Nyanyian Sumbang yang Kian Merdu

20 Juli 2011 - 07.14 WIB > Dibaca 807 kali | Komentar
 

Suhu perpolitikan di Tanah Air semakin memanas. Adalah Nazaruddin, mantan Bendahara DPP Demokrat yang kembali lagi bermanuver.

Jika sebelumnya Nazar, begitu ia biasa dipanggil hanya melontarkan pernyataan-pernyataan menyodok para koleganya sendiri melalui akaun blackberry dan twitter-nya.

Kali ini Nazaruddin berani bersuara langsung dari persembunyiannya lewat wawancara khusus dengan salah satu stasiun televisi swasta, Selasa (19/7) kemarin.

Tentunya pernyataan Nazaruddin ini cukup berdampak luas. Pertama, bagi internal Partai Demokrat, pernyataan tersebut menjadi sebuah petaka. Pasalnya, pernyataan Nazaruddin membuka ruang lebar bagi perpecahan ditubuh partai pemenang Pemilu 2009 ini.

Karena seluruh fungsional kepengurusan Partai Demokrat di bawah kepemimpinan Anas Urbaningrum terlibat dalam permainan politik uang. Dan, Kongres II Partai Demokrat 2010 di Padalarang, Jawa Barat yang selama ini diyakini jauh dari politik uang dengan sendirinya tak bisa dipercaya lagi.

Kuncinya, ada pada Nazaruddin, karena ia merupakan pelaku dan saksi kunci utama. Terlepas benar salahnya pernyataannya itu. Wallahu a’lam.  

Kedua, bagi partai pesaing Demokrat. Nyanyian sumbang Nazar ini cukup menguntungkan. Memang, nyanyian Nazaruddin ini terdengar sumbang bagi Partai Demokrat, tapi bagi partai lain nyanyian tersebut justru kian merdu.

Apalagi, nyanyian Nazaruddin bisa merontokkan kepercayaan masyarakat yang selama ini sudah terlanjur menaruh kepercayaan besar terhadap Partai Demokrat.

Artinya, untuk persaingan di Pemilu 2014 mereka tak perlu bekerja keras untuk menundukkan Partai Demokrat, toh kader demokrat sendiri sudah mengali kuburnya sendiri.

Dan, bagi partai lain cukup merapatkan barisan dan memperkokoh internal mereka masing-masing sambil menunggu perkembangan yang terjadi di Partai Demokrat.

Ketiga, kepercayaan masyarakat terhadap partai politik sudah pasti akan terus menurun. Tradisi culas dan curang sudah menjadi hal yang biasa, dan sulit dihilangkan dalam tradisi kehidupan perpolitikan di Tanah Air.

Toh katakanlah ada partai lain yang diuntungkan dengan nyanyian merdu Nazaruddin tersebut. Suatu saat pasti tradisi culas dan curang seperti itu akan terulang kembali. Karena perpolitikan kita terlanjur dibangun dari kondisi yang tidak sehat.

Jika prosesnya tidak sehat, sudah pasti hasilnya juga tidak sehat. Kasus Nazaruddin menjadi bukti paling nyata.***

KOMENTAR
Terbaru
Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:30 WIB

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 WIB

Lima Keuntungan Menggunakan  Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 WIB

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 WIB

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 WIB

Follow Us