TARI

Tubuh-Tubuh yang Penuh Energi

14 Mai 2017 - 02.28 WIB > Dibaca 1341 kali | Komentar
 
Tubuh-Tubuh yang Penuh Energi
“Tubuh menyimpan estetika gerak, tubuh ada dalam keberagaman yang marak, tubuh tari, tubuh yang penuh dengan energi, tubuh penuh akan sejarah. Tubuh yang kaya tradisi, kekinian dan inovasi,” ungkap SPN Iwan Irawan Permadi menutup pidato singkatnya pada perhelatan peringatan Hari Tari Dunia atau World Dance Day, 29 April lalu di Teater Terbuka Taman Budaya Riau.

Laporan Kunni Masrohanti, Pekanbaru


KOREOGRAFER, penari, penikmat tari, dan masyarakat seni berpesta ria menyambut perayaan hari besar itu. Di Riau, pun tak ketinggalan. Mereka berkumpul dan saling berbagi satu sama lain. Tidak kurang dari 30 koreografer memperlihatkan kebolehan mereka dalam mengolah tubuh dan pemahaman para penari-nya menjadi karya-karya tari yang menarik untuk dinikmati.

Peringatan World Dance Day yang ditaja Taman Budaya Riau untuk ke-11 kalinya itu tentu saja menyita perhatian masyarakat. Apalagi perayaan tersebut dimulai sejak pukul 10.00 WIB di Bandara Sultan Syarif Kasim II hingga tengah malam. Beberapa karya dirasakan menjadi unggulan seperti karya koreografer Ery Mefri berjudul “Sengketo Kato” bersama komunitasnya Non Jombang. Begitu pula karya koreografer Iwan Irawan Permadi yang berjudul “Air Janggi” dan “Koba dan Gorak” karya Dasrikal bersama Balai Proco. Karya-karya tradisi juga ditampilkan seperti Zapin oleh Sanggar Tengkah Zapin, Saman asal Aceh, Tari Piring asal Sumbar, dan lainnya.

“Peringatakan World Dance Day tahun ini terbilang istimewa. Jumlah komunitas yang terlibat cukup banyak dan beragam dari karya tari tradisi, kreasi, hingga kontemporer. Yang lebih istimewa, tentu saja helat ini dilaksanakan langsung oleh Dinas Kebudayaan Riau, melalui UPT Taman Budaya,” ungkap Plt Kadis Kebudayaan Riau Yoserizal Zen, saat membuka perhelatan tersebut.

Dijelaskannya, sebagai negeri yang kaya budaya, terutama budaya Melayu, maka Dinas Kebudayaan yang telah berdiri tahun ini, semakin membuka ruang bagi para seniman, budayawan, dan pelaku budaya untuk berekspresi di bidangnya masing-masing. Rindu dendam hadirnya dinas ini telah terwujud dan Yoserizal Zen berharap sinergi semua pihak semakin melambungkan budaya Melayu ke depan cermin dunia.

SPN Iwan Irawan Permadi yang juga koreografer senior Riau begitu bersemangat dan memberi support kepada dunia kepenarian. Baginya, Riau tidak hanya kaya dengan karya–karya tari tradisionalnya akan tetapi juga unik, karena kaya dan uniknya tidak bisa dipaksakan menjadi seragam dalam berkarya. Karenanya, ia mengajak para koreografer tidak sibuk mencari identitas, yang mana tari Riau. Mana yang kontemporer dan mana yang tidak, mungkin juga untuk Indonesia. Kesibukan mencari identitas dan rasa kemelayuan membuat tari Riau berhenti melaju dan terlambat merespon perkembangan.

“Biarlah geliat tubuh tari di Riau hidup dan berkembang di riak sungai–sungai besar itu, tak perlu dipaksakan untuk menjadi satu,” ungkapnya.

Iwan mengilustrasikan, tubuh dalam tari tidak mampu hidup dengan tubuh itu sendiri, demikian pula dengan gerak yang cenderung hadir secara konstruktif. Rasa yang ada dalam tubuh merupakan hasil reaksi konstruktif sebagai perlakuan sadar dari koreografer untuk menyampaikan produk intelektualnya.

Dalam karya tari kreasi baru atau inovatif maupun kontemporer tubuh belum menjadi realitas yang hidup, tetapi tubuh masih mengkomunikasikan sesuatu yang dipersepsi sebagai realitas. Gerak dipahami untuk koreografer dan penikmatnya. Tubuh yang bergerak terkadang digunakan sebagai dalih mengedepankan “rasa” untuk menyatakan bahwa: koreografer atau penari sedang berekspresi. Tentu sangat berbeda dengan tubuh tari tradisonal yang mengalir dengan rasa yang bebas dan jujur, tanpa memikirkan sesuatu.

Rasa dari dalam tubuh diungkap menjadi gerak untuk bereaksi secara tertata atau spontan. Seorang penari tubuhnya harus peka terhadap pengaruh yang datang dari luar maupun dari dalam dirinya sendiri. Peka akan rangsangan irama, kepekaan terhadap lingkungan dan permasalahannya serta mempunyai kesadaran akan ruang dan waktu serta tenaga.

Sementara itu, koreografer muda Dasrikal atau akrab disapa Rikal menyebut, peringatan Hari Tari yang dilaksanakan Taman Budaya Riau menjadi ruang ekspresi para penari. Ditambah lagi, yang ikut ambil bagian tidak hanya dari Riau, juga Aceh, Sumbar, Sumut, Makasar, dan Surabaya. Helat ini juga menjadi ajang silaturahmi yang ideal sebab tak kurang dari 30 karya yang dibentang hingga larut malam.

“Minimal, kami yang muda-muda bisa melihat karya-karya para senior yang cukup ternama. Dan bisa melihat dan merasakan pula geliat dunia tari di Nusantara saat ini,” tambahnya disela-sela menonton.(fiz)

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 21:38 wib

PT Amanah Travel Berangkatkan 23 Jamaah Umrah

Selasa, 20 November 2018 - 19:30 wib

Orba Jadi Alat untuk Takut-Takuti Rakyat

Selasa, 20 November 2018 - 18:51 wib

Kemenpan RB Tak Akan Turunkan Passing Grade CPNS 2018

Selasa, 20 November 2018 - 18:25 wib

Transaksi Mencurigakan Tokoh Agama

Selasa, 20 November 2018 - 17:54 wib

Surat Suara Lebih Besar dari Koran

Selasa, 20 November 2018 - 17:38 wib

2 Hafiz Rohul Raih Juara di MHQ ASEAN

Selasa, 20 November 2018 - 17:36 wib

Najib Razak Kembali Diperiksa KPK Malaysia

Selasa, 20 November 2018 - 17:32 wib

Granadi Disita, DPP Partai Berkarya Pindah Kantor

Follow Us