CERPEN SULONG ADZAM SHUHUF

Hikayat Hutan Api

5 Agustus 2017 - 23.58 WIB > Dibaca 2320 kali | Komentar
 
Hikayat Hutan Api
Alina pikir dia tidak akan pernah lagi bertemu dengan Syahreza. Dua belas tahun rentang waktu yang memisahkan mereka bukanlah masa yang singkat. Sebuah pertemuan yang tak diduga. Dalam penantian panjang di bandara SSQ II yang berselimut kabut asap. Alina akan pergi, dan Syahreza akan pulang.

Mereka bertemu di coffee shop lantai dua. Dua kali delay membuat Alina hilang semangat. Ia pun melangkah gontai sebagaimana ratusan penumpang lainnya; dan tiba-tiba saja matanya menangkap wajah lelaki itu, di sebuah sudut berjendela lebar. Tergagap sejenak, 13 detik Alina seperti koma, tak tahu apa yang harus dilakukannya; bahkan rasanya ia tak mampu memikirkan apa-apa. Reaksi primitifnya kemudian ia ingin berlagak seolah tidak tahu apa-apa dan ingin segera memutar badan keluar dari ruangan itu, menghindarkan diri dari kemungkinan yang tak pernah dibayangkannya. Tapi dia terlambat. Mata lelaki itu sudah menangkap tubuhnya.

Syahreza berdiri. Seperti menyentak tiba-tiba. Seperti paus biru yang muncul dari kedalaman laut yang dingin membeku, melambungkan tubuhnya yang begitu tambun melompati permukaan air. Sembari menyemburkan ribuan galon air yang terpancar dari lubang pernafasannya. Dan dingin memerciki wajah Alina.

Alina mungkin sempat pasi. Dan ia masih bergeming. Tetapi kali ini bukan karena koma, tetapi lebih karena sedang mempertimbangkan kemungkinan dari ribuan alternatif. Seperti juga lelaki itu, yang tampak berdiri gagu, seperti snapshot paus biru yang menggantung saat melambung. Namun, 33 detik kemudian mereka sudah duduk bersama di meja di pojok berjendela besar itu. Alina tidak ingat siapa yang memulainya. Ia hanya menyalahkan orang-orang yang berdesakan begitu luar biasa dalam kebingungan kekesalan dan keputusasaan sehingga tanpa disadari telah menyeretnya ke pojok itu; atau mungkin lelaki itu yang telah menyeretnya ke pojok itu. Entahlah.

Sekarang lelaki itu sudah membiarkan jenggotnya tumbuh bebas. Hanya kumisnya yang dicukur bersih. Dulu, seluruh wajahnya selalu tercukur bersih, dan itu membuatnya terlihat begitu cute. Alina suka memanggilnya My Baby. Tetapi itu hanya bertahan tiga tahun. Lalu menghilang dua belas tahun, dan sekarang mereka bertemu kembali. Apakah ini adalah kesempatan baginya untuk melampiaskan kemarahannya, lagi?

Sampai capuccino latte datang untuk Alina, percakapan mereka baru sebatas “Hai”; tanpa berjabatan tangan. Tebalnya kabut asap di luar, seolah ikut menghadirkan tabir pekat di antara mereka berdua. Meremukkan bunga-bunga, melemaskan hamparan rerumputan, dan bahkan membuat kota menjadi setting yang ideal untuk take adegan zombie-zombie yang sedang keluyuran. Seperti mereka berdua; zombie dari masa lalu mereka.

Syahreza sekarang mengenakan selempang, semacam kain yang biasa digunakan Yasser Arafat. Dulu selagi mereka bermarkas di kampus di Ibukota dan hobi demo sana demo sini, busana wajib lelaki itu adalah celana denim dengan kemeja dan jaket almamater. Alina terpesona pada lelaki beraroma Timur Tengah ini karena wajahnya yang imut dan selera humornya yang elegan di tengah kesehariannya yang sebenarnya kalem. Dan juga karena terlihat ia begitu pemberani. Jantan. Seperti kalem dan ganasnya Sungai Jantan yang membelah dua kota tempat kelahiran mereka.

