Ziarah Budaya ke Champa

Champa, Tanah Awal Bangsa Melayu

16 Oktober 2017 - 11.04 WIB > Dibaca 591 kali | Komentar
 
Champa, Tanah Awal Bangsa Melayu
Beberapa waktu, lima penyair Riau bersama beberapa penyair asal Jakarta dan Singapura, menggelar muhibah Ziarah Budaya. Mereka yang merupakan kafilah penyair Tanah Merah Nusantara, menyusuri jejak-jejak sejarah Melayu Champa. Penyair yang juga wartawan senior di Riau, Mosthamir Thalib, mengirimkan tulisannya ke redaksi Riau Pos.

Bagaikan rumput-rumput di celah-celah batu. Hendakkan tumbuh berkembang tak mampu. Menguning kering sepanjang waktu. Beginilah nasib pribumi yang tersisa di buminya, Champa. Padahal di sini dulu - abad ke-6, berdiri tegak megah Kemaharajaan Melayu pertama, Melayu Champa – yang selalu berdepan-depan dengan kebesaran Kekhaisaran China. Berakhir lumat, nyaris tak bersisa.

ITULAH secoles kesan tertangkap dari muhibah Ziarah Budaya kafilah penyair Tanah Merah Nusantara ke Tanah Champa, Selatan Vietnam. Kali ini kafilah yang dimotori Bunda Anie Din, budayawati dari Singapura, bukan bertandang untuk membacakan karya seni atau mendeklamasikan puisi. Tidak ada perform sama sekali. Ini khusus misi meng-cas nurani lewat petualangan batin dan pencerahan minda, dengan menjenguk-meninjau saudara sesama rumpun Melayu yang tersisa di tanah awal Bangsa Melayu Nusantara Raya.

Dari Indonesia, dalam kafilah Tanah Merah Menziarah bumi Champa ini, selain Bunda Freeharti yang didampingi Yulnawiar Irsal Muchtar dari Jakarta, diikuti penyair Riau Husnu Abadi, Fakhrunnas MA Jabbar, Mosthamir Thalib, Tien Marni, dan Saidul Tombang. Kafilah menjejaki tapak-tapak kebesaran Kerajaan Champa masa lalu. Mulai dari Pandurangga  – jejak Melayu semasa Champa masih menganut Hindu-Budha, dengan kemegahan Candi Pandurangganya, yang juga tempat awal bercahayanya Islam di sini, sampai menelisik ke celah-celah negeri sekitar sungai susu – Sungai Mekong, di Chau Doc, tempat-tempat komunitas fmuslim Melayu Champa yang paling banyak tersisa.

Tanah awal bangsa Melayu. Begitu mereka menyebutnya. Tersebab, ada dari keturunan raja mereka menjadi raja atau para pembesar pula di kerajaan-kerajaan lainnya di nusantara raya.  Lalu, setelah kerajaan ini runtuh direbut Dai Viet dari Vietnam yang datang dari Selatan China, para bangsawan dan rakyat banyak pula meninggalkan negeri asalnya menyebar ke seluruh nusantara. Suku-suku di Minangkabau, menurut orang Champa, seperti Jambak, berasal dari negeri mereka. Begitu pula di Aceh, ada keturunan-keturunan yang berasal dari Champa. Keturunan Nik, Wan, dan Encik yang banyak di Malaysia, Riau dan Kepulauan Riau, juga dari Champa. Mereka ini dari keluarga kalangan pembesar lingkungan dalam kerajaan.



Sempit tapi Tak Kumuh


Tiba di Ho Chi Minh. Keluar dari Tan Son Nhat International Airport, Kafilah Ziarah Budaya Tanah Champa langsung disambut riuhnya kendaraan berlalu-lalang yang didominasi sepeda motor. Laju-laju. Tetapi tidak terkesan sesemrawut sebagaimana banyak dijumpai di kota-kota di tanah air. Sepertinya bandar udara ini dekat sekali dengan pusat kota.

Jalan-jalan di dalam kota cukup sempit. Diapit bangunan rumah toko yang tinggi-tinggi. Orang-orang banyak pula berjualan makanan di kiri kanan dengan menggelar meja dan kursi seadaanya. Tetapi semua sudutnya tetap tampak tidak kumuh sebagaimana selalu dijumpai di Jakarta. Hanya anjing banyak berkeliaran. Di dekat meja orang muslim yang berjualan pun ada anjing yang mendekat.

