Depan >> Opini >> Opini >>

Khairunnas

Puasa Arafah, Haruskah Ikut Makkah?

2 Oktober 2014 - 05.36 WIB > Dibaca 23293 kali | Komentar
 

Setelah dilakukan sidang istbat (penetapan awal bulan Dzulhijjah 1435 H) oleh Kementerian Agama pada Rabu (24/9) lalu yang menetapkan awal Zulhijjah 1435 H jatuh pada Jumat (26/9), banyak masyarakat muslim Indonesia pada umumnya dan Riau pada khususnya menjadi andilau (antara dilema dan galau). Hal ini disebabkan karena pada waktu bersamaan pemerintah Arab Saudi mengumumkan penetapan awal Zulhijjah akan jatuh pada Kamis (25/9).

Dampak dari perbedaan penetapan awal Dzulhijjah tersebut adalah akan terjadi perbedaan pada pelaksanaan puasa Arafah dan Hari Raya Idul Adha antara Indonesia dengan Arab Saudi (Makkah). Di Indonesia puasa Arafah Sabtu (4/10) dan Hari Raya Idul Adha Ahad (5/10). Sementara di Arab Saudi (Mekah) puasa Arafah akan jatuh pada Jumat (3/10) dan Hari Raya Idul Adha, Sabtu (4/10).

Mengapa Indonesia yang geografisnya lebih ke Timur daripada Arab Saudi malah harus puasa Arafah dan Idul Adha belakangan? Ada yang bertanya-tanya mengapa perbedaan waktu yang hanya empat jam antara Indonesia dan Makkah bisa menyebabkan perbedaan penetapan Idul Adha.

Ada dua aspek penyebab perbedaan tersebut yang perlu dijelaskan, yaitu pertama; aspek astronomis penetapan awal Zulhijjah. Kedua, aspek syariat yang berkaitan dengan pelaksanaan puasa Arafah dan Hari Raya Idul Adha.

Pertama, aspek astronomis penetapan awal Zulhijjah 1435 H. Tinggi hilal (anak bulan) pada saat ijtimak akhir Zulqoidah, terjadi pada Rabu (24/10) pukul 13.14 WIB, tinggi hilal di seluruh wilayah Indonesia berkisar antara -0,5 sampai +0,5 derajat. Jadi, menurut kriteria yang ditetapkan oleh negara yang tergabung dengan MABIMS (Malaysia, Brunai, Indonesia, dan Singapura) tinggi hilal yang bisa di-ru’yah atau dilihat itu pada ketinggian dua derajat. Setelah dilakukan ru’yatul hilal oleh Kementerian Agama di seluruh Indonesia, tidak ada satupun yang melihat hilal. Maka diputuskan Zulqoidah disempurnakan 30 hari, dan satu Zulhijjah jatuh pada Jumat dan bertepatan dengan 26 September 2014.

Berselang 4 jam setelah sidang istbat, Pemerintah Arab Saudi melaksanakan Ru’yatul Hilal dengan keadaan hilal sudah di atas satu derajat, dan ternyata hilal sudah dapat terlihat. Maka tanggal 1 Dzulhijjah di Makkah jatuh pada Kamis (25/10).

Kedua, aspek syari’at. Asfek kedua ini mungkin paling merisaukan masyarakat. Bila kita berpuasa Arafah menurut ketetapan pemerintah pada 4 September 2014, kita mendengar hari itu di Makkah sudah hari Raya Idul Adha.

Berdasarkan dalil Hadits Nabi SAW “Shumu lirukyatihi wa afthiru lirukyatihi” (berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal). Dapat dipahami, karena di Makkah hilal lebih dulu terlihat dan awal Zulhijjah jatuh pada 25 Oktober 2014 lebih dulu satu hari dari ketetapan di Indonesia tanggal 26 Oktober 2014, maka puasa Arafah dan Idul Adha di Indonesia otomatis lebih belakangan dilaksanakan.

Menyikapi perbedaan yang terjadi saat ini, menurut analisa penulis untuk masyarakat Indonesia tidak mesti puasa Arafah dan berhari Raya Idul Adha mengikut ke Makkah. Karena menurut Rukyat Wilayatul Hukmi hukum rukyat yang terdapat di satu negara dalam hal ini Arab Saudi tidak berlaku untuk negara lain dalam hal ini Indonesia.

Sebagai contoh; waktu salat Indonesia tidak bisa mengikut dengan waktu Makkah. Salat Subuh yang biasanya kita lakukan pada pukul 05.00 subuh akan berubah waktu pelaksanaannya menjadi pukul 09.00 pagi jika mengikut dengan Makkah. Karena pukul 09.00 pagi di Indonesia bersamaan dengan pukul 05.00 subuh di Makkah (beda waktu 4 jam). Padahal menurut ketentuan Salat Subuh dimulai dari terbit fajar hingga terbit matahari. Tentu saja ini tidak relevan.

Contoh berikutnya; puasa Arafah bila kita harus mengikut Makkah pada Jumat (3/10), maka waktu imsak di Indonesia dimulai pada pukul 09.00 pagi karena di Makkah waktu imsak baru masuk pukul 05.00 subuh. Karena pukul 09.00 pagi di Indonesia bersamaan dengan pukul 05.00 subuh di Makkah. Padahal menurut ketentuan puasa itu dilakukan mulai terbit fajar hingga terbenam matahari. Tentu ini juga tidak relevan hanya karena alasan ikut dengan ketetapan di Makkah.

Kesimpulannya, tidak serta merta masyarakat Indonesia harus ikut ketetapan Arab Saudi (Makkah) dalam pelaksanaan puasa Arafah dan Hari Raya Idul Adha. Lebih bijaksana jika kita mengikut hukum dan ketetapan negara sendiri, karena hukum dan ketetapan negara lebih mengikat terhadap rakyatnya. Kementerian Agama sebagai perpanjangan tangan dari Pemerintahan Indonesia telah menetapkan 1 Zulhijjah, puasa Arafah dan Hari Raya Idul Adha dengan kajian dan pembahasan yang mendalam dan tentunya bisa dipertanggung jawabkan. Wallahu a’lam.***


Khairunnas
Pegawai Kanwil Kemenag Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Pekan Depan, Nasib OSO Diputuskan

Sabtu, 17 November 2018 - 19:06 WIB

Tempuh 1.574 Kilometer, Terios Akhiri Ekspedisi di Wonders ke Tujuh
BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 WIB

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 WIB

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi
Follow Us