ESAI SASTRA

Nilai-Nilai Edukatif dalam Cerita Khayal Yung Dolah

4 Juni 2017 - 01.22 WIB > Dibaca 1893 kali | Komentar
 
Nilai-Nilai Edukatif dalam Cerita Khayal Yung Dolah
Oleh Riki Utomi

KITA setidaknya sepakat dengan usaha yang bertujuan kepada nilai-nilai didikan yang mana hal tersebut dapat membentuk pola tingkah laku manusia menjadi beradab. Hal itu menjadikan pribadi menusia dapat mengerti siapa dia sebenarnya; yaitu manusia seutuhnya yang dapat dididik dan jelas-jelas berbeda dengan makhluk yang lain. Dalam tulisan sederhana ini saya mencoba mendedahkan cerita-cerita jenaka Yung Dolah dalam buku berjudul Wawancara Khayal dengan Yung Dolah oleh penyusun Hang Kafrawi. Buku terbitan Yayasan Pusaka Riau ini mengemas sejumlah cerita Yung Dolah yaitu seorang tokoh celoteh (pencerita) asal Bengkalis, Riau. Kita—setidaknya—tidak asing lagi dengan nama Yung Dolah dengan ciri-ciri khas ceritanya yang khayal namun jenaka itu.

Sebelumnya telah ada beberapa ulasan mengenai Yung Dolah, antara lain tulisan Marhalim Zaini dengan judul “Jangan Lupa, Yung Dolah ‘Masih Hidup’…” di Riau Pos Ahad, dan “Stand Up Comedy: Antara Ilmu, Seni, dan Celoteh Yung Dolah,” oleh Benny Sany, esai Riau Pos Ahad. Kedua tulisan tersebut juga termaktub dalam antologi esai pilihan Riau Pos 2012 penerbit Yayasan Sagang. Bertolak dari kedua tulisan itu, penulis cukup tertarik untuk mengulas dari segi nilai didaktisnya yaitu nilai yang bersifat mendidik.

Telah diketahui bahwa cerita jenaka Yung Dolah adalah khayalan yang menyenangkan, tapi juga bertolak dari realitas yang berujuk pada pembelokan cerita kepada hal lucu seperti ditegaskan Marhalim, “cerita-cerita Yung Dolah memang diciptakan dari hasil rekayasa, imajinatif, fiktif dengan efek humor ditekankan pada sesuatu (tokoh, tema, alur) yang hiperbolik untuk menghibur, yang kemudian memang dikesankan sebagai sesuatu yang bengak (bohong)”. Akan tetapi, kebohongan yang tidak bersifat negatif (artinya tidak untuk merugikan orang lain) tetapi melainkan bertujuan untuk menghibur bagi audiennya dan audien tersebut tidak perlu merasa “disakiti” oleh cerita-cerita itu.

Secara garis besar, cerita humor Yung Dolah adalah khayalan yang menghubur. Dengan bentuk cerita lisan yang diperdengarkan. Tapi dibalik itu, menurut hemat saya, terselip nilai-nilai didaktis (bersifat mendidik). Ada nuansa yang mengajak audiens (pendengar) untuk meresapi kata-kata Yung Dolah dalam cerita-ceritanya itu agar dapat mengoreksi diri, merenung kembali, atau melihat jauh ke depan sudah sampai dimana kita dapat berbuat untuk diri kita dan orang lain atau juga bangsa ini lebih jauhnya. Maka di sini cerita Yung tidak semata-mata khayal yang menghibur tetapi juga mencerminkan daya pikir dalam bentuk didikan—secara tak langsung.

Hal tersebut dapat kita resapi dan renungi pada cerita Yung Dolah berjudul “Riau Juara Sepak Bola Eropa”. Menceritakan diri Yung yang mendengar pengumuman pertandingan sepak bola di Jerman. Kejuaraan dunia sepak bola itu membuat dada Yung dollah bergemuruh. Maka dia pun memanggil semua kawannya untuk ikut turnamen itu yang tak tanggung-tanggung kelak akan berhadapan dengan tim Perancis. Anehnya, Yung dan kawan-kawannya itu berangkat dengan menggunakan tongkang dari Bengkalis. Malam itu juga mereka sampai di Jerman pas kokok ayam jantan di waktu subuh. Tapi ada suatu hal di sini yang perlu kita telisik bahwa Yung tidak semata-mata mengucurkan kalimat humor, tetapi juga kalimat/kata-kata yang mengajak kita berpikir, merenung, dan meresapi (apakah nasib, perbuatan, gambaran; atau pula cita-cita/harapan tapi masih belum terwujudkan) lihatlah pada baris berikut:

Dimana Yung Dollah masih merasa kesulitan untuk masalah biaya keberangkatan sekaligus dana pertandingan itu (apalagi kalau dipikir-pikir ke luar negeri membawa nama Riau lagi) setelah ditanya oleh pewawancara atau audiensnya “dari mana dapat duit berangkat ke Jerman Yung? Ade dapat bantuan dari pemerintah?” Yung membalas, “Tak dapat do. Tetapi kami pecahkan celengan masing-masing dan kami kumpul. Dari hasil celeng itu terkumpul duit dua milyar. Itulah modal kami ke Jerman. Harapkan bantuan dari pemerintah… sampai busukpun bau ketiak tak akan mendapat-dapat bantuan do….” (halaman 14)

Disini kita dapat merenungi—tepatnya diajak berpikir oleh Yung dalam impian untuk mendapatkan kemudahan dari pemerintah. Meskupun bersifat khayalan tapi cerita itu sebenarnya membangun nuansa kritis terhadap sesuatu. Ada kesan dan sekaligus sindiran yang dilontarkan Yung. Bukankah hal realitas masalah tersebut kalau kita kaitkan dengan kehidupan sebenarnya? Pemerintah dalam hal ini cukup berat untuk dimintai dana. Pemerintah dalam hal ini dapat merujuk kepada bentuk pejabat (apakah kepala daerah setingkat wali kota, bupati, camat, lurah atau lebih kecil RT/RW, kepala desa yang memiliki kuasa dan wewenang) yang mereka tentu sebagai harapan masyarakat dalam pengaduan-pengaduan penderitaan rakyat/masyarakatnya. Sisi lain nilai didaktis/pendidikan untuk mengajak agar kita berhemat dengan jalan menabung. Menabung sikap yang membentuk karakter manusia untuk jauh dari sikap boros dan foya-foya. Lebih jauh meminimalisasi agar tidak jatuh dalam kemiskinan.
Selain itu nilai didaktis terdapat juga dalam kalimat, “Setelah semuanya berkumpul, Yung cakaplah pada mereka, ‘kawan-kawan kita harus bersemangat dan harus memenangkan pertandingan besok. Sebab yang kito bawak ni bukan namo kito masing-masing, tetapi namo Riau. Untuk itu, kito harus menyusun caro penyerangan yang baik.” (halaman 15-16).

Ada kesan kerja sama yang diamanahkan Yung Dolah kepada kawan-kawannya. Kesan yang menunjukkan semangat, menjalin kerja sama, dan menggali rasa percaya diri. Melewati celotehnya tentang pertandingan yang tak tanggung-tanggung itu melawan Perancis. “Yung jugo berpesan kepado semue kawan. Jangan bermain kaso (baca: kasar) macam di Bengkalis. Pungkang (tendang)  sano, pungkang sini. Kalau main macam tu, tak ado yang suko. Cumo menambah orang patah kaki, hasil tak ado…” (halaman 16).

Untaian dalam kalimat tersebut membawa pemaknaan yang kuat akan nasihat meski dalam balutan humor. Yung dengan bijak menasihati teman-temannya agar menghidar sikap yang tak wajar di tempat/kampung halaman orang lain.

Berikutnya dalam cerita Yung Dollah berjudul “Mengoyakkan Kulit Harimau”. Berkisah tentang Yung Dolah mendapatkan sepucuk surat dari Presiden Indonesia untuk ikut pertandingan berburu di Afrika. Yung juga diberi sejumlah uang yang cukup besar untuk berburu. Presiden menaruh harapan besar kepadanya  agar menang membawa nama Indonesia, karena helat tersebut adalah helat kelas dunia yang diikuti berbagai negara.
Ketika pertandingan berlangsung Yung maju dengan membuktikan bahwa orang kita tidak perlu banyak gaya, tapi menghanyutkan. Dengan santai Yung maju selangkah demi selangkah mendekati harimau. Ketika sampai harimau tersebut berada di dekat pohon kuini (sejenis mangga). Yung mulai membidikkan senapannya. Yung pun menekan pelatuk senapan dan peluru berdesing mengenai ujung ekor harimau sehingga melekat pada batang kuini. Hal itu membuat sang harimau terkejut sehingga lari lintang-pukang, lucunya harimau itu lari sampai meninggalkan semua kulitnya saking terkejut.

Dalam cerita “Mengoyakkan Kulit Harimau” Yung menceritakan tentang sikap kita untuk tidak tergopoh-gopoh tetapi selalu berhati-hati dalam melakukan aktifitas. Yung mengajak audiensnya meresapi tentang sikap didaktis dari sebuah pekerjaan yang apabila dilakukan dengan persiapan dan penuh konsentrasi (tenang) akan membuahkan hasil yang maksimal. Hal itu dapat kita telisik dari penggalan kalimat berikut.

