OLEH MUHAMMAD DE PUTRA

Malam Takbiran Ini, Yusuf Meninggal sebab Petasan

2 Juli 2017 - 00.08 WIB > Dibaca 2801 kali | Komentar
 
Malam Takbiran Ini, Yusuf Meninggal sebab Petasan
Aku adalah jama’ah terakhir -selain Yusuf- di musala, malam ini. Bila lebaran esok hari aku harus menjadi saksi atas peristiwa yang terjadi malam ini, aku akan menjawab semua. Entahlah, apakah pak RT, pak RW, Kades, dan serta segenap masyarakat di desaku akan percaya. Tapi jujur saja, aku benar-benar melihatnya, Yusuf yang sedang khusuk menghabiskan rakaa’at terakhirnya, dipeluk dan dibawa pergi oleh makhluk yang mengenakan kain putih untuk menutupi sekujur tubuhnya yang lebih besar dari tujuh kali lipat dari tubuh Yusuf. Aku sangat terkejut, aku pingsan. Sebab ini semua bukan mimpi. Bukan mimpi.

***

Yusuf berdiam diri saja selepas usai salat Isya di musala ini, tadi. Ia hanya termangu di barisan shaf terdepan musala, sambil menadahkan tangan. Yusuf berdoa dengan airmata bercucuran di wajahnya. Aku tak ingin menggangunya. Tapi apakah yang dipikirkan oleh sahabatku ini?

“Mengapa kau terdiam dan termenung? Mana Al-Qur’anmu?” Sebelumnya, aku sudah mendengar derap langkah kaki Yusuf mendekatiku. Tetapi aku sedang termenung, jadi terkejut atas kehadirannya yang tiba-tiba telah duduk di sampingku, bukankah tadi ia  sedang fokus berdoa? Di lantai depan musala ini, aku termenung. Aku memikirkan esok hari.  Besok lebaran pertamaku tanpa Emak. Aku mau pulang ke rumah, tapi uang tabungan tak cukup untuk naik kereta, meski hanya duduk di atapnya. Uangku pun tak cukup untuk membeli baju raya untuk Emak.

“Rindu Emak?” Yusuf menyadarkanku seraya menatapku dengan tatapan syahdu yang diberikan sebenar-benarnya seorang sahabat.

Aku tersenyum.

Lalu aku tiba-tiba terkejut sendiri. Aku spontan tergeser dari tempat dudukku sebelumnya, sekitar dua meter.

Yusuf seperti baru keluar dari surga. Wajahnya putih. Pucat. Aku mendekatinya dengan wajahku yang bingung, dan ia pun tampak bingung.

Meski listrik masih belum berpendar di setiap sudut desa perantauanku ini. Tapi bulan yang bulat dan menerangi pohon, rumah dan musala, yang tergantung terang di atas langit itu mampu membuat mataku jelas menatap sekujur tubuh Yusuf yang putih bak bulan.

“Kau pucat, sahabatku. Kau sakit?”

Yusuf menangguk. Memang, ketika memasuki sepuluh hari terakhir di bulan yang penuh berkah ini, Yusuf tampak kelelahan. Sebab ia selalu bermalam di dalam musala kayu yang telah tua ini, kebetulan kami tinggal di desa ini sebagai penjaga mesjid yang saban pukul 2 malam akan membantu membangunkan warga-warga untuk segera sahur.

Tapi selain untuk itu, biasanya kami isi dengan tadarusan dan menyempatkan diri untuk tidur sebentar. Lalu Tahajud.

Aku pernah mendengar dakwah salah satu ustad sebelum tarawih di musala ini,  mengenai Rasullulah yang bermalam di mesjid untuk berdoa di sepuluh hari terakhir pada bulan ramadan. Tapi aku kasihan melihat keadaan Yusuf. Ia memang telah tampak kelelahan sebelumnya, tapi ia masih menunjukkan tenaganya yang sebenarnya telah terkuras habis. Ia makin pucat.

***

“Kau hendak kemana?” Aku menggapai tangan Yusuf. Ah, tubuhnya sedingin es batu pada cendol yang kami minum untuk berbuka tadi. Ia layaknya es yang bisa bergerak, meski tanpa gigil.

“Aku mau pulang.”