Perjalanan ke perkampungan Melayu Champa di Phan Rang, di utara Ho Chi Minh diumulai pukul 11.00, malam hari. Berbeda dengan jalan di dalam kota yang sempit, jalan lintas antarkota negaranya sangat besar. Trans Asia Highway. Memanjang dari ujung Selatan Vietnam yang bersambung ke negara ke Kamboja sampai ke Utara negara itu yang bersambung pula ke daratan China. “Ini kalau dilalui terus-menerus sampai lima hari lima malam perjalanan,” kata Mansour, penyair Vietnam asal Champa.

Beberapa kawasan di Utara Saigon itu tampak ladang-ladang menyala. Dialiri listrik dan diberi cahaya lampu yang terang berang-benderang. Itu rupanya kebun buah naga. Tiap batang diberi bola lampu. Untuk apa? Fakhrunnas, bertanya.  “Untuk tipu pohon naga agar berbuah terus sepanjang tahun. Kalau tidak diberi lampu hanya berbuah pada musim normalnya, setahun sekali,” jawab Mansour.



Islam Bani Champa

Pagi, pukul tujuh tiba di Palei Ram (Van Lam), perkampungan Melayu Champa di wilayah Pandurangga yang sekarang dikenal dengan Phan Rang. Tampak kehidupan masyarakatnya masih tradisional. Petani-petani menunggang gerobak bajakan bertenaga sapi. Rumah-rumah orang kampung tidak tersusun tertib. Jalan-jalan di perumahan pun lebih sempit-sempit. Berupa lorong-lorong atau gang-gang kelinci.

Di sini nyaris semuanya penduduknya Melayu Champa. Cuma agamanya yang berbeda-beda. Selain Islam ada juga Budha dan Hindu. Malah Islam pun terbagi. Ada Islam Suni dan ada pula Islam Bani. Islam Suni memiliki sebuah masjid dan lengkap dengan madrasahnya. Imam-imam yang meneruskan syi`ar Islam di sekitar sini dididik di madrasah ini.

Islam Bani juga punya masjid sendiri. Mereka juga punya Quran sendiri dan Tafsir Quran sendiri. Punya masjid sendiri. Puasa bagi mereka berlaku hanya untuk imamnya. Jemaahnya tidak puasa. Hanya membuat penganan juadah sebanyak-banyaknya untuk diantarkan kepada sang imamnya di masjid. Puasa ini pun dijalankan cuma tiga hari oleh sang imam. Pada satu sampai tiga Ramadan. Tetapi hebatnya pula, mereka bisa tidak menyentuh istri-istri mereka selama Ramadan.

Di sini, menurut Husaini – imam Suni dan pengelola madrasah, hampir sepanjang tahun terjadi perkawinan antara Islam Suni dengan warga Islam Bani. Bila menikah, baik perempuan maupun lelaki langsung pindah keyakinan mengikuti Islam Suni. Jadi ada kemungkinan Islam Bani ini semakin lama semakin terkikis juga.

Selain Islam Suni dan Islam Bani di kawasan Phan Rang, orang Champa Hindu juga cukup berperan. Seperti usaha pembuatan tembikar yang berusia 2000 tahun, itu dilestarikan kaum Cam Hindu. Juga tenun tradisional orang Melayu Champa di Phan Rang.



Pandurangga

Pandurangga sekarang dikenal dengan Phan Rang, terletak di Provinsi Ninh Thuan. Di daerah ini masih terdapat peninggalan masa lalu. Zaman kerajaan Islam Melayu Champa dulu. Mulai dari zaman Hindu-Budha sampai masa zaman kerajaan Melayu Islam. Beberapa peninggalan Budha masih kokoh berdiri, seperti candi di komplek candi Po Klong Garai. Sedangkan peninggalan Islam di sini nyaris tidak ada lagi.