“Selangkah demi selangkah Yung maju ke depan. Senapan angin Yung sandangkan ke punggung. Setelah sampai pada garis yang ditentukan Yung pun berhenti, harmau pun berjalan di depan Yung, Yung bio jo (baca: biar saja), ‘mengapo tak ditembak Yung?’ kato panitia. ‘tunggulah’ balas Yung.” (halaman 22).

Juga dalam kalimat: “Dengan pesawat dan sampai sajo di sano Yung langsung sampai di tanah Afrika, tetapi alangkah terkejutnya Yung, ketiko Yung tahu bahwa yang Yung cium tu ternyato bukan tanah, tetapi kepalo budak yang tergoleng di sano. Kurus-kurus dan hitam-hitam semuonyo. Hati Yung pun ibo dan Yung pun teringat duit pemberian presiden tadi, tak pikir panjang lagi Yung pun sedekahkan semuo duit Yung pado budak-budak tu,” (halaman 20).
Hal tersebut mencerminkan nilai didaktis yang tinggi. Sikap untuk peka (sadar dan Peduli) melihat keadaan yang membuat tergugah untuk saling berbagi dan memberi. Ada kesan positif yang Yung buat bahwa kita tidak boleh lokek (baca: pelit) atau tamak pada harta, dan sikap Yung mencerminkan sebagai sosok dermawan yang ikhlas membagikan hartanya (uang pemberian presiden itu) kepada anak-anak yang sengsara.

Selanjutnya cerita Yung Dollah berjudul “Bermain dengan Ratu Inggris” cerita khayal ini tak kalah lucu dengan aspek realitas yang berbelok kepada premis-premis konyol. Tapi meski begitu, Yung selaku pencerita tetap menunjukkan sikap didaktis. Masukan unsur-unsur pendidikan terasa hangat dengan nasihat-nasihat dalam pandangan Yung sendiri.

Menceritakan bahwa suatu hari setelah puas melancong ke Tumasik (Singapura)—yang konon dalam cerita Yung sebagai tempat dia menanam ubi dulu—tiba-tiba sepulang dari sana dia mendapatkan telegram dari Ratu Inggris. Ratu Inggris itu kenalannya dari kecil ketika bersama-sama main guli (kelereng). Akhirnya Yung pergi ke Inggris dengan menumpang kapal orang dari Singapura. Sampai di Pelabuhan Yung disambut pakai kompang dari USA yang dijawab oleh audiesnnya singkatan itu adalah jelas-jelas United States of America. Tapi Yung dengan sigap menjawab salah! Yang benar adalah, kata Yung dengan enteng “Ujung Sungai Alam”. Dari sanalah kompang tersebut dicatar untuk menjemputnya.

Dalam cerita khayal Yung yang penuh gelak tawa itu, Yung seakan menaruh harapan bahwa cita-cita harus tinggi. Meski hal itu tak bersifat tersurat, tapi menurut hemat saya, ada nilai-nilai didaktis dengan nuansa motivasi ala Yung Dolah sendiri untuk terus menggambarkan hal-hal itu dalam tiap ceritanya.

“Ruponyo ado pulak orang Sungai Alam di Inggris tu. Bukan main senang hati Yung. Rasonya mau ajo menari-nari di depan orang ramai. Tapi untung Yung ingat bahwa Yung harus menjaga wibawa di kampung orang.” (halaman 35).

Dalam penggalan kalimat di atas Yung berusaha bersikap untuk menjaga rasa hormatnya kepada orang lain. Meski ia sebenarnya ingin berjoget melampiaskan rasa senang karena haru dan gembira disambut dengan meriah seperti itu (pakai kompang lagi seperti di Bengkalis) padahal ia sedang berada di London, Inggris.

Menelisik lagi, masih ada nuansa didaktis petualngan Yung ke Inggris. Ketika Yung sampai di Istana Ratu Inggris dengan kekaguman yang luar biasa, Yung disuguhi minum dan makanan yang mewah laksana surga.

“Yung mencoba mengelak, tetapi orang-orang itu tetap memaksa. Karena sudah terpaksa, Yung pun hendak meminumnya. Ketika bibir gelas tu sedikit lagi menyentuh mulut Yung, tibo-tibo bini Yung datang marah-marah. ‘Awak sedap-sedap di sini! Sementara itik di Bengkalis belum diberi makan!’ teriak bini Yung dengan muke merah dan langsung menarik tangan Yung mengajak balek. Apelagi… Yung pun baleklah….” (halaman 37-38).