“Kemana? Pulang?”

“Aku rindu tidur di rumah dan rindu Emak.”

“Emakmu pasti mengerti keadaanmu Yusuf,  kau sedang bekerja.”

“Aku rindu Emak, aku rindu lontong Emak. Emak pasti merindukanku. Abah dan adikku sudah meninggal dan hanya tinggal akulah yang dimiliki Emak.” Ia beranjak.

“Tunggu saja di sini! Besok pagi ibu RT pasti akan membawakan lontong sayur nangka. Emakmu pun pasti akan datang untuk salat Id bersama di musala ini.” Sia-sia aku mencegatnya. Ia yang telah berdiri dan bersiap-siap untuk pergi, menggapai gendang yang kami buat dari galon air mineral bekas, di tempat sepatu. Ia langsung saja memukulnya  dengan irama, dan Yusuf mengumandangkan takbiran. Dalam sekejap mata ia telah berada di ujung simpang.

Ternyata, beginilah caranya melepas rindu.

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Laa Ilaaha Illaallaahu Wallaahu Akbar, Allaahu Akbar Walillaahil Hamd. Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Laa Ilaaha Illaallaahu Wallaahu Akbar, Allaahu Akbar Walillaahil Hamd. Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Laa Ilaaha Illaallaahu Wallaahu Akbar, Allaahu Akbar Walillaahil Hamd.

“Tunggu aku!” Aku mengikutinya dengan seonggok obor. Ia tersenyum dengan sebuah senyuman yang tersungging di bibir pucatnya yang mulai kering dan berkeriput.

“Kau tak apa-apa, Yusuf?” Dengan suara pekik dari mulutnya yang menyerukan takbir, ia tak mendengarkanku.

“Yakin kau tak apa-apa?”

***

Sudah hampir dua puluh empat simpang kami kelilingi. Berarti telah seluruh penjuru desa kami lantunkan ayat takbir. Hanya tinggal satu daerah lagi, dan daerah itu adalah jalan terdekat menuju Musala tempat kami tinggal. Kami menyebut daerah itu, Simpang Jahek. Dari sudut simpang sampai ujung simpang lainnya dipenuhi oleh remaja-remaja nakal yang sedang mencari jatidiri.

Kadang bila aku pikirkan lagi, memang benar bahwa daerah ini cukup mengerikan, ada hawa jahat. Bahkan sinar bulan pun susah untuk ditemukan di Simpang Jahek ini.

Malam ini aku menemukan remaja-remaja yang sepertinya baru pulang dari ritual wajib bagi masyarakat saat ini, malam takbiran. Malam takbiran mereka ini bukannnya berkeliling desa, menyerukan lantunan takbir, tetapi mereka malah pacaran di bawah pohon mangga, mabuk-mabukan, berjudi dan ada yang bermain petasan.

Jujur saja, aku menyenangi petasan. Kembang-kembang api yang kini bisa memenuhi langit, dulu di zaman kecilku, benda itu hanyalah sebuah tangkai tipis dengan bunga api di ujungnya.

“Kau yakin lewat sini?” Aku mengajak Yusuf berbicara, sebab setelah memasuki simpang ini ia hanya terdiam. Apa yang tengah ia pikirkan? “Bukankah kau takut pada Petasan?”

“Kita sudah di tengah jalan ini. Mari kita lantunkan takbiran, agar cahaya bulan pun turun ke simpang ini!” Ajaknya. Dan aku tersenyum saja.

Aku merasa aneh sendiri, mencari dan mendongak ke atas langit. Dimanakah bulan?
Ada terdengar bunyi petasan yang menderu di seisi simpang ini. Tapi aku dan Yusuf tak menyadari di mana letak petasan itu berbunyi dan berasal.

“Menjauh dari sana!” Ada teriakan dari bawah salah satu pohon mangga yang rindang. Aku tak melihat jelas orang tersebut, tapi sepertinya ada beberapa remaja. Yusuf melihat mereka. Entahlah, Yusuf tadi yang semangat mengumandangkan lantunan takbiran langsung saja terdiam. Sunyi.

