Sajak Sukardi

13 Mai 2012 - 08.50 WIB > Dibaca 5550 kali | Komentar
 
Terkenang Melayu

Rumpun-rumpun nipah terikat dalam tikar
Amis sejarah mengusut waktu
Inikah tarsilah berabad lalu
Tentang resam melayu
Mendayu pada lengking zaman

Leluhur kita menjaring mimpi
Dari pagi hingga menepi
Sedangkan perahu-perahu melapuk
Bertahun-tahun menampung rindu
Sampai ke hulu, pun takkan pernah tahu

Lihat! Tanjung-tanjung memukat
Melaknat riak-riak payau
Terjerat dalam buih risau sampai berabad
Masihkah resam melayumu kau ingat?

Riwayat perjalanan kita memerah
Seperti warna sirih yang kau kunyah
Ingatkah, ketika tiap-tiap pucuk nipah
Kita jadikan asap pengusir sepi dan gundah


Senandung Melayu
Kecintaanku memukat
Seperti hitam kopi yang mengendap
Tentang melayu
Resam adat kutampi dari zaman ke zaman
Hingga kini masih terjunjung

Kecintaanku mendayu
Kini menjadi lantunan lagu melayu
Rentak-rentak tak patah
Harum dalam petuah-petuahmu
Melayu..

Menabuh marwas dalam rindu
Bertingkah lewat zapin
Menyanjungmu melayu
Senandung yang tak lekang pada kusut waktu
Atau sepekat abad yang riuh


Mengaku Melayu

Tersebab sumpah dalam kelambu nenek moyang yang keruh
Kita hanya dapat melipat masa lalu
Pada hikayat silat yang kita jamu pada adat
Meski retak sejarah merekah didada yang kurus
Resam tetap terdaulat sampai melegam

Jangan mengaku melayu
Bila lidah tak santun, daulat tidak kau junjung
Disiilah kita bersua, bercerita tentang keterasingan melayu
Yang menepi kejurang, tersentak, campak..

Pantun dan gurindam
Terpendam pada abad-abad yang suram
Melemah dipenantian bibir yang terpagut malu
Tak terdengar lagi jeritan rindu
Syair-syair, tingkah dan marwas disetiap jamuan
Kita asyik berbisik tentang kekaguman dunia
Yang menyibak sejarah
Untuk apa mengaku melayu?
Setelah kita patahkan petuah

Ruh hang tuah tersedu sedan
Memandang pucat pasi negeri
Tanpa mengenal adat, berdaulat
Tak mengagumi seloka, pantun dan silat
Hingga kita diperbodohkan zaman
Kehilangan jati diri dan janji

Masih enggankah kita untuk mengaku melayu?
Setelah langgam sejarah melapuk
Tertikam debu di usia tua
Siak sri inderapura, penyengat indra sakti
Bintan, daik lingga berguman tentang kepedihan
Kini hanya tinggal ampas-ampas sejarah
Melapuk dan usang dalam lembaran buku yang berdebu.



Membatu di Bukit Mambang

Kasihku pada akar-akar bakau
Kini mengarus di sepanjang sungai  sungai
Rindu, mengapung tak berarah
Seperti pucat pasi sejarah dalam hikayat

Diam! Senoktah takbir tentang
Nasib merajalela disetiap langkah-langkah hari
Aku merajuk pada hujan
Kepada siapa belaianku diperuntukkan?
Lirih ini merintih pada kabut

Pulau mambang meratap
Setelah ribuan tahun menyimpan luka
Disetiap wajah-wajah lempung yang berdarah
Air mata yang merambah, juga mimpi, juga rindu
Berceceran disepanjang bukit-bukit
Lalu membatu



Sukardi,
Lahir di Bengkalis, 28 April 1990. Sejak di bangku SMA sudah mencintai dunia tulis menulis, dan menerima beberapa penghargaan atas karya-karyanya. Kini bermastautin di Bengkalis dan masih melanjutkan studinya di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Bengkalis jurusan Bahasa Inggris. Aktif dalam KOMPENSAS (Komunitas Pencinta Sastra) Bengkalis.
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 16 November 2018 - 18:00 wib

Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer

Jumat, 16 November 2018 - 17:30 wib

Dua Kecamatan Masih Terendam

Jumat, 16 November 2018 - 17:00 wib

Lutut Istri Disenggol, Nelayan Bacok Tetangga

Jumat, 16 November 2018 - 16:15 wib

Miliki 30 Kg Ganja, Petani Ditangkap

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

Formasi CPNS Sumbar Terancam Kosong

Jumat, 16 November 2018 - 15:45 wib

Desa Dituntut Gerakkan Ekonomi Masyarakat Lewat ADD

Jumat, 16 November 2018 - 15:30 wib

Pedagang Belum Tahu Kapan Direlokasi

Follow Us