Menjelang penghujung milenium itu, Alina membawa proposal demo.

“Reza, lo tau kan Sumatera lagi dikungkung kabut asap kebakaran hutan? Malahan sudah sampai ke Singapura dan Malaysia. Kota kita pun sudah tenggelam dalam halimun yang menyesakkan. Tapi nyaris nggak ada yang dilakukan oleh pemerintah kita. Gimana kalo kita bikin demo ke istana, My Baby?”

Tentu saja Reza tahu; dia toh juga berasal dari sana. Proposal itu pun akhirnya berhasil menelorkan tiga kegiatan dari mahasiswa kampus mereka dan beberapa jaringannya: demo besar di depan istana, memungut sumbangan di jalan-jalan raya, dan menurunkan puluhan sukarelawan ke beberapa kota di Sumatera. Demo berlangsung dua hari. Yang pertama berlangsung damai, yang kedua dengan jumlah peserta berlipat-lipat berakhir ricuh dan bubar dengan ayunan pentungan dan kejar-kejaran antara pasukan pengamanan dan demonstran. Itu biasanya adegan yang menyenangkan, tetapi kadang-kadang juga mengerikan. Seperti kali itu. Alina sempat melihat Syahreza melakukan perlawanan secara fisik, menjungkalkan dua polisi, dan itu entah kenapa membuatnya makin cinta. Alina sendiri sempat berdarah lututnya dalam kerusuhan itu.

Akibat kejadian itu, Syahreza dan beberapa temannya yang dicap sebagai provokator dalam demonstrasi yang dianggap anarkis itu sempat ditahan seminggu. Tetapi mereka tak peduli. Seminggu berikutnya mereka sudah berjalan lewat darat menuju Sumatera, bergumul dalam kabut, membawa beberapa perlengkapan untuk pencegahan dan pengobatan. Ketika itu Alina hanya menyeru sambil menggelendot lembut, “My Baby ....”

“Tak ada yang lebih bajingan daripada mereka-mereka itu, bahkan tidak para koruptor!” kata Syahreza ketika itu, “Karena para koruptor hanyalah membunuh potensi ekonomi kita; sedangkan para bajingan asap ini, di samping mereka adalah koruptor, mereka juga meracun tubuh jutaan generasi masa kini dan masa depan, bahkan membunuh dengan perlahan-lahan! Mereka sesungguhnya tergolong genocide terrorist!”

Alina pun terkagum-kagum. Dia sempat membayangkan Che. Tiga tahun kebersamaan mereka lebih sering parkir di kos-kosnya. Malam-malam kelam selesai demonstrasi adalah malam-malam yang paling menggairahkan. Dalam pergulatan, mereka merasa seperti sepasang martir yang dipuja-puja alam semesta. Hamparan jutaan bunga, percikan dari ribuan botol parfum, dan sorak-sorai dan lambaian penuh kebanggaan, mengiringi lenguhan dan khayalan mereka.

“Aku ingin menjadi ksatria!” teriak Syahreza suatu ketika.

Tetapi, tak lama selesai wisudanya, Syahreza tampak mulai berubah. Alina mulanya tak begitu mengerti, apa yang telah terjadi. Malam-malam yang menggairahkan kian lama kian berkurang, hingga kemudian hilang sama sekali. Cara lelaki itu berbicara pun kian tak mampu dipahami olehnya lagi. Firman, hadits, kafir, laknat, bid’ah, dan dosa adalah kata-kata yang sering berkelindan di dalam rangkaian kalimatnya. Sampai suatu kali ia berkata ia ingin berangkat ke Afghanistan!

“Apa?” jerit Alina.

“Ya.”

“Kenapa?”

Tetapi jawabannya sungguh-sungguh sulit Alina mengerti. Alina bahkan tak paham bahasa yang dikatakannya, tetapi Reza sepertinya mengatakan sesuatu tentang belajar dan jihad. Suatu waktu kelak, kau mungkin akan mengerti; katanya.

“Kau juga harus belajar, Alina.” Itu mungkin kata-kata terakhirnya.