Candi Po Klong Gerai ini kokoh karena terbuat menggunakan bata khusus. Menggunakan teknologi yang sudah terbilang tinggi pada zamannya. Bata merah tersusun halus rapi. Menggunakan teknologi perekat khusus, yang konon teknologinya sampai saat ini belum ditemui. Sehingga kalau ada perbaikan yang dilakukan masa sekarang tampak berbekas karena bahan yang digunakan serupa semen tidak sebati dengan bahan dasar. Teknologi hebat ini juga digunakan pada bangunan Candi Muara Takus di Riau atau Songkhla di Pattani, Selatan Thailand.

Peninggalan Kerajaan Islam, utama sekali istana dan masjid, cepat hancur karena sebagian besar bangunan menggunakan bahan kayu. Kehancuran terjadi selain habis dimusnahkan akibat perang dan dimakan masa, juga disebabkan orang-orang Champa belum mengerti merawat peninggalan bersejarah. Malah ada beberapa masjid bangunan lama dengan arsitektur asli khas Champa dirobohkan begitu saja karena di tempat yang sama dibangun masjid baru dari beton, bantuan dari negara Arab. Kasus ini antaranya terjadi pada masjid Al Nia’Mah di Chau Pong, Provinsi An Giang.

Candi Po Klong Gerai di Pandurangga ini merupakan ikon Provinsi Ninh Thuan, malah ikon untuk Vietnam. Dibangun di atas bukit paling tinggi. Bila orang berdiri atas bukit - di samping candi ini, tampak seluruh sudut  kota. Lokasi ini selalu dikunjungi. Pada hari libur ramai sekali. Pemerintah menyediakan tenda di bawah pada tanah datar dan menyiapkan kantor pelayanan pelancongan. Warga pun banyak menggelar berbagai ragam souvenir khas daerah ini. Tertib dan teratur.

Di lereng bukit, sekitar 20 sampai 30 meter dari candi yang berada di puncak bukit terdapat sebuah batu besar. Sebagian orang Muslim Champa meyakini ini batu nisan Sultan Maulana Sharif Abdullah Mahmud Umdatuddin alias Wan Bo Tri (1471-1478). Sultan yang sangat melegenda. Anak cucu keturunannya banyak menjadi pembesar kerajaan dan ulama besar di berbagai kawasan di nusantara raya. Salah satunya Syarif Hidayatullah yang kemudian menjadi Sunan Gunung Jati di Pulau Jawa.



Melayu yang Terapit

Kerajaan Champa didirikan oleh orang Cham sendiri, yang tidak punya hubungan etnis atau ras sama sekali dengan Kerajaan Annam di utaranya dan Kerajaan Kamboja di Selatannya. Berdiri tahun 192 M dengan nama awal Lin-Yin. Sepanjang sejarahnya pula Kerajaan Melayu Champa selalu berperang dengan kedua kerajaan dari rasa mongolide tersebut. Sekali-sekali berdepan-depan pula dengan kekhaisaran China walaupun nyaris sepanjang sejarahnya selalu di bawah bayang-bayang kekhaisaran China. Tetapi yang paling sering mereka berhadapan dengan Bangsa Annam, yang merupakan tetangga terdekat. Ada kalanya menang berperang. Ada pula masanya kalah.

Upaya menaklukkan Champa ini bukan saja lewat perang. Ada juga dengan tipu muslihat. Tran Anh Ton, Raja Annam, pernah seraya berpura-pura mengunjungi tempat-tempat suci di Champa alih-alih dia menawarkan dan menjanjikan menyerahkan seorang putrinya untuk dijadikan istri oleh Raja Champa Jaya Simhawarman III. Hebatnya kemudian, setelah siasatnya berhasil, dua provinsi di Champa dipaksakannya harus diserahkan kepada Kerajaan Annam. Seperti tukar guling dengan kampung. Seorang betina ditukar dengan dua buah negeri besar. Ketika raja Champa berikutnya ingin merebut kembali dua provinsi tersebut, malah mereka digempur habis-habisan.

Kehancuran paling membinasakan bagi Kerajaan Champa terjadi 1471. Dinasti Le di Annam menyerang Champa - yang masa itu berpusat di Vijaya, sampai lumat. 60 ribu pasukan Champa terbunuh.  Termasuk raja dan keluarganya. 60 ribu lainnya diculik dan dijadikan budak-budak oleh Bangsa Annam.