“Mengapa kalian? Aku sudah berusaha diam beberapa hari ini ketika kalian mengganggu salat Tarawih dan Witir kami. Lalu mengapa kalian mengusirkan kami?” Tanya Yusuf dengan menegapkan badannya dan menaiki sarungnya, ia sepertinya rada-rada berlari mengejar mereka, dan ia bertanya dengan nada yang tinggi.

“Bukan, bang. Bukan. Abang salah paham. Tapi tadi ada mercun di sana, tempat abang jalan tadi. Syukurlah palasuit, mati.” Salah satu dari mereka mengangkat bicara.

Yusuf berusaha tenang mendengar jawaban dari remaja yang kira-kira jumlahnya sekitar tujuh orang. Mereka mengenakan baju yang bagus, biasalah, anak-anak seusia mereka yang mampu membeli mercun dan petasan, adalah mereka yang memiliki orang tua kaya. Aku menatap mereka dengan tenang. Mereka tampak ketakutan.

“Sudah Yusuf! Sebentar lagi pukul dua dini hari, kita harus mempersiapkan untuk salat Id besok” Aku menarik tangan Yusuf.

Kami melangkah pergi dari sekumpulan remaja tersebut. Salah satu anak yang tadi menjelaskan kesalahpahaman tersebut, mengujarkan permintaan maaf. Aku dan Yusuf meliriknya sebentar.

Aku melihat sedikit ke arah Yusuf, wajahnya semakin pucat. Tapi dia hanya diam, layaknya orang yang tidak mengiraukan keadaannya.

“Kau sakit, Yusuf.” Aku memberhentikannya. Ia menggeleng lagi.

“Sudahlah, teman-teman jangan!” Suara remaja tanggung yang meminta maaf tadi itu berujar entah pada siapa. Aku membalikkan badan, dan Yusuf masih berjalan dengan lantunan-lantunannya. Ada yang aneh. Ah, bukan apa-apa. Aku berjalan pelan, meski Yusuf telah cukup jauh di depanku.

“Ayo teman-teman!” Anak yang berbicara sebelumnya tadi tak dihiraukan oleh teman-temannya. Aku mendengar suara salah satu remaja lagi, makin aneh. Tapi ya entahlah, biarkanlah mereka.

“Hati-hati bang! Lari!” Teriakan seorang remaja yang didiam oleh teman-temannya,
mengejutkanku. Aku berbalik arah. Dan ada dua orang remaja mengejarku, aku tak lari. Aku terdiam. Aku tak takut.

Dua remaja itu tampak mengujarkan kata-kata. Aku tak mendengar begitu jelas, meski saat ini sudah benar-benar sunyi. Aku melihat sekeliling, mencari Yusuf. Dia sudah tak berada di ujung simpang ini.

“Jangan kau ikut campur urusan kami, bang! Kami mau menyakiti teman kau yang sok berani itu. Dia takut pada petasan bukan? Kami akan menyakitinya.” Kira-kira itulah yang dikatakan oleh salah satu dari dua remaja yang mendekatiku itu. Teman-teman mereka yang lain hanya berdiri dan terbisu.

Sebelum dua remaja itu benar-benar berada di hadapanku. Sepertinya mereka menyalakan korek api. Aku tak tahu apa yang mereka lakukan. Aku ingin mendekati mereka, apalagi ketika salah satu dari mereka yang mengeluarkan sebuah benda kecil seukuran jari kelilingking ke arah korek api. Lalu sepertinya ada api kecil pula yang muncul dari benda itu. Aku tak tahu, aku bingung, mengapa benda seperti terbakar di sumbunya? lelaki remaja itu melempari benda itu ke arahku.

“Awas bang!” Ada teriakan lagi dari arah tempat anak-anak yang tak melakukan apa-apa, berkumpul.

Mataku rabun saat malam, jadi aku tak tahu tepat, di mana  tempat benda kecil itu diluncurkan.

Ah, apa itu? Aku terkejut. Ada sebuah ledakan kecil di kakiku. Tepat mengenai jari tengah. Perih. Heeeiii, aku berteriak dalam hati. Kuangkat-angkat kaki kiriku yang terkena petasan jenis mercun korek. Rasanya seperti kena bakar, ya sebab memang di bakar.

