Hikayat Kambing Hitam dan Kambing Putih

29 April 2012 - 08.27 WIB > Dibaca 24707 kali | Komentar
 
Menurut sahibul hikayat, pada zaman dahulu kala tersebutlah ada sebuah kerajaan kaya lagi makmur, tentram serta juganya aman, yang bernamakan Bahrul Alam, dengan baginda rajanya yang memiliki nama begitu indah serta juga bagusnya yakni bernamakan Sultan Iskandar Syah...

1
ITU kutika sudah delapan hari rakyat di negeri Kerajaan Bahrul Alam dicekam perasaan ketakutan yang teramat sangat. Selepas matahari tenggelam, tidak ada seorang pun yang berani berliaran di jalan-jalan termasuknya juga pekarangan. Mereka memilih mengurung diri di dalam rumah, memasang palang kayu kuat-kuat di pintu dan menutup jendela sebegitu rapatnya. Itu negeri yang terkenal subur dan makmur sekarang menjadi tidak aman dan tidak nyaman untuk ditempati. Rakyatnya merasa ketakutan, kesal sekaligus bingung, tapi hanya bisa disimpan di dalam hati atau dibicarakan pada orang-orang yang terdekat, kerana lantaran bila terdengar kaki-tangan Sultan Iskandar Syah bisa sangat berbahaya akibatnya.

‘’Bagaimana kita bisa merasa aman dan nyaman di negeri sendiri kalau begini keadaannya? Apa gunanya prajurit kerajaan yang disebar di segala sudut negeri bila tidak bisa memberi keamanan dan kenyamanan? Betapa celakanya nasib kita. Sudah susah, masih ditambah susah.’’

Kegundahan rakyat bermula dari banyaknya penghuni negeri yang hilang tanpa ketahuan rimbanya yang biasanya selalu satu keluarga miskin bersamaan. Segala macam cara sudah dilakukan untuk mengetahui penyebabnya. Segala macam ibadah sunnah dan wajib telah dilakukan.

Segala macam cara sudah dilakukan untuk mengetahui penyebabnya. Segala macam ibadah sunnah dan wajib telah dilakukan. Segala macam ancak1 sudah pula dibuang ke sungai dan gunung, termasuknya diletakkan di bawah pohon besar dan makan keramat, bulakan2 serta pinggir pekuburan. Bahkan tujuh ekor sapi putih yang sehat dan gemuk pun sudah disembelih, dagingnya dibagikan pada orang yang kekurangan, tapi kepalanya ditanam di tanah. Tapi apa daya, itu semua sia-sia, lantaran orang-orang yang hilang tak juga kembali bahkan makin bertambah jumlahnya. Para dukun, orang sakti, termasuknya ahli nujum paling jempolan akhirnya angkat tangan. Mereka menyatakan ketidaksanggupannya.

Tapi itu keadaan tak membuat penjual ayam hitam, kemenyan, kembang tujuh rupa, buah-buahan, termasuknya telor dan lisong —benda-benda yang jadi perantaraan para dukun, orang sakti, termasuknya ahli nujum untuk melakukan upacara pencarian— jadi bersedih. Mereka senang-senang saja dan tenang-tenang saja, kerana yang terpenting bagi mereka adalah menerima banyak upah.

Bermacam dugaan pun beredar di kalangan rakyat Bahrul Alam. Mereka kasak-kusuk. Ada yang bilang itu orang-orang hilang dibawa Setan Keder ke negeri makhluk halus, sehingga lupa jalan pulang menuju rumahnya dan akhirnya terperosok di jurang. Ada yang bilang mereka dibawa si Jenggot, jin penunggu pohon beringin besar di halaman istana Sultan Iskandar Syah, untuk dijadikan santapannya. Ada yang bilang mereka hilang dibawa anak buah Setan Botak, untuk dijadikan budak di kerajaannya.

Entah mana yang benar. Atau mungkin juga tak ada yang benar sama sekali.