Bertukar Corak ke Islam

Tamat Vijaya, sisa pembesar memindahkan Kerajaan Champa semakin ke Selatan. Inilah yang kemudian dikenal dengan Pandurangga. Wan Bo atau Bo Tri Tri atau Sultan Maulana Sharif Abdullah Mahmud Umdatuddi diangkat sebagai raja untuk seluruh Champa. Semasa dinastinya inilah selama tiga abad perkembangan Islam begitu pesat di Champa seiring dengan bangkitnya kembali kerajaan Champa baru. Boleh dikatakan semua bertukar corak. Corak agama dari Hindu-Budha pindah ke Islam. Dari sisi budaya, dari corak China bergeser pada India, Arab dan tentu Kepulauan Melayu nusantara yang memang lebih bersebati dengan mereka. Bahasa etnik Melayu Champa sendiri satu kelompok dengan Bahasa Aceh, yang disebut bahasa Aceh-Chamik, cabang rumpun Melayu-Polinesia Barat.

Sultan Maulana Sharif Abdullah Mahmud Umdatuddi sendiri putra dari Sayyid Ali Nurul Alam, anak Sayyid Hussin Jumadil Kubro yang menjabat sebagai patih atau adipati II atau juga Perdana Menteri II Majapahit di Kerajaan Cermin Kelantan. Ketika Cermin yang merupakan Kerajaan Otonom di bawah Majapahit itu diserang Siam tahun 1467, Sayyid Ali Nurul Alam beserta keluarganya pindah ke Champa. Mereka juga keturunan Champa dan berhak atas tahta di Kerajaan Champa.

Keturunan Sultan Abu Abdullah hanya dapat memerintah Champa selama empat generasi atau tiga abad. Setelah Sultan Abu Abdullah (Wan Bo)-(1471-1578), naik tahta anaknya  Sultan Nik Mustafa (Po Rome)-(1578-1637), lalu cucunya, Sultan Nik Ibrahim (Po Nrop)-(1637-1684). Terakhir cicitnya, Sultan Wan Daim (Ba Tranh)-(1684-1692).

Sayyid Hussein Jumadil Kubro ini merupakan seorang waliyullah yang banyak melahirkan tokoh-tokoh terkenal di Alam Melayu Nusantara Raya. Baik sebagai penguasa kerajaan maupun sebagai ulama besar. Putri Champa, Permaisuri Majapahit yang berperan besar mengembangkan Islam di Tanah Jawa juga dari keturunan ini. Begitu pula Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah. Seorang lagi keturunannya yang terkenal, Sultan Babullah. Sultan Ternate yang pernah memerangi Portugis di Maluku.

Riwayat Kerajaan Melayu Champa tamat tahun 1684. Perang terakhit melawan Vietnam mereka kalah total. Sultan Nik Ibrahim beserta keluarganya dan sebanyak 10 ribu rakyatnya menjadi pelarian. Paling banyak lari ke Kamboja. Yang lainnya lari ke bebagai penjuru nusantara raya lainnya. Di antaranya Kelantan, yang di sini kemudian menetap di kampung Brek. Sedangkan yang masih ingin tinggal di Tanah Champa pindah dan bertahan di kampung rawa Moat Chrut. Sekarang dikenal dengan Chau Doc, tepi Sungai Mekong, ujung Selatan Vietnam.



Chau Doc, Rawa Berpaya

Chau Doc, kawasannya agak lembah. Seperti berpaya-paya dan berawa-rawa. Karena kondisi inilah agaknya dulu menjadi pilihan tempat pelarian paling dekat. Masih di dalam kawasan Champa juga. Di sini, Kafilan Ziarah Budaya menapak tilas kembali di Bumi Sejati Champa. Ingin merasakan, suasana pascakemegahan Kemaharajaan Melayu Champa dulu. Suasana horornya menjadi pelarian perang dan pembantaian dulu. Tunggang-langgang. Lintang-pukang. Berdarah-darah. Bergelimpangan.

Habis perang zaman kerajaan itu sukar pula meneruskan kehidupan. Sebab, tak usahkan sosok, bayang-bayang sisa Cham Muslim pun tidak boleh muncul. Akan habis disapu Bangsa Annam yang sudah menguasai seluruh Bumi Champa. Maka tidak heran, kemudian banyak catatan menyebutkan Champa sudah punah. Tidak berbekas lagi di tanah pusakanya.