“Kau tidak mencintaiku lagi?”

Pertanyaan itu melayang bersama ba­yang-bayangnya yang memanjang. Alina tak pernah dapat bertemu dengannya lagi. Seminggu kemudian seorang sahabatnya mengatakan bahwa Reza telah menghilang sejak kemaren.

Air mata pun melimpah ketika itu, masa lagu-lagu cengeng tentang cinta yang abadi dalam kebutaannya terasa begitu mengesankan dalam meremuk-remuk perasaan. Tetapi beberapa bulan kemudian Alina tersadar bahwa ada kuliah yang harus segera diselesaikan, dan tanah abah yang jadi pertaruhan.

Tahun-tahun berlalu seperti kehidupan yang normal. Nama Syahreza telah berhasil dibenamnya ke dalam amygdala yang berlumpur. Pulang ke kotanya. Beroleh pekerjaan. Kawin. Cerai beberapa tahun kemudian. Sementara sayap-sayap kabut asap di kota itu senantiasa bersimaharajalela saban tahun, seperti negeri ini merawat jutaan hektar kebun api, seperti ababil dari neraka, dengan kadar yang kian mengesankan. Tetapi masa berdemo sudah lewat, Alina sekarang hanya bisa menontonnya lewat televisi. Darah kentalnya sudah berlalu bersama waktu.

“Apa kabarmu sekarang?” Itulah kata-kata pertama Reza setelah sekian lama. Pertanyaan yang sebetulnya tak diinginkan Alina.

“Baik. Aku baik.”

“Aku mohon maaf terakhir kita bertemu dengan cara yang tidak begitu baik.”

“Aku juga minta maaf. Kita masih kanak-kanak ketika itu.”

Reza tersenyum mendengar sin­diran itu. Tetapi setelah itu tidak berkata apa-apa lagi. Alina menangkap kecanggungan yang pekat di antara mereka.

“Kau sudah menemukan apa yang kaucari?”

Pertanyaan yang menggantung sela­ma belasan tahun itu tak berjawab. Reza hanya mengucapkan “Alhamdulillah”. Cappucino latte tak pernah tersentuh. Kabut asap kian membunuh. Mereka pun berpisah tanpa bersalaman.

Pengumuman untuk keberangkatan pe­sawat Alina berdengung. Sekarang dia akan ke Jakarta, menyusul mantan suaminya. Mereka sudah sepakat untuk saling kembali, mencoba merawat kembali hutan di dalam diri.

Payungsekaki, 310117

Sulong A’dzam Shuhuf adalah nama pena. Menulis cerpen, novel, esai, dll yang – dengan menggunakan nama asli atau namapena lainnya – antara lain pernah dipublikasikan di Horison, Jurnal Cerpen Indonesia, Kiblat, Riau Pos, dan Batam Pos. Pernah meraih beberapa penghargaan dalam sejumlah sa­yembara penulisan cerpen dan novel. Buku yang sudah diterbitkan antara lain Risalah Jebat.



KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 12 Desember 2017 - 03:18 wib

Fadli Zon Gantikan Setya Novanto Jadi Plt Ketua DPR RI

Selasa, 12 Desember 2017 - 02:58 wib

Gugatan PT RAPP pada Kementerian LHK Mulai Disidangkan

Selasa, 12 Desember 2017 - 02:48 wib

Rihanna sudah Dilamar Orang Super Kaya Arab Saudi?

Selasa, 12 Desember 2017 - 02:17 wib

Meski Tetap Eksis, Pendapatan Iklan Radio Turun

Selasa, 12 Desember 2017 - 01:29 wib

Laga Sulit di Liga Champions

Selasa, 12 Desember 2017 - 01:16 wib

Nasib Anjing Bertukar dengan Melayangnya Nyawa Manusia

Selasa, 12 Desember 2017 - 00:59 wib

Fahri Hamzah: Hargai Pengadilan Dong...

Selasa, 12 Desember 2017 - 00:49 wib

Fahri Hamzah Dipecat dari Jabatan Wakil Ketua DPR

Follow Us