SILATURAHMI NUSANTARA PANTUN DAN PUISI II

Mengaktualkan Tradisi Lisan

14 Mai 2017 - 02.33 WIB > Dibaca 2162 kali | Komentar
 
Mengaktualkan Tradisi Lisan
Untuk mengaktualkan tradisi lisan, salah satunya pantun, perlu dilakukan sosialisasi ketengah-tengah masyarakat. Apalagi, pantun yang merupakan tradisi masyarakat Melayu telah masuk dalam penilaian UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Karenanya, Dinas Kebudayaan Riau yang baru berdiri dalam tahun ini melakukannya dengan menggelar helat bertajuk Silaturahmi Nusantara Pantun dan Puisi II pada 9-10 April di Alpha Hotel.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, Yoserizal Zein mengatakan, kegiatan ini berlangsung selama dua hari diikuti 100 peserta dari berbagai daerah, provinsi maupun negara tetangga. Kegiatan ini lebih menekankan proses dan penekanan terhadap pantun dan puisi dalam acara seminar. Tema yang diusung Menghidupkan Pantun di Negeri Serumpun. Tradisi lisan pantun ini sendiri haruslah menjadi perhatian serius bersama.Ditambah lagi, Dinas Kebudayaan Provinsi Riau telah mendapatkan penghargaan 27 Warisan Budaya dari Mendikbud RI yang rata-rata warisan budaya itu, 80 persen diantaranya tradisi lisan.

“Dinas Kebudayaan bekerja secara maraton dalam menyempurnakan visi Riau yakni menjadi Riau sebagai Pusat Kebudayaan Melayu di bentangan Asia Tenggara pada 2020. Karenanya kami harus bekerja keras dalam kurun waktu tiga tahun ke depan,” ujar Yoserizal Zein.
 Asisten I Sekda Provinsi Riau, Ahmad Syah Harrofie yang membuka perhelatan itu mengatakan, karya sastra Riau lahir dari masyarakat. “Perkembangan karya budaya dalam bentuk sastra, baik itu pantun, puisi, hikayat dan karya tradisi lisan lainnya, perlu diaktualkan dalam bentuk kemasan ekspresi seni,” ungkapnya.

Budayawan Riau Al azhar yang juga dipercaya sebagai nara sumber mengatakan, pantun sudah ada sejak abad 15 masehi. Dalam ritual magis pantun juga berkembang menjadi panggung kias, baik masa lalu dan masa sekarang. Jadi, keberadaan ribuan pantun kini sudah masuk di ruang populer, seperti masuk pada joged dangkung, nandung, nyanyian panjang dan seni tradisi lainnya.

“Pantun masuk secara tertulis dan masuk pada media cetak. Jadi proses pengekpresi inilah yang perlu dipertahankan agar pantun sebagai tradisi lisan tidak hilang dan terancam," ungkap Al azhar. Selain Al Azhar, pada kesempatan tersebut, Dr Junaidi, Marhalim Zaini dan Taufik Ikram Jamil, turut menjadi pembiacara. Sedangkan Hang Kafrawi dan Kunni Masrohanti dipercaya sebagai moderator.

Salah satu peserta, asal Aceh Rosni Idham menyatakan, ajang Silahturahmi Pantun dan Puisi II 2017 ini sangat menyentuh bagi orang Aceh. Bahkan ada kegundahan orang Aceh, bahwa pantun hanya digunakan pada acara tertentu saja dan bahan pantunnya itu-itu saja. “Tidak seperti di Riau, pantun selalu digunakan dan dilafalkan begitu indah didengar dan digunakan kapan saja. Jadi acara Silahturahmi Pantun dan Puisi II 2017 ini sangat menggairahkan, apalagi acara tempat terhimpunnya pakar budaya dan menambah pengetahuan dan tempat sharing bagi kita.,” ujar Rosni.

Sastrawan Riau, Taufik Ikram Jamil dalam diskusi membentang kertas kerja  judul “Meraih Kelisanan, Mendatangi Diri” memaparkan, pantun sebagai tradisi lisan yang masih banyak digunakan oleh masyarakat dan pejabat dalam suatu kegiatan-kegiatan, baik seminar, acara adat, acara partai dan acara lainnya. “Tentunya pantun yang merupakan tradisi lisan bukan saja dikembangkan melalui secara lisan saja, tetapi pantun perlu dikembangkan dengan menggunakan kemajuan teknologi,” ulasnya.

Karya sastra lisan yang ada, memiliki kekuatan, semacam ruh. Pantun bisa menjadi besi berkarat bila tidak terus mengasahnya. Maka pada acara tersebut sangat perlu diadakan guna untuk memancing pendukung tradisi itu untuk berkreasi sebagai bahan dasar dalam mengembangkan sastra lisan yang ada.

Namun untuk karya sastra puisi, begitu bergairahnya masyarakat menyaksikan kelisanan seperti pembacaan sajak, lomba baca sajak melalui berbagai nama seperti musikalisasi puisi. Sekarang ini, kelisanan terus berjalan, manusia presikat sastrawan dan lebih khusus lagi bagi penyair, selama ini sibuk mengais keberaksaraan.(kun)


KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Follow Us