umat Budha tidak terpengaruh dengan garangnya mentari. Mereka melaksanakan peribadatan Tri Waisak 2561/2017 di Candi Muara Takus kecamatan XIII Koto Kampar, ahad  (30/4). Dari Muara Takus mereka memberikan salam perdamaian untuk seluruh umat manusia di dunia.

Laporan RINA DIANTI HASAN, Kampar

SIANG itu, ketika sang surya berada di puncak panasnya, sekitar lima ratus umat Budha dipimpin Bikhu mereka mengelilingi kawasan candi yang terdiri dari Candi Mahligai, Candi Tua, Candi Bungsu dan Candi Palangka. Empat Bikhu berada di barisan depan. Tangannya menggenggam Hio.  Ketua Bikhu Provinsi Riau, Bikhu Tiradhamo bersama dengan  Bikhu Wiryaphalo memimpin barisan terdepan tersebut. Di belakanganya ada dua bikhu lagi. Di belakang para bikhu ini, ratusan umat budah berjalan dengan khusuk mengikuti langkah sang mereka.

Inilah ritual pradaksina, yaitu memutari candi sebanyak tiga kali searah jarum jam. Mereka memgelilingi candi dengan merapalkan doa-doa. Semuanya tenang dan khusuk, walaupun wajah mereka dicucuri keringat.

Menurut Bikhu Tiradhamo, pradaksina dilakukan untuk mengelilingi relief-relief dan stupa candi yang punya arti kebajikan tinggi. Khususnya di bulan suci Waisak, apa yang umat lakukan satu kali mendapatkan kebijaksanaan berlipat kali. Pradaksina punya arti bila dalam ritual ada kesalahan, maka kiranya kesalahan itu bisa disucikan. Ini juga sebagai bentuk bahwa mereka meghormati candi sebagai tempat bersejarah dan mempunyai nilai tinggi dalam agama Budha.

Dalam kepercayaan umat Buddha, mengelilingi candi yang di dalamnya ada relief-relief dan stupa telah dijelaskan dalam kitab suci Tripitaka. Memutari candi sebanyak tiga kali putaran searah jarum jam punya arti Buddha-Dharma-Sangha atau ajaran dari Sang Buddha. Selain itu bagi Umat Budha di Riau dan sekitarnya  Candi Muara Takus juga mempunyai nilai yang tinggi. Mereka juga mempercayai bahwa mengelilingi candi sebanyak tiga kali merupakan ritual penghormatan terhadap guru Padma Sambhawa, sebab candi ini merupakan salah satu peninggalan dari guru Padma Shambawa.

Setelah mengelilingi Candi, mereka duduk dengan rapi di bawah tenda yang sudah disediakan panitia acara Tri Waisak. Mereka duduk langsung menghadap kearah Candi  Tua. Peralatan sembahyang   dengan patung Budha berdiri di atas meja di kaki Candi Tua tersebut. Keempat Bikhu duduk persis di depan Patung Budha dan menghadap kepada para umatnya. Mereka melanjutkan  ritual dengan merapalkan doa dan mantera –mantera yang diikuti oleh para umat Budha. 

Bikhu Wiryaphalo usai merapalkan doa, memberikan pencerahan . Dalam pencerahannya disampaikan bahwa tema  dari Tri waisak 2561/2017 adalah kebhinekaan dalam  kebersamaan, dimana umat Budha haruslah mampu menjaga persatuan dan kebersamaan dalam perbedaan yang ada.

 ‘’Karena perbedaan harusnya menjadikan dunia kita indah, bukannya menjadikannya perpecahan dan permasalahan “ ujarnya.

Bikhu Wiryaphalo juga menyatakan, ini suatu kesempatan yang luar biasa  bagi Umat Budha Riau untuk bisa melaksanakan Tri Waisak di Candi Muara Takus. Karena Candi Muara Takus sendiri merupakan  candi yang mempunyai nilai penting dan luhur dalam agama Budha, sebagai tenpat suci dan dihormati.

Ritual dilanjutkan dengan memercikkan air suci kepada seluruh umat yang hadir. Memercikan air ini dilaksanakan oleh salah seorang Bikhu. Sementara itu  Bikhu yang lain terus merapalkan mantera-mantera dengan khusuk hingga semua orang merasakan percikan air. Tidak hanya kepada umat Budha yang sedang duduk khusuk dibawah tenda di depan Candi Tua, Bikhu  Bhadravacana juga mengelilingi hingga ke bawah pohon-pohon tempat umat Budha yang lain, bahkan hingga ke tenda panitia.

