SAJAK

Sajak-sajak Mabulmaddin Shaiddin

7 Mai 2017 - 01.20 WIB > Dibaca 2073 kali | Komentar
 
PERIBADI

Ada sejenis peribadi
muncul pada setiap musim
saat kau kehilangan perahu.

Ia tak kelihatan manis
seperti buah ranum, tetapi juga tak kelat
penaka akar rumput.

Ia tetap bersahaja ketika bercerita
tentang luka, dan menokok tambahnya
namun ia menolak sekeras-kerasnya
jika engkau ingin melihat darahnya.

Sebaliknya dengan berjenaka
ia memperlihatkan hatinya yang buta.

Aku tak tahu untuk bercakap apa
jika engkau jatuh cinta juga kepadanya!

Kota Belud, Sabah
10 Apr 2017



GERIMIS BERURAI


Kutunggu gerimis yang pernah berurai
kelmarin petang, setelah ia puas
singgahlah ia bertanya tentang makna
keseorangan, kepada seseorang.

Ia tak pernah memperoleh jawapan
yang diinginkan, sebab itu
ia pun menyeberang, menyudahi dirinya
yang dirasanya tak berguna.

Dengan apa dia menyudahi dirinya?

bukan dengan pisau, atau seutas tali
tetapi hanya dengan nyanyian palsu
yang mematahkan rahangnya.

Semuanya tertawa-tawa
sambil mencecap manisan
yang mereka dapatkan
daripada titis-titis kesedihannya.

Kota Belud, Sabah
10 Apr 2017



MENANTI HUJAN TEDUH


Menanti hujan teduh
maka engkau pun bersendiri
memandang ke luar diri.

Pohon-pohon rasanya kedinginan
kecuali bangau yang melangkah pelan
mengintai anak-anak ikan.

Telah lama air bergenang
tapi tidak kelihatan -
eh, adakah kau mendengar
sebuah puisi tua?

yang dilontarkan
dan diharap agar dapat dilupakan?

Aku pun membiarkan
semuanya berlalu, seperti puisi ini
yang kuharap tak begitu bererti
dalam kehidupanmu.

Kota Belud, Sabah
3 Apr 2017



SESUDAH SENTUHAN ANGIN

Dedaun lebih bertuah atas sentuhan angin
dapatlah ia melepaskan diri
daripada belenggu ranting.
Rerumput pun lebih beruntung
kerana dipijak dek sepatumu
dapatlah ia menegaskan
bahawa ia ada.

Aku cuba membandingkan diriku
dengan sesuatu di dalam timbunan sampah
nampaknya sesuatu itu lebih bermanfaat
daripada diriku

kerana ia sekurang-kurangnya
menjadi santapan cacing
atau setidak-tidaknya dijadikan abu
sesudah bercinta dengan apimu.

Kota Belud, Sabah
20 Feb 2017



BADAI

Apabila angin mati
maka pohon-pohon pun mati
sebab dedaun yang tak gugur
pasti merosakkan akar.

Sebab itu aku sukakan badai
kerana badai yang datang
adalah bahagian-bahagian harum
bagi sesetengah bahagian tubuhmu.

Matahari yang menyergap
bukanlah punca layu
bagi kembang pagi
yang meranapkan kata
ialah tunggalnya pengertian.

Aku seronok memikirkan
akan pendapatmu
tentang diriku.


Kota Belud, Sabah
20 Feb 2017



HARI JADI

Hari ini ialah hari jadi hujan
sebelumnya hanyalah wap
dari antah berantah dan hutan.

Sebab itu aku keseorangan
dan sering berlama merenung diri
bahawa, hari yang kuingat ini
adalah hari ketika sungai dan laut
menjadi hanyut.

Dan tubuh panas mereka
menghasilkan wap, lalu naik ke udara
yang akhirnya menjadi teka-teki
antara kita.

Adakah ia menjadi titis hujan
atau embun yang melekakan tumbuhan?

Itulah yang menderaikan tawa
yang bunyinya seperti tangisan
jujur, tulus dan jauh
bersama hujan yang jatuh!


Kota Belud, Sabah
17 Dis 2016



SEUTAS JALAN KECIL


Di hadapan adalah jalan kecil
menuju suatu tempat tersembunyi
yang nyata, ia pun tak dikenal suria.

Tak ada sebarang unggas,
haiwan atau serangga
yang mengetahuinya
cuma ia tidak begitu istimewa
meski tak sesederhana
saat kau mengkhayalkannya.

Ia terletak di hujung jalan terbentang,
kecil dan lurus
tempatku sering bersendiri
membaca dirimu yang abadi.

Kota Belud, Sabah
16 Dis 2016



KESEMENTARAAN

Meskipun tiada suria, tapi masih ada cahaya
menyelinap antara ruang-ruang hujan
dan kesunyiannya.

Ia menuliskan puisi, di atas lembar-lembar daun
untuk diabadikannya kepada dunia
biarpun ia tahu, itu hanya sementara.

Kemudian ia mengunjungi becak dan lompang
memberikan mereka beberapa jenis kebahagiaan
yang diciptakannya daripada kesementaraan.

Kota Belud, Sabah
30 Nov 2016


Mabulmaddin Shaiddin lahir 6 April 1972, di Kg Tamau, Kota Belud, Sabah, Malaysia. Telah menulis ratusan puisi di berbagai surat kabar seperti Berita Minggu, Utusan Borneo dan Harian Ekspress (Malaysia), Radar Banyuwangi (Indonesia),i majalah Dewan Sastera, Dewan Budaya (Malaysia) dan Bahana (Brunei Darussalam). Karya tunggalnya antara lain, Stensil Pari-Pari (2010), Doa, Cinta dan Pohon Lilit (2014) dan Sabda Sunyi pada Musim yang Hening (2015). Ia juga penerima Hadiah Sastera Perdana Malaysia (2012), Hadiah Sastera Sabah (2008/2009, 2012/2013 dan 2015/2016).
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 12 Desember 2017 - 03:18 wib

Fadli Zon Gantikan Setya Novanto Jadi Plt Ketua DPR RI

Selasa, 12 Desember 2017 - 02:58 wib

Gugatan PT RAPP pada Kementerian LHK Mulai Disidangkan

Selasa, 12 Desember 2017 - 02:48 wib

Rihanna sudah Dilamar Orang Super Kaya Arab Saudi?

Selasa, 12 Desember 2017 - 02:17 wib

Meski Tetap Eksis, Pendapatan Iklan Radio Turun

Selasa, 12 Desember 2017 - 01:29 wib

Laga Sulit di Liga Champions

Selasa, 12 Desember 2017 - 01:16 wib

Nasib Anjing Bertukar dengan Melayangnya Nyawa Manusia

Selasa, 12 Desember 2017 - 00:59 wib

Fahri Hamzah: Hargai Pengadilan Dong...

Selasa, 12 Desember 2017 - 00:49 wib

Fahri Hamzah Dipecat dari Jabatan Wakil Ketua DPR

Follow Us