Lalu, aku tak melakukan apa-apa selain merasakan sakit pada kakiku. Tiba-tiba dua remaja itu telah berada di hadapan. Salah satu dari mereka menendangi kaki kananku. Jadi aku langsung tersungkur ke jalan aspal di Simpang Jahek ini. Remaja tersebut menendangku lagi, tepat di perutku.

Ah, aku tak sadarkan diri. Sebab perutku yang tadi belum terisi penuh oleh berbuka puasa bersama di musala, di tendang dengan kekuatan remaja yang memasuki Baliq.

“Maafkan teman-temanku, bang” seorang remaja yang sejak tadi sepertinya tampak empati pada aku dan Yusuf, ia mendekatiku.

“Kemana teman-temanmu?”

“Mereka mengejar teman abang tadi.”

Apa yang dipikirkan remaja-remaja itu?

***

Aku tak bisa bergerak. Mulai dari solat Id hingga selesai, aku hanya bisa menangis. Tersedu-sedu. Aku tak tahu harus melakukan apa. Selepas selesai bersalam-salam dan berpelukan sebab telah mencapai hari yang fitri, aku langsung ditarik oleh dua orang dewasa. Aku tak sempat melihat mereka. Mereka mengenakan baju serba putih, tapi mereka manusia, kurasa. Sebab yang saat ini di depanku ada beberapa orang lainnya. Ada apakah pak RT, pak RW, Kades, dan serta dua lelaki, mereka semua sepertinya tampak marah. Apakah padaku? Aku telah jujur menjawab semua pertanyaan dari mereka. Apa yang mereka pikirkan?

“Jujur kau, Yusuf sahabat kau itu, mati sebab apa? Kau yang membuangnya ke parit kecil di belakang musala kita ini?” Tanya pak RT.

“Kau yang yang membakar bajunya dan menghanguskan tangannya?” Tanya pak Kades yang duduk paling depan.

“Jujur kau!” Dua lelaki yang aku lupa namanya dan yang tadi membawaku ke sini, terus saja menyudutkanku. Bahkan mereka sampai menyikutku, mendorongku, menggoyang-goyangkan tubuhku. Aku hanya menangis.

“Mengapa tidak aku yang mati?” Jawabku singkat. “Pasti sebab Yusuf anak asli daerah ini makanya kalian begitu merasakan kehilangan. Jujur pak, aku melihat Yusuf dipeluk oleh Malaikat. Entahlah, siapakah Malaikat itu. Aku tak mengenalnya. Bila tak percaya, tanyalah pada adik itu!” aku menunjuk ke arah salah satu remaja yang duduk di belakang mereka. Dan para bapak-bapak itu pun membalikkan badan, mereka tampak bingung.

“Hanya kita di sini.”

“Tidak Pak, itu, Adik itu. Dia mengantarkanku ke Musala tadi malam. Adik itu baik pak.”

“Yang mana? Kau tukang tipu. Kau yang memang membunuh Yusuf. Dia anak terbaik di desa kami ini. Mengapa? Mengapa kau membunuhnya?” Salah satu dari mereka menginginkan aku angkat bicara. Tapi apa salahku? Aku bukan pelakunya.

“Yusuf belum meninggal, tanyalah pada adik itu! Itu, adik itu. Adik yang juga ada di dalam poto keluarga milik Yusuf.” Lelaki muda yang sepertinya dari tadi duduk mendengarkan percakapan mengenai kematian Yusuf itu, tersenyum. Ia pucat, senyumannya tersungging dengan bibir yang kering.

“Adik mana? Adik Yusuf sudah meninggal saat Abahnya wafat. Kau mengada-ngada.”

Aku terpukul, kalah telak. Mereka menyudutkanku. Apakah benar? Apakah yang terjadi sebenarnya?

Aku berdiri dari tempat dudukku, menghapus air mata dan keluar dari ruangan yang sebenarnya adalah kamarku sendiri, selaku penjaga musala. “Biarkan!” kata pak Kades kepada bapak-bapak yang lain.

Aku berusaha bernafas. Membiarkan udara menembus dadaku yang sangat sesak. Sudah kubilang sebelumnya, Yusuf sedang sakit. Dan ketika malam tadi remaja-remaja tanggung itu mengejar Yusuf untuk menyakitinya, mungkin saja Yusuf tak sanggup melawan mereka.
Aku melangkah ke arah belakang musholla, mendekati sebuah parit kecil. Ah, masih ada galon air mineral bekas yang Yusuf gunakan untuk melantunkan takbir tadi malam.