Melayu Champa, juga keturunan mereka di nusantara raya, adalah Rohinghya masa lalu. Tetapi, celakanya sebagian besar ras sawo matang yang berserakan hari ini pelupa sejati. Tak hirau asal-muasal dan sejarah raib-berdarahnya masa lalu. Siapa dan bangsa apa predator abadi mereka sepanjang masa.

Tragedi manusia Champa datang berkali-kali. Dikira sudah habislah siksaan dengan habisnya riwayat Kerajaan Champa. Belum. Malah setelah merdeka dari Perancis, Muslim Champa yang sudah superminoritas dan terasimilasi sebagai warga dalam Republik Vietnam (Selatan) menjadi mangsa paling disasar oleh rezim dan Tentara Utara ketika terjadi invasi terhadap Vietnam Selatan. Lalu, hidup di Zaman Annam yang sudah merebut seluruhnya, lagi-lagi bayang-bayang Cham Muslim tidak boleh muncul. Pedih sekali.



Pondok Tahfiz Quran

Konon, sejak masuk tahun 2000-an suasana agak lumayan. Seiring Vietnam membuka diri terhadap dunia luar serta mengundang investasi masuk ke dalam, kehidupan Muslim Champa agak lebih lumayan. Di antaranya banyak masjid lama yang direhab yang biayanya dibantu negara-negara Islam, seperti Uni Emirat Arab. Ini sebuah keistimewaan juga. Sebab konon bangun masjid baru tidak dibolehkan pemerintahan Hanoi.

Bangunan Islami yang cukup molek di Chau Doc adalah komplek Masjid Jami’ul Azhar. Selain tertata dengan arsitektur lumayan bagus, tinggi dan cukup besar, pekarangannya pun cukup luas. Ada tamannya. Ada pula asramanya, walaupun sederhana. Di sini bukan sekadar masjid. Ada juga Pesantren Pondok Tahfiz Al Quran. Namanya “pondok” tetapi yang sebenarnya santri yang lebih seratus orang itu belum punya pondok – gedung sekolah dan asrama - sendiri sama sekali. Selama ini mereka belajar menumpang di ruang masjid yang besar. Asramanya juga menumpang asrama milik masjid.

Ketika tiba di sini dengan menaiki xe loi, beca beroda empat, Kafilah Muhibah Ziarah Budaya disambut para pengurus pondok yang berpakaian jubah putih-putih dengan wajah-wajah yang bersih. Di dalam masjid sudah duduk tertib santri-santri yang rata-rata juga berjubah putih. Semuanya lelaki. Sebagian besar anak orang Melayu Champa. Cuma ada satu dua orang anak etnik Annam, yang keluarga mereka masuk Islam. Santriwati ada dua puluh orang. Itu pun habis belajar balik ke rumah masing-masing karena untuk yang lelaki saja belum ada pondoknya. Di pondok ini kafilah Ziarah Budaya menyerahkan beberapa bantuan berupa peralatan sholat, pakaian muslim, serta buku-buku agama dan sastra, yang bisa digunakan untuk mereka belajar Bahasa Baku Melayu Nusantara, yang digunakan seluruh negara Melayu ASEAN.

Para pengurus Pondok Tahfiz Quran yang juga bernama Jami`ul Azhar ini menginginkan punya gedung sekolah dan asrama sendiri juga. “Tanah sudah dibeli di samping masjid ini. Berukuran 50 x 31 meter. Sekarang memulai meminta sumbangan dan sedekah orang untuk membangunnya,” kata Mudir (kepala sekolah) Pesantren Tahfiz Quran Jami’ul Azhar Ustadz Abdul Rahmane Ayyobe seraya menyebutkan, di sini nanti akan dibangun gedung bertingkat tiga karena lahan yang dapat dibeli tidak begitu besar.

Sekarang mereka baru dapat mengumpulkan sumbangan untuk membeli tanah timbun. Dalam kesempatan ini juga kafilah mengumpulkan sumbangan berupakan mata uang rupiah, sebab selain dong – mata uang Vietnam, menipis, rupiah bisa ditukarkan di kota-kota besar Vietnam. “Inilah kesempatan untuk beramal di bumi Champa,” kata Tien Marni.