Penggalan di atas mengisyarakat nilai didaktis bahwa kita jangan sampai lupa diri. Hidup dalam bergelimpangan kemewahan akan membuat lupa diri kita sebenarnya kalau saja hal itu tidak kita sikapi dengan pola pikir yang baik. Meski cerita tersebut khayal, mengada-ngada, dan seenak perut Yung Dolah dalam menjungkirbalikkannya, tapi tetap dalam cerita itu kita merasa adanya tarik-menarik antara khayalan dan realitas yang mengarah kepada kita untuk mengajak berpikir dari semua itu.

Maka cerita Yung dalam hal ini tidak semata-mata sebuah cerita yang bengak (bohong) tetapi ada makna tersembunyi/tersirat sekaligus dengan pengungkapan yang secara tak langsung mengolok-olok, penyindir, mengatai-ngatai entah pemerintah kita dengan petinggi-petingginya yang tak becus, tak adil, yang korup—yang menurut pandangan mata Yung Dolah sendiri—hanya meninggalkan luka saja bagi rakyat.

Keberadaan cerita-cerita humor Yung Dolah yang diuraikan dengan lisan itu menjadikan bukan hanya sebuah hiburan, tetapi juga dapat dikatakan pemaknaan nilai kehidupan. Dapatkah cerita-cerita khayal dikatakan begitu? Jawabannya bisa saja. Sebab cerita-cerita Yung Dolah sangat syarat dengan nasihat meski dibalut ke-menyanyah-an. Meskipun begitu cerita Yung Dolah sangat kuat dengan motivasi dan ajakan kepada kebaikan meski tampak main-main sekaligus adanya kesan sindiran halus kepada sesuatu hal yang sebenarnya memiliki urgensi mendalam pada kehidupan itu sendiri.

Hal-hal positif tersebut menjadikan cerita-cerita khayal yang humoris khas Yung Dolah. Cerita-cerita Yung Dolah ini menjadi hidup bahkan sampai sekarang tetap hangat dalam pikiran masyarakat (terutama masyarakat Melayu Bengkalis). Hal ini seperti dikatakan Nurani Soyomukti (2012) posisi sastra dalam masyarakat memang dua kutub yang tak dapat dipisahkan “sastrawan dan karyanya adalah bagian dari masyarakatnya dan tidak lepas dari hubungan ekonomi, sosial, dan politik di masyarakat.” Selanjutnya, masih Soyomukti, “fungsi sastra sebagai bagian dari hubungan itu, mau tak mau, adalah sebagai penyebar nilai dan kesadaran yang akan mewarnai pertarungan ideologi dan sosial politik antara kelas-kelas sosial yang ada dalam hubungan produksi itu.”

Terakhir, di samping kaya pemaknaan nilai didikannya, cerita lisan khayal yang jenaka ini sudah seharusnya memiliki tempat yang baik di mata masyarakat agar terus mengakar dan menjadi aset penting bagi provinsi Riau. Mengingat di daerah lain seperti sepintas yang penulis ketahui di Aceh juga memiliki tokoh pencerita lisan yang kritis yaitu P.M. Toh (Agus Nur Akmal). Sosoknya sering bercerita dengan adegan ilustrasi yang menghanyutkan hati dan pikiran dengan menggambarkan realitas apakah tentang alam, politik, pendidikan, hukum, sosial dan lain-lain. Dan di bumi melayu Riau, Yung Dolah memang benar-benar “masih hidup” seperti kata Marhalim Zaini di dunia sastra kita hari ini. Terakhir, ada ucapan dari Yung yang patut untuk kita renungkan dalam-dalam.

“Miko pasti tak tau? Yung ini kan juara mengail. Itulah miko (kalian) tak banyak baca buku sejarah! Jadi orang lain yang tau kehebatan orang awak (orang kita)!”***

Selatpanjang, 2017

Riki Utomi alumnus FKIP Universitas Islam Riau Prodi. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sejumlah tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Indo Pos, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Banjarmasin Post, Serambi Indonesia, Padang Ekspres, Rakyat Sumbar dan media lain. Bekerja sebagai penulis lepas dan guru di Selatpanjang.




KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 01:22 wib

Prabowo Tunjuk Neno Warisman Jadi Wakil Ketua TKN

Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 18:45 wib

Sembunyi di Lumpur, Perampok Berhasil Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 18:30 wib

Pelabuhan Tikus Jalur Masuk Empuk Narkoba

Rabu, 19 September 2018 - 18:00 wib

TP PKK Ikut LMSI Tingkat Riau

Follow Us