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Aku mengucap. Rasa sakit pada dadaku semakin terenyak ketika menyadari, bahwa aku tinggal sendiri. Kampungku sangat jauh bila di pandang dari mataku yang rabun, aku rindu Emak. Aku ingin mengadu atas yang terjadi saat ini. Aku melangkahkan kaki lagi sekitar lima meter. Aku tepat berada di Simpang Jahek. Simpang ini emang jalan terdekat menuju musala, ada jembatan kecil yang menyatukan parit kecil itu.

Aku menemukan bekas-bekas petasan. Sangat banyak.

Aku ingin pingsan. Aku tahu, bahwa esok atau lusa mungkin aku akan dipenjara, atas tuduhan membunuh seseorang di bulan Ramadhan, yang kebetulan sangat mendekati hari yang fitri. Sejujurnya, aku memang menyimpan petasan di kamarku, ada sekitar 2 petasan di sana, tapi rencanaku sebelumnya petasan itu untuk kubawa pulang kampung dan akan kuberikan pada keponakanku, sebab di kampungku belum ada petasan yang seperti itu.

Sudahlah, anak perantauan akan benar-benar salah ketika diketahui salah, meski itu hanyalah sebuah tuduhan. Aku beranjak dari Simpang Jahek. Aku ingin mengurusi barang-barangku, inginku kirim ke kampung, serta ingin kutulis surat pada Emak, bahwa aku tidak pulang tahun ini.

Sebelum aku menginjak jembatan penghubung antara musala dan Simpang Jahek, aku yang sedari tadi tertunduk, merasa ada yang  janggal. Yusuf dan Abdi -adiknya Yusuf- sedang berdiri dan membelakangiku. Sepertinya mereka memandang ke arah hulu parit kecil itu yang merupakan sawah milik ayah mereka. Ada emak mereka di sana sekarang, sedang memakan lontong sayur nangka, sendirian. Aku mendekati mereka dan mereka tersenyum. Yusuf mengenakan baju yang sama dengan Abdi. Mereka mengenakan baju yang sama dengan Malaikat yang menjemput Yusuf. Mereka tersenyum sangat lebar padaku, dan aku pun tersenyum tanpa tangis. Aku tak ingin menangis di hadapan sahabatku.

Lalu Yusuf memelukku dan Abdi menyalami tanganku. Mereka pergi ke arah seorang lelaki berbaju putih. Lelaki itu malaikat yang menjemput Yusuf, seingatku. Mereka saling berpegangan tangan. Pergi dan hilang.

Apa yang dipikirkan oleh pak RT, pak RW, Kades, dan serta segenap masyarakat bila aku katakan bahwa Yusuf bukan dijemput oleh malaikat biasa, tetapi malaikat kesayangannya, ayahnya sendiri. Apakah yang akan mereka pikirkan?***

Muhammad de Putra. Pelajar, dan giat menulis di Community Pena Terbang. Buku kumpulan cerpennya Timang Gadis Perindu Ayah dan Penanya Bulan.


KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 12 Desember 2017 - 03:18 wib

Fadli Zon Gantikan Setya Novanto Jadi Plt Ketua DPR RI

Selasa, 12 Desember 2017 - 02:58 wib

Gugatan PT RAPP pada Kementerian LHK Mulai Disidangkan

Selasa, 12 Desember 2017 - 02:48 wib

Rihanna sudah Dilamar Orang Super Kaya Arab Saudi?

Selasa, 12 Desember 2017 - 02:17 wib

Meski Tetap Eksis, Pendapatan Iklan Radio Turun

Selasa, 12 Desember 2017 - 01:29 wib

Laga Sulit di Liga Champions

Selasa, 12 Desember 2017 - 01:16 wib

Nasib Anjing Bertukar dengan Melayangnya Nyawa Manusia

Selasa, 12 Desember 2017 - 00:59 wib

Fahri Hamzah: Hargai Pengadilan Dong...

Selasa, 12 Desember 2017 - 00:49 wib

Fahri Hamzah Dipecat dari Jabatan Wakil Ketua DPR

Follow Us