2
AKHIRNYA itu kasak-kusuk perkataan sampai juga ke telinga Sultan Iskandar Syah, kerana ia memang memiliki mata dan telinga di mana-mana, yang lebih pantas disebut mata-mata daripada telinga-telinga. Dan tentu saja ditambah dengan penyedapnya cerita, persis sayur lodeh kegemarannya yang selalu ditambahkan kikil dan daging sapi.

Rapat para petinggi kerajaan pun diadakan.

Itu siang Sultan Iskandar Syah marah besar. Matanya yang bulat besar terbelalak seakan siap melompat keluar melumatkan apa saja yang ada di hadapannya. Para penasehat dan pengawal kerajaan ketakutan. Pandangan mata mereka jatuh ke ujung jempol kaki masing-masing.

“Tak seorang pun rakyat negeri ini yang boleh hilang begitu saja! Bagaimanapun upeti yang mereka bayarkan sangat penting untuk negeri ini.”

Ruang Kayu Manis hening. Di ruangan-ruangan lain, anak cucu dan sanak keluarga Sultan Iskandar Syah memegangi perut mereka yang membuncit kekenyangan.

“Panglima!”

“Hamba, Baginda…” Ali Usman masih tak berani membalas tatapan mata Sultan Iskandar Syah.

“Apa pendapatmu?”

“Maafkan atas segala kata yang akan hamba ucapkan ini, Baginda.”

“Kenapa?”

“Begini, Baginda,” Ali Usman membuka kotak kayu yang dibawanya, “Hamba menemukan ini di rumah kesembilan yang penghuninya hilang, Baginda.” Dia mengeluarkan selembar kain batik yang tidak terlalu lebar, bergambar burung hong.

“Ikat kepala itu, kan? Lantasnya bagaimana?”

“Hamba yakin inilah ikat kepala yang digunakan itu para penculik, Baginda.”

“Hei, bodoh!” suara Sultan Iskandar Syah menggelegar.

Para penasehat dan pengawal kerajaan makin ketakutan.

“Semua lelaki di Bahrul Alam memiliki ikat kepala!”

“Tapi Baginda…”

“Tapinya apa?!”

Ali Usman tak segera menjawab, tapi kemudian menghela napas panjang, “Hingga hari ini belum ada kelihatan jawabannya, Baginda…” Dia tertunduk kian dalam, suaranya menghiba.

“Kau hanya punya satu pilihan, Panglima.” Sultan Iskandar Syah meminum tuak niranya, “Akan kuberi kau batas waktu hingga malam bulan purnama tahun ini. Jika hingga waktu yang ditentukan kau belum juga menemukan pembuat ini kesusahan… maka kau akan dihukum pancung dan kepalamu dipamerkan di alun-alun. Jelas?”
Ali Usman menelan liur.

“Atau kau ingin dikenakan hukum picis3 saja?”
Buah simalakama!

Sekeluarnya dari ruangan, Ali Usman langsung memutar otak. Dan seperti yang sudah-sudah, dia menemukan jawaban yang sama: kambing hitam. Ya, hanya itulah satu-satunya jawaban yang dia peroleh. Selain kerana dia tak punya kecerdasan yang memadai untuk memikirkan hal rumit, juga kerana mencari kambing hitam-lah satu-satunya keahlian yang dia miliki. Sejak sembilan malam bulan purnama lalu diangkat menjadi panglima perang pun bukan kerana dia memiliki kemampuan berpikir dan memimpin yang cermerlang. Dia dipilih semata kerana adik ipar Sultan Iskandar Syah dan kebetulan berbadan tinggi besar serta berwajah angker. Lebih tidak.

Selama menjadi panglima perang, Ali Usman memang dibesarkan oleh kambing hitam. Bukan kerana sejak bayi dia punya kebisaaan minum susu kambing hitam yang menurut penduduk Bahrul Alam dapat menyebabkan seseorang punya badan kekar tapi otaknya tetap bebal, namun kerana kambing hitam-lah yang selalu menolong dia terbebas dari semua hukuman pancung dan malah berhasil mengangkat namanya. Kalau dihitung, sudah 72 orang di Bahrul Alam yang dihukum pancung kerana menjadi kambing hitam yang dibuat Ali Usman. Meski mereka berteriak mengatakan tak bersalah sampai urat lehernya meregang, tetap saja tak Ali Usman menghiraukan, hingga urat itu pun putus di ujung pedang algojo. Tapi Sultan Iskandar Syah tetap saja memercayai Ali Usman.

Dan ini Kamis Ali Usman harus kembali memutar otaknya agar leher orang lainlah yang dipancung. Tapi ini kali merupakan pekerjaan yang terberat baginya kerana tak mungkin menjadikan orang-orang dari kalangan jelata sebagai kambing hitam, seperti yang biasa dia lakukan. Menurut banyak orang yang melihat, para pelaku penculikan di itu malam hari bukanlah orang sembarangan. Tubuh mereka tinggi dan besar, bahkan lebih tinggi dan lebih besar daripada algojo yang dipelihara kerajaan. ‘’Baru ini kali kami melihat manusia setinggi dan sebesar mereka. Tapi mungkin juga itu mereka bukannya manusia.’’

Tapi bagaimanapun Ali Usman harus menemukan kambing hitam dan menjaga untuk tak terbongkar, seperti yang selalu berhasil dia lakukan. Dia harus memikirkan sungguh-sungguh ini semua.

3
SEORANG suami berguman pada istrinya, ‘’Sudah 12 hari kita di sini diperlakukan cukup layak, dengan makanan-minuman yang enak termasuknya pelayanan yang memuaskan. Tapi kita tak tahu apa yang menyebabkan dibawa ke ini tempat ini, begitu juga keluarga lain. Padahal kita tak pernah membuat kesalahan pada siapapun.’’

4
BULAN purnama makin dekat, tapi Ali Usman belum juga menemukan kambing hitam untuk dikorbankan. Dan Sultan Iskandar Syah tetap tak juga mengubah keputusannya.

Akhirnya tepat di waktu yang ditentukan, Ali Usman dibawa ke depan meja pancung. Orang paling tinggi dan paling besar di Bahrul Alam, yang sejak lama dipekerjakan sebagai algojo kerajaan, menantinya, memakai pakaian serba hitam dan tutup kepala yang juga hitam, dengan lubang di bagian kedua mata.

Rakyat sudah berjubel di alun-alun. Mereka menahan napas saat sang algojo mengangkat dan mengayunkan pedang. Banyak yang menutup mata, meski tak semuanya. Di belakang, seorang perempuan tua dengan 11 anak gadisnya menjerit-jerit ketakutan, yang segera dibentak seorang lelaki. ‘’Kalau takut tidak usah datang, bodoh!’’ Dan itu kejadian juga tak membuat Sultan Iskandar Syah membatalkan keputusannya.

Wusss, Jrek!! Kepala Ali Usman menggelinding ke tanah. Seorang prajurit mengambilnya, mengangkat dan menancapkan ke sebuah tombak. Lalu didirikan di tengah alun-alun. Tiba-tiba seorang kakek bongkok tertawa-tawa. Sang algojo geram tak alang kepalang jadinya, ‘’Hei! Sini saudara!’’ Itu lelaki berjubah serba putih segera maju ke tengah lapangan.

‘’Siapa nama saudara dan dari mana kiranya saudara datang?’’ Sultan Iskandar Syah bertanya dengan suara berwibawa dan lembut, khas para bangsawan.

Si kakek membuka jubah putihnya. Dia terus tertawa. Lalu perlahan-lahan, kulit keriput yang membalut tubuhnya mengencang. Rambutnya menghitam dan giginya tumbuh satu per satu. Dia kembali menjadi muda dan kuat.

‘’Tampan betul, ya?’’ seorang ibu muda tersenyum. Rakyat Bahrul Alam, sang algojo, Sultan Iskandar Syah, semua prajurit kerajaan dan keluarga kerajaan, ternganga melihat kesempurnaan si lelaki.

‘’Siapakah saudara sebenarnya?’’ tanya Sultan Iskandar Syah setelah melihat kejadian di depan matanya.

‘’Aku Ahmad Jazuli, raja dari sebuah negeri bernama Darussalam.’’

‘’Betulkah kiranya demikian? Kalau begitu apa yang engkau inginkan?’’

‘’Tak ada. Aku hanya ingin memberitahukan, bahwa akulah yang menyuruh para prajuritku menculik penduduk negeri ini.’’ Dia tersenyum, dengan senyum yang menggetarkan hati tiap perempuan.

‘’Begitukah? Apa kesalahan mereka?’’

‘’Tak ada. Tidak kepadaku, tidak pula pada negeriku.’’

‘’Lalu kenapa mereka diambil dari negerinya?’’

Raja Ahmad Jazuli tersenyum sambil memandangi wajah rakyat Bahrul Alam, ‘’Aku hanya ingin membuat mereka hidup enak dan nyaman, serta tak selalu diburu-buru upeti yang memberatkan. Negeri kami juga sama seperti negeri kalian. Subur dan makmur. Bahkan melebihi.’’

Lalu dia bercerita bahwa itu semua yang dia lakukan selain untuk membuat senang hidup orang-orang yang diculiknya, juga untuk memberi pelajaran bagi Sultan Iskandar Syah yang dianggapnya tak pernah tahu keadaan negerinya selain menerima pemberitahuan dari para pembantunya yang pendusta. Sultan Nazaruddin dia anggap telah berlaku zalim hingga kelaparan dan kesusahan menyerang rakyatnya lantaran tingginya upeti.

Kerana tahu saudara-saudaranya menderita, tiap minggu para saudagar dan orang-orang kaya di Bahrul Alam, bahkan negeri-negeri tetangga, selalu menyumbangkan beras, jagung, ubi, pakaian, yang dikumpulkan dan diurus oleh seorang menteri bergelar Al Amin. Tapi tetap saja rakyat jelata di Bahrul Alam kelaparan dan kesusahan.

‘’Ke mana perginya itu semua pakaian dan bahan makanan?’’ tatap Raja Ahmad Jazuli.

‘’Habis diambil para petinggi negeriku, juga sang menteri dan keluarganya yang mengurus itu sumbangan.’’

‘’Termasuk kamu dan keluargamu?’’
‘’Y-y-ya.’’

Wajah Raja Ahmad Jazuli memerah, ‘’Keterlaluan! Bahkan pemberian untuk orang miskin pun masih kalian ambil! Apa semua petinggi di ini negeri adalah maling?!’’

Sultan Iskandar Syah menangis bersedu-sedu dan menggelesor di tanah. Rakyat pun terbahak-bahak menatapnya.  

5
KERAJAAN Bahrul Alam tak lagi dicekam ketakutan. Tak ada lagi penduduk yang hilang. Bahkan orang-orang yang pernah hilang sekarang telah kembali, meski sebenarnya merasa lebih betap hidup di negeri milik Raja Jazuli. Mereka dianggap sebagai pahlawan dan diharapkan mampu memulai perjuangan untuk mengubah nasib rakyat Bahrul Alam yang selama ini selalu kelaparan dan kesusahan akibat kerakusan keluarga kerajaan dan para petinggi negeri.

Rakyat yang telanjur tak mempercayai Sultan Iskandar Syah langsung mengaraknya ke alun-laun, membawa ke depan meja pancung. Ia dipaksa keluar dari istananya.
‘’Sultan Iskandar Syah dan keluarganya harus mempertanggungjawabkan semua kesalahannya. Kita telah disia-siakan selama dia menjadi raja.’’ Seorang lelaki bertubuh kerempeng berteriak lantang, yang tampaknya pemimpin keramaian.

Di alun-alun sudah menunggu ribuan rakyat lainnya, beserta seorang algojo bertutup kepala dan pakaian serba putih. Matanya yang memerah menahan amarah, tak henti-hentinya mengiringi langkah calon korbannya.

Sultan Iskandar Syah terengah-engah, keringat dingin membasahi sekujur tubunya yang gemetaran. Dia terus meronta.

Orang-orang terus meneriakkan namanya, menyumpah-nyumpah dan memaki. Mereka berhenti berteriak dan mulai menahan napas saat sang algojo mengangkat pedang. Banyak yang menutup mata, meski tak semuanya. Di belakang, seorang perempuan tua dengan 11 anak gadisnya menjerit-jerit ketakutan, yang segera dibentak seorang lelaki. ‘’Kalau takut tak usah datang, bodoh!’’ Dan itu kejadian juga tak membuat sang algojo mengurungkan niatnya. Dia mengayunkan pedang.

Satu dua ti

Jrek!!

Kepala Sultan Iskandar Syah menggelinding ke tanah, selayaknya buah kelapa yang terlepas dari tangkai, disambut sorak-sorai rakyat. Seorang prajurit mengangkat dan menancapkan itu kepala di sebuah tombak. Lalu mendirikannya di tengah alun-alun. Kemudian sang algojo membuka penutup kepalanya. Ternyata dia adalah Raja Jazuli.

Ya, segenap tuan serta juganya nyonya yang rupawan lagi baik budinya, begitu itulah cerita sahibul hikayat yang ada pernah diperdengarkan, tapi ini hari dicoba buat dituliskan, dengan maksud agar supaya bisa menjadikan pelajaran bagi kita semua yang pada sekalian ikut membacanya serta juga memperhatikannya

Pondok Pinang, 061098


Footnote
  1. Sajian untuk roh halus, berupa nasi kuning, sebutir telur ayam kampung mentah, kembang tujuh rupa dan lisong, yang diletakkan dalam wadah berupa anyaman bambu, lidi aren atau daun pisang. Dimaksudkan agar roh halus yang ada di tempat-tempat itu tak mengganggu. Biasa dilakukan pula pada acara keramaian atau hajatan orang.
  2. Tanah lapang luas, biasanya ditumbuhi rumput atau alang-alang.
  3. Hukuman berupa melukai tangan terhukum dengan menggunakan pisau, lalu sayatan selebar uang picis itu diberi perasan air jeruk limau.


Chairil Gibran Ramadhan,
gemar mengolah dunia Betawi dalam cerpennya setelah menyadari tak ada karya dalam nuansa kampung halamannya di media nasional. Cerpennya tampil di berbagai media. Bukunya yang segera terbit Djali-Djali Bintang Kedjora, antologi tunggal ke-3 karyanya dan antologi kedua dalam nuansa Betawi (Komodo Books, Mei 2012).
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 25 September 2018 - 18:39 wib

Traffic Website SSCN Padat di Siang Hari

Selasa, 25 September 2018 - 17:38 wib

Angkat Potensi Kerang Rohil

Selasa, 25 September 2018 - 17:30 wib

PMI Ajak Generasi Muda Hindari Perilaku Menyimpang

Selasa, 25 September 2018 - 17:00 wib

BPN Diminta Tingkatkan Pelayanan

Selasa, 25 September 2018 - 16:56 wib

Beli BBM Pakai Uang Elektronik

Selasa, 25 September 2018 - 16:45 wib

Kapal Terbalik, 224 Jiwa Tewas

Selasa, 25 September 2018 - 16:36 wib

Jalan Rusak, Siswa Terpaksa Memperbaiki

Selasa, 25 September 2018 - 16:32 wib

Rangkai Bunga Artificial Jadi Bouquet Cantik

Follow Us