Semuanya menundukkan kepala dengan tangan ditangkupkan di depan dada, ketika Bikhu tersebut memercikan air di atas kepala mereka. Umat Budha ini berharap air suci ini akan membawakan kebaikan kepada kehidupan mereka ke depannya.

Setelah Bikhu  Bhadravacana kembali ke tempatnya, seluruh umat dipimpin semua Bikhu kembali menghadap kearah Candi Tua. Mereka merapalkan mantera lalu sujud ke lantai. Ritual ini dilakukan sebanyak tiga, dan akhirnya ritual Tri Waisakpun selesai. Umat yang tampak tenang dan bahagia usai melaksanakan ritualnya, diihibur dengan pentas seni yang ditampilkan oleh muda-mudi mereka, yang disebut dengan  PMV. Dalam pentas seni ini , tampil tiga PMV, yaitu PMV Budhi Bakti Tembilahan Indragiri Hilir, PMV Dharma Loka Pekanbaru, dan PMV Hok Ann Kiong Bengkalis. Mereka menampilkan Tarian, musik dan puisi.

Menurutnya Bikhu Tiradhamo, kegiatan ibadah Tri Waisak di Candi Muara Takus sudah mereka laksanakan setiap tahun. Karena memang Candi Muara Takus mempunyai arti suci dan tempat yang dihormati oleh umat Budha.

 “Candi ini mempunyai nilai sejarah yang agung, bahkan sepengatahuan saya jauh lebih tua dari Candi Borobudur. Candi ini menunjukkan peradaban lama Agama Budha di Riau. Makanya kita sangat bangga dengan candi ini, “ ujarnya.

Candi Muara Takus merupakan salah satu peninggalan dari guru Padma Shambawa dan juga tempat pelaksanaan ritual Budha Tantrayana. Itu sebabnya penganut Budha Tantrayana selalu  mendatangi candi ini. Candi Muara Takus juga dinilai mempunyai banyak kemiripan dengan Candi Bahal di Sumatra Utara yang juga mempunyai kemiripan di Tibet. Sehingga diyakini Candi Muara Takus mempunyai kaitan dan nilai yang penting dalam peribadatan Budha.

“Dilaksanakan kegiatan Tri waisak di sini, sebagai bukti kami menghargai dan menhormati candi sebagai tempat luhur dan bersejarah,“ ujarnya lagi. Bahkan pihaknya merencanakan suatu saat akan melaksanakan ritual agama yang lebih besar dan menghadirkan lebih banyak umat Budha lainya.

Bicara tentang Tema Tri waisak 2561/2017 sendiri,  Bikhu Tiradhamo menjelaskan, di Indonesia mengangkat tema kebhinekaan dalam kebersamaan. Karena Agama  Budha sendiri  merupakan agama yang menghargai kebersamaan dan persatuan. Maka jangan sampai perbedaan ini membuat munculnya perpecahan. Umat Budha melalui Tri waisak menyampaikan salam perdamaian bagi seluruh umat manusia di dunia, khususnya di Indonesia dan Riau.

Sementara itu Ketua Panitia Erwin Wijaya, menjelaskan, pelaksanaan kegiatan Tri Waisak  ini sudah dilakukan  secara rutin di Candi Muara Takus,  sejak tahun 2007. Dan setiap tahunnya jumlah umat  Budha yang mengikuti semakin banyak. Umat Budha yang ke Muara Takus ini berasala dari majelis Budhayana  Indonesia  Provinsi Riau. Mereka datang dari Tembilahan Indragiri Hilir, Dumai,  Perawang,  Rengat,  Kerinci, Pasir Pengaraian, Bengkalis dan Pekanbaru.

Dijelaskan,  kondisi Muara Takus pun semakin tahun semakin membaik,  baik dari segi kebersihan maupun sikap masyarakat sekitar yang koperatif.  Walaupun  menurut nya masih banyak yang perlu dibenahi,  seperti belum adanya listrik sehingga kegiatan tidak dapat dilaksanakan  malam hari,  karena kondisi siang hari sangat panas.  Selain itu juga akses jalan perlu terus ditingkatkan dan diperbaiki. (kun)
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 18:45 wib

Sembunyi di Lumpur, Perampok Berhasil Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 18:30 wib

Pelabuhan Tikus Jalur Masuk Empuk Narkoba

Rabu, 19 September 2018 - 18:00 wib

TP PKK Ikut LMSI Tingkat Riau

Rabu, 19 September 2018 - 17:45 wib

Sekda Lantik Pengurus HNSI Tembilahan Hulu

Follow Us