Soal pembangunan Pondok Tahfiz Quran Jami’ul Azhar semua anggota kafilah bersepakat mencoba mencari jalan ketika balik ke tanah air dan kampung halaman masing-masing untuk mengetuk hati para dermawan di daerah masing-masing untuk bersedekah terhadap mereka yang memerlukan bantuan di negeri sukar-muslim ini.

“Di Kamboja ada beberapa orang kaya Malaysia dan Singapura membuat sumbangan sedekah seorang diri saja. Mendirikan rumah tempat belajar sampai langsung jadi dapat pakai,” kata Bunda Anie Din.

Fakhrunnas MA Jabar malah mengatakan, alangkah eloknya andai ada sekolah-sekolah di Indonesia atau di Riau memberikan beasiswa untuk anak-anak Muslim di sini. “Andai diusahakan bukan tidak mungkin ada jalannya,” katanya.

Menurut Husnu Abadi, lembaga pendidikan Muhamadiyah sendiri di beberapa daerah sudah berbuat memberikan beasiswa untuk Muslim  Pattani, Thailand Selatan. Malah lembaga di Muhammdiyah di Batam memberikan beasiswa untuk anak Muslim Kamboja.

Bundo Freeharti mengatakan, walaupun sekarang ini kehidupan orang Muslim Champa ini lebih bebas tetapi tetap saja tidak nyaman betul. “Kita beragama dan melaksanakan kegiatan keagamaan dengan bebas dan nyaman. Sedang orang Champa melaksanakan keagamaan dalam suasana tertekan dan penuh pengawasan, tetapi tetap dg berkeimanan. Lalu siapakah kita yang merasa lebih beriman bahkan merasa lebih kaya?” tambah penyair yang lasak ini.



Nasi Goreng Belacan

Setelah sukarnya makan di lumbung padi Vietnam selama dalam perjalanan karena banyak tidak halalnya, pulang ke kota Ho Chi Minh, kafilah melampiaskan selera kampung halaman di Ben Than, kawasan pusat perbelanjaan berbau Malaysia-Indonesia. Di kawasan ini souvenir, pakaian sampai tas-koper cukup murah. Boleh gunakan uang ringgit atau rupiah. Cukup mudah. Kemudian banyak pula restoran ala Semenanjung-Sumatera.  Nasi goreng belacan dan teh tarik jadi pilihan utama.

Muhibah Ziarah Budaya ke Bumi Champa berakhir. Meninggalkan Ho Chi Minh,  sebagian menenteng kopi Vietnam, sebagian membelai-belai cindai Cham, kain tenun khas Melayu Champa, yang penenunnya cuma tersisa satu tempat, di sebuah rumah tua berpilar kayu tunggal tua di Chau Doc. “Ini kain adat,” kata Mansour. “Dijadikan hadiah bila seorang lelaki meminang seorang gadis. Lalu sang gadis membalasnya pula dengan sehelai kain cindai.”

Kemaharajaan Champa sudah lama binasa. Jauh sebelum lepasnya Temasik. Nusantara lainnya akan hilang juga. Bila tidak dijaga dengan baik-baik.***




KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 12 Desember 2017 - 03:18 wib

Fadli Zon Gantikan Setya Novanto Jadi Plt Ketua DPR RI

Selasa, 12 Desember 2017 - 02:58 wib

Gugatan PT RAPP pada Kementerian LHK Mulai Disidangkan

Selasa, 12 Desember 2017 - 02:48 wib

Rihanna sudah Dilamar Orang Super Kaya Arab Saudi?

Selasa, 12 Desember 2017 - 02:17 wib

Meski Tetap Eksis, Pendapatan Iklan Radio Turun

Selasa, 12 Desember 2017 - 01:29 wib

Laga Sulit di Liga Champions

Selasa, 12 Desember 2017 - 01:16 wib

Nasib Anjing Bertukar dengan Melayangnya Nyawa Manusia

Selasa, 12 Desember 2017 - 00:59 wib

Fahri Hamzah: Hargai Pengadilan Dong...

Selasa, 12 Desember 2017 - 00:49 wib

Fahri Hamzah Dipecat dari Jabatan Wakil Ketua DPR